Happy reading.
Tangan Dewantara menjelajahi tubuh Adelia, begitu intensif hingga bagian sensitif yang belum pernah disentuh oleh siapapun hanya Dewantara pria yang bisa menyentuh Adelia.
"Om, ah. Cepat lakukan, aku ingin merasakan permainan tanganmu yang nakal."
Dewantara semakin melancarkan aksi nakalnya, ia sudah terpengaruh dengan rayuan setan yang ada didalam tubuhnya. Dewantara hanya melakukan atas perintah Adelia sebagai komandonya.
"Adelia, kamu begitu nikmat hingga aku tidak ingin berhenti begitu saja dari semua ini."
Akhirnya, setelah satu jam lamanya. Dewantara telah membobol pertahanan Adelia. Bahkan keduanya sudah sama-sama terkulai lemas tidak berdaya akibat dari permainan mereka berdua.
"Om, aku lelah."
"Tidur sayang, aku akan menemanimu disini."
Kembali Adelia tidur nyenyak di pelukan Dewantara sepanjang malam, sedangkan Dewantara tersenyum tipis setelah apa yang dirinya lakukan kepada Adelia yang saat ini sudah tertidur.
"Maaf kan aku Adelia, aku telah membuatmu seperti ini. Sebentar lagi aku akan menikahi kamu, dan aku berjanji membuat status yang jelas untukmu."
Seminggu berlalu.
Hubungan sembunyi antara atasan dan bawahan semakin terasa mengasyikkan, Adelia tidak segan-segan untuk datang ke ruangan Dewantara yang berada tepat dibawah lantai tempatnya bekerja. Atau sebaliknya Dewantara yang curi-curi waktu datang untuk menemui Adelia di ruangannya begitu seterusnya.
"Om, aku boleh minta sesuatu sama Om."
"Ehm, boleh kamu mau apa. Katakan sayang?" tanya Dewantara kepada Adelia.
"Aku mau tinggal di apartemen saja boleh, agar hubungan kita tidak diketahui oleh orang banyak. Aku nggak mau mereka berpikir kalau aku hanya menjadikan Om sebagai mesin uang aku."
Dewantara diam, ia sedang memikirkan apa yang terbaik untuk Adelia. Menurutnya memang benar, mereka belum sah secara agama dan ia tidak ingin Adelia menjadi bahan gunjingan orang yang mengetahui hubungan mereka berdua.
"Baiklah, Om setuju sama ide kamu. Om ada apartemen kosong yang sudah lama tidak ditempati, sepertinya cocok untuk kamu."
"Benarkah?" tanya Adelia tidak percaya.
"Ehm, dulu apartemen itu disewakan karena menurut Om uangnya akan menjadi simpanan kelak ketika ia membutuhkan uang. Namun saat ini sudah tidak ada lagi yang menyewa, maka dari itu lebih baik apartemennya buat kamu."
Cup.
"Adelia, kenapa cium Om?"
"Adel hanya ingin mengucapkan terima kasih sama Om, apa salah?"
Dewantara membungkam bibir kekasihnya itu dengan cepat, menurutnya bibir Adelia sudah menjadi candu untuknya bahkan jika sejati saja ia tidak mencium Adelia kepala Dewantara akan pusing jadinya.
"Besok kita ke apartemen, dan mulai besok kamu akan menempati apartemen itu sampai hari pernikahan kita."
Keesokan harinya.
"Adel sayang, kita sudah sampai di depan apartemen. Yuk, kita masuk!"
Adelia terbangun, ia melihat area yang menurutnya tidak asing baginya. Adelia ingat betul parkiran yang biasa ia datang sebelum mengenal Dewantara.
"Ini parkiran apartemen Om?"
"Ehm, apartemen Om ada di lantai 15."
Degh.
Adelia diam beberapa saat, ia ingat betul apartemen ini.
"Ini apartemen milik Om Reza, astaga!"
***
Adelia seperti biasa datang ke tempat kerjanya yang tidak jauh dari apartemen barunya, dengan berjalan kaki sekitar lima belas menit. Menurut Adelia sama saja membakar kalori di dalam tubuhnya, dan Adelia tidak butuh olahraga lagi.
Saat ini Adelia sedang berada di depan lift, suasana pagi ini masih terasa sepi seperti biasanya. Selama dua hari ini Adelia tidak melihat Reza di apartemen ini, mungkin Reza sedang pergi atau tidak berada di apartemen yang sama dengannya kalau tidak matilah Adelia.
Cup.
Satu ciuman mendarat di pipi kanan Adelia, terasa dingin seketika Adelia rasakan. Ia menoleh ke arah kanan sampingnya terlihat sosok yang selama dua hari ini ia takutkan, dan pada akhirnya ia bertemu di depan lift.
"Om Reza, apa kabar?"
"Baik, kamu kangen sama saya. Kenapa datang ke apartemen nggak kabari saya terlebih dahulu."
Adelia menelan salivanya keras, sepertinya saat ini ia harus mengatakan sejujurnya kepada Reza mengapa ia ada di apartemen ini. Dan nggak mungkin ia menutupi rahasia yang ia simpan selama ini.
"Ikut saya ke dalam Adel, ada yang harus saya katakan sama kamu."
Adelia mengikuti arahan Reza, ia masuk ke dalam apartemen milik mantan atasannya itu. Suasana yang tidak asing untuknya membuat Adelia mengingat kejadian demi kejadian bersama Reza ketika sebelum bertemu Dewantara.
"Om, aku harus pergi. Sebenarnya aku sudah terlambat untuk pergi bekerja," ucap Adelia
"Aku mau memberikan kamu sesuatu, hanya sebentar saja."
Reza membawa Adelia ke dalam sebuah ruangan, lalu tidak lama kemudian Reza datang dengan membawa sebuah kotak perhiasan berwarna merah. Reza sudah menunggu momen ini sejak kemarin, dan ia sudah memutuskan untuk membeli perhiasan ini untuk Adelia.
"Om, aku-"
"Ini untuk kamu Adelia, saya membeli perhiasan ini untuk melamar kamu. Setelah berpikir lama saya sudah memutuskan untuk menikah denganmu, hubungan saya dengan mantan istri saya sudah berakhir lama dan kini saatnya saya memutuskan untuk menikah dengan wanita yang selama ini menjadi bagian hidup saya.
Degh.
"Bagaimana, Adel sayang. Kamu mau menerima cinta saya?"
Adelia menghela nafas panjang, ia kali ini memang harus mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya dan juga Dewantara. Walaupun ia tahu akan ada Reza yang bersedih dengan keputusannya.
"Om Reza, maaf. Aku nggak bisa menerima ini semua, aku sudah berjanji dengan seseorang untuk hidup dengannya."
Wajah sendu menghiasi Reza, ia mengira lamaran dadakannya akan berakhir bahagia dengan Adelia menerima lamarannya. Akan tetapi ia salah besar, sepertinya Dewi Fortuna tidak sedang berpihak kepadanya.
"Maaf, Om Reza. Aku izin pamit, saat ini aku sudah sangat terlambat sekali."
Adelia pergi meninggalkan Reza, ia keluar dari unit apartemen mantan atasannya. Dengan langkah cepat ia masuk ke dalam lift tanpa tahu ada seseorang yang melihatnya keluar dari unit Reza.
"Adelia, kenapa keluar dari unit itu?"
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Adelia hanya diam membisu. Ada banyak karyawan yang menegurnya, namun Adelia hanya diam tanpa menjawab pertanyaan mereka. Adelia tanpa kacau setelah lamaran dadakan Reza kepadanya, dan saat ini ia tidak bisa bekerja dalam keadaan ini.
"Sepertinya aku izin hari ini, aku ingin pergi ke suatu tempat."
Membelokan kedua kakinya menuju halte bis, Adelia lalu naik angkutan umum untuk mengantarkannya menuju tempat dimana ia bisa mengeluarkan keluh kesahnya. Tidak perlu lama, Adelia telah sampai di sebuah kost-an sederhana yang selama ini menjadi tempat istirahat selain kost-an miliknya.
"Adel, kamu datang."
"Rhania, aku ingin berbicara denganmu. Pikiranku sedang tidak baik-baik saja."
Yap, saat ini Adelia sedang berada di kost-an Rhania. Tempat dimana ia selalu mengeluarkan keluh kesahnya, dan Adelia akan berada disini sampai ia bosan.
"Lo, kenapa lagi galau."
"Ehm, galau karena dilamar orang."
Rhania tertawa kencang, memang sahabatnya agak aneh saat ini. Seharusnya seorang wanita yang akan dilamar itu senang, namun Adelia berbeda bahkan sahabatnya tidak menyukai sedikitpun.
"Memangnya siapa yang melamar kamu sekarang? Om Dewantara atau-"
"Ok Reza, mantan atasan gue di supermarket."