"Nanti ada bimbingan kimia. "
"Aku tahu. Tapi aku tidak ingin kau ikut." Ucap Kenzie membuat Lona terdiam membatu.
"Hah? Kenapa Zie? "
"Pergilah sialan! " Lona masih tidak terima dan tetap berlari mengejar Kenzie. Langkahnya terhenti menatap Teresa.
"Aku yang akan menemani Kenzie." Ucapnya membuat Lona menggelengkan kepalanya.
"Aku boleh ikut?" Pinta Lona membuat Kenzie berbalik menatapnya nyalang.
"AKU TIDAK SUDI MELIHATMU APA KAU TAHU?!" Bentaknya membuat Lona berjenggit kaget.
Lain sisi Ax yang melihat kelakuan Kenzie pada adiknya. Seakan ia ingin sekali melayangkan pukulan pada Kenzie. Ax tahu beberapa hari ini Lona jarang sekali keluar kamar dan memilih mengunci pintu bersama tenggelam dalam kesunyian. Pastilah Lona menggalaukan pria tersebut.
"Kenzie....." Teriak Lona dihiraukan Kenzie yang meninggalkan dia. Lona tidak peduli ia terus berlari menyusulnya. Kenzie dalam bahaya. Ia selama ini diam dan tidak bercerita pada Ax, hanya Kenzie yang selalu memenuhi kepalanya.
"Naiklah. "Dingin Ax menyusul adiknya yang sudah putus asa.Lona menghapus peluh dan air matanya. Ia harus kuat. Bahkan tanpa sadar ia meminta Ax untuk menambah kecepatannya.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa kau tidak memberi tahuku? Aku ini kakakmu Lona." Sentak Ax membuat Lona terisak.
"Maaf, tapi kita tidak punya banyak waktu. Aku cukup bodoh karena terlalu larut dalam pikiranku sendiri dan tanpa sadar mengabaikan kakak."
"Jangan diulangi lagi. Apa kau khawatir Kenzie bersama Teresa? "
"Teresa bukan apa-apa bagiku. Ancaman kita yang sebenarnya lebih dari itu. Dia adalah Erika." Ucap Lona membuat Ax terkejut.
"Itu tidak mungkin Lona. Dia guru pembimbing yang baik dan ramah. "
"Aku sudah berfikir jauh-jauh hari kak. Kita tidak punya banyak waktu. Nyawa Kenzie dan Teresa dalam bahaya."
Pintu dibuka dengan kasar oleh Lona. Semua penghuni menatapnya dengan berbagai ekspresi.
"Wah wah, saya tidak menyangka kalian datang ramai-ramai." Ucap guru cantik membawakan minuman untuk dua orang.
"Aku harap aku tidak terlambat. "Ucap Lona masih terengah-engah menatap tajam Erika.
"Minumlah dahulu kalau begitu." Senyumnya memberi Lona minuman.
"Enak saja! Itu minuman untukku." Ucap Teresa tidak terima dan langsung menyerobotnya.
"Jangan minum!" Sentak Lona pada Kenzie dan Teresa yang terkejut.
"Oh, Hallo Lona. Kau sudah menemukan diriku rupanya." Ucap Erika menatap Lona.
"Ya. Permainan yang seimbang bukan?" Ucap Lona mendekati Erika.
"Hahaha, aku akui kau begitu cerdik nona manis. Boleh aku tahu?"
"Cukup mudah. Melihatmu tinggal sendiri, awalnya aku kira iseng saja. Namun mendapat jawabanmu, aku terkejut. "Seringai Lona.
Kenzie hanya diam kebingungan menatap Lona seakan berbicara dengan nada sejuta misteri. Ax mendekat pada keduanya dan berbisik.
"Sebaiknya kalian mundur dan berada di sampingku. "Bisik Ax entah mengapa membuat Kenzie resah.
"Bagaimana kau menemukanku? "
"Mudah saja, kau masih ingat semua dialogmu padaku?
1."Bu, tetangga depan rumah ibu jarang keluar ya?"
"Oh saya gak tahu juga. Mungkin orangnya pendiam dan tertutup."
2."Sebentar ya, nunggu minumannya dingin."
3."Anda sangat suka warna putih ya bu?"
"Ah ya, putih suci dan membawa kedamaian."
4. "Anda tinggal sendiri?"
"Ya,
5."Ya, saya sangat suka titanium. Titanium dapat digunakan sebagai aksesoris, dan selain berbahan titanium saya memilih tidak memakainya. Mungkin cukup sampai disini, mau minum sebentar?"
6."Saya sedang membeli pisau dapur."
"Itu sulit memotong bu."
"Iya saya tahu, tapi mau bagaimana lagi. Uang saya hanya mampu membeli pisau yang seperti ini. Jangan khawatir saya sudah terbiasa,
Erika terkejut dengan semua pemaparan Lona. Kondisi yang semakin memanas membuat Ax mencemaskan keberadaan Lona yang begitu dekat.