Kuketuk pintu setinggi dua setengah meter itu dua kali sebelum meraih kenop. Aku menyembulkan kepala dari balik pintu, melihat apakah beliau ada di dalam.
Untungnya, sir Graham ada di dalam ruangan bergaya dark academia itu, beserta seorang pria yang berdiri di depannya.
Begitu aku menutup pintu, kudapati pria itu Harold. Kami saling membulatkan mata.
“Nat?” ujarnya.
Aku tercenung sesaat, lalu kembali membuka pintu. “Aku akan kembali nanti—“
“Tidak, tidak, aku sudah selesai.” Harold mengucapkan salam ke Sir Graham lalu berjalan ke pintu.
Aku segera menyingkirkan tangan dari kenop pintu saat dia hendak meraihnya. “Aku tunggu kau di dekat tangga, Natalie.”
Pintu tertutup, aku bergeming. Kenapa dia menungguku?
“Oh, kau datang sesuai janji, Natalie,” kata pria yang cukup gempal itu.
Aku berjalan mendekati meja besarnya. “Selamat malam, Sir.”
“Silakan tuturkan keperluanmu.”
Aku sadar kalau beliau terlihat tidak tenang, seperti baru mendengar kabar buruk. Aku membicarakan perihal promosi secara serius dan dia menanggapi dengan cepat dan praktis. Aku pikir dia tak benar-benar fokus pada apa yang kukatakan jadi dia menurut saja.
“Apakah ada kasus besar dalam waktu dekat, sir?” tanyaku.
Dia melotot padaku. Bullseye?
“Tidak.” Dia berdeham canggung, menutupi kekagetan. “Kalau kau bermaksud ingin membesarkan nama dengan mengatasi kasus besar, aku sarankan kau masuk ke dalam tim, Natalie.”
Aku tersenyum tipis. “Mungkin lain kali. Aku permisi, sir.”
Kulihat Harold berdiri bersandar di samping tangga. Aku melihat puncak kepalanya dari atas saat lewat tadi. Kuhampiri dia. “So, ada apa?” tanyaku.
Pria itu tersenyum sampai matanya menyipit. “Mau makan malam bersama?”
Kupikir ada hal penting yang ingin kau katakan. “Tidak, terima kasih. Aku sudah makan malam di rumah.”
“Oh ... kau punya rumah lain di sini juga?”
“Ya, rumah orang tuaku.”
Harold mengangguk cepat. “I see.”
Aku merapatkan bibir. “Kalau tidak ada hal lain yang kau katakan, aku akan pergi,” ujarku sembari berbalik dan hendak melangkah.
“Tunggu. Kau mau ikut denganku ke makam Levine?”
Aku kembali berbalik. “Makam sir Levine?” ulangku tak yakin dan dia mengangguk.
“Sepertinya kau penasaran sekali padanya, jadi kupikir bakal lebih mudah jika kau melihatnya langsung.”
Ya, aku memang penasaran, tapi aku ragu tuk pergi. Ibu bilang dia meninggal tanpa peninggalan, sekarang orang yang katanya paling dekat dengan sir Levine ini mengajakku tuk mengunjungi makamnya.
Aku ingin memastikan yang mana yang berbohong.
“Baiklah, kau mau mengantarku pulang nantinya, kan?”
Harold tidak mengendurkan senyum. “Tentu. Aku tidak bisa tidur kalau meninggalkanmu pulang sendirian malam begini.”
Itu agak mencurigakan bagiku. “That’s very nice of you.”
Aku dan dia pergi ke tempat yang dimaksud dengan mobil. Hanya beberapa menit, kami sampai di depan palang jalan Elm street dan Harold memarkirkan mobilnya. Aku berjalan mengikuti pria itu, memasuki area rerumputan luas, terus melangkah ke area yang lebih kering yang terdapat beberapa batu nisan.
Tunggu, aku rasa aku pernah ke sini ....
Begitu melihat jejeran batu-batu terukir nama, aku sadar ini pemakaman yang pernah kumasuki saat mengejar spirit beberapa minggu lalu.
Dia memasuki jalan kecil ke jejeran nisan, lalu berhenti di sepetak lahan yang tak terdapat apa pun. Ah, ya. Saat itu aku melihatnya menangis di depan sini.
“Ini makamnya?”
“Ya,” lontar Harold sendu yang matanya terpaku pada lahan kosong itu.
Kulihat nama di makan sebelah kiri lahan. Yoona Will, wafat pada tahun 1840. Di sebelahnya lagi ada Henry Will yang tiada di tahun 1851. Sepertinya mereka suami istri.
“Sayangnya, di sini tidak tak terkubur raganya. Meski begitu, sepetak tanah ini memang secara sah miliknya.”
Dia mengatakan hal yang sama dengan Ibu. “Kok bisa raganya tidak ada?”
“Dia cukup unik. Seseorang bilang dia pergi seperti pasir di genggaman yang ditiup. Konyol sekali,” tukasnya.
“Aku setuju. Tidak ada manusia yang meninggal seperti itu. Lalu kau ini teman dekatnya? Sebaya?”
Harold menoleh, tersenyum tipis. “Kau pernah melihatnya?”
“Ya. Kalau dari penampilannya, kalian terlihat sebaya.”
Anehnya, senyum itu melebar dibarengi dengusan tawa. “Dia memang terlihat lebih muda dari umurnya.”
Aah, dia lebih tua darinya. Bisa jadi dia guru cenayang Harold, mengingat banyak orang mengagumi kemampuan sir Levine.
“Aku penasaran dengan sesuatu. Kenapa kau bisa masuk ke perkumpulan cenayang meski tak bisa melihat spirit?” tanyaku penasaran.
Bagaimana tidak? Aku sudah mengikuti tes masuk saat umurku delapan belas dan saat itu aku tidak berhasil. Itu sebuah kegagalan yang kualami untuk pertama kalinya dalam hidup jadi aku cukup terpukul dan bertanya-tanya.
Harold bergeming. “Apa aku menyinggung perasaanmu?” lanjutku.
“Tidak. Aku hanya tidak berpikir kau akan sefrontal ini. Aaah, kau benar.” Dia memegang dagu, maniknya menatap ke atas.
Kalau aku bisa tau kilat khusus berada di perkumpulan tanpa memiliki kemampuan hebat, mungkin aku bisa mengaplikasikannya dan jasaku bakal lebih laris.
Namun, kalau dia berada di perkumpulan karena keberadaan sir Levine, aku tak bisa berbuat apa-apa.
“Itu karena aku beruntung.”
Aku mengerjap. Beruntung?
“Seingatku, aku masuk tanpa tes. Aku langsung ditempatkan menjadi cenayang khusus dan meski tidak selaris jasa Levine, setidaknya setiap bulan aku punya pekerjaan,” tuturnya.
Dahiku mengerut dalam sembari menatap ke depan. Hmm, kisahnya sangat berbanding terbalik dengan seseorang. Tebak siapa. Ya, aku.
“Untungnya, aku tidak pernah dihadapkan pada pekerjaan yang menyangkut spirit dan semisal ada spirit, orang lain yang menanganinya. Kecuali—loh, Nat?”
Aku berhenti melangkah. “Aku ingat kalau aku ada urusan, jadi aku akan pulang.”
“Aku akan mengantarmu.”
“Tidak,” tekanku kembali berjalan tanpa menatapnya lagi. “Tidak perlu. Aku punya banyak uang untuk memesan taksi.”
Dengan jalan mengentak-entak, aku keluar dari area pemakaman, kembali ke tiang jalan The Elm, menyusuri jalan keluar area perumahan itu.
“Baiklah, dia beruntung, Nat dan kau tidak. Kau harus masuk lewat tes, kau mesti bekerja keras untuk mendapat apa yang kau mau, tidak seperti seseorang yang bilang dirinya khusus dan sibuk setiap bulan,” ocehku.
“Kau tidak kembali ke London?” tanya Ibu begitu sadar aku masih tidur di kamar di rumahnya.
Aku mengangkat kepala sebentar, kembali merebahkannya ke bantal dan menscroll layar ponsel. “Entahlah.”
“Entahlah?” ulangnya.
Aku mendecak. “Aku sudah besar, biarkan aku mengatur sendiri waktuku.”
“Sejak pulang semalam kau terlihat jengkel. Ada apa dengan sir Graham?”
“Beliau sehat-sehat saja.”
“Apa dia menyinggungmu soal sesuatu?”
“Tidaak. Mom, ada empat orang yang membutuhkan sarapan, kau harusnya tidak mengobrol denganku sekarang,” tegurku.
“Ya, dan aku harap satu orang cukup sadar diri untuk membantu,” sarkas Ibu yang kemudian membanting pintu.
Aku membanting ponsel ke kasur sambil meninggikan suara dan beranjak turun keluar kamar dengan gaun baju tidur putih selutut. “Baik, nyonya besar, hamba laksanakan.”
“Aku ada klien setelah sarapan, jadi kau yang cuci piring,” kata Ibu yang menyusun roti panggang dan telur di enam piring sekaligus.
Aku berkata selagi menyelupkan kantong teh ke teko keramik. “Spirit apa?”
“Sepertinya kerasukan spirit orang terdekat hingga masuk ke mimpi.” Ugh, klien seperti itu bakal cukup ribet untuk diatasi, meski bayarannya cukup besar.
“Boleh aku ikut?”
Ibu menatapku sejenak. “Urusi urusanmu,” senyumnya.
“Siapa tau kau perlu shield.”
“Aku bisa jadi shield dan komunikator sekaligus kalau kau lupa,” sombongnya yang kemudian menaruh piring berisi sarapan ke meja.