“Melempar panci dan kuali itu agresif, Lizzy,” balasku yang menelepon selagi memilih perlengkapan yang akan kubawa.
“Daripada Bogart, aku lebih khawatir soal dirimu.”
“Aku? kenapa?”
“Dia klien pertamamu. Pastikan untuk bersikap baik padanya. Masa depan kariermu bergantung padanya.”
Kuhela napas panjang. “Yaa, ya, ya.”
“Terdengar sangat tidak bersungguh-sungguh.”
“Yes, Ma’am.”
Aku berangkat saat jarum pendek sudah melewati angka sembilan malam, masih dengan pakaian yang sama dan tak membawa barang besar selain stoples selai, batu Magnetit, kelopak bunga Marigold yang mulai mengering dalam plastik klip, bom air mata yang isinya diganti air rebusan bunga sapu scot.
Setelah menempuh lima menit dengan taksi, aku sampai di kediaman Sir Rumphless. Dia juga tinggal di perumahan kembar yang sama denganku, hanya berbeda warna bata yang dipakai.
Aku mengetuk pintu, menunggu pemiliknya mempersilakanku masuk. Apa aku takut berada di larut malam seperti ini sendirian? Tidak begitu. Aku punya barang perlawanan untuk manusia juga semisal ada yang jahil—semprotan air merica.
Pintu cokelat bernomor 434A itu terbuka. Seorang pria yang kira-kira sebaya dengan Sir John menunjukkan diri. Dia lebih kurus dari pria pemilik restoran kecil di pinggir jalan yang kukenal. Wajahnya juga lebih antagonis dengan kumis dan jenggot beruban yang tumbuh liar.
Dia memakai kemeja kotak-kotak kuning dan celana bahan hitam panjang yang agak kebesaran, membuat tubuh kurusnya semakin terlihat.
Gestur pertama yang harus dilakukan saat melihat klien, senyum. Berusahalah terlihat senang dan riang walau situasi dan waktunya tidak pas. “Malam, Sir. Aku Natalie Austryn, cenayang yang siap mengatasi masalah ghaib di rumah anda.”
Apa balasan yang kudapat? Pertama decihan tak suka, suara keluhan, dan nada bicara super malas. “Kau sudah jadi dukun di usia muda begini? Orang tuamu pasti sangat buruk.”
SIAPA KAU MENGHINA ORANG TUAKU? Itu lolongan batinku yang protes.
Aku membalas, masih dengan suara tenang dan senang. “Maaf, Sir, saya sebenarnya sudah dua puluhan. Ngomong-ngomong, di ruangan mana saja hantu itu berkeliaran?” kataku mengalihkan topik.
“Masuk, biar kutunjukkan.”
Isi rumah Sir Rumphless gelap. Tak banyak perabotan di ruang tengah. Sofanya juga sofa lama, dengan karpet yang berdebu, dan ada juga beberapa gumpalan debu di sudut dan langit-langit rumah. Tak heran ada spirit yang mau mendatangi rumahnya.
Dapurnya sendiri tempat yang paling ramai dibanding ruang tengah. Ada beberapa frying pan dengan tiga ukuran dan tiga model berbeda, beberapa panci, beberapa pisau, oven besar, kuali batu, dan masih beragam. “Dulunya aku tukang masak, semisal kau heran kenapa banyak sekali perabotan di sini,” lontar pak tua itu setelah menyalakan sakelar lampu pijar.
Aku bertanya selagi mengamati dapur. “Apa setiap hari makhluk itu muncul, Sir?”
“Tidak sering. Dimulai dari bulan lalu, kadang dia datang dua-tiga hari, tetapi belakangan ini setiap dua hari sekali.”
Lama juga. “Silakan Anda beristirahat, Sir. Aku akan mengerjakan tugasku di sini.”
Matanya bergerak gelisah. “Kau tidak akan meledakkan sesuatu atau bergulat di sini kan?”
“Tenang saja. Aku tau makhluk apa itu dan cara mengatasinya dengan tuntas dan tenang,” lontarku. Dia pikir aku sepayah itu untuk menciptakan keributan ketika berhadapan dengan spirit lemah?
Sir Rumphless kembali ke kamarnya dan beristirahat setelah membuatkanku teh dan mengeluarkan beberapa biskuit. Kudengar dia juga mengunci pintu.
Jam kayu di tembok ruang tengah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku duduk di sofa ruang tengah, menunggu datangnya tanda-tanda kedatangan Bogart. Dia tidak akan masuk ke dapur kalau tau ada manusia di sana.
Aku menghabiskan waktu dengan menggulir layar handphone, makan biskuit, minum teh sampai ketelnya kosong, ke kamar mandi, dan lanjut minum.
Sebenarnya, setelah lulus percobaan, aku hendak digabung ke kelompok cenayang lain yang sudah cukup lama menangani klien. Pada dasarnya, memang para cenayang tidak bekerja sendiri. Satu kantor minimal ada dua orang dengan keahlian berbeda.
Lalu kenapa aku bekerja sendiri?
Sebelum aku mengikuti ujian, aku pernah bertanya pada ibuku soal siapa cenayang di perkumpulan yang jadi pedomannya. Dia menjawab satu nama. Levine.
Kata Ibu, dia cenayang pertama yang bekerja seorang diri. Ibuku yang orangnya keras saja mengakui keahlian orang itu. Aku pun penasaran dan mencoba mencarinya saat ujian seleksi.
Ibu bilang dia pria bermanik ganjil, wajahnya terlalu pucat sampai kau akan mengira dia sudah mati. Dengan penampilan mencolok begitu, tentu aku langsung tau yang mana orangnya.
Dan yah ... bisa dibilang aku mendadak menjadi fansnya, Levine si cenayang hebat yang diakui Ibuku. Aku ingin menjadi seperti itu.
Sayangnya, aku tak melihat pria itu lagi setelah ujian seleksi sampai sekarang. Mungkin dia sibuk dengan keluarga, soalnya waktu itu dia datang dengan wanita bersurai cokelat yang menggandeng tangannya. Beruntung sekali wanita itu.
Ngomong-ngomong soal Levine, aku juga melihat pria yang menangis di makam waktu itu saat seleksi cenayang. Dia memakai seragam yang sama, juga terlihat dekat dengan tuan Graham Olivier.
Tunggu, apa dia juga salah satu cenayang? Aku tidak melihatnya di perkumpulan selama uji coba.
Kayaknya bukan. Laki-laki secengeng itu mana bisa jadi cenayang. Lihat betapa basah wajahnya saat itu. Aku saja tidak pernah menangis sampai segitunya.
Mendadak suara dentingan spatula besi terdengar, aku langsung bangkit dari duduk, bernapas perlahan sambil terus mendengar ruangan dapur yang tepat berada di belakang ruang tengah. Sudah pukul dua belas ternyata, lamunanku terlalu lama.
Tak lama terdengar suara seseorang yang beraktivitas di dapur. Dia menaruh kuali di atas kompor, mengisinya dengan air, lalu menyalakan kompor. Kulkas terbuka, suara plastik kemasan terdengar, lalu bahan makanan itu dipotong dengan suara potongan yang cepat. Andai bukan spirit, Bogart itu sudah memiliki restoran terkenal dengan skillnya.
Bom air bunga sapu scot yang kubawa bisa mengikis energi jahat spirit dan membuat mereka tak berdaya untuk kabur. Biasanya dipakai saat menghadapi spirit berukuran besar atau spirit kuat. Aku mengeluarkannya dari tas selempang, bersama dengan batu Magnetit yang besarnya hanya satu petak pertama jari telunjukku.
Kuusahakan tuk melangkah tanpa suara, melewati sofa dan mengintip ke dapur dari tembok dekat ambang pintu.
Lampu dapur yang kejinggaan masih menyala, menunjukkanku sosok spirit di sana. Aku mendapati punggung seorang laki-laki bersurai hitam dengan pakaian yang belum pernah kulihat, sedang membelakangiku seraya memasukkan bahan makanan yang sudah dipotong ke kuali.
Kalau aku polisi, aku akan mengacungkan pistol dan berteriak, ‘Semuanya angkat tangan!’. Namun, aku terlanjur terheran karena bukan Bogart yang selama ini berisik di dapur Sir Rumphless dan akhirnya terdiam di ambang pintu sambil menyaksikannya.
Laki-laki itu berbalik setelah mengaduk kuali. Dia menjerit singkat, menjatuhkan sendok kayu di pegangan dan ikut mematung di tempat sepertiku.