Pilih Saya atau Dia?

1055 Words
Happy reading. Sudah hampir satu minggu Adelia menginap di rumah sahabatnya, tanpa memberitahu Dewantara. Adelia seakan menutup akses untuk Dewantara mengetahui kabarnya, yang ia butuhkan saat ini hanyalah berpikir untuk memilih diantara keduanya Dewantara atau Reza. Memang seharusnya, Adelia telah menentukan pilihan hatinya untuk masa depan. Akan tetapi sampai saat ini keraguannya masih menyelimuti hati dan pikiran Adelia sendiri, seakan iya tidak bisa keluar dari zona ini. "Mau sampai kapan, lo di dalam kamar terus. Mau menghindar dari duda dua itu atau ini memutihkan kulit lo yang sudah belang-belang." Adelia mendengkus sebal, sepertinya sahabat karibnya sudah bosan dengannya mengusir secara halus seperti yang baru saja ia terima. "Lo, bosen sama gue atau nggak terima kalau kamar lo terbagi dua sama gue." "Nah, pinter juga lo Del. Gue seneng akhirnya sadar." Adelia sama sekali tidak membenci sahabatnya, Rania memang seperti itu sejak mereka pertama kali menjadi sahabat. Bagi Adelia, Rania adalah adik sekaligus sahabat begitupun sebaliknya Rania menganggap Adelia sebagai kakak karena mereka hanya terpaut usia lima bulan saja. Namun tetap saja Adelia seperti anak kecil jika sedang berhadapan dengan Rania. "Gue harus apa, pusing juga punya pacar banyak gini." Rania menggeleng kepalanya cepat, sahabatnya ini memang sangat kepedean jika berbicara mengenai pria yang berdekatan dengan Adelia. Namun ia tidak bisa berbohong jika Adelia memang mempunyai wajah yang cantik bak artis Korea. "Lo putusin keduanya aja, biar nggak pusing. Jadi, jomblo itu nggak masalah bukan." Adelia menatap wajah Rania tajam, dengan ide yang baru saja didengarnya. Akan tetapi beberapa detik kemudian ia tersenyum tipis, ternyata ide Rania tidak semuanya salah sepertinya ia harus mencoba ide tersebut. "Baiklah, aku akan pikirkan ide kamu nanti. Sepertinya memang seharusnya aku bisa memutuskan pilihan terbaik." "Welcome to jomblowati." *** Dewantara menghubungi Adelia untuk kesekian kalinya, pria itu berpikir jika Adelia kekasihnya sedang merasakan kesusahan di suatu tempat dan Dewantara tidak pernah berhenti untuk menghubungi Adelia. "Kenapa Adelia susah sekali menghubunginya, apa terjadi sesuatu dengannya saat ini." Dewantara kembali mengecek ponselnya, apakah Adelia sudah bisa dihubungi namun sia-sia saja menurutnya nomer ponsel Adelia masih tidak aktif sampai sekarang. "Aku harus menghubungi siapa lagi, sepertinya memang Adelia sedang tidak ingin bertemu denganku." Dewantara duduk termenung di depan laptopnya, ia seperti kehilangan arah setelah satu Minggu Adelia tidak ada di sampingnya. "Siang, Pak Dewa. Ada tamu mencari anda," "Tamu?" beo Dewantara. Masih ingat betul hari ini ia tidak menerima janji untuk bertemu dengan siapapun, hati dan pikirannya sedang kacau balau karena ulah Adelia. Dengan penuh pertimbangan, akhirnya Dewantara mengizinkan tamu itu masuk. Berharap akan ada mukjizat untuknya jika menerima tamu siang ini. "Suruh masuk." "Baik, Pak Dewa." Dewantara mengerjakan kembali pekerjaan yang sempat ia tunda, lalu ia menjeda kembali ketika mendengar suara langkah kaki seorang wanita yang sepertinya pernah ia lihat. "Siang, Pak Dewa. Saya Rania sahabat Adelia, saya tahu dimana Adelia sekarang." Dewantara tersenyum senang, ia mengucap syukur dalam hatinya. Benar-benar doanya kali ini diijabah oleh Sang Pencipta, dan sebentar lagi dirinya akan bertemu dengan Adelia. "Antarkan saya untuk bertemu Adelia, apapun saya berikan untuk kamu." "Saya tidak perlu apa-apa dari anda Pak Dewa, saya hanya ingin Adelia bahagia dengan orang yang tepat." Setelah berbicara panjang lebar, Rania mengajak Dewantara bertemu dengan Adelia. Siang ini memang mereka akan bertemu di salah satu mall setelah jam makan siang berakhir, baik Rania yang sudah menentukan dimana mereka akan bertemu. Dan Adelia menyetujui apapun pilihan sahabatnya itu. "Itu, Adelia sepertinya sudah datang sejak tadi." tunjuk Rania. Mereka sudah sampai di sebuah restoran jepang, dimana selalu menjadi tempat favorit mereka berdua. "Saat ini Adelia sedang galau Pak, jadi tolong buat sahabat kembali seperti kemarin." Dewantara menatap jauh wajah Adelia yang duduk sendirian di restoran ini, ia memang menyadari jika Adelia sedang melamun entah apa yang dipikirkan oleh Adelia akan tetapi Dewantara berjanji membuat kekasih itu ceria kembali. Cup. "Adelia, saya kangen sama kamu." Satu ciuman membuyarkan lamunan Adelia, Dewantara mencium kekasihnya yang sedang melamun. Dewantara sudah tidak malu melakukannya di depan orang banyak, rasa sayangnya kepada Adelia begitu besar sehingga Dewantara lupa saat ini mereka sedang berada dimana. "Om, kenapa ada di sini?" tanya Adelia kaget. Bukan Rania yang datang melainkan Dewantara, padahal Adelia sedang berusaha menjauh dengan pria itu. "Aku datang untuk menjemputmu, kamu nggak boleh pergi lagi dari sampingku Adelia." Adelia terdiam, ia menatap wajah tampan Dewantara yang begitu merindukan dirinya. Seandainya saja ia boleh jujur, hatinya juga merindukan Dewantara namun ia menyadari ada yang salah dengannya dan Adelia yakin jika Dewantara tahu sudah pasti akan membencinya. "Om, aku mau berbicara serius dengan Om. Dan setelah Om mendengarkan semuanya, aku yakin Om pasti akan membenci aku-" "Adel, akhirnya Saya menemukan kamu." Degh. Adelia dan Dewantara menoleh, mereka melihat seorang pria yang berdiri tidak jauh dari mereka duduk. "Sial, kenapa Om Reza ada di mall ini juga. Matilah aku," gumam Adelia dalam hatinya. *** "Makanlah, kamu sepertinya lapar. Saya tahu kamu tadi belum memesan satu pun makanan di restoran tadi." Saat ini Dewantara mengajak Adelia untuk pulang ke rumahnya, ada banyak pertanyaan yang akan ia tanyakan kepada Adelia. Dewantara yakin kekasihnya menyembunyikan sesuatu dibelakangnya. "Om, aku-" "Makan Adelia, Saya mau melihat kamu makan kali ini. Saya rindu memanjakan kamu." Adelia merasa jahat kepada Dewantara, seharusnya ia jujur mengenai hubungannya dengan Reza sebelum mereka menjalin kasih. Namun nasi telah menjadi bubur dan menurutnya ia sudah terlambat untuk mengatakan semuanya. Adelia mencoba untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya, entah mengapa rasa laparnya telah hilang sejak tadi berganti menjadi rasa takut berhadapan dengan Dewantara. "Buka mulut kamu Adelia, saya akan menyuapi kamu sampai habis." Dewantara berusaha untuk menahan rasa sedihnya, jika seorang pria telah mengetahui kekasihnya berselingkuh di belakangnya pasti akan marah dan membenci kekasihnya. Berbeda dengan Dewantara yang tidak ingin melakukan apapun kepada Adelia, karena ia yakin Adelia tidak seperti itu. "Om, akan pernah punya hubungan dengan Om Reza ketika masih bekerja di supermarket milik Om Reza. Tapi aku sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan itu lagi, karena aku sudah memutuskan apa yang terbaik untuk aku." Dewantara mendengarkan semua ucapan Adelia, merasakan kekasihnya yang sudah terlanjur menangis di depannya. Dewantara pun mengambil inisiatif untuk memeluk Adelia agar kekasihnya lebih tenang. "Om, maafkan aku. Adel mengaku salah dengan ini," "Lalu kamu pilih siapa? Saya atau dia?" Adelia tersenyum tipis, ia tidak perlu memilih lagi. Hati dan perasaan nya sudah tentu untuk pria yang saat ini sedang memeluk tubuhnya dengan erat. "Om, aku masih lapar. Bisa pelukannya berhenti dulu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD