Happy reading.
Adelia menatap wajah tampan untuk ketiga kalinya, ia tidak menyangka bahwa dalam sehari ia sudah bertemu dengan lelaki dewasa dengan paras yang tidak kalah tampan dari mantan-mantannya. Dan Adelia menyadari bahwa lelaki di depan matanya memang berbeda, dingin, dan seksi.
"Sepertinya kita berjodoh, dan mungkin pertemuan kita tidak sampai di sini saja."
Adelia masih dalam posisi terduduk, ia lalu berusaha berdiri sendiri tanpa bantuan lelaki itu. Namun di luar ekspektasinya bahwa ia dibantu berdiri oleh pria itu.
"Aduh, sepertinya kaki saya sedikit terkilir. Om harus membantu saya berdiri." ucap Adelia. Dewantara duduk, ia melihat kaki Adelia yang memang sepertinya terkilir.
"Ke unit saya saja, ada minyak urut untuk kakimu yang terkilir."
Lalu dengan cepat Dewantara mengendong Adelia, ia tidak percaya bahwa saat ini Adelia sudah diatas gendongan pria dewasa itu. Dan Adelia terpesona melihat wajah tampan pria itu.
"Om mau bawa aku kemana? Aku nggak dijatuhkan ke lantai paling bawah bukan?"
Lelaki itu tertawa, pertanyaan Adelia benar-benar membuat ia bahagia. Entah mengapa pertemuan dengan Adelia untuk ketiga kalinya membuat ia merasakan perasaan lain.
Klik.
Masuk ke dalam unit apartemen dan membawa Adelia duduk di atas sofa, Adelia terpesona dengan apartemen mewah yang baru saja ia datangi. Berbeda dengan unit apartemen milik mantan atasannya yang sepertinya lebih mewah milik lelaki dewasa itu.
"Huh, jiwa matre gue kenapa datang lagi? Padahal gue sudah janji nggak akan dekat dengan seorang lelaki dewasa seperti Om ini."
Seperti pepatah mengatakan, nasi telah menjadi bubur dan Adelia tidak perlu mengubah apa yang sudah digariskan kepadanya. Menyukai pria yang berusia lebih darinya, dan ia memang nyaman dengan hal itu.
"Aku harus menaklukkan lelaki dewasa ini, sepertinya seorang duda atau-"
"Mana kaki kamu, akan saya urut yang terkilir."
Beberapa jam kemudian.
Adelia sampai di sebuah kost-kostan kecil yang berada di lantai 2, sudah hampir satu tahun lamanya Adelia tinggal di sini jauh dari orang tuanya yang selalu mengekang kehidupannya.
"Sudah pagi, aku tidak boleh datang terlambat pagi ini. Kalau tidak, aku bisa mendapatkan surat peringatan di hari pertama ku bekerja."
Adelia pun bergegas menuju kamar mandi, walaupun kakinya masih terasa sakit akan tetapi ia harus mandi dengan cepat karena pukul 7.30 pagi ia harus sampai tepat waktu.
"Aku harus sampai sebelum jam 7.30, sepertinya aku akan memberikan pekerjaan yang banyak hari ini."
Setelah berusaha dengan sekuat tenaga, akhirnya Adelia datang tepat waktu. Dan ia sampai sebelum atasannya datang.
"Adelia, tolong kamu datang ke ruangan saya."
Adelia menghela nafas panjang, ia baru saja mendaratkan bokongnya diatas kursi kerjanya. Namun Irgi sebagai atasannya sudah memanggilnya ke dalam ruang kerja.
"Ini kerjakan semuanya sekarang, kalau tidak bisa kamu kasih tahu saya. Nanti ada orang yang akan membantumu."
"Baik Pak Irgi."
Adelia mengambil berkas-berkas yang diberikan kepadanya, tampak seperti tumpukan yang tidak tahu kapan selesainya. Ia sama sekali belum menguasai pekerjaan ini sebelumnya, dan Adelia tidak ingin bertanya kepada Irgi sebagai atasannya.
"Sebaiknya aku beritahukan Irgi, aku tidak akan bisa kalau mengerjakan sendirian saja."
Adelia lalu kembali ke dalam ruangan atasannya, ia mengatakan sejujurnya mengenai pekerjaan yang belum dikuasai.
"Kamu ke ruangan Pak Dewantara satu lantai dibawah saya, bawa semua berkas-berkas yang kamu kerjakan tadi."
"Tapi, bapak sendirian di sini. Apa tidak apa-apa?"
"Ya, aku bisa handle semuanya. Yang terpenting kamu bisa mengerjakan itu semua."
Adelia lalu berjalan keluar, ia membawa berkas untuk dipelajarinya bersama Pak Dewantara. Ia memang hanya mendengar nama itu kemarin, namun sampai saat ini Adelia belum melihat wajah itu.
"Pak Dewantara, sepertinya seorang lelaki sudah berumur."
Adelia lalu turun menggunakan tangga, hanya satu lantai pikirnya. Ia tidak perlu menunggu lift naik ke atas,
"Ruangan Pak Dewantara." ucap Adelia.
Ia pun masuk dengan mengetuk pintu terlebih dahulu, ia mengucap salam kepada seorang pria dewasa dari dirinya.
"Pagi Pak Dewantara, saya Adelia sekertaris magang Pak Irgi. Saya datang kesini untuk meminta bantuan anda untuk-"
Ucapan Adelia terjeda setelah ia melihat siapa pria dibalik kursi hitam itu, lelaki yang tidak asing menurutnya. Baru semalam ia bertemu dengan pria dewasa itu di dalam apartemen, dan sekarang Adelia bertemu kembali.
"Astaga, mimpi apa semalam. Kenapa harus bertemu dengan Om seksi itu lagi, dan ternyata namanya Dewantara.
"Apakah kaki kamu masih sakit?" tanya Om Dewantara kepada Adelia.
Adelia menggeleng kepalanya cepat, sakit di bagian kakinya memang sudah sembuh. Dan itu semua berkat pijatan pria dewasa itu.
"Kenapa susah sekali menjawab pertanyaan Om seksi ini, dan hatiku berdebar melihat wajahnya yang sangat tampan."
"Namamu Adelia?" tanya Om Dewantara.
Adelia mengangguk kembali, ia hanya bisa menggerakkan kepalanya saja. Tanpa mengeluarkan satu katapun dari mulutnya.
Om Dewantara terkekeh, melihat tingkah laku Adelia sejak tadi. Adelia hanya menggeleng dan mengangguk saja, tanpa membuka suara.
"Kalau kamu kelelahan istirahat saja di kamar itu, saya tidak akan mengganggumu. Untuk masalah Irgi tenang saja nanti saya akan berikan alasan kepada keponakan saya itu."
Degh.
Adelia melongo, ia tidak salah dengar bahwa Irgi adalah keponakan dari Om Dewantara. Apakah ia akan mendapatkan masalah oleh Irgi jika menyukai Om Dewantara.
"Istirahatlah di sana, apa kamu mau saya bantu."
"Tidak, aku bisa sendiri Om. Eh, maksud saya Pak Dewa."
Om Dewantara terkekeh, ia benar-benar dibuat senang dengan tingkah laku Adelia. Baginya gadis muda ini membuat suasana hatinya berubah menjadi lebih bahagia.
"Kenapa aku jadi senang ketika bersama gadis muda ini, nggak mungkin aku jatuh cinta dengan orang baru. Sedangkan sudah banyak wanita aku temui, baru Adelia saja yang membuat suasana hati ini berubah."
Cukup lama Adelia beristirahat, bahkan hingga pukul 5.00 sore. Dan anehnya Adelia sama sekali tidak mendapatkan pesan dari atasannya untuk datang ke lantai atas.
"Eh, jam berapa ini? Kenapa Pak Dewantara tidak membangunkan aku?"
Adelia melihat jam ditangannya, menepuk dahinya kencang setelah melihat bahwa saat ini waktu sudah menunjukkan angka 5 sore. Sudah waktunya ia pulang bekerja, ralat hari ini ia tidak bekerja hanya tidur saja.
"Astaga, aku harus bergegas ke ruangan Irgi. Jika tidak aku akan mendapatkan omelan besar dari Irgi."
Adelia lalu secepat kilat merapikan baju serta riasan wajahnya, ia tidak lupa menyanggul kembali rambutnya yang panjang. Agar terlihat rapi kembali seperti tadi pagi, dan yang lebih utama adalah agar terlihat cantik dimata Om Dewantara.
"Eh, apa yang kamu pikirkan Adelia. Nggak mungkin Om seksi itu menyukaiku, mungkin saja istrinya sedang menunggu di rumah."
Ketika Adelia sudah siap keluar dari ruang istirahat milik Om Dewantara, ia kembali terkejut melihat lelaki dewasa yang saat ini sedang berdiri menatap kaca. Langit di luar sana berubah hitam pertanda akan turun hujan.
"Maaf Pak Dewa, saya ketiduran cukup lama. Kalau begitu saya pamit untuk ke ruangan Pak Irgi."
"Irgi sudah pulang sejak tadi, dan hanya ada saya dan kamu saja di sini."
Degh.
"Ka-kalau begitu, saya permisi pulang dulu-"
"Tunggu Adelia, kita pulang bersama sore ini. Sepertinya di luar sudah hujan."