I Think, I Love You

822 Words
"Awalnya aku hanya iseng dengan pertanyaan basa-basi, rupanya hasilnya tidak terduga. Semua pertanyaan tersebut untuk seorang psikopat, dan anda menyatakan sepenuhnya." Seringai Lona dibalas Erika. "Sungguh? " "Rahwana mengirimkan kode huruf T, huruf itu bukan nama seseorang. Dia berniat mengecoh, kenyataannya T adalah Titanium. Titanium yang berada di gelas yang kau bawa. Anda berkata waktu itu yang ada hanyalah sirup asam. Padahal itu adalah senyawa asam untuk meleburkan Titanium untuk berkarat. " Kenzie begitu terkejut menatap minuman yang dibawa Erika dan segera menatap gadis yang berdiri tegap menantang melindunginya. "Hahahaha.... wah." "Seandainya kami meminumnya hari itu, efek Titanium bisa mengakibatkan seseorang pusing bahkan sesak nafas. Bila mengenai kulit, maka akan segera iritasi. Senjatamu adalah Titanium. Dan benar dengan petunjuk Rahwana bahwa T= Ti atau disebut juga Titanium." "Kau harus lenyap." Ucap datar Erika membuat semua membulatkan matanya. Lona berbalik menatap Kenzie dan kakaknya. Dengan cepat air minum yang dibawa Erika ditumpahkan mengenai kakinya. "Menjauh!!!!!" Teriak Lona dengan ekspresi kesakitannya. "Lona!" Wajah cemas Ax yang tidak bisa berbuat apa-apa selain tugasnya melindungi Kenzie, ia juga diminta sendiri oleh Lona. "Percayakan padaku. Aku bisa, nyawa Kenzie lebih berharga." Sela Lona membuat Kenzie menatapnya tak percaya. Sebelum pisau mengenai Lona, dengan cepat ia mengunci pergerakan Erika dan melumpuhkan bagian tubuhnya dengan ilmu bela diri. Selain itu, dengan cepat ia memborgol Erika. Meski pergerakan Lona sempurna, tapi ia cukup lengah dan membiarkan tangannya tergores pisau dan kakinya yang sudah membengkak kemerahan. Ax segera menghubungi pasukan untuk membantu mengamankan Erika ataupun menjaga Kenzie. "Kau benar-benar bodoh!" Kesal Ax membopong tubuh Lona dan hanya dibalas senyuman lega. Kenzie hanya diam setelah insiden yang mengancam nyawanya. Seakan kejadian tersebut berlangsung begitu cepatnya.Dan kenyataan yang selalu membuat Kenzie menjadi manusia terbodoh adalah berbuat jahat pada seseorang yang berusaha melindungi nyawanya. Sekarang yang ada dalam kepalanya adalah Lona. Bagaimana dengan kondisi gadis tersebut? Ia masih melihat bekas darah dilantai. Semua kata-kata yang diucapkan Lona begitu jelas terngiang ditelinganya hingga saat ini. Lona kembali masuk sekolah setelah seminggu dirawat di Rumah sakit. Kenzie tidak tahu rumah bahkan apapun tentang Lona hingga membuatnya frustasi. Kini gadis itu diantar Ax ke kelasnya dengan kursi roda. Kakinya yang diperban dan tangannya membuat Kenzie segera mendatanginya. "Bagaimana keadaanmu? "Cemas Kenzie disenyumi Lona. "Dia. Baik. Sebaiknya kau tidak dekat dengan dia lagi, meski kau sahabatku. Aku tidak akan membiarkan dirimu dengan Lona. Setelah semua yang menimpa Lona." Dingin Ax membuat Kenzie naik pitam. "Kita lihat saja. Yang jelas tidak ada seorangpun yang bisa menghentikan diriku, bila aku ingin apapun." "Kak Axel benar Zie. Sebaiknya memang seperti itu, aku masih bisa melindungi dirimu meski kau jauh dariku. Aku yakin selama ini kau terganggu dengan kehadiranku." Ucapan Lona bagai petir yang menyambar. Ia menggeram tidak terima. "Jadi kau tidak mau memaafkan diriku?" "Kenapa? Aku tidak merasa kau berbuat jahat padaku." "Lalu kenapa kau berbuat seperti ini padaku? Kenapa kau yang datang melindungi diriku? Siapa kau sebenarnya? " "Memang ada kalanya kita membangun tembok diantara kita ." Tukas Lona meninggalkan Kenzie yang menjambak rambutnya kesal. Lona yang selalu kesusahan melakukan sesuatu, kini dibantu oleh Kenzie. Pria itu berlaku manis pada Lona. Ia tak pernah meminta bantuan pada Kenzie, namun sekarang sangatlah berbalik. Pria itu sangatlah hangat padanya. "Aku tahu kau merasa bersalah." Ucap Lona membuat Kenzie mengeraskan rahangnya. "Dengar Lona, entah kak Ax mencuci otakmu atau tidak. Akan aku katakan sebenarnya. Bahwa aku. Menyukaimu." Ucap Kenzie serius menatap manik matanya. Lona hanya mampu diam membeku. Hatinya rasanya tak karuan antara senang dan sedih. Benarkah Kenzie menyukainya? Gadis seperti Lona. Teresa mendatangi Lona keesokan harinya sebelum Kenzie datang dan menyerahkan sebuah vidio. "Apa ini?" "Lihat saja. Agar kau tidak menyesal." Nampak Kenzie bersama teman-temannya bersenang-senang. Disana ia seperti ditanya. "Kulihat kau begitu dekat dengan gadis i***t itu?" "Ah? Biasa saja." "Hahaha.... aku kira kau sudah jatuh cinta padanya." "Ah, mana mungkin. Kau tahu Selaraku bukan? Bagaimana bila aku menyukai gadis rendahan sepertinya?" Lona sudah tidak kuasa lagi menahan Tangisnya. Setelah ia dilambungkan, ia dihempaskan dengan begitu sadisnya. Ia bahkan tidak bisa tidur. Namun, ini yang sebenarnya. Lona tidak habis fikir dengan Kenzie yang begitu jahatnya pada Lona. Memang Kenzie tidak lagi membully. Namun perbuatannya lebih parah. "Hai Lona. "Sapa Kenzie baru sampai. Lona hanya diam tanpa menyahut. Mungkin karena headset yang terpasang membuat sapaan Kenzie tidak terdengar. Tapi ini salah. Sepanjang pelajaran, Lona hanya diam tanpa mengajak bicara Kenzie. Ataukah pernyataan cinta Kenzie yang membuat Lona berubah? Tapi kenapa? Apakah benar Lona sudah bersama Ax? "Lona, kau baik-baik saja?" Tanya Kenzie membuat Lona mengangguk. Ia hanya menghela nafasnya dengan kasar. Gadis itu sudah membaik. Tangannya sudah diplester, dan kakinya yang sudah bisa berjalan seperti semula. Mungkin perawatannya begitu intensif. "Apa aku berbuat salah?" "Lihat saja. Aku punya tontonan spesial untukmu." Ucap Lona menunjukkan video Kenzie. Pria itu hanya diam kaku dan tidak percaya. Ia melihat Lona yang begitu kecewa. Benar saja Lona begitu hancur karenanya. Kenzie berusaha menjelaskan pada Lona. Namun gadis itu sudah tidak mau tahu dengan segala urusan Kenzie.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD