di awal.

1201 Words
Dia terlihat terbebani mendengar jawabanku. “Silakan tuturkan dulu apa dilema yang membawamu ke mari,” bujukku. “Putriku, Irma, dia kerasukan sejak seminggu ini. Aku tau kalau aku harus segera membawanya padamu beberapa hari lebih awal, tapi sungguh, aku tidak punya uang, kami sangat miskin,” lirihnya yang meremas jemari yang bersatu di pangkuan. Aku pun bertanya. “Apa saja yang sudah putrimu katakan? Apa dia menghancurkan barang-barang atau menyakiti seseorang?” “Dia selalu histeris, teriak pada banyak hal, lebih sering berbicara berulang-ulang. Semakin hari dia semakin kacau dan sudah dua hari susah makan.” Aku ingin bertanya apa dia sudah memeriksa Irma ke psikiater, tapi mengingat dia tadi bilang kalau dirinya miskin kurasa dia tak melakukannya. Mrs. Alma berkata lagi tuk meyakinkanku. “Dia tidak gila. Dia memang terlihat gila tapi tak mungkin terjadi begitu instan tanpa sebab. Irma seperti dirasuki sesuatu. Kumohon tolong kami.” Dari sudut pikiranku, aku merasa agak tersinggung karena pikiranku berkata Mrs. Alma datang karena aku bukan cenayang besar dan pasti murah tuk menyewa jasaku. “Biar aku pikir-pikir lagi, Mrs. Alma,” balasku setelah beberapa menit sunyi. Dia terlihat kecewa, menduga aku tidak mau menerima keluhannya. Mendadak dia meraih kedua tanganku, menggenggamnya. “Aku akan membayarnya, sungguh, nona Austryn. Aku memang miskin, tapi aku akan berusaha membayar jasamu demi situasi genting begini.” “Aku tidak menolak tuk membantu, Mrs. Alma. Aku akan datang nanti,” balasku, tak memedulikan pikiran yang terus memunculkan probabilitas negatif jika aku sungguh menerima masalah Irma. Mendengarnya, barulah nyonya yang kurasa berusia sekitar akhir tiga puluh itu tersenyum lega dan menitikkan air mata yang sejak tadi menumpuk. “Terima kasih banyak, nona Austryn.” Kemudian, kami membicarakan perihal bayaran. Aku sengaja mematok harga setengah dari harga yang cenayang lain pasang tuk menangani kasus kerasukan. Mrs. Alma pun pulang dengan harapan. “Mereka tinggal di dalam terowongan ...,” gumamku membaca coretan alamat yang Mrs. Alma tulis. Aku pergi sejam kemudian karena tak perlu menunggu malam tuk mengatasi masalah ini. Di antara kesibukan masyarakat London, kuberjalan menuju terowongan bawah rel yang klienku maksud. Namun, aku tak menemuinya di sana. Kulihat Mrs. Alma di gang kecil, di antara dua restoran. Dia memeluk seseorang sambil duduk merapat tembok bata merah itu. Kudengar ada bentakan juga sesenggukan tangis, memancing perhatian dari para pengguna jalan di sana. “Mrs. Alma?” tegurku sambil mendekat. Dia mengangkat kepala. Penampilannya kacau. Wajah basah karena air mata dan keringat dengan beberapa helai menempel di dahi. Sanggulan rambutnya juga miring dan longgar. Wanita pirang itu menangis melihatku. “Nona Austryn ....” Putri di dekapannya menjerit, memberontak ingin lepas dari dekapan si ibu yang mengekang pergerakan. “Dia memancing keributan saat aku sedang membelikannya roti isi di restoran samping. Dia nyaris baku hantam dengan seseorang.” Aku berjongkok, menyentuh dahi Irma yang masih terus memberontak dalam pelukan. Tubuhnya begitu dingin, sepertinya dia juga terkena demam. Kucoba alirkan benang spirit yang bisa masuk menembus kulitnya. Benangku tidak mengikat spirit di dalam karena memang tidak ada apa-apa di sana. Padahal, cenayang lain yang juga mengikat spirit dalam tubuh manusia dengan benang mendapat respons—benang spirit menjadi lurus dan kaku. Apa ini gangguan jiwa? Irma memaksa matanya tuk bergeser ke ujung tuk melihatku. Mendadak dia tertawa, tertawa dengan gila. “Terlambat. Kau tidak bisa menyelamatkannya,” tekannya yang mendadak bersuara tenang. Sebelum aku sempat merespons, gadis dalam dekapan Mrs. Alma menegang. Kakinya menendang-nendang udara, suaranya tercekat dan dia menggaruk wajah sendiri, menggores kulit hingga berbekas dan berdarah, lalu dia terdiam lemas. Air mata jatuh dari wajah syok si ibu. Dia menepuk pelan wajah Irma. “Irma?” panggilnya. Dia terus memanggil, menepuk dan mengguncangkan tubuh gadis itu. Aku meraih pergelangan tangan Irma, meraba nadinya. Ya Tuhan .... “Irma sudah tidak ada, Mrs. Alma,” tuturku yang ikut terguncang. “No way ....” Mrs. Alma memekikkan nama putrinya. Aku bangkit, menelepon ambulans dengan perasaan bercampur aduk. Sebenarnya apa yang menimpa gadis ini? *** Tak tega membiarkan Mrs. Alma sendirian, aku menemaninya sampai kami memakamkan Irma di sore hari—proses berlangsung cepat karena memang mereka berdua tidak punya kerabat di sini. Rangkulanku tak lepas dari wanita rapuh yang tersedu-sedu dengan mata sangat sembab menatap nisan dengan nama putrinya. Si pemilik restoran dan beberapa pejalan kaki yang ikut membantu menggotong Irma tadi siang sangat baik hati tuk mengisi kekosongan kerabat. Ada seorang duda yang tak segan menawarkan tempat tinggal pada Mrs. Alma dan aku mendukung pendapat itu. Satu persatu para pelayat pergi, begitu pun satu-satunya keluarga yang Irma punya sampai menjelang ajal. Begitu berbalik dan berjalan beberapa langkah, kulihat seseorang yang cukup familier berdiri di belakang pohon oak besar. Si wanita bermanik tosca dengan gaun hitam dan topi lebar hitam, menatapku datar. Namun dia tak terlihat di sana setelah aku sampai di dekat pohon. Sepertinya aku kelelahan sampai bayangan orang yang kukesali muncul. Aku pulang dengan pikiran kalut. Sebenarnya apa yang Irma alami? Kesurupan atau penyakit mental? Kupikir hanya saat itu saja aku mengalaminya. Ternyata sehari kemudian, aku dipanggil untuk mengatasi kasus yang sama. Kali ini kliennya seorang pria yang lebih tua dariku, bernama Owen. Orang tuanya—Mr. Dan Mrs. Isaac—mengira anaknya ketergantungan obat-obatan dan membawanya ke rumah sakit. Namun, dokter tak melihat masalah pada badan putra mereka dan meminta mereka tuk membawa Owen ke psikiater. Lalu, tuan dan nyonya Isaac yang mendengar itu merasa terhina. Mereka anggap mengakui Owen terkena gangguan mental adalah aib, jadi mereka setuju kalau Owen kerasukan dan memanggilku, seorang cenayang yang paling dekat dengan lokasi rumah mereka. Aku datang sesuai janji di jam sepuluh pagi, langsung melihat kondisi putra mereka. Kondisinya tidak begitu mengkhawatirkan seperti Irma untungnya. Dia masih bisa dibujuk tuk makan dan bicara dengan kooperatif. Manik hijau buramnya bergilir menatap pergerakanku dari pintu sampai ke sisi kasurnya. Dengan bibir kering dan pucat dia bertanya. “Kau dokter?” “Bukan, Mr. Owen. Aku cenayang.” Dia menatap protes ke Ibunya yang berdiri di sebelahku. “Sudah berapa kali kubilang aku tidak kerasukan,” katanya menggertakkan gigi. “Kita hanya ingin memastikannya, sayang. Kami terluka melihatmu seperti ini,” lirih Mrs. Isaac. “Permisi,” ucapku dengan tangan terulur dan tubuh agak maju. Dia langsung menepis tanganku dengan tamparan. “Jangan sentuh.” Aku kembali duduk bersandar di bangku, tersenyum tipis sembari membatin. Ayolah, jangan manja, sialan. Aku bukan semacam kuman. Karena larangan itu, aku mengulurkan tangan lagi cukup jauh dari wajahnya dengan telapak tangan terbuka, lalu memasang cakar begitu benang spirit putih dari ujung jemariku keluar, membuat Owen yang menonton pergerakanku tersentak kaget. “A-a-apa yang kau lakukan?” bentaknya. Benang spiritnya tidak tersambung. Dengan kata lain dia tidak kerasukan. Namun, jika memang masalah ini sama dengan Irma, maka aku mesti mencari cara lain tuk mengetahui apa yang terjadi pada Owen. Aku menarik tangan. “Mrs. Isaac, aku akan kembali malam nanti.” Mrs. Isaac menatapku bingung. “Apa sangat parah?” “Ah, bukan. Ada beberapa hal yang harus kupastikan sebelum benar-benar melakukan pembersihan.” Owen menatap gusar ke arah jendela, berkata dengan sarkas. “Tidak usah kembali membawa salib atau air suci karena tidak akan mempan. Aku tidak kerasukan,” tukasnya. Aku kembali tersenyum. “Terima kasih atas sarannya.” Tentu saja, d***u. Kasusmu itu merepotkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD