makam tanpa nisan.

1845 Words
“Bilang padanya kalau aku Dean,” lontar spirit di sebelahku dengan mendadak. “Hah?” kataku. “Dia tak bisa melihatku, jadi tolong katakan kalau aku Dean, Natalie,” paksanya. “Tu-jangan sebut namaku! Seram sekali.” Harold terdiam menatap interaksiku. “Apa spiritnya mulai memberontak?” Ah, benar. Dia tak bisa melihat spirit. Loh, lalu kenapa dia bisa kerja di Perkumpulan cenayang? “Tidak. Dia bilang kalau dirinya Dean.” Tatapan tak bernyawa dari pria itu sontak berubah menjadi lebih hidup. Dia membelalak. “Siapa?” ulangnya dengan suara pelan. “Dean, spirit Za ....” “Zashiki warashi,” bantu si spirit. “Zashiki wara ... shi? Ya itu. Maaf, kalau penyebutanku berantakan. Intinya dia spirit Jepang.” Harold menatap bingung, kutunjuk arah samping kiri, kemudian dia menatap ke sana. “Dean?” panggilnya. Spirit di sebelahku tersenyum. Ya, dia tersenyum, layaknya manusia yang bahagia. “Harold, bawa aku ke rumahmu.” “Tidak bisa,” tegasku. “Kau milikku! Maksudku, kau spirit yang kutangkap. Jadi, aku harus menyerahkanmu ke perkumpulan sebagai bukti nyata.” “Kenapa katanya?” tanya pria kurus itu. “Dia bilang tuk membawanya ke rumahmu,” tukasku. “Tentu saja. Aku senang begitu.” “Excuse me? Dia ini spirit!” “Ya, aku sudah tau itu sejak lama. Dean, si spirit penjaga rumah. Kami teman lama,” tutur Harold, terkesan seperti dia sedang reunian. Kuhela napas berat. “Tidak bisa. Dia jadi bukti laporanku nanti. Lagi pula, aku yakin tuan kita bakal melarang keras soal ini.” “Tenang saja, aku rasa itu tidak terjadi,” kata Dean. Aku bersedekap, menatapnya sinis. “Oh, ya? Kau spirit, kau mana tau.” “Mudah saja. Tadi kita bertemu Moirai, dia yang menentukan ini terjadi,” katanya lagi. Dahiku semakin mengerut. “Moirai? Dewi takdir yunani itu? Maksudmu wanita bermanik hijau tosca tadi? Hah! Kalau iya, harusnya tadi aku bertanya kapan karier solo ku sukses!” sarkasku. Harold ikutan heboh. “Tadi Moirai ke sini?” tanyanya padaku. “Dia bukan Moirai, dia Mrs. Gabriel, pemilik perusahaan furnitur—“ “It’s her!” tekan dua laki-laki itu. “Shut it!” bentakku. “Dean akan kuserahkan ke perkumpulan. Tidak ada negosiasi.” Harold meraih kedua tanganku. “Salahkan aku kalau Sir Graham bertanya soal Dean. Sungguh, aku rela namaku dicopot. Aku tidak keberatan asal Dean bersamaku.” “Kau sudah kerasukan ternyata,” sinisku. “Natalie, please,” mohonnya sambil memegang kedua tanganku dan agak membungkukkan badan atas. “Please, aku butuh dia untuk melanjutkan hidup.” Kau butuh spirit untuk melanjutkan hidup? That’s non sense! “Kau terlihat sakit, Mr. Harold. Kau membiarkan rasa kehilangan menguasai dirimu. Sama sepertiku,” tutur Dean yang terlihat murung. Emosi negatif mereka berdua berkoar, menyakiti mata dan menghabiskan kesabaranku. Kututup mata rapat-rapat sambil bernapas dalam-dalam. Mereka berdua keras kepala, begitu pun denganku. Kita tidak akan bergerak ke mana-mana kalau tidak ada yang mengalah, tapi pertanyaannya, siapa yang mau mengalah? “Dude,” tegurku. “Aku tidak akan mengubah pikiranku.” Manik hitam pekat pria itu kosong, menunjukkan kecewa. “Bujuk saja Sir Graham dan kalau dia setuju, Dean jadi milikmu. Aku tidak akan komplain.” Genggaman tangannya merenggang, melepas tanganku, lalu jatuh seperti harapan ke sisi tubuh. Kegembiraan yang sempat mampir kini hilang lagi dari wajahnya. Spirit di sebelahku juga demikian. “I can’t do anything about this, boys (Aku tak bisa berbuat apa pun soal ini). Tolong pahamilah.” Ponselku berdering, kulihat nama Sir Graham, langsung kuangkat. “Yes, sir?” “Sudah diatasi spirit yang seperti monster itu?” “Sudah, sir. Dia bukan monster, cuma spirit Jepang za ... zashiki warashi.” Kuhempaskan napas kesal, kenapa juga spirit jepang bisa nyasar ke sini, sih? “Tunggu, apa dia bernama Dean?” Huh? Sir Graham tau? “Benar, sir.” “ ... apa Harold tau?” ucapnya dengan suara lebih tenang. “Dia tau,” balasku mulai merasa aneh. “Kalau begitu, serahkan saja pada Harold, tak perlu buat laporannya.” Aku mengerjap dengan alis mengerut. “Sorry, sir?” “Dia tidak berbahaya kalau itu Dean. Aku yakin Harold pasti menginginkan spirit itu, kan? Serahkan saja Dean ke Harold. Itu bakal lebih baik dari pada menyetornya ke sini. Tenang saja, aku tidak akan mencabut kalian berdua dari perkumpulan. Lagi pula, semua orang tau soal Dean.” Jadi hanya aku yang baru tau soal spirit ini, begitu? “Tapi bukankah setiap spirit yang ditangkap harus disetorkan ke perkumpulan?” “Iya, aku mengerti kau sangat kebingungan saat ini, tapi aku pribadi sudah mengenal Dean sejak lama dan sempat mencarinya juga sejak Levine tiada untuk mengajaknya tinggal di rumahku, dan dia menolak. Dia spirit netral dan keberadaannya tidak merugikan siapa pun.” Levine ... tiada? “Serahkan saja pada Harold, Nona Natalie. Soal laporan, kalau kau bersikukuh untuk membuatnya, silakan buat dan setor seperti biasa melalui pos.” Setelah itu, Sir Graham menutup panggilan. Harold yang sejak tadi menatapku sambil terdiam berkata, “Pasti berita bagus.” Kuhela napas. “Ya. Dia bilang kau boleh memiliki Dean.” Dia kembali melebarkan senyum. “Kalau begitu—“ “Tapi aku akan mengawasi dia dulu semisal dia memberontak,” potongku sambil melirik ke Dean. “Kalau begitu mari kita ke rumahku,” kata Harold. Selagi berjalan ke mobil pria itu, aku bergumam, “Aneh sekali, apa tadi bukan sir Graham?” “Jangan heran, tadi kita bertemu Moirai, sudah pasti hal tak masuk akal bakal terjadi,” timpal Dean. Rumah Harold berada di Fritzoy Park, tepatnya di tepian taman besar Hampstead Heath, sepuluh menit memakai mobil ke arah selatan dari rumahku. Kawasan tempat orang-orang elite tinggal dengan rumah megah mereka. Kami ke sana dengan mobil pria itu, masuk lewat gerbang belakang yang langsung mengarah ke taman—betapa enaknya dia, tinggal di dekat area hijau yang luas. Karena spirit tidak bisa berada di mobil, aku memasukkannya ke dalam batu Magnetit. Spirit hanya terkurung. Batuannya juga gampang hancur, jadi spirit bakal mudah lepas kalau batu itu kuinjak. Ada bagian berbentuk tabung berada paling depan, lebih tinggi dari atap lantai dua rumahnya, diselimuti dinding kaca. Dilihat dari belakang saja aku tau kalau rumahnya sangat bermodel. Pintu belakang dibuka, aku disambut taman di sebelah kiri, memanjang mengikuti lorong yang menembus ke ruang tamu. Lantainya berbalut kayu berwarna hitam dengan sentuhan abstrak asap, sedangkan tembok betonnya berlapis cat putih. Sampai di ruang tamu—yang juga mayoritas dindingnya diberi kaca—aku mendapati perabotan mewah dengan warna emas, perak, hitam dan rose gold. Lampu gantung, cermin bulat, karpet beludru, dan rak gelas wine. Bisa disimpulkan kalau pria ini tidak cuma bekerja sebagai cenayang. “Silakan duduk,” katanya menunjuk sofa single berwarna hitam dengan dua kaki besi yang menopangnya. “Teh?” “Tidak perlu. Aku bakal segera pulang setelah mendengar penjelasanmu,” tolakku. “Bisakah kalau kita mengeluarkan dia dulu?” tanyanya, menunjuk tasku. Aku mengeluarkan batu Magnetit dari dalam stoples yang sejak tadi mengoarkan asap keunguan, setelah itu kuremukkan dalam genggaman. Dean kembali terlihat, berdiri di sebelahku duduk. Matanya menyisir seisi ruang tamu Harold. “Benar-benar seperti Harold,” gumamnya. Sejauh ini belum menunjukkan tanda-tanda pemberontakan. “Apa Dean mengatakan sesuatu?” tanya Harold. “Dia bilang rumah ini seperti dirimu.” Pria itu terkekeh ringan. “Maaf kalau rumahku tidak seperti rumahmu dulu.” “Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanyaku. “Membiarkan spirit ini tinggal di rumahmu?” “Ya. “ “Membuatnya menjadi peliharaanmu?” lontarku lagi. “Teman,” kalihnya. Kini aku menatap Dean. “Janji kalau kau tidak akan membuatnya tewas?” “Aku tidak akan berbuat demikian tapi aku ingin dia bisa melihat dan bicara denganku secara langsung,” kata spirit berwujud remaja laki-laki itu. “Kau mau dia jadi tuanmu?” tanyaku. Dean mengangguk mantap. Baru kali ini aku mengikat janji dengan spirit, jadi aku tak bisa benar-benar mempercayainya. Namun, dengan berat aku mengangguk. Mari berharap yang terbaik. Aku mengeluarkan kelopak bunga Marigold dari tas kulit dan korek api kayu. Kutarik Asbak kaca yang ada di meja, menaburkan kelopak bunga ke dalamnya, lalu membakarnya. Tidak ada aroma sedap yang muncul karena aku membakarnya bukan tuk pewangi ruangan. Bunga Marigold menarik perhatian spirit dan jika dikeringkan dan dibakar seperti ini, orang yang tidak bisa melihatnya jadi bisa berkomunikasi dengan spirit tersebut lewat suara. Dalam beberapa kasus, mereka jadi bisa melihat spirit bahkan setelah asapnya tak ada lagi. Makanya ramuan ini menjadi rahasia yang tak boleh disebar ke publik. Tak lama setelah asap itu menyebar, Dean bertanya. “Buat apa itu?” Harold membulatkan mata. “Dean? Aku bisa mendengarmu.” Dia membalik badan, menyebar pandangan. “Di mana kau?” “Aku ada di depanmu, sebelah Natalie.” Walau belum bisa menangkap wujud Dean, laki-laki itu menatap ke arah yang benar. Dia tersenyum haru. “Dean ....” “Kalian akan kuikat. Dean, mulai sekarang Harold menjadi tuanmu. Sebagai tuan, Harold harus tetap berpikir positif, mengontrol emosi, tak memendam dendam, karena hal-hal itu bisa memengaruhi Dean juga. Jangan lupa juga kalau apa yang Dean lakukan adalah tanggung jawabmu sebagai pemilik dan pengawasnya. Selaku spirit, Dean juga wajib menjaga tuannya dari spirit lain. Apa kalian keberatan dengan ini?” tuturku yang menatap kelopak Marigold di asbak mulai habis terbakar. “Tidak,” respons mereka berdua bersamaan. Kelopak Marigold sudah menghitam dan mengerut, asapnya juga sudah menghilang di udara. “Dean, sekarang coba tiup mata Mr. Harold.” Dean melangkah mendekati pria bermanik hitam itu. Saat kedua telapak tangannya mendarat di sisi wajah Harold, pria itu terkejut. “D-dean?” Spirit laki-laki itu terlihat menghembuskan udara ke arah mata Harold. Harold tersentak kecil, langsung menutup mata sejenak. Begitu membukanya kembali, dia membelalak. Dean tertawa kecil. Dengan segera Harold merentangkan tangan, meraih spirit itu ke dekapannya. “I miss you ....” “Aku rindu kau juga, Harold,” tutur pelan Dean. Aku menarik napas dalam-dalam. Wah, segini saja badanku langsung terasa lemas. Sebenarnya setiap cenayang bisa merekrut spirit pilihan mereka sendiri. Namun, karena Harold tak bisa mendengar atau melihatnya, jadi secara tidak langsung tenagaku terpakai untuk itu. Belum lagi aku juga cukup lama menahan Dean dengan tali spirit. “Jangan lupa buat pernyataan soal Dean. Aku tidak mau kematianmu esok jadi kesalahanku,” kataku sambil bangkit dari duduk dan memperbaiki tali tas. “Baiklah,” balasnya, kembali tertawa kecil sembari melepas pelukannya. “Tunggu, kau baik-baik saja pulang sendirian?” “Tentu saja. Aku cenayang. Berkeliaran jam segini bukan hal baru,” lontarku. “Kau benar. Hati-hati di jalan, Natalie.” “Terima kasih banyak, Nat,” kata Dean yang melambai. Aku berjalan ke arah lorong yang bersebelahan dengan taman indoor, berhenti, membalik badan. “Can i ask you something personal ( Boleh aku tanya sesuatu yang personal)?” tanyaku. Harold mengangguk. “Apa kau berteman dengan sir Levine?” lanjutku. Dia bergeming sesaat, lalu kembali mengangguk dengan senyum pedih. “Apa benar kalau dia sudah tiada?” tanyaku lagi. “Ya ... sudah sebulan yang lalu.” Sayang sekali. Padahal aku ingin belajar banyak darinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD