bab 7

1435 Words
"Ehh... Len-Elen. Itu bukannya laki mu?" Tunjuk destri kearah sebrang jalan. "Dimana ah, Des. Salah liat kali kamu." "Beneran, aku gak salah liat. Benar itu, tadi lagi makan, mana mesra lagi sama cewek." "Balik coba." Karna penasaran, Ellen memutar balikkan motor yang sudah melewati cave lumayan jauh. Dan setelah parkir, tanpa menunggu lama, Ellen bergegas turun menuju meja Meki. "Mas Meki!." Teriak Ellen. "Ngapain Mas? Mesra-mesraan sama ondel-ondel?" Lanjut Ellen, sambil berkacak pinggang. Ellen menyebut ondel-ondel, karna dandanannya menor. Dan pakaiannya kurang bahan. "Heh! Situ siapa. Mengatai-ngatain saya ondel-ondel. Situ gak ngaca! Dasar kucel! Dekil. Hih." Tunjuk Intan kearah Ellen, sambil bergidik ngeri. "Belum tau siapa saya?" " Males juga, tau siapa kamu. Gak penting banget." "Saya ini, Ellen Wulandari. Istri sah Mas Meki. Lelaki yang kamu goda! Sudah faham mbak ondel-ondel?" Terlihat Intan menahan senyum diwajahnya. Sampai- sampai, pipinya menggembung kanan dan kiri. "Ohh. Oni istrimu Mas?" Tanya Intan pada Meki, dengan melirik dan meremehkan penampilan Ellen. "Dekil gini? Mana badannya gendut lagi." Lanjut Intan menghina Ellen. Ellen memutar kedua bolanya dengan malas. "Memangnya kenapa, kalau aku gendut? Ada masalah?" Desak Ellen melangkahkan kaki menuju Intan. Terlihat banyak sekali pelanggan cave tersebut merekam kejadian pertengkaran, antara Ellen dan Intan. Kasak kusuk pun terdengar, ada yang mengatakan berpihak pada Intan, karna penampilannya yang aduhai. Ada juga yang memihak pada Ellen, karna walaupun gendut. Ellen tetaplah Istri sahnya. "Ngaca dong, Mbak Ellen yang dekil. Lihat lah. Mas Meki yang ganteng ini. Masa iya, punya istri dekil dan gendut begitu. Iuuhh. Tinggalin sajalah mas, mending sama aku. Cantik, seksi, bohay lagi." Ejek Intan, membuat suasana cave semakin panas. Seperti cacing kepanasan, Meki senyum tertahan, merasa besar kepala, karna diperebutkan dua wanita sekaligus ditempat umum. "Sudah-sudah. Kalian ini ngapain bertengkar disini. Malu di lihat banyak orang." Teriak Meki, mencoba melerai. "Kamu juga ellen! Ngapain marah- marah gak jelas disini?" Tunjuk Meki ke arah Ellen, dengan memelototkan kedua matanya. "Mas! Kamu belain wanita lain dari pada istrimu ini?" Tunjuk Ellen pada diri sendiri. "Harusnya itu kamu malu Mas, aku ini istrimu. Ngapain kamu mesra-mesraan sama wanita lain di luar. Apalagi ini jam kantor." Teriak Ellen, sampai terlihat urat pada lehernya. "Aku ini lagi cari solusi soal masalah kita tadi pagi Ellen." Ucapnya Meki melemah dan menunduk. "Masalah yang mana mas?" Tanya Ellen, menautkan kedua alisnya. "Masalah yang, kamu ngajak aku ke dokter." Jawab Meki sambil duduk dikursi lagi. "Iya, cari solusi boleh mas, tapi kan tidak harus cerita ke wanita lain. Atau jangan-jangan." Ellen tak melanjutkan ucapannya, karna berfikir mungkin Meki punya rencana akan berselingkuh dengan Intan, dan menceraikan Ellen. "Jangan-jangan apa Ellen?" Potong Meki cepat. "Menurutku, Mas Meki akan kawin lagi sama si ondel-ondel ini. Bisa jadi kan mas? Nanti dia jadi pelakor. Kan kita gak tau, kedepannya kita kaya gimana." "Kalau aku suka sama Mas Meki. Kenapa? Gak boleh? Lagian, dia dulu mantan aku. Aku yang lebih tau segalanya daripada kamu!" Sahut Intan dengan bersedekap d**a. Merasa bangga, kalau Intan dan Meki dulu pernah berpacaran. "Yah." Ellen menghela nafas berat. "Kalau Mas Meki mau sama dia" Tunjuk Ellen ke Intan "Ya sudah! Mau gimana lagi. Aku juga bisa cari pacar baru. Jangan di kira aku lemah ya mas." Tegas Ellen lalu berbalik arah meninggalkan Meki dan Intan keluar cave. "Ngomong apa kamu Ellen! Jangan harap kamu bisa pisah sama aku!" Teriak Meki dengan berdiri dan menggenggam kedua tangannya. "Lagian kenapa sih mas, kalau aku nikah sama kamu. Siapa tau kita bisa punya anak. bisa jadi lho, kalau dia emang yang mandul. Pake sok-sok an ngajak ke dokter segala." Ucap Intan mencoba mempengaruhi Meki. Meki yang sangat ingin punya anak, sedikit terpengaruh dengan rayuan Intan. "Apa iya tan? Nanti kalau aku nikah sama kamu, bisa punya anak?" Tanya Meki pada intan dengan mata berbinar-binar, karna besarnya harapan ingin memiliki keturunan. Intan yang merasa dirinya ada kesempatan. Tersenyum menyeringai, karna puas bisa menang dari Ellen, Istrinya Meki. Dan merasa menang, sudah ada harapan mendapatkan Meki. ____________ Sore tiba. Ellen yang merasa badannya capek dan pegal-pegal. segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dan tidur sore. karna terlalu banyak masalah yang dialami akhir-akhir ini. Samar-samar Ellen mendengar meki berbicara sama Intan ditelfon. "Iya tan, nanti aku fikir-fikir lagi. Kalau Ellen mau di madu, nanti aku nikahin kamu." Ellen tak kuasa menahan air matanya, mendengar Meki dengan sengaja berniat akan menikahi Intan. Ellen menangis dengan diam. Berfikir akankah sanggup, keluar dari rumah Ibu mertuanya, yang pastinya nanti tanpa siapapun. Tanpa keluarga satu pun, dan bergelar sebagai janda. Karna terlalu lama Ellen menangis, hingga tanpa terasa tertidur dalam tangis. Bangun tidur mata Ellen bengkak dan memerah. Mahrib tiba, Ellen tak langsung bangun. tapi bermain game online sebentar. berharap saat selesai bermain game online, mata bengkaknya bisa sedikit berkurang. "Ellen." Panggil Meki dengan mendekat kearah Ellen. "Ada yang mau mas bicarakan." "Ada apa mas? Bicara saja." Jawab Ellen pura-pura tidak mengetahui apapun. padahal Ellen sudah mengetahui. kalau Meki berniat meminta izin, untuk menikah lagi. "Tapi nanti ya Len. Setelah ada Ibu juga." "Kenapa nunggu ibu Mas?" Tanya Ellen balik, tanpa melihat kearah Meki. "Ya, tidak apa-apa Len. Soalnya ini agak serius masalahnya." "Ok.'' Terserah kamu saja. Aku lapar. Mau makan." Ellen bergegas keluar kamar, menuju dapur untuk mencari makanan. "Ibu tidak masak apa-apa tadi. Kamu beli diluar saja, Sekalian bungkusin buat kita." Perintah Ibu mertua Ellen. "Mana uangnya, Mas?" Pinta Ellen dengan menadahkan tangan kearah Meki. "Pakai uang mu dulu ya? Nanti Mas ganti." "Gak mau ah mas! Uangku tinggal sedikit. Hemat!" Kilah Ellen menolak permintaan Meki. Ellen sedikit menyadari, kalau selama ini Ellen hanya dimanfaatkan sama keluarga Meki, suaminya. "Kok, sekarang kamu jadi perhitungan sama mas Len?." Teriak Meki "Kan sudah ellen bilang Mas, mau hemat. Jaga-jaga kalau tidak ada yang masak." Ledek Ellen. "Padahal belanja aku yang nyetok." Sindir Ellen. "Sudah lah mas, debat sama kamu bikin tambah lapar." Ellen bergegas keluar dari rumah untuk mencari makan, Ellen tak memperdulikan Meki yang marah-marah tidak jelas. Karna perutnya sudah sangat lapar. "Ya sudah, aku ikut kalau gitu." Teriak Meki tanpa rasa bersalah sama sekali. "Mau makan apa? "Tanya Meki sambil mengendarai motor dengan sedikit berteriak, karna suaranya kabur kebawa angin. "Nasi goreng." Jawab Ellen datar. Selama makan nasi goreng, Ellen terlihat lahap sekali memakan makanannya. Sambil sesekali mengambil sate usus+sate telur di depannya. "Pak. Sudah, semua berapa?" Tanya Ellen pada penjual nasi goreng. "Tambahnya, apa aja Neng?" "Tambahnya, sate usus 3 sama sate telornya 3 pak." "Nasinya 20 rb, sama satenya 6, 30 rb sama es tehnya 4 ribu. Totalnya 54 ribu, ya Neng?" "Iya, Pak." Ellen menyodorkan pecahan uang 100 rb, dan berlalu meninggalkan Meki yang terbengong diwarung nasi goreng. Merasa makanannya belum dibayar Ellen. Meki bergegas keluar dari warung, meskipun mulutnya masih dipenuhi nasi goreng, dan berlari menuju Ellen berada dan meninggalkan nasi goreng yang belum habis dimakan. "Punya ku belum kamu bayar Len?" Teriak Meki pada Ellen. "Kalau bicara ditelan dulu itu nasi. Buyar kemana-mana tau gak sih. Jorok!" ucap Ellen marah-marah. Terlihat, Meki mencoba menelan paksa nasi goreng yang ada dimulutnya. Walaupun sakit dan seret. Meki tak memperdulikan, yang penting bisa terbayar nasi gorengnya. karna Meki tidak membawa uang sama sekali. "nasi gorengku, sudah kamu bayar juga kan Len?" Tanya Meki memastikan. "Yang makan siapa, Mas?" Tanya Ellen balik. Meki mendelik seketika. Karna selain tidak bawa uang, Meki juga tidak bawa ponsel dan motor. Jadi, sudah dipastikan, kalau sampai ditinggal Ellen, Meki pasti kaya orang hilang. "I- Iya.." Aku yang makan. Tapi masak kamu tega sama Mas sih." Rengek Meki pada Ellen. "Kamu aja tega. Kenapa aku tidak?" Ledek Ellen dengan menyeringai. Tak lama, "Pak. Sekalian punya Mas ini ditotal ya." Teriak Ellen pada penjual nasi goreng. "Iya Neng, tambahnya apa Pak?." Setelah ditotal, nasi goreng Ellen dan Meki. Ellen bergegas keluar menuju motornya. "Ellen." Panggil Meki. Ellen yang merasa dipanggil. Berhenti sebentar tanpa menoleh kearah Meki. "Bungkus buat orang rumah ya?" Pinta Meki pada Ellen. Ellen tak menjawab apapun pertanyaan meki. Karna Meki merasa diabaikan. Meki melangkah dengan lebar, dan menarik tangan Ellen. Ellen yang merasa lelah, menarik dan melepaskan tangan yang dipegang meki. "Mau pulang, apa mau ku tinggal?" Bentak Ellen pada Meki. "Ini bungkusnya gimana?" Tanya Meki lagi. Ellen yang merasa geram, Menghembuskan nafasnya berat dan berbalik menghadap Meki. "Kalau mas Meki punya uang, ya silahkan. Ellen tunggu di sini." "Kamu yang bayarin ya? Nanti ku ganti." Ellen hanya memutar kedua bola matanya dengan malas, dan memainkan rambutnya. Ellen tak memperdulikan Meki yang merengek minta dibungkuskan nasi goreng. "Mau pulang tidak? Kalau tidak ya sudah." Teriak Ellen dan bergegas menghidupkan motornya. Meki yang dari tadi masih bengong, tersadar dan sesegera mungkin berlari membonceng Ellen. Ellen tak memperdulikan pandangan orang. Walaupun dialah yang yang didepan, bukan Meki.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD