bab 8

1109 Words
Sampai dirumah, Ellen segera memasukkan sepeda motor kedalam garasi, dan bergegas pergi kedalam kamar. Tak lama, Meki datang, menyusul Ellen kedalam kamar. "Ellen! Kenapa kamu tega sama keluargaku? Teriak Meki, dengan menendang pintu kamar. "Ha?" Ellen terjingkat karna kerasnya tendangan pintu yang dilakukan Meki. "Tega kenapa Mes? Apa yang aku lakukan sama keluargamu?" Tanya Ellen kebingungan. "Kamu makan enak! Tapi, perhitungan sama keluargaku. Tidak mau bungkus nasi goreng. Itu namanya apa?" Bentak Meki pada Ellen. "Kemarin, kamu sama keluargamu makan enak di cave, apakah ingat saya, yang katamu sebagai istrimu, Mas?" Tanya Ellen balik, dengan mengejek. Meki hanya diam, tidak bisa menjawab pertanyaan Ellen. Karna merasa memang benar apa yang di katakan Ellen padanya. "Sudah lah Mas! Aku capek. Mau tidur." "Ellen! Ada yang mau aku bicarakan." "Besok saja lah Mas. Ngantuk, mau tidur, besok kerja." Terdengar, Meki keluar dari kamar, dan menutup pintu kamar. "Meki. Dari mana saja kamu tadi." Tanya Ibu. "Tadi Meki keluar sama Ellen Bu, beli nasi goreng di luar." "Mana nasi gorengnya? Buat Ibu dan kakakmu?" Tanya Ibu, sambil menengadahkan tangan. "Maaf Bu, Meki tidak membelikan buat Ibu. Meki tidak ada uang." Jawab Meki lirih dengan menunduk. "Bisa pakai uang Ellen dulu kan?" Heran Ida. "Gimana sih! Kan Ibu juga mau." Ucap Ibu dengan cemberut. "Meki tadi sudah bilang Bu, tapi Ellen tidak mau kasih." "Apa! Ellen yang tidak mau? Dasar memang pelit!" Sela Ida dengan berteriak. "Bu, ada yang mau saya bicarakan." "Ada apa sih, meki? Kayaknya serius." Tanya Ibu was-was. "Meki pengen punya anak, Bu". "Terus?" Sela Ida. "Meki mau minta izin, untuk menikah lagi." Ibu dan Ida saling pandang. Tak lama, mereka manggut-manggut, tanda bahwa mereka menyetujui usulan Meki. "Aku sih, setuju saja. Siapa tahu, nanti kamu bisa punya anak." "Benar itu kata mbak mu. Kalau kamu menikah lagi, pasti nanti akan punya anak. Ibu setuju saja. Kapan kamu bawa calon mu pulang?" Tanya Ibu antusias, karna berfikir jika memiliki menantu baru, pasti Ellen akan pergi dari rumahnya. "Besok ya, Bu. Namanya intan. Kalau tidak sibuk, besok Intan ku kenalin ke Ibu dan mbak Ida, skalian sama Ellen. Biar bisa dekat dan saling kenal." Jawab Meki mantab. Meki sangat yakin, kalau Ellen sudah pasti akan menerima, kalau diperbolehkan untuk menikah lagi. "Kamu sudah ngomong sama Ellen, Meki?" Tanya Ida penasaran. "Belum, mungkin nanti atau besok pagi. Ellen pasti setuju. Aku juga pasti bisa berlaku adil." Jawab Meki mantap, tanpa ada keraguan sedikitpun. "Hmm. Mbak dukung kamu sepenuhnya. Kalau memang terbukti kamu bisa punya anak. Ceraikan saja Ellen, biar tau rasa dia." Dalam benak ku, aku sangat mencintai Ellen. Tapi, aku juga pengen punya keturunan. Tidak mungkin seumur hidup cuma hidup berdua sama istri. Aku pengen punya penerusku. tertawa bersama anak. Semoga pilihanku ini tepat dan yang terbaik. " ________________ Pagi hari tiba, Meki merasa harus nerbicara sama Ellen, perihal pernikahannya yang kedua. "Ellen..." Panggil Meki pada Ellen, yang baru bangun tidur. "Mau bicara apa, Mas?" Tanya Ellen dengan suara serak, dan mengucek kedua matanya. "Mas mau minta izin." Jawab Meki sedikit ragu-ragu. Ellen mengernyitkan dahi. "Mau izin apa, Mas?" "Mas mau menikah lagi." Ucap Meki mantap, tanpa ada keraguan. "Sama Intan itu?" Terang Ellen tepat sasaran. "Lho. Kok kamu bisa tebak, dan benar itu. Kalau aku mau menikah sama intan?" Sambil tersenyum senang. " Bagaimana tidak tau Mas. Lihat kemarin aja, aku pun sudah tau Mas. Kalau Mas Meki sama Intan itu sama-sama kaya ulet bulu!" "Maksudnya?" Tanya Meki kebingungan, mendengar jawaban dari Ellen. "Kalau Mas Meki mau menikah lagi. silahkan saja." Jawab Ellen pasti, tanpa ragu-ragu. "Beneran? Mas boleh menikah lagi?" Tanya Meki memastikan. "Iya Mas Meki, kamu boleh menikah lagi. Asal ceraikan Ellen dulu. Ellen tidak mau dimadu. Lebih baik, Ellen jadi janda." "Mas cinta sama kamu Leen. Mas tidak mau cerai sama kamu. Mas tidak mau kehilangan kamu." Tangan meki menggenggam kedua tangan Ellen. "Terus, maumu gimana ,Mas?" Tanya Ellen meledek Meki. "Mas kepengennya, menikah sama Intan, dan tidak mau bercerai darimu Ellen." Ucapnya lirih. "Carilah wanita bodoh, yang seperti Mas mau!" Teriak Ellen. "Eellen Tidak mau di madu. Silahkan dipilih. Pilih intan apa ellen. sudahlah mas, Ellen mau mandi. Mau kerja." Lanjut Ellen Ellen berbalik arah, saat Ellen sudah keluar dari kamar, dan menuju kamar lagi."fikirkan baik-baik Mas, kalau Intan sudah masuk, berarti saat itu juga Ellen akan keluar. " Setelah Ellen selesai mandi dan bersiap, bergegas Ellen berangkat kerja tanpa sarapan. "Selamat pagi, Nona Ellen, sarapan dulu biar bisa fokus bekerja." Sapa Ady di pagi hari." Sambil menyerahkan roti dan s**u kotak pada Ellen. "Terimakasih Pak. Tau saja, kalau saya belum sarapan dan memang lagi lapar." Ucap Ellen, tanpa rasa malu sedikitpun. Lalu Elleln memberikan senyum termanisnya, sebagai ucapan terimakasih. "Iya Nona ,sama-sama. Senyum tidak usah di manis-maniskan, Nona. Tetap jelek." sambil berlalu meninggalkan Ellen diruang tunggu. "Biarkan aja pak! Ku sumpahin, Pak Ady jatuh cinta sama saya!" Teriak Ellen dengan mengepalkan kedua jari-jari tangannya. dan nafas ngos-ngosan . "Sumpahmu tidak mempan, Nona Ellen." "Huh.....! Pak Ady nyebelin... !" Sambil Ellenmenendang-nendangkan kedua kakinya ke udara. "Terdengar, Ady tertawa terpingkal-pingkal. "Hoy! Kenapa Len? Pagi-pagi, sudah murung begitu." Jerit destri dipagi-pagi hari. "Aku lapar des... tadi dapat roti, tapi cuma satu. Perutku masih marah-marah mau minta diisi lagi. "Ucap Ellen lirih, dengan menggosok-gosok perutnya. "Memangnya, yang ngasih siapa? Tanya Destri mengintimIdasi. "Ada, tadi dikasih orang. Kilah Ellen. "Iya, siapa? Yang jelas kenapa Len, kok saya jadi curiga, ya? Jangan-jangan... " "Tadi pagi, dikasih Pak Ady." Jawab Ellen bercicit pelan. "Wah. Itu mah, sudah fixs. Yakin pak ady suka sama kamu Len." Kata Destri lantang. "Hust! Jangan keras-keras Destri. Nanti kedengeran orangnya, bisa berabe tau gak sih. Mulut kaya toa. Apa perlu kita ke masjid skalian? Biar orang -orang pada tau semua" "Ups." Reflek, Destri menutup mulutnya. "Maaf . Terlalu bersemangat beib." "Udah ah, Des. Jangan bergosip. Aku lagi sedih nih. Suamiku mau menikah lagi." Ellen memberanikan diri, mulai menceritakan tentang cerita keluarganya pada destri., "Apa! Suamimu mau menikah lagi?" Teriak Destri. "Gila! Benar-benar gila." "Aku tidak mau di madu Des. Aku maunya pisah saja. Aku sudah capek. Di tuduh mandul. Aku juga cuma di jadikan sapi perah sama keluarga mertuaku. Aku sudah capek. Aku harus gimana des ? Apakah aku harus bertahan? Atau aku harus menyerah? Tapi, aku sudah bertahan terlalu lama.. "ucap Ellen bercerita panjang lebar, tanpa terasa, Ellen meneteskan air mata. "Apapun keputusanmu, aku pasti akan mendukungmu Ellen." Ucap Destri menyemangati Ellen. "Aku masih bingung saat ini, Des." "Langkah pertama, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Destri memastikan, kalau sahabatnya pasti akan baik-baik saja. "Aku mau menunggu dulu, apa keputusan suamiku. Dia lebih memilih aku, atau si ondel-ondel itu." "O.." Jadi suamimu mau menikah sama ondel-ondel?" Tanya Destri penasaran. "Iya." Jawab Ellen, Dengan mengangguk-angguk kan kepala.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD