This Me

899 Words
"Jangan! Jangan melangkah lagi." Cegah Lona membuat Ax berhenti seketika. Semua orang nampak kesal saat pemimpin mereka menurut patuh pada Lona. "Buang - buang waktu saja kau." Teriak seseorang menjadi provokasi.Semua terus berteriak tidak terima dan membuat Lona gemetar. Ax sendiri sudah mengetatkan rahangnya. "Jangan melangkah lagi. Tanah yang ada didepan itu tanah hisap. "Cicit Lona membuat Ax diam beku. Kenzie melihat benar kondisi tanah dan membelalakkan matanya. Mata Lona benar-benar sangat waspada. Gadis itu sekali lagi membuatnya terpukau. "Kalian lihat! Dia berusaha menyelamatkan kita. Sekali lagi kalian tidak patuh padaku, kalian akan mendapatkan kesusahan. "Tegas Ax pada semua orang. "Mata kakak kenapa tidak waspada?" Marah Lona berbisik pada Ax dan membuat pria tersebut menyesal. Separuh perjalanan membuat Lona terengah-engah. Ia berkali-kali menguatkan diri untuk terus melangkah, sedangkan kakinya sudah gemetar ngilu. Dadanya sesak dan kepalanya mulai berputar. Lona terduduk seketika merasakan kakinya benar-benar lumpuh. Ia bahkan sudah menangis dan membuat Ax langsung panik. Pria tersebut menahan kesalnya dan menggendong Lona hingga membuat semua orang memekik iri. "Kalau tidak kuat kenapa ikut? Menyusahkan." Celetuk orang lain yang sudah membuat Ax marah. "Aku yang bertanggung jawab padanya. Dan dia tidak menyusahkan dirimu." Ledak Ax membuat semua orang tidak berani memandangnya. "Aku baik cuma kelelahan. " "Kalau mengerti kenapa tidak menurut dan menjaga kesehatanmu?" "Maaf." "Sudahlah kak, dia sakit. Jangan memarahi dia." Ucap Kenzie menengahi Ax. Kedua orang paling berpengaruh di sekolah menjadi dekat dengan Lona. Semua gadis memandang Lona semakin benci. Tahu apa yang menyebabkan semakin banyaknya kebencian adalah dekatnya Ax dan Kenzie, Lona mencoba meraih lengan pria tampan dihadapannya. "Jangan khawatirkan aku. Aku baik." Ucap Lona membuat Kenzie menyerngit tidak suka. "Hah? Katamu kita teman?" "Tapi ini berbeda. Mereka akan semakin membenciku karena kau tidak lagi memikirkan mereka. Mereka salah paham padaku, jadi sebagai teman apakah kau mau menjelaskan pada mereka bahwa kita teman? " Ucap Lona membuat Kenzie tercengang dan mengangguk lemah. "Ada apa Zie?" Tanya Ax yang tahu gelagat aneh Kenzie. "Tidak kak, lain kali saja. Lona lebih penting. " Ax mengangguk dan meninggalkan Kenzie yang diam kaku. Dalam hatinya merasakan sakit dan tidak rela. Apakah benar ia menyukai Lona? Tidak! Kenzie adalah raja penakluk wanita. Dan Lona bukan standartnya. Hari yang berganti begitu cepatnya. Kini mereka kembali bersekolah. Kenzie mengikuti perintah Lona untuk memberi batasan. Meski berat ia melakukannya seakan Lona pembawa magnet tersendiri. Ia terkadang merasa kesal sendiri saat Ax tidak sengaja bertemu Lona dan berbincang-bincang pada laki-laki tersebut. Ia sampai sekarang tidak tahu apa hubungan keduanya. Ujian yang akan diadakan besok membuat beberapa dari orang yang tidak menyukai Lona berusaha untuk mengeluarkan Lona dari sekolah tersebut. Gadis yang selalu mencari masalah dengan Lona adalah wanita yang menyukai Kenzie. Ia juga merasa iri pada Lona dan selalu memandang Lona sebagai perayu. Julia adalah anak ketua yayasan yang malam ini mencoba menyabotase lembar soal-soal ujian. Ia terkekeh saat berhasil mencuri bersama teman-temannya dan mencoba menyadap kunci loker Lona dan menyimpan soal tersebut. Sekolah begitu ricuh ketika mendapati kunci jawaban soal ujian hilang. Lona hanya memandang teman sekelasnya terutama Julia yang sedari tadi hanya tertawa.Namun Lona diam dan terus memperhatikan senyum dan pergerakan Julia. Senyum palsu yang dapat diketahui Lona. Kenzie yang disibukkan untuk mencari kunci jawaban bersama Ax yang memang menjabat sebagai ketua organisasi siswa.Semua terkejut saat tahu kunci jawaban ada di loker Lona. Kenzie dan Ax bahkan diam membatu. Gadis itu semakin terpojokkan karena mendapat cemoohan dari seluruh sekolah. "Kami sangat kecewa mendapati kamu yang mencuri kunci soal ujian. Kamu adalah siswa yang berprestasi, tapi percuma bila kelakuan kamu seperti ini. "Tegas Kepala sekolah disaksikan para guru, Ax dan semua ketua kelas. "Lona tidak melakukannya pak." Bela Lona menundukkan kepalanya takut. Ax yang terus menggeram, adiknya tidak akan berbuat seperti ini. Bila Ax tahu pelakunya, dia akan pastikan membalas semua perbuatannya.Tidak ada yang bisa membela atau bukti yang bisa menyelamatkan Lona. Ax hanya bisa diam dan bingung. "Kami dengan terpaksa mengeluarkan kamu." Ucap Kepala sekolah membuat sebagian orang tersenyum kemenangan. "Saya bisa buktikan kalau saya bukan pelakunya." Ucap dingin Lona mulai membela. "Maaf Lona, tapi semua bukti mengatakan kalau kamu pencurinya." Lona menegakkan kepalanya dan menyunggingkan senyumnya. Ia tidak akan takut lagi, bila ia dapat melihat senyum remeh selalu mengarah padanya. Mulai sekarang ia tidak akan membiarkannya. "Dalam peradilan pelaku juga punya pembelaan. Dan saya ingin dapatkan keadilan untuk saya. Biasanya juga ada bukti yang membuat seseorang disalahkan. Tapi bukan berarti ia pelakunya, akankah itu adil?" Semua nampak diam. Ax menyunggingkan senyumnya melihat perkembangan adiknya yang berani menentang demi tegaknya kebenarannya. Kekuatan yang mereka punya harus mereka gunakan untuk menegakkan keadilan. Tidak selamanya Lona harus diam dan takut, itu artinya ia berlaku egois. Sedang semua orang membutuhkan pertolongannya. "Keputusan kami sudah ditetapkan. Dan kamu-" "Kalau tidak bisa adil, kenapa kau jadi kepala sekolah?! DASAR TIDAK BECUS. "Sentak Lona membuat semua orang terkejut. "Kamu tidak sopan, inilah yang membuktikan kalau kelakuan kamu itu buruk." "Karena saya sudah merasa tidak ada keadilan lagi disini. Bagaimana jika keadaan ini menimpa pada anak anda? Apakah ia juga tidak meminta keadilan? "Ledak Lona membuat semua orang diam. Mereka tidak pernah menyangka, Lona yang terkesan takut dan pendiam menjadi semengerikan binatang buas. "Baikhlah Lona. Apa pembelaanmu?" "Aku ingin ke lokasi kejadian. "Ucap Lona diangguki semua orang. Lona hanya diam melihat rak guru disaksikan banyak orang. Ia nampak mengukur tinggi rak lemari dan tersenyum puas. Ia juga mengambil kunci soal tersebut dan mengendusnya. Kegiatan dalam diamnya membuat semua orang menyerngitkan keningnya bingung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD