bc

Harta, Tahta, Duda Perjaka (Adelia & Dewantara).

book_age18+
114
FOLLOW
1.2K
READ
one-night stand
HE
age gap
kickass heroine
lighthearted
city
addiction
like
intro-logo
Blurb

Adelia, mahasiswa semester tengah. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan seorang lelaki dewasa, tampan, kaya raya dan berkharisma.Dewantara, lelaki dewasa dengan status duda. Setelah kepergian istrinya, ia berjanji tidak akan mencari pengganti istrinya. Namun Dewantara tidak menyangka akan bertemu dengan anak magang yang tulus mencintainya.Adelia pun bekerja keras untuk menaklukan lelaki itu dengan segudang cara, dan ia tidak menyangka bahwa perasaannya kepada lelaki itu sangatlah dalam.Tobat dari pekerjaan sebelumnya, ia lalu berjanji untuk tidak mengulangi apa yang selama ini ia kerjakan dengan lelaki yang lebih dewasa darinya.Apakah tobat Adelia akan berhasil? Dan bisa mendapatkan cinta sejatinya?Lalu, bagaimana kisah kelanjutannya?Adelia dan Dewantara.

chap-preview
Free preview
Pertemuan.
Happy reading. Adelia berlari dengan cepat, ia sudah sangat terlambat hari ini. Seharusnya ia datang pagi tadi untuk interview magang yang harus dilakukannya, namun Adelia baru saja bangun pukul 09.00 pagi tadi ralat menjelang siang. Karena memang Adelia hanya tinggal sendiri saat ini. "Huft, kalau saja aku tinggal dengan kedua orang tuaku. Sudah pasti aku bisa bangun tepat waktu, akan tetapi aku tinggal sendiri tanpa mereka dan hasilnya seperti ini datang terlambat." Baru saja Adelia melangkahkan kakinya, ia tidak melihat ada seseorang tepat di depannya. Dan akhirnya Adelia menabrak sosok tinggi menjulang lebih darinya. Bruk. "Aduh, b****g gue. Sakit banget, kenapa hari ini sial sekali." gerutu Adelia kesal. Ukuran tangan berbalut jas berwarna navi hendak membantunya berdiri, Adelia dengan sopan berterima kasih tanpa melihat ke arah wajahnya. "Terima kasih, sudah membantuku-" "Lain kali hati-hati ya, jangan tergesa-gesa." Adelia masih diam menatap wajah lelaki dewasa di depannya, walau usia lelaki itu dengannya berbeda jauh. Namun wajah tampan lelaki yang ia tabrak sangat berbeda dibandingkan dengan para mantannya. "Huh, kenapa tiba-tiba rasanya ingin dipeluk oleh lelaki tampan itu." Cukup lama Adelia menatap lelaki dewasa yang ia tabrak tadi, hingga lamunannya tersadar ketika ada panggilan masuk dari sahabatnya. "Astaga! Aku sudah sangat terlambat." *** Sore harinya. Adelia berpamitan dengan kedua sahabatnya, ia mengucapkan terima kasih kepada mereka berdua karena telah membantu kelancaran proses penerimaan magang di perusahaan terbesar di Indonesia. Setelah berpamitan, ia langsung menuju sebuah minimarket. Hari ini ia akan berpamitan dengan pemilik minimarket yang selama ini telah membantunya mendapatkan penghasilan. "Saya hari ini mohon pamit, setelah ini saya akan magang di perusahaan terbesar di Indonesia. Maaf jika ada salah dan perbuatan dari saya Pak," ucap Adelia tulus. "Ehm, kenapa harus keluar dari minimarket saya. Bukankah kamu bisa bekerja paruh waktu di malam hari, saya pasti akan menerima kamu Adel." Adelia menghela nafasnya, ia memang sangat menyayangi pekerjaan menjadi pelayan toko. Walaupun penghasilannya hanya sedikit, namun ia sangat menikmati semuanya. Bahkan pemilik minimarket ini sangat baik kepadanya. "Maaf, pak. Saya harus pamit, tidak mungkin saya pekerja selama 24 jam. Sedangkan saya harus kuliah di pagi hari-" "Syutt, kamu tidak perlu bekerja selama itu Adel. Hanya datang menemani saya di sini, itu saja sudah lebih dari cukup. Bukankah selama ini seperti itu," balas pemilik minimarket dengan nada manja. Adelia meringis mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh lelaki yang berusia 50 tahun, ia memang tidak memungkiri selama ini bekerja di minimarket hanya sambilan saja. Sedangkan pekerjaan utama Adelia hanya menemani lelaki itu sampai malam hari. "Anda masih bisa memanggil saya jika sedang di luar, saya akan memberikan waktu luang untuk anda." "Ck, Adel kenapa harus formal gitu. Seperti baru saja mengenal saya," Berdiri dan berjalan mendekat ke sofa yang sedang di tempat Adel, pemilik minimarket itu bergelayut manja dengan gadis berusia 20 tahun seperti biasanya. "Saya kangen Adel malam ini, temani makan di apartemen ya. Janji hanya makan saja, kalau Adel mau yang lain boleh." tawar lelaki itu. Adel menimang-nimang penawaran lelaki yang sedang bergelayut manja dengannya, sungguh di luar pemikiran Adel. Padahal malam ini ia harus mencari baju serta kemeja untuk ia pakai besok hari. "Saya, mau pergi dulu. Ada yang harus dibeli di mall." "Kamu butuh uang? Saya transfer sekarang juga, tapi janji temani saya ya." "Oh, s**t. Gue lagi butuh uang untuk beli baju, dan sepertinya tawaran kali ini nggak bisa gue lewati." Ting. Adel melihat ponselnya yang berbunyi, ia kaget bukan main. Lagi dan lagi uang sejumlah fantastis masuk ke dalam rekeningnya, dan ia memang sangat membutuhkannya saat ini. Cup. Satu kecupan Adel berikan kepada lelaki itu, tanda terima kasih kepadanya karena telah memberikan uang untuk membeli beberapa perlengkapan baju. "Saya akan datang nanti malam, Om tunggu di dalam apartemen saja." Panggilannya berbuah manis kepada lelaki itu, Adelia tidak peduli dengan apa yang dilakukan saat ini. Toh, lelaki yang memberikan transferan itu sudah tidak mempunyai istri alias duda. "Adel, aku tunggu nanti malam." Setelah berpamitan, Adelia langsung meluncur menuju sebuah mall yang terletak tidak jauh dari minimarket. Masih satu area walaupun ia harus berjalan selama sepuluh menit saja. Langkah kakinya tertuju di sebuah toko baju khusus wanita, Adelia lalu mencari apa yang harus ia pakai besok pagi. Dari atasan sampai bawahan Adelia sudah dapatkan setelah mengelilingi mall ini. Namun Adelia kembali menabrak seseorang seperti tadi pagi, dan betapa terkejutnya ia setelah melihat lelaki yang baru saja ia tabrak. "Loh, Si Om yang tadi pagi aku tabrak ya?" Lelaki itu terkekeh, sudah dua kali ia ditabrak oleh gadis muda dengan wajah ceria. Namun sore ini tanpa riasan dan menurut lelaki itu masih terlihat cantik. "Sepertinya kamu suka banget nabrak saya, apa kamu ada masalah dengan-" Adelia buru-buru menggeleng, ia sama sekali tidak mempunyai niat untuk menabraknya. Namun sepertinya itu adalah takdir untuknya. "Maaf kalau begitu, sudah dua kali aku tabrak Om. Akan tetapi, aku tidak sengaja." "Lupakan, anggap saja saya dapat hadiah kecil dari kamu. Tapi, saya nggak mau kamu tabrak untuk ketiga kalinya." Adelia tertawa kencang, baru kali ini ia bisa dekat dengan orang yang baru ia lihat. Dan anehnya kenapa lelaki itu lebih tua darinya. "Kenapa aku harus bertemu dengan lelaki yang usianya lebih dari aku, apakah aku kena karma?" Lamunan Adelia buyar, mana kala ada panggilan yang dari ponselnya. Dan ia baru menyadari lelaki dewasa yang ia tabrak sudah tidak ada lagi seperti pagi tadi. "Huft, kenapa selalu pergi tanpa pamit." *** Malam harinya. Sesuai apa yang Adelia sudah janjikan, ia datang menemui lelaki yang telah menjadi mantan atasannya. Sudah terlanjur Adelia menerima uang dari om yang menjadi atasannya, ia hanya menemani lelaki itu sampai tertidur. Dan anehnya Adelia bisa melakukannya tanpa susah payah. "Malam Om, maaf saya telat." "Ehm, telat beberapa menit nggak masalah. Yang terpenting kamu datang menemani saya sampai tidur." "Kenapa Om tiba-tiba genit banget sama Adel, jadi curiga." Lelaki itu tertawa, ia tidak tahu mengapa sepertinya dekat dengan Adelia seperti candu untuknya. Jika berjauhan dengan gadis muda itu, ia akan pusing kepala. "Adel janji jangan pergi sebelum saya tidur ya, kalau pergi begitu saja. Saya akan pastikan Adel nggak boleh keluar dari apartemen saya." "Ok, tenang saja." Memposisikan tubuhnya seperti sedang tidur, Adel lalu masuk ke dalam pelukan lelaki itu. Hangat seperti biasa, entah apa yang ada di dalam tubuh Adelia. Selalu menjadi penghangat ranjangnya, walau hanya menemani tidur saja tanpa yang ada yang lainnya. "Peluk saya Adel, sepertinya saya sudah mengantuk." Adelia memeluk tubuh lelaki jangkung itu, ia tidak lupa menepuk punggung dengan perlahan. Seperti layaknya seorang anak lelaki yang sedang tertidur dengan ibunya, begitulah Adel sekarang. Dan benar saja, setengah jam berlalu dengan cepat. Lelaki itu sudah tertidur dengan nyenyak, Adel tahu dari dengkuran halus tepat ditelinganya. Lalu Adel dengan perlahan melepaskan pelukannya, dan tugas ia malam ini sudah selesai. "Selamat malam Om, mimpi indah." Adelia pergi dari apartemen, ia berjalan perlahan menuju lift. Entah mengapa saat ini apartemen mewah yang biasa ia datangi begitu sepi berbeda dengan biasanya, dan Adelia takut akan suasana sepi seperti ini. "Kenapa sepi sekali, aku salah datang malam ini." Adelia mempercepat langkah kakinya, ia berharap lift yang akan mengantarnya ke lantai bawah segera terbuka dan ia bisa keluar dari apartemen ini. Bruk. Untuk ketiga kalinya dalam sehari, Adel menabrak seseorang lagi seperti tadi pagi dan sore. Bokongnya kembali sakit setelah ia terjatuh. "Haduh, kenapa hari ini gue bisa menabrak lagi sih?" "Kamu lagi? Sepertinya kita berjodoh."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.5K
bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook