Ciuman Dewantara.

1700 Words
Happy reading. Mencium kembali bibir Dewantara cukup lama, Adelia bahkan semakin buas seperti ingin memakan bibir pria dewasa yang selam ini ia kagumi. Sedangkan Dewantara seperti sedang diuji oleh gadis muda berusia 20 tahun. Sejujurnya ia ingin menikmati lebih dari ini, namun kewarasannya berkata lain hingga melepaskan ciuman panasnya dengan Adelia. "Kenapa berhenti? Apa Om tidak mau melanjutkan yang lainnya?" tanya Adelia pelan. Adelia matilah kau, kenapa malah memancing singa lapar seperti Dewantara, walau ia sudah menjadi duda sangat lama. Akan tetapi Dewantara adalah seorang pria dewasa yang haus belaian seorang wanita. "Kamu mau melanjutkan di mana? Di sini atau?" Cup. Adelia kembali mencium bibir Om Dewantara, ia tidak peduli lagi jika sekarang Adelia semakin nakal kepada lelaki itu. Bahkan saat ini ia sedang berada dipangkuan Om Dewantara, bergelayut dengan manja seperti sudah terbiasa. "Om, aku tidak tahu apa yang selanjutnya akan terjadi. Ini pengalaman pertamaku kepada seorang lelaki." bisik Adelia. "Cukup untuk malam ini Adelia, bukankah kita mau makan? Atau kamu sudah kenyang." Adelia menimang-nimang apa yang ditanyakan oleh Dewantara, apakah mau melanjutkan makan malam atau makan yang lainnya. Namun ia kembali teringat jika waktu sudah malam, ia harus segera kembali ke kost-an miliknya. "Duh, aku lupa Om. Hari sudah malam, sebentar lagi gerbang akan dikunci." "Malam ini kamu tidur di sini, bukankah besok hari Sabtu." Adelia mengerjap kedua bola matanya, ia hampir saja lupa bahwa besok itu adalah hari Sabtu. Padahal baru saja ia masuk kerja menjadi karyawan magang. "Kita makan dulu, baru tidur." Dua jam kemudian. Adelia telah berada disebuah kamar besar, di dalam kamar itu sudah ada satu lingerie transparan berwarna putih. Adelia memakainya dan ternyata ukurannya sangat pas ditubuhnya. "Pas, kenapa bisa seperti ini?" gumam Adelia. Sudah hampir satu jam lebih, Adelia masih betah di atas ranjangnya. Padahal waktu sudah menunjukkan angka 12, dan Adelia masih tidak bisa tidur. "Aku masih tidak bisa tidur malam ini, apa karena tidur siang ku yang terlalu lama tadi sehingga aku masih terjaga." Adelia mencari alternatif untuk segera tidur, dengan cara menyusuri area rumah Dewantara yang begitu besar menurutnya. "Wah, benar-benar rumah ini sangat besar. Dan memang Om Dewantara seorang kaya raya." "Kenapa kamu belum tidur, Adelia? Apa AC di kamar kamu tidak dingin?" tanya Om Dewantara. Menelan salivanya keras, Adelia melihat Dewantara yang saat ini sudah berganti pakaian rumahan, sangat berbeda menurutnya akan tetapi masih terlihat tampan menurutnya. "A-aku belum bisa tidur." "Mau ikut denganku?" tanya Dewantara. Dan Adelia mengangguk pelan. "Om, kenapa kita harus masuk ke dalam kamar Om?" "Saya tahu cara agar kamu bisa tidur nyenyak, Adelia. Dan aku yakin kamu pasti akan suka," Adelia merebahkan tubuhnya diatas ranjang besar milik Dewantara, begitu berbeda dengan ranjang yang ia punya di tempat kost-an. Sepanjang malam Adelia tidur dengan nyenyak di dalam pelukan Dewantara, berbanding terbalik dengannya yang hanya bisa menahan perasaannya yang tidak bisa disalurkan. "Selama ini sudah banyak wanita yang selalu dekat denganku, akan tetapi baru gadis muda ini yang membuatku bergairah." *** "Sudah bangun?" tanya Dewantara. "Sepertinya tidurmu sangat nyenyak malam ini, aku sampai tidak percaya bahwa kamu itu tidur atau-" Cup. "Terima kasih Om, sudah buat aku tidur dengan nyenyak tadi malam. Sepertinya ini adalah malam pertamaku tidur nyenyak, sebelumnya sangat susah untuk tidur cepat." Cup. "Mulai saat ini kamu tinggal di sini, rumah ini akan menjadi rumahmu. Hari ini aku akan menemanimu untuk pindahan, dan mulai besok kamu akan tinggal disini." Adelia melongo tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Dewantara, lalu sedetik kemudian Adelia mengangguk pelan tanda ia menerima apa yang dipinta oleh Dewantara. "Baiklah, aku akan pergi untuk merapikan barang-barang ku nanti." "Mandi lalu sarapan, setelah itu saya akan mengantarmu ke kost-an kamu." Satu jam berlalu, setelah Adelia sudah siap untuk pulang. Adelia ditemani Dewantara pergi menuju kost-kostan dimana Adelia tinggal selama ini. "Om tunggu di sini, jangan masuk dulu. Tunggu sampai aku keluar dari kost-an aku." "Baik sayang." Degh. Adelia tersenyum tipis, sejak bertemu dengan Om Dewantara ia selalu tersenyum dan anehnya Adelia menyukai panggilan apapun yang diucapkan oleh Dewantara. Setelah semua telah selesai Adelia kumpulkan, lalu ia memasukkan semuanya ke dalam koper dan tas besar. Hanya ada beberapa baju dan tentunya buku-buku kuliahnya saja selebihnya semua fasilitas seperti meja, lemari dan lain-lainnya milik ibu kost. Sementara itu. Dewantara sedang berbicara melalu sambungan telepon, ia baru menyadari bahwa Adelia sedang berdebat dengan seseorang di depan gerbang kost-an. Dewantara masih menunggu kedatangan Adelia dengan sabar, namun ia tidak percaya apa yang telah dilakukan oleh lelaki itu kepada kekasihnya yang membuat Dewantara kesal. "Sialan, sedang apa pria itu dengan kekasihku?" Dewantara berjalan mendekat, ia ingin melihat interaksi antara Adelia dengan pria yang menurutnya seusianya. "Adelia, sudah selesai? Ayo kita pergi!" ajak Dewantara. Adelia pergi bersama Dewantara, sementara mantan atasannya mengepalkan kedua tangannya kesal. "Siapa lelaki yang pergi bersama Adelia itu. Kenapa seperti tidak asing?" Malam harinya. Adelia duduk di depan balkon kamar barunya, setelah seharian ia merapikan baju serta buku-buku kuliahnya. Adelia berinisiatif untuk duduk di balkon, menghirup udara malam hari yang begitu sejuk. Sudah lama sekali ia tidak merasakan hal seperti ini, semenjak ia pergi dari rumahnya. "Kenapa aku rindu dengan kamarku? Rindu dengan adikku." Cup. "Om, kenapa harus mengagetkan aku seperti itu? Kalau aku jantungan bagaimana?" Dewantara mengelus kepala Adelia dengan lembut, kali ini ia sudah tidak perlu takut lagi jika Adelia menolak untuk ia elus. Karena sepertinya Adelia sangat menyukai apa yang dilakukan oleh lelaki dewasa yang saat ini tampil lebih seksi dari biasanya. "Astaga, padahal masih pakai kaos polos aja sudah seksi seperti ini. Bagaimana kalau Om Dewantara tidak pakai baju?" Tak. Satu jentikan Adelia terima, siapa lagi kalau bukan Dewantara yang memberikan jentikan ke dahinya. "Apa yang sedang kamu pikirkan, Adelia? Kenapa kedua matamu melihat kearah d**a saya?" Adelia salah tingkah, seperti seorang pencuri yang ketahuan oleh orang banyak. Adelia menahan rasa malu karena ketahuan melihat bagian d**a Om Dewantara dengan jelas, hendak ingin menerkam saja. "Ma-maaf Om, saya tidak sengaja untuk-" "Kalau kamu mau lihat dalamnya, ayo kita ke dalam. Saya tunggu di kamar." Degh. Adelia menelan salivanya keras, apakah ajakan Dewantara benar-benar harus ia lakukan atau tidak. Akan tetapi, ia ingin melihat kelanjutannya. Cukup lama Adelia menimang-nimang semuanya, tapi akal pikirannya sekarang telah menyetujui untuk datang menemui Dewantara di kamarnya. Lalu tanpa berpikir lama lagi, Adelia melangkahkan kakinya menuju kamar Om Dewantara yang berada tepat di samping kamarnya. "Ini serius gue masuk ke dalam kamar Om Dewantara untuk kedua kalinya, astaga otak gue sudah terkontaminasi sama blue film milik Rania." Adelia pun akhirnya mengetuk pintu kamar Dewantara, setelah tiga ketukan barulah ia masuk ke dalam kamar Dewantara untuk kedua kalinya. "Astaga, godaan yang nggak bisa dibiarkan. Aku harus melihat ini semua, nggak boleh dilewatkan." "Mau sampai kapan kamu disitu, Adelia. Saya sudah menunggu kedatanganmu malam ini," pinta Dewantara. *** Adelia kembali tertidur nyenyak di pelukan Dewantara, ia baru terbangun setelah mendengar suara merdu dari Dewantara yang terlalu seksi menurutnya. Mati-matian Adelia menutup kedua matanya saat Dewantara membuka kaos polos berwarna putih, namun sialnya Dewantara malah membuka kedua mata Adelia sehingga ia bisa melihat bagian perut Dewantara yang terlihat semakin menggoda. "Bangun Adelia, kalau kamu belum bangun juga. Akan saya beri hukuman kepada kamu." Sebenarnya Adelia sudah terbangun sejak beberapa menit yang lalu, ia selalu bangun cepat ketika pagi hari. Namun sepertinya kali ini ia malu dengan keadaannya pagi ini. Cup. "Hukuman pertama untukmu, akan saya berikan hukuman kedua jika kamu tidak bangun juga." Bukan Adelia takut dengan hukuman Dewantara, ia semakin ingin mengetahui hukuman apa yang selanjutnya akan ia terima. Dewantara kembali mengecup pipi Adelia, lama sekali hingga Adelia merasakan kegelian akibat kumis yang dimiliki oleh Om Dewantara. "Hukuman ketiga, saya yakin kamu akan menikmati semua permainan yang saya berikan sama kamu-" "Aku sudah bangun Om, tenang aja." Dewantara tersenyum, akhirnya Adelia terbangun dari tidurnya. Walaupun sebenarnya tidak tidur, ia kembali mengecup Adelia namun bukan di pipi melainkan di bibir Adelia. "Om, aku belum mandi. Aku-" Satu ciuman panjang Dewantara berikan, ia sudah lama menunggu moment ini sejak pertemuan mereka. Dewantara sudah tidak peduli lagi dengan status Adelia yang menjadi bawahannya di perusahaan, rasa ingin menikmati bibir Adelia begitu besar hingga mengalahkan semuanya. "Om, aku ingin-" "Keluarkan semua desahanmu Adelia, aku rindu ingin mendengarkan desahan seorang wanita." Adelia kembali mendesah, memanggil nama Dewantara dengan lembut dan seksi. Ia pun sudah tidak peduli dengan apa yang akan diterimanya nanti, yang ada dipikiran Adelia hanya ingin menikmati sentuhan dari Om Dewantara saat ini. Ciuman yang Adelia rasakan di bibirnya, entah sejak kapan berpindah menuju lehernya. Ada kecupan yang begitu terasa kala bibir Dewantara mengigit dengan kencang, ia tahu bahwa saat ini lehernya menjadi makanan terenak untuk Dewantara. Namun ia lupa bawa akan ada bekas yang membuat ia malu nantinya. "Om, aku sudah tidak bisa menahan lagi. Aku ingin-" Setelah Dewantara mengakuisi leher jenjang milik Adelia, kini bibir lelaki dewasa itu menuju tempat dimana bagian sensitif milik Adelia. Dua benda kenyal milik Adelia yang begitu pas ditangannya menjadi mainan Dewantara. "Om cukup! Aku sudah tidak kuat lagi." Namun lagi dan lagi lelaki itu memainkan dua benda kenyal milik Adelia dengan bibirnya, mengecup lalu mengusap bagian sensitif milik Adelia. Semakin terasa b*******h kala Dewantara mengigit pelan. "Ah, Om aku-" "Keluarkan desahanmu Adelia, panggil nama saya saja. Saya akan lebih senang jika kamu menikmati permainan ini." bisik Dewantara. Kini tidak hanya di bagian sensitif Adelia yang telah menjadi mainan Dewantara, Adelia merasakan bagian yang selama ini selalu dilindungi ya dari mantan-mantan kekasihnya. Dan Adelia sepertinya pasrah saat jari-jarinya Om Dewantara sudah berada di bagian luar lingerie "Untuk bagian ini sepertinya belum saatnya sekarang, saya akan meminta jika kamu sudah siap." Ingin Adelia protes, namun percuma saja Dewantara sudah pergi meninggalkannya. Pagi ini Dewantara ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda walaupun saat ini sedang libur bekerja. "Mandi lalu makan Adelia, saya akan pergi sebentar dan pulang nanti sore." Perintah Dewantara langsung Adelia lakukan, seperti biasa ia menjadi bawahan jika Dewantara sudah mengeluarkan perintah kepadanya. Dan anehnya Adelia menuruti tanpa membantah. Cup. "Saya ada kerjaan dengan Irgi, jadi kamu sementara waktu di sini saja. Nikmati harimu Adelia, dan tunggu permainan saya nanti malam," bisik Om Dewantara. Adelia kembali menelan salivanya, permainan apa lagi yang akan diterimanya nanti malam. Apakah ia akan bisa mengimbangi permainan Dewantara atau tidak, ia akan belajar kepada Sang alihnya. "Aku harus bertanya dengan siapa? Rania atau-"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD