Terpesona

1109 Words
Happy reading. Cup. Kecupan berubah menjadi ciuman panas, entah dorongan dari mana seorang Dewantara melakukan hal itu. Lelaki dewasa ini telah menjadi duda setelah kepergian istrinya, ia memang masih mencintai wanita yang telah menjadi pemilik hatinya sejak dulu walaupun istrinya telah pergi untuk selama-lamanya. "Adelia, maaf. Saya telah mencium kamu begitu saja." Adelia diam, ia tidak bisa mengatakan apapun jika sedang bersama dengan Om Dewantara. Bibirnya terasa kebas setelah Om Dewantara menciuminya beberapa menit yang lalu. "Om saya permisi keluar dulu, saya masih ada kerjakan yang lain." Melihat Adelia berjalan meninggalkannya, Om Dewantara hanya bisa menghela nafas panjang. Ia tidak percaya bahwa beberapa menit yang lalu dirinya baru saja mencium gadis muda seusia keponakannya. Yap, Adelia memang berusia sama seperti Irgi keponakannya. "Astaga! Kenapa aku menciumnya tadi, apa yang ada dipikirkan kamu Dewantara." *** Adelia berjalan menuju kost-kostan miliknya, ada beberapa tetangganya menyapa Adelia. Mereka bersahabat sejak Adelia tinggal di kost-kostan beberapa bulan yang lalu. Adelia terpaksa melakukan hal itu karena ia tidak mungkin tinggal bersama Papa dan ibu tirinya yang berusia tidak jauh dari dirinya. "Adelia, ada paket besar untuk kamu. Aku sudah menaruhnya di depan pintu." ucap salah satu teman kostnya. "Ya, terima kasih. Aku akan mengambilnya." Adelia lalu naik ke lantai dua di mana kamarnya berada paling pojok, kostnya hanya berukuran sedikit lebih kecil dari kamarnya yang dahulu. Akan tetapi ia sangat menyukai tinggal di sini, menurutnya lebih baik tinggal di tempat seperti ini daripada di rumah. "Ini paketan dari siapa? Sebesar ini?" Adelia mencari nama pengirimnya, akan tetapi ia tidak menemukan nama pengirim paket untuknya. Lalu ia mengabaikan untuk sementara, saat ini ia hanya ingin beristirahat lebih dulu baru membukanya. "Sebaiknya aku mandi dulu, aku merasakan lengket dan gerah karena keringat." Satu jam berlalu. Adelia telah menyelesaikan ritual mandi malamnya, ia terpaksa harus melakukannya agar malam ini bisa tidur dengan nyenyak. Menikmati malam dengan bersantai ditemani cemilan, Adelia melihat acara tv malam ini sebelum beranjak tidur. Ting. Satu pesan masuk ke dalam ponselnya, Adelia penasaran siapa yang mengirimkan pesan malam ini. Seingat dirinya hanya beberapa orang yang mempunyai nomer telponnya, karen la memang Adelia baru saja mengganti nomer baru. "Paket skin care buat kamu Adelia, terima kasih untuk semalam." Adelia menghela nafasnya, satu paket skincare untuknya. Ternyata ia mendapatkan paket sebesar itu dari mantan atasan minimarket, selama ini memang menjadi teman kencan Adelia tanpa orang lain tahu. Ia sengaja melakukan agar mendapatkan uang tambahan untuk biaya kuliah, akan tetapi ia sudah berjanji akan berubah setelah mendapatkan pekerjaan yang layak. Adelia sudah tidak ingin menjadi teman kencan mantan atasannya itu. "Aku harus mencari cara untuk tidak berhubungan lagi dengan mantan bos aku, aku tidak mau hubungan ini berlanjut lagi. Tapi bagaimana caranya, uangnya masih aku butuhkan bulan ini sampai aku mendapatkan gaji di Dirgantara group. Adelia kembali menutup paketan yang seharusnya ia pakai nanti, memasukan kotak itu ke dalam plastik besar. Ia akan mengembalikan kepada pemiliknya dengan menggunakan jasa delivery. "Aku akan mengirimkan paketan ini dengan menggunakan jasa delivery." Satu jam berlalu. Paketan sudah diberikan oleh Abang ojol, ia tidak lupa memberikan ongkos untuk biaya mengantarkan paket. Adelia tidak sudah berjanji untuk tidak bergantung dengan mantan atasannya itu. Suara perut Adelia terdengar kencang, ia baru ingat sampai malam ini ia belum makan. Dengan uang seadanya sisa gaji menjadi kasir minimarket, Adelia beranjak mencari penjual nasi goreng yang selalu ada setiap malam. "Sepertinya nasi goreng enak, sebaiknya makan lebih dulu baru tidur." Adelia berjalan menyusuri perumahan tidak jauh dari kost-kostan, ia memesan satu porsi nasi goreng untuk dimakan malam ini. Setelah selesai dibuat, Adelia kembali berjalan menuju kost-kostan yang hanya berjarak sekitar 100 meter. "Adelia, tunggu." Degh. "Suara itu kenapa sepertinya tidak asing bagiku, apa aku hanya menghalu saja." Dan benar saja apa yang dipikirkan oleh Adelia, pria dewasa tampan dan berkharisma itu ada di belakangnya. Kali ini Om Dewantara sudah berganti pakaian rumahan, terlihat santai dan tetap tampan Dimata Adelia. "Loh, Pak Dewantara kenapa sampai di sini?" "Saya mau mengajakmu makan malam, bukankah kamu belum makan dari pagi?" tanya Om Dewantara. Adelia mengangguk pelan, ia memang ingin mencari makan malam ini. Dan ia sudah mendapatkan satu bungkus nasi goreng ditangannya. "Aku sudah membeli nasi goreng, dan sepertinya aku akan makan di kost-kostan saja Pak." Dewantara diam, sepertinya ia terlambat untuk mengajak Adelia makan. Tapi ia masih punya ide bagus untuk makan bersama Adelia malam ini, dengan cara membeli nasi goreng yang sama dengan Adelia. Dan makan di dalam mobil bersama Adelia. "Ternyata sekarang sugar baby itu berkeliaran di mana-mana ya, nggak tahu malu banget." "Ehm, bener. Jadi sugar baby itu memang ada, dan kita melihatnya sekarang." Adelia tersedak, ia mendengar apa yang diucapkan oleh sekumpulan wanita yang tidak jauh darinya. Ia tahu siapa yang menjadi bahan gosip kali ini siapa lagi kalau bukan dirinya sendiri. "Sepertinya aku sudah kenyang Om, aku mau pulang dulu." Sepanjang jalan Adelia diam, moodnya untuk makan menguar entah kemana. Ia tahu selama ini ia bekerja sebagai sugar baby seorang pria dewasa, namun Adelia sudah tobat untuk menjadi sugar baby dengan alasan takut mendapatkan karma. "Adelia, tunggu dulu. Kenapa kamu meninggalkan makanan yang belum sempat kamu makan?" "Aku sudah tidak nafsu makan Om, buang saja makanan itu." Om Dewantara menghela nafasnya, ia tahu mood gadis muda itu selalu berubah. Dan menjadi pengalaman baginya setelah mengenal istri dari keponakannya sendiri. *** Adelia terbangun di pagi hari, seperti biasa ia melakukan senang kecil untuk membuat tubuhnya segar. Setelah itu ia melanjutkan ritual mandi pagi, kali ini ia tidak akan datang terlambat karena atasannya sudah memberikan ultimatum kepadanya untuk tidak datang terlambat. "Kalau saja bukan suami dari sahabat aku, sudah aku blokir nomer Irgi. Menganggu sekali pagi ini, huh." Adelia pun bergegas menuju kamar mandi, hanya membutuhkan waktu setengah jam saja. Adelia sudah siap untuk kembali bekerja sebagai sekertaris seorang CEO muda di perusahaan terkenal di Indonesia. "Sudah cantik Adelia, kamu pasti bisa bekerja baik. Jangan memalukan wajahmu Adelia, ehm Ralat pendidikan kamu." Satu jam berlalu. Adelia telah sampai di parkiran perusahaan, ia memarkirkan motor maticnya di tempat yang tersedia. Lalu bergegas menuju lift yang tidak jauh dari parkiran, Adelia hendak menuju lantai paling atas dimana ada ruangan kerjanya. Akan tetapi, di dalam perjalanan menuju lift. Ia kembali berpapasan dengan Om Dewantara yang baru saja sampai di parkiran. "Adelia, kita ketemu lagi. Sepertinya memang kita sudah ditakdirkan untuk bertemu lagi ini." Adelia menelan salivanya keras, melihat sosok dewasa Om Dewantara yang berbeda kali ini. Masih terlihat tampan dengan kemeja biru dipadukan dengan jas dengan warna yang sama, dan itu memang sangat pas dipakai oleh Om Dewantara. "Kenapa semakin seksi saja Om Dewantara ini, ingin sekali mencoba bibirnya sekali lagi. Aku tidak peduli jika Om mengatakan bahwa aku gadis nakal." "Kamu bicara apa Adelia? Sepertinya saya-"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD