Aku membencinya

1124 Words
Aku mencebikkan bibir mengikuti perkataannya bermaksud mengolok. Ibuku memang termasuk jejeran cenayang senior yang hebat, jadi dia memang sering bekerja sendiri dibanding dengan rekan timnya yang satu lagi. Umumnya dalam satu tim cenayang terdiri dari dua atau tiga orang. Semua cenayang bisa menjadi komunikator—pihak yang bicara dengan makhluk halus—, tapi satu orang lagi akan cenderung menjadi shield—tameng—yang akan menyaring energi negatif ketika si komunikator berkomunikasi, dan satu lagi menjadi protektor—cenayang dengan skill menyerang yang kuat agar bisa menjaga serangan dari luar selama komunikasi berlangsung. Memang banyak cenayang yang bisa jadi komunikator dan protektor tapi jarang yang bisa jadi komunikator dan shield sekaligus karena butuh fokus yang tinggi dan fisik yang fit. Itulah kenapa jasa Ibuku lebih sering di sewa sendirian. Kalau bisa menemukan yang multifungsi untuk apa mencari yang punya fungsi masing-masing? Klient bisa lebih hemat dalam pengeluaran juga. Kasus kerasukan memang tak begitu sering, tapi tim begini sangat sering di sewa untuk membersihkan rumah atau tempat yang dikenal berhantu. “Kalau kau ingin dapat pekerjaan yang stabil, bergabunglah dengan tim cenayang Ash,” lanjut ibuku lagi ketika dia mengambil cangkir-cangkir yang sudah kuisi dengan teh. Aku mengerang jengkel. “Aku lebih baik keluar dari perkumpulan dibanding satu tim dengan sekelompok serigala.” Ash Gusman adalah senior cenayang yang terus kuhindari. Bukan karena kesuksesan dan ketenarannya yang membuatku iri sampai benci. Arg, aku malas mengingatnya. Nanti juga kalian tau. Kami sarapan dengan pembicaraan masing-masing. Setelah itu aku mau tidak mau mencuci piring. Kurasakan seseorang menaruh telapak tangannya di puncak kepalaku. “Kami pergi, carrot,” ucap Mat. “Jaga dirimu,” sambung At. “Hmm, jaga diri kalian juga,” balasku sambil menghentikan kedua tangan, merasakan tangan kakak kembar yang mengacak-acak sekaligus merapikan surai mie instanku. Aku berangkat saat jam mulai bergeser ke angka sepuluh. Sepertinya kereta sudah mulai lengang kalau di jam-jam segini. Aku kembali mengumpat saat melihat Chelsea tepat dibalik pintu kamar yang kutempati. “Aku pamit,” ucapku yang ogah melihat penampilan luar biasanya. Spirit biarawati serba putih itu tersenyum. “Gawat, ya,” ucapnya tanpa menggerakkan mulut. Ibu bilang peliharaannya itu terkadang bisa memberitahu sesuatu yang akan terjadi pada kita di masa nanti lewat ucapan randomnya. Terlalu ambigu untuk disiratkan jadi aku menyingkir pergi. Kuharap yang tadi dia bilang hanya candaan belaka. Lima hari kemudian, di tanggal 12 bulan Agustus, aku mendapat permintaan tuk membasmi arwah hewan di apartemen sebelah toko kebab Doner Daddy, 205 High road, setengah jam lebih berjalan ke utara jika dari rumah yang kusewa. Aku datang ke sana menjelang malam berhubung siang tadi sibuk mencari perlengkapan cenayang yang habis. Apartemen yang dimaksud sudah dikosongkan. Si penyewa sudah memindahkan perabotannya ke tempat lain karena takut aku tak bisa bergerak leluasa di tempatnya yang sempit. Padahal aku bisa menanganinya dalam hitungan menit jadi dia tak usah menghabiskan uang dan waktu untuk pindah. Si penyewa bernama Carol, perempuan, usianya sama denganku dan dia tinggal sendiri karena berkuliah di kampus yang cukup jauh dari rumah orang tua. Selama dua hari belakangan, dia mendengar gonggongan anjing yang bergaung di seluruh ruangan apartemen. Dia punya firasat kuat kalau itu adalah anjingnya yang tewas tiga bulan lalu karena usia. Aku tidak bertanya kenapa dia bisa seyakin itu karena Lizzy menyarankanku tuk demikian—ya, aku bicara ke Aliza lagi sebelum aku berangkat tadi, berhubung dia lebih peka soal ‘sopan santun terhadap klien’ dibanding diriku. Aku datang setelah jarum pendek bergeser sedikit dari angka tujuh. Carol bilang dia menyisakan sofa dan meja jika aku menghabiskan waktu lama tuk menunggu si arwah anjing menggonggong. Aku berterima kasih atas kepekaannya setelah menghabiskan tiga jam menunggu di ruangan kosong itu. Ternyata tidak langsung muncul, ya. Namun, kalau sudah tiga bulan lalu, kenapa baru bergentayangan sekarang? Jika memang dia tersangkut di sini sejak awal, mengapa baru mengungkapkan diri dua hari lalu? Kulirik jam di sudut atas ponsel. Sebentar lagi jam sepuluh dan aku mulai mengantuk. Selain membawa batu magnetit, kali ini ada daun sage yang baru dipetik dan akan kubakar setelah membersihkan arwah. Ini tradisi lama yang dilakukan ketika hendak menempati rumah baru. Asap dari daun sage akan menempel di tembok untuk beberapa hari, menangkal spirit jahil. Kubuka ponsel tuk melihat chat terbaru yang Carol kirim. Dia mengirim foto anjing yang sekilas mirip serigala dengan bulu dan telinganya yang runcing. Namanya Hans, jenis siberian husky. Aku membulatkan mata melihat foto anjing itu saat bersama Carol. Uwah, besar juga ukurannya. Mataku jelalatan sebentar ke sudut ruangan, merasakan keberadaan, menangkap anjing yang sama dengan yang di foto. Aku agak terkejut. “K-kau ... Hans?” Dia mengeluarkan suara seperti merajuk. Ekornya menepuk-nepuk lantai dengan tidak sabaran. “E-eh? Carol bilang kau menggonggong, tapi ....” Kutatap spirit anjing husky yang agak transparan itu. Dia sama sekali tidak menguarkan energi jahat. Justru, dia sangat dilimpahi energi positif dan aman untuk kusentuh. Namun, aku tidak menyentuhnya karena masih memproses situasi. Mendadak anjing itu bangkit dari duduk, menggeram dan melangkah ke arah belakang kiriku, lalu menggonggong berkali-kali seperti ada tamu yang tak diundang datang. Aku juga ikut melihat ke arah yang sama begitu merasakan energi negatif yang kelam, sepertinya datang dari spirit jahat yang melintas. Aku pribadi sudah beberapa kali menangani spirit jahat, tapi yang ini .... Mendadak dia berhenti menggeram dan duduk kembali di depanku. “Jadi ... kau menggonggong karena kau ingin spirit itu tidak mengganggu majikanmu?” kataku sambil membulatkan mata, menatapnya. Dia menjawab dengan gonggongan sederhana dan kaki depannya yang menapak riang. “Kau sangat baik, tapi kau tidak boleh berlama-lama di sini.” Kukeluarkan batu magnetit sebesar ujung jari dari tas selempang, melemparnya ke arah anjing husky yang tidak melawan. Sehabis itu, kubakar daun sage dengan piring tempat makan anjing yang kutemukan di sudut dapur—tentu aku meminta izin dulu pada Carol tuk menggunakannya. Asap daun sage menyebar, menjaga apartemen tuk sementara waktu. “Baiklah, pekerjaanku sudah selesai,” gumamku menatap ruangan kosong itu lagi sebelum pulang. Sudah jam sepuluh lewat sembilan belas menit. Aku tidur setelah menulis laporan dan mengirimnya ke pusat bersama botol berisi batu magnetit arwah anjing husky. Esoknya, aku mendapat klien lagi, dia datang sekitar jam sembilan ke rumahku. Namanya Mrs. Alma. Wanita dengan surai pirang dengan beberapa helai berwarna kehitaman dan rambutnya di sanggul rapi dan rendah. Dia datang begitu pagi, aku tidak sempat bersiap dan mendengar keluh kesahnya setelah mencuci muka dan menyikat gigi, masih dengan gaun piyama putih selutut. Dia duduk di sofa kulit lama berwarna cokelat yang kuterima dari ibu begitu pindahan, sedangkan aku duduk di kursi meja makan, tak jauh darinya. Mrs. Alma tersenyum tipis. “Apa bayarannya mahal?” tanyanya dengan suara resah. “Tergantung dari masalahmu dan kesepakatan kita nanti, nyonya,” kataku sembari menaruh secangkir teh yang sudah dicampur dengan s**u di depannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD