sendirian di depan

1229 Words
Satu menit, dua menit kami saling tatap. Oke, aku akhiri keheningan ini. “Kau tinggal di mana? Kenapa malam-malam begini menyelinap dan masak di dapur orang?” tukasku. Laki-laki berparas Asia itu mengerjap ngeri. “A-aku—maaf, aku akan pergi setelah makanannya matang, jadi tolong jangan serang aku.” “Bukan aku yang bakal menyerangmu, tapi polisi.” Aku memasukkan kembali batu magnetit dan bom air ke tas kulit selempang, lalu mengeluarkan handphone. “Aku tidak tau umurmu berapa, sepertinya lima-enam belas. Apa ibumu bilang untuk tidak masuk ke rumah orang? Apalagi di malam hari. Itu tindakan kejahatan, tuan muda. Biar polisi yang akan mendiktemu—“ “Kau cenayang, kan?” tanyanya. Aku terdiam. “Yep. Kenapa?” “Kau tau kan kalau aku spirit?” Mataku membulat, segera kudekati dia, dan kuhubungkan dia dengan benang spirit. Dia menjerit kesakitan saat benang putih mengilap terhubung dari telapak tanganku ke lengan dan betisnya, membuat pergerakannya tertahan. D-dia spirit? Wujudnya terlalu solid dan biasa, seperti manusia. Kalau wujudnya bisa sesolid ini, entah dia memiliki majikan atau sudah menerima banyak energi negatif. Setelah mengikatnya dengan benang spirit, aku menariknya naik ke pintu kamar Sir Ruthless, bilang kalau pekerjaanku sudah selesai. Dia menyahut setengah sadar dan bilang akan membayar besok. Spirit dia bilang? Kalau iya, kenapa dia tidak melawan? Laki-laki Asia bersurai hitam itu diam dan menurut. Itu aneh! “Katakan sesuatu,” tegasku, berdiri di hadapannya di tepi jalan perumahan yang sepi, masih mengikatnya. “Aku tidak mau dikurung,” rajuknya. Oh ya ampun, caranya melawan terlalu manis untuk ukuran makhluk ghaib. “Sebenarnya kau apa dan dari mana?” tanyaku. “Aku spirit Jepang bernama zashiki warashi. Sebulan lalu aku kehilangan majikan dan rumah jadi aku berkeliaran dari Stratford sampai ke sini ....” Majikan? “Apa majikanmu itu cenayang juga? Dia sudah wafat atau bagaimana?” Wajahnya semakin muram, lalu kulihat tubuhnya mendadak buram seiring dengan suara tangisan. Aku melotot ngeri. Di-dia menangis? Spirit bisa menangis? “Levine ....” Mataku mengerling. “Levine? Majikanmu yang cenayang itu namanya Levine?” Dia mengangguk. Memang tak ada air mata yang keluar, tapi wujudnya memburam seiring dengan gejolak perasaan yang menyelimutinya itu. Aku belum pernah memiliki peliharaan, tapi Ibuku punya. Namanya Chelsea, spirit berwujud suster gereja dengan penampilan serba putih, mata hitam dan bibir hitam yang dijahit. Cantik bukan? Dia tidak pernah menangis, lebih sering tertawa. “Dia tidak bilang apa-apa dan lenyap begitu saja,” lanjutnya. “Lenyap?” dahiku makin mengerut dan pertanyaan di benakku semakin menumpuk. Mendadak dia menegang di tempat, menatap ke arah depan kami, lalu karena dia tak bisa bergerak, dia menutup matanya rapat-rapat. Aku menoleh ke depan, ada seorang wanita dengan khas yang kurang lebih sama dengan spirit laki-laki di sebelahku. Rambut hitam sepinggangnya tergerai, belah tengah, lurus dan terawat. Manik toscanya memaksaku untuk terus terpaku. Benar-benar wanita yang cantik. Wanita yang berbalut dress sebetis berlengan brokat berwarna teal itu mendekati kami. “Hello,” sapanya ramah. “Hello—“ “PERGI!” Aku tersentak di tempat sambil menoleh ke samping. Spirit laki-laki itu baru saja membentak wanita di depanku. “Oh, Dean, akhirnya ketemu juga.” Wanita ini bisa melihatnya? “Tidak. Apa pun yang kau ucapkan, aku tidak mau dengar. Aku tidak mau ikut denganmu. Aku tidak mau melihatmu lagi, SELAMANYA!” tekan spirit itu. Wanita bermanik tosca itu terkekeh. “Sakit sekali mendengarnya. Aku ke sini untuk bicara dengan Natalie, bukan padamu.” alisku bertaut, dari mana wanita ini tau namaku? “Natalie, aku Mrs. Gabriel.” Kami bersalaman sebentar. “Aku datang untuk menjemput spirit ini dan membawanya ke rumah Sir Graham.” Dia kenal dengan ketua perkumpulan cenayang, tapi itu saja tidak cukup untuk membuatku percaya. “Aku bukan cenayang, walau aku memiliki kemampuan untuk menjadi salah satunya. Sir Graham adalah langganan perabotan yang kujual, dia sering membeli karpet dari perusahaanku. Haaa, kenapa dia hobi sekali mengoleksi karpet.” Dia mengeluarkan kartu nama yang menunjukkan statusnya sebagai CEO perusahaan furnitur bernama Jacklyn. Wanita ini bahkan tau kalau Sir Graham suka membeli karpet. Berarti dia benar-benar jujur. Kutatap spirit di sebelah, dia jelas sangat tidak suka dengan Mrs. Gabriel. “Erm, aku rasa lebih baik aku sendiri yang membawanya ke sana. Dia cukup berbahaya,” kataku yang ketara sekali berbohong. Manik toscanya bergeser ke si zashiki warashi. “Kalau begitu, mari aku antar. Mobilku ada di belokan gang.” “Tidak perlu, Mrs. Aku perlu mampir ke rumah sebentar karena lupa membawa kertas prosedur dan bakal lama untuk mengisinya. Jadi, lebih baik Anda pulang dan beristirahat.” Wanita itu tentu sadar aku sedang mencoba tuk menyuruhnya pergi dengan halus, tapi dia tetap berdiri di sana, menghalangi langkah. “Nona Natalie—“ “Aku tidak akan menyerahkannya pada kau, Mrs. Gabriel. Berapa kali pun kau meminta. Tolong jangan pancing emosiku, aku bukan orang yang sabar,” potongku tegas. Mrs. Gabriel tetap tersenyum. Kini aku merasa ada yang aneh dengan senyum itu. “Baiklah. Kalau begitu aku akan menelepon Sir Graham.” “Maaf?” protesku. Wanita itu meneleponnya. “Selamat malam, Sir Graham. Maaf mengganggumu selarut ini, tapi aku ingin kau bilang ke Harold untuk segera datang ke tempat yang kuminta. Ya, ada spirit di sana, tapi terlihat seperti monster. Ya. Justru aku yang harusnya berterima kasih, kau selalu membeli karpetku. Oh iya, kebetulan aku bertemu dengan cenayang barumu, Natalie, dia kesusahan menangani spirit.” Mendengar nama Harold, spirit di sampingku tertegun. Sedangkan aku melotot begitu dia bilang aku kesusahan. Apa dia ingin mencicipi bergulat di aspal tengah malam? Dia menyodorkan telepon sebelum aku hendak membentak. “Natalie, diam-diam di sana, aku sudah mengirim seorang cenayang lain untuk membantumu. Jangan melakukan hal lain dan tunggu sampai Harold datang. Mengerti?” kata Sir Graham dari seberang. Aku langsung meraih ponsel itu. “Baik, Sir Graham. Aku akan menunggunya.” “Bagus. Hati-hati dengan spirit itu.” Aku terdiam. Wanita itu tersenyum lebar. “Baiklah, kalau begitu aku pamit.” Setelah wanita itu lenyap di belokan, aku berseru emosi, menekan telunjuk ke arah dia berlalu tadi. “Belagu! Dasar belagu! For god sake! Baru kali ini aku merasa sangat membenci seseorang! Aku tak peduli mau dia CEO atau Menteri, tapi sikapnya membuatku muak!" “Dia memang begitu,” katanya ketus. “Seenaknya datang, lalu mengubah segalanya.” Kusisir rambut pirangku ke belakang dengan frustrasi selagi membuang oksigen penuh emosi. “Kau tampak begitu mengenalnya.” Spirit laki-laki itu menunjukkan ekspresi tidak suka. “Dia orang yang suka ngatur-ngatur.” Penjelasan abstrak itu kubalas anggukan. Ya, cukup mendeskripsikan betapa jengkelnya spirit itu pada wanita tadi. “Kurasa kita harus menunggu di sini sampai seseorang bernama ‘Harold’ itu muncul,” kataku. Anehnya, spirit bernama Dean ini tersenyum pilu. “Akhirnya ....” Akhirnya? Selang dua menit, seorang pria datang. Pria itu memakai setelan jas yang agak kebesaran, mengingatkanku pada klien kurus yang saat ini masih tidur. Matanya cekung, terlihat lelah hidup dan bosan. Tulang pipinya menonjol. Secara keseluruhan dia terlihat lemah. “Selamat malam, Miss Natalie?” katanya padaku. Suaranya juga terdengar seperti spirit—tidak bernyawa. Aku mengangguk. “Sebenarnya aku sudah mengatasi spirit yang dimaksud dan tinggal mengirimnya ke lewat pos, jadi keberadaanmu tidak diperlukan.” Dia menatapku bingung. “O-ohh, benar. Bagus. Kalau begitu, aku akan pergi bersamamu ke sana agar tidak ada kesalahpahaman.” “Oke.” Aku juga tidak mau gajiku dibagi dua sama pahlawan kesiangan sepertinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD