Ah tidak Zie. Aku baik-baik saja." Ucap Lona melihat kakaknya datang ke Kantin. Melihat arah mata Lona yang memandang Ax, Kenzie merasa kesal sendiri.
"Apa kak Ax pacarmu?" Tanya Kenzie membuat Lona terkejut.
"Hah? Ma- mana mungkin. "Gugupnya bingung menjelaskan siapa Ax sebenarnya.
"Hai." Ramah Ax mengerti panggilan batin kembarannya.
"Hai."
"Kau nampak murung honey." Ucap Ax tanpa sadar karena terbiasa dan menimbulkan efek keterkejutan luar biasa bagi Kenzie.
"Hah?" Pandang Lona sengit pada kakaknya yang terkekeh.
"Bercanda. Wajahmu biasa saja Zie, nampaknya kau sangat keberatan. "Santai Ax membuat Kenzie memandangnya tak suka.
"Tidak kok. Aku mau ekstra musik dulu." Pamit Kenzie karena perubahan moodnya.
"Dia mengirim pesan tadi dan sampai sekarang aku bingung. "Ucap Lona berbisik.
"Apa?"
"Baca saja. Lalu apa yang ada di kata terakhir itu." Ax menyerngitkan keningnya bingung melihat huruf T yang tertera. Rahangnya mengetat saat tahu mereka berdua dibuat bingung.
"Sialan! Aku benci seperti ini. Seakan aku bidak catur."
"Kita harus memecahkan ini semua. Ada yang mengganjal, dia seperti memberi kita isyarat ataupun tanda."
"Untuk apa ia memberikan kita tanda? Apakah itu dinamakan bunuh diri."Kesalnya.
"Lalu menurut kakak apa T ini? Bisa saja ia ingin kita menemukan orang itu, mungkin ia punya sifat psikopat." Ax nampak diam. Sedangkan Lona yang masih berfikir keras. Apakah ini inisial sebuah nama?
"Kita fikirkan nanti. Sekarang kau masuk kelas." Ucap Ax setelah mendengar Bell berbunyi.
Lona memandang Kenzie yang masam. Entah apa yang terjadi dengan pria tersebut hingga raut wajahnya seperti itu.
"Hai Zie." Sapanya hanya dibalas deheman oleh Kenzie.
Langkah kaki yang membuat semua siswa terdiam. Wali kelas Lona yang datang bersamaan dengan seorang gadis. Kenzie seketika menengang melihat gadis tersebut. Lona sendiri juga heran dengan perubahan mimik wajah Kenzie.
"Perkenalkan dia Teresa Quenza. Teman baru kalian." Ucap guru tersebut membuat semua siswa memandang gadis cantik tersebut.
"Hai..." Senyumnya ramah membuat semua langsung akrab padanya. Namun tidak dengan Kenzie yang hanya diam.Sorot mata keduanya beradu sejenak hingga membuat Lona menyerngitkan keningnya. Teresa?
"Hai Zie." Sapa Teresa pada Kenzie sebelum pulang sekolah.
"Kau sudah mengenal Kenzie? "Tanya Lona melihat Kenzie tidak meresponnya.
"Dia mantanku. "Senyumnya menatap Kenzie. Namun yang ditatap hanya datar tanpa ekspresi.
"Kenapa kau ada disini? "Dingin Kenzie pada gadis tersebut.
"Memangnya tidak boleh?" Masih dengan senyum yang sama.
"Sebaiknya aku pulang duluan." Ucap Lona tidak enak.
"Tidak. Aku yang antar." Cegah Kenzie membuat kedua gadis dihadapannya menatap Kenzie.
"Tidak usah, merepotkan dan rumahku jauh. Aku juga ingin berbelanja dulu." Ucap Lona membuat Kenzie mendesah kecewa.
"Wah, nampaknya kau sudah move on." Tuturnya setelah Lona meninggalkan kelas.