Happy reading.
Dewantara baru merasakan cinta kembali setelah bertemu dengan Adelia, dulu ia ingat betul bahwa tidak bisa melupakan mantan istrinya. Hati dan perasaannya hanya untuk Laras istri yang baru dinikahinya satu hari, dan tragisnya berakhir Laras meninggal akibat kecelakaan.
Beberapa tahun yang lalu.
Kecelakaan yang merenggut nyawa istrinya itu benar-benar membuatnya down, mereka sudah menjadi pasangan kekasih sejak usia 18 tahun. Lalu Dewantara berjanji untuk menikah dengan Laras ketika dirinya sudah sukses dalam karir.
"Hari ini aku ada interview di Dirgantara group, aku yakin akan berhasil kali ini."
"Aku berdoa semoga kamu menjadi sukses, lalu kita menikah."
Dewantara mengangguk yakin, di usianya yang terbilang muda dirinya sudah lulus kuliah dengan nilai cumlaude. Dan pertama kalinya melamar di perusahaan terbesar di Jakarta, Dewantara langsung mendapatkan panggilan interview.
Benar saja apa yang diucapkan Dewantara, ia telah berhasil mengikuti interview di perusahaan. Lalu dengan kepintaran yang dimiliki Dewantara, CEO Dirgantara memberikan jabatan setara Direktur dengan waktu sangat singkat.
Setelah bekerja di perusahaan Dirgantara group, Dewantara mendapatkan penghasilan yang besar. Hari demi hari dirinya bekerja dengan giat, membuat atasan perusahaannya memberikan jabatan tinggi.
Lima tahun berlalu, diusia Dewantara yang menginjak 30 tahun. Keadaan Dewantara semakin mapan dalam finansial. Lalu ia berinisiatif untuk melamar Laras, diusianya yang sebentar lagi akan berulang tahun.
"Aku akan melamarmu dan kita akan menikah di hotel milikku."
"Siap, aku ingin jadi ratu sehari seperti di cerita film."
"Ya, aku akan mewujudkan semuanya."
Dewantara menabung untuk pernikahan mereka berdua, sebuah pernikahan dengan konsep mewah telah Dewantara wujudkan hanya untuk Laras calon istrinya.
Tibalah hari yang dinanti-nanti oleh Dewantara dan Laras, mereka akhirnya menikah di hotel milik Dewantara. Pernikahan mereka menjadi pernikahan impian para pasangan baru.
"Selamat ya Pak Dewa, sebentar lagi akan menjadi seorang suami siaga."
Godaan itu membuat Dewantara tersenyum tipis, banyak tamu yang sudah datang di hari pernikahannya tinggal selangkah lagi dirinya akan menikah dengan Laras.
Tidak lama kemudian akhirnya, Laras datang dengan memakai kebaya berwarna putih. Calon istrinya tampak cantik dan anggun, semakin terpesona saja Dewantara dengan Laras.
Ijab qobul akhirnya terlaksana dengan baik, Dewantara menjadi suami dari kekasihnya yang telah ia pacari sejak mereka lulus sekolah. Pesta pernikahan berlangsung sampai malam hari.
"Aku mau kita tinggal di rumah ku lebih dulu, malam ini aku hanya ingin tidur di kamar yang selama ini aku tempati."
Dewantara menyetujui, mereka lalu pergi berdua saja dengan menggunakan mobil. Di dalam perjalanan menuju rumah Laras, ada hujan menguyur jalanan semakin deras bahkan petir menyambar terdengar begitu kencang.
Entah mengapa Dewantara tidak yakin akan bisa melewati jalanan ini dengan sempurna, namun keinginan istrinya membuat ia bersikeras untuk menerjang badai dan hujan.
"Sayang, kamu harus hati-hati. Aku hanya ingin menginap di kamar kita saja, besok pagi akan balik lagi ke kamar hotel."
Dewantara mengangguk pelan, ia memelankan laju kendaraannya. Namun karena keadaan disekitar jalan tol semakin berkabut, Dewantara tidak melihat bahwa di depannya ada sebuah truk besar yang menghantam mereka.
Brak.
"Astagfirullah, apa yang terjadi dengan mobil ini. Tidak." pekik Laras.
***
Dewantara terbangun keesokan harinya, ia merasakan seluruh tubuhnya sakit semua. Namun ia tidak memikirkan dirinya sekarang, yang Dewantara pikirkan adalah Laras.
"Pagi, Pak Dewantara. Ada yang harus saya katakan kepada anda."
"Ehm, maaf Dok. Bagaimana keadaan istri saya Laras? Apakah baik-baik saja?"
Dokter yang merawat Dewantara terdiam, menghirup oksigen dalam-dalam lalu berkata kepada Dewantara bahwa Laras sudah meninggal ditempat kejadian.
Dewantara menangis, pernikahan bahagia untuk mereka tidak berlangsung lama. Kecelakaan yang merenggut istrinya telah membuat dirinya hancur, bahkan Dewantara masih tidak percaya bahwa Laras meninggalkannya begitu saja.
"Laras, kenapa kamu begitu tega meninggalkan aku seorang diri."
Suasana pemakaman Laras telah selesai, para sahabat dari Dewantara dan Laras sudah sebagian pulang hanya beberapa yang masih menemani Dewantara di dalam pemakaman. Lalu satu persatu berpamitan untuk pulang.
Sampai menjelang siang hari, Dewantara masih berada di pemakaman Laras, dirinya enggan untuk pulang meninggalkan istrinya yang sendiri di pemakaman ini. namun hujan turun dari langit semakin besar, mau tidak mau Dewantara akhirnya memutuskan untuk pulang.
"Aku pergi dulu, bukan berarti meninggalkanmu seorang diri. Nanti aku akan datang kembali dengan bunga yang indah untukmu."
Kembali ke masa kini.
Dewantara memandangi wajah cantik Adelia yang sedang tertidur pulas di pangkuannya, setelah membujuk Adelia untuk tinggal di rumah ini. Dewantara pun berpikir keras untuk hubungannya dengan Adelia apakah mau dilanjutkan ke jenjang lebih serius atau tidak
"Sepertinya pernikahan adalah jalan terbaik untuk kita, aku tidak ingin melihat kamu bersama dengan mantan atasan yang gila itu."
Dewantara mendengar cerita mantan atasan Adelia dari awal sampai akhir, dirinya tidak percaya bahwa selama ini Adelia menjadi teman kencan Reza. jika saja ia bertemu dengan Adelia beberapa tahun yang lalu sudah pasti kekasihnya itu tidak bertemu dengan Reza.
Mengangkat tubuh Adelia menuju ranjang di dalam kamarnya, Dewantara ingin selalu melakukan hal tersebut jika suatu saat nanti hubungan mereka akan berlanjut ke jenjang pernikahan. dirinya yakin bahwa Adelia akan menerima lamarannya nanti.
Menutup tubuh Adelia dengan selimut tebal, suasana malam ini terasa sedikit berbeda karena sejak sore tadi hujan tidak berhenti membuat suasana semakin berbeda jika dua manusia berada di dalam ruangan.
Cup.
Satu ciuman Dewantara berikan kepada Adelia yang tertidur pulas, namun anehnya ciuman Dewantara mendapat balasan dari Adelia yang saat ini masih tertidur.
Mendapat ciuman balasan dari Adelia membuat Dewantara hanyut dalam suasana romantis seperti saat ini, iya seakan lupa bahwa kekasihnya itu sedang tertidur.
Satu persatu kancing piyama Adelia terbuka, siapa lagi kalau bukan tangan nakal Dewantara yang sedang berada di atas tubuh Adelia.
"Kamu selalu membuatku bersemangat Adelia, aku sudah yakin bahwa kamu adalah wanita pengganti Laras."
Kedua mata Adelia terbuka, ia menatap wajah tampan Dewantara yang sudah berselimut kabut gairah. Adelia tersenyum tipis melihat Dewantara telah hanyut dalam balasan ciumannya.
"Kamu terbangun? Maafkan aku sayang, aku-"
Kini Adelia yang lebih dulu membungkam bibir kekasihnya, gadis itu sudah membuat Dewantara mendesah pelan diatasnya. Dan Adelia yakin setelah ini malam panas mereka akan terulang kembali seperti diawal pertemuan mereka.
"Stop, Adelia! Jangan lakukan lagi, sepertinya kita sudah sangat melangkah jauh. Aku ingin kamu tidak melakukan ini lagi denganku."
Adelia diam, apakah ada yang salah dengannya. Namun bukankah Dewantara sendiri yang lebih dulu menciumnya dan berakhir seperti saat ini.
"Kamu tidak ingin melanjutkan lagi malam panas kita?" Bisik Adelia lembut. Dewantara menggeleng kepalanya pelan, sepertinya memang mereka harus berhenti agar tidak terjadi lagi kesalahan.
"Sejujurnya, aku sudah salah denganmu dari awal. Aku tidak ingin merusak mu dengan hubungan kita yang sudah terlanjur jauh."
Adelia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Dewantara, ia sudah tidak peduli dengan omongan orang lain perihal dirinya yang mempunyai hubungan dengan duda. Hati dan perasaannya sudah nyaman dengan pria yang lebih dewasa usianya dari dirinya.
"Lalu, kamu mau memutuskan hubungan cinta denganku? Jawab saja Om," ucap Adelia sedikit memaksa.
Dewantara tersenyum tipis, tidak hanya Adelia saja yang merasa hubungan mereka sudah saling melengkapi. Dewantara pun merasakan hal yang sama, cintanya kepada Adelia begitu besar dan tidak ingin melepaskan kekasihnya itu dengan orang lain.
"Kita menikah, aku akan melamarmu kepada orang tuamu. Sayang," bisik Dewantara.