"Bukan urusanmu."
"Semoga aku masih bisa mendapatkan dirimu kembali. Lagi pula gadis itu bukan tandinganku. Tugasku disini hanya kau Kenzie. "Sunggingnya melihat punggung Kenzie yang menjauh.
Lain dengan Lona yang nampak resah dalam kamarnya. Apakah arti T itu? Mengapa kedatangan Teresa seakan dalam waktu yang sama? Apakah dia orangnya?
"T= Teresa. Apakah mungkin orang itu masa lalu Kenzie? "Gumamnya resah.
"Kau sudah temukan dia?" Tanya Ax yang tak sengaja mendengar Lona.
"Belum. Aku punya teman baru, namanya Teresa. " Ucap Lona membuat mata Ax membulat seketika.
"Bisa jadi dia." Lona masih merenung dalam diam. Fikirannya berkelana dengan raga yang masih sama menatap luar jendela. Lona akan mengawasi Teresa. Namun dalam hati kecilnya juga resah. Tapi kenapa?
Keesokan harinya Lona hanya diam memperhatikan tingkah Teresa yang berusaha mendekati Kenzie.
"Kenapa dengan diriku?" Gumamnya menatap Kenzie dari jauh.
"Kenapa?" Tanya Ax duduk didekat Lona dan ikut menyaksikan pertandingan bola.
"Entahlah, hatiku rasanya resah,kesal, marah. Tapi aku tidak tahu kenapa?" Polos Lona membuat Ax mengelus puncak kepalanya.
"Mungkin kau sedang jatuh cinta. "Ujar Ax membuat Lona memukul lengannya kesal.Dari kejauhan Kenzie menatap tanpa berkedip melihat Lona bercanda tawa dengan Ax.
"Wah, aku salah atau bagaimana? Bukankah kau suka padanya?" Tanya Teresa menyerahkan air minum pada Kenzie.
"Aku bilang jangan urus hidupku."
"Apa yang ada pada dirinya hingga kau dan pria itu menyukainya?" Gumam Teresa hanya ditatapi datar.
"Dia istimewa. "
"Aku tahu kau belum merasakan bosan. Setelah itu kau akan meninggalkannya." Kekehnya membuat Kenzie menyerngit tidak suka.
"Kau iri?" Hanya dua kata yang mampu membungkam Teresa.
Kenzie tidak begitu peduli dengan Teresa. Meski Teresa adalah cinta pertamanya, namun kehadiran Lona mampu menghapus semuanya. Teresa tidak berarti lagi dihidup Kenzie.
"Aku datang lagi untuk misi." Sungging Teresa berjalan dengan santai melewati Lona.
"Auw. "Erang Lona kesakitan saat bahunya bertabrakan.
"Kau tidak dapat berada dekat darinya. "Ucap Teresa penuh penekanan membuat Lona hanya terdiam.
"Ada yang namanya Kenzie? "Tanya salah satu guru perempuan pada semua siswa. Kenzie berdiri dan menghampiri wanita tersebut dengan sopan.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Begini Zie, kamu terpilih sebagai siswa yang nanti mengikuti olimpiade Kimia. Saya Erika sebagai pendamping kamu, apa kamu bersedia untuk bimbingan siang nanti?"
"Pasti bu." Senangnya. Dari kejauhan Lona melihat Kenzie yang begitu cerah. Ia juga ikut tersenyum saat pria itu duduk kembali.
"Ada apa?"
"Aku akan ikut olimpiade Kimia. "Senangnya.
"Waaaah."
"Lona temani aku yuk siang nanti bimbingan, supaya aku ada teman." Pinta Kenzie membuat Lona berfikir.
"Apa boleh? Kenapa tidak yang lain?"
"Hanya kau yang suka kimia, dan aku juga inginnya kamu yang temani." Ucap Kenzie membuat Lona menaikkan sebelah alisnya.
"Hah? Iya deh." Ucap Lona membuat Kenzie begitu senang. Sekali ini dia tidak menolak ajakan Kenzie.
Lona menuruti ajakan Kenzie. Ia heran menatap guru tersebut, sangat cantik dan ia rasanya tidak pernah bertemu sebelumnya.
"Hai, oh kamu ngajak pacar kamu ya?" Ucap guru tersebut membuat Kenzie salting dan Lona yang ternganga.
"Oh buk-"
"Iya." Serobot Kenzie cengengesan menatap Lona yang kesal.
"Perkenalkan saya guru kimia bimbingan Kenzie. Mau belajar dirumah saya gimana?" Lona dan Kenzie mengikuti dengan suasana canggung. Rumah yang minimalis dan indah.
"Bu, tetangga depan rumah ibu jarang keluar ya?" Tatap Lona pada pintu depan tetangga guru tersebut.
"Oh saya gak tahu juga. Mungkin orangnya pendiam dan tertutup. "Acuh guru tersebut membukakan pintu.
Lona ternganga melihat desain rumah yang serba putih. Guru tersebut membuat minuman dan beranjak ke Dapur meninggalkan Kenzie.
"Sebentar ya, nunggu minumannya dingin."
"Anda sangat suka warna putih ya bu?" Basa-basi Lona membuat guru tersebut tersenyum.
"Ah ya, putih suci dan membawa kedamaian."
"Anda tinggal sendiri?"
"Ya, bisa kita mulai sekarang? "
Lama kegiatan Kenzie bersama guru pengajar tersebut membuat Lona gelisah. Bagaimana kakaknya mencari nanti?
"Ini gambar apa Zie?" Tanya guru tersebut membuat Kenzie sedikit kebingungan setelah semua pertanyaan berhasil Kenzie jawab.
"Saya tidak tahu." Ucapnya Lirih membuat Lona menarik sebelah alisnya.
"Itu bukannya molekul titanium?" Tanya balik Lona membuat keduanya menatap.
"Wah, saya tidak mengira kalau kamu bisa kimia juga." Puji guru tersebut.
"Emm, biasa saja. Saya lebih suka matematika. Untuk urusan kimia Kenzie yang lebih tahu." Ucap Lona merendah.
"Ya, saya sangat suka titanium. Titanium dapat digunakan sebagai aksesoris, dan selain berbahan titanium saya memilih tidak memakainya. Mungkin cukup sampai disini, mau minum sebentar?" Ucap guru tersebut pergi mengambil minuman.
"Kamu kenapa Lona? Sejak tadi aku perhatikan selalu cemas?" Tanya Kenzie menatapnya. Lona hanya mampu diam hingga minuman datang dibawakan guru tersebut.
"Maaf, saya hanya punya sirup asam." Ucapnya tidak enak.
"Aku sudah tidak punya waktu lagi Zie. Maaf, aku harus cepat pulang. "Risau Lona berdiri diikuti Kenzie yang sama Cemasnya.
"Okey, ini tanggung jawabku karena memintamu menemaniku. Biar aku yang mengantarmu." Ucap Kenzie hendak berpamitan.
"Loh, buru-buru sekali."
"Emm maaf bu." Tak enak Lona untuk segera beranjak pergi disusul Kenzie. Langkah Lona begitu tergesa-gesa sambil mengeluarkan telfon genggamnya dan menampilkan beberapa panggilan tidak terjawab dari Ax.
"Hei, tenang." Cekal Kenzie melihat ekspresi Lona yang tegang.
"Maafkan aku Zie."
"Kenapa harus kau yang meminta maaf? Bukankah itu salahku?"Lembut Kenzie menatap manik Lona.
"Tidak masalah, aku malah senang kau mengajakku bimbingan kimia. Aku jadi lebih tahu lagi. Apa kau tetap mengizinkan aku untuk ikut?" Pria itu hanya tersenyum dan mengusap puncak kepalanya dengan lembut. Tanpa sadarnya menegang bersama dengan rasa nyaman.
"Lona!" Panggil seseorang membuat keduanya terkejut.
Ax sudah berlari dan menggandeng tangan Lona. Memisahkan Lona dari Kenzie. Ia tak membiarkan Lona pergi, hatinya memaksa untuk merebut Lona dari Ax sekalipun Ax adalah sahabatnya.
"Aku selalu memendam ini. Tapi aku sudah mati penasaran, sebenarnya apa hubungan kalian berdua?"
"Bila kau mengartikan aku adalah sainganmu, maka itu salah Zie. Aku lebih unggul darimu. Bila kau berfikir aku merebut Lona, maka kau salah. Kenyataannya yang kau harus tahu, Lona adalah separuh hidupku." Putus Ax membuat Kenzie membeku.
"Hubungan manusia sangatlah beragam Zie. Aku berharap kau bisa selalu berteman denganku. Dan jangan menjauhiku, karena aku hanya punya dirimu." Ucap Lona membuat Kenzie segera menatapnya tajam.
"Kau wanita jalang! Kau ingin mendapatkan semua laki-laki? Aku kecewa." Pergi Kenzie hanya membuat Lona terdiam.
“Kenzie..."Panggil Lona berlari mengejar Kenzie keesokkannya. Dia hanya berdeham menatap Lona dengan sinis. Gadis itu tersenyum sambil terengah-engah.