Kubuka pintu ruangan berisi salinan laporan yang kumaksud. Natalie tak berseru kagum, tapi matanya berkata demikian. “Terlihat seperti rumah orang lain.”
Ya. Aku setuju.
Ruangan serba putih ini terlihat ‘hebat’ dengan posisi dan perabotan yang asal ditempatkan. Tembok di depan kami ada jendela besar yang juga jadi pintu kaca geser. Di sekitarnya dipenuhi rak buku sampai ketinggian 50 senti dari bingkai pintu.
Di sebelah kiri kami yang membelakangi pintu masuk ada alat olahraga yang berserakan. Sebelah kanannya ada bingkai lukis dari kayu, meja dengan dataran miring dan peralatan lukis berserakan di sana sampai ke lantai—aku lupa kapan terakhir kali membersihkannya.
Di tengah ada meja rendah dikelilingi sofa abu-abu cerah dan ada karpet wol cream di bawahnya. Dari tembok sisi ruangan dipenuhi barang-barang antik yang kubeli karena aku suka penampilan dan kisahnya. Kutaruh berantakan di lantai, di laci kecil, beberapa di gantung.
Sejauh ini aku berhasil tuk tidak mengizinkan Dean masuk. Bakal gawat kalau dia melihat ini.
“Laporannya ada di mana?”
“Suatu tempat di rak depan sana.”
Nat menarik napas dalam-dalam. “Tepatnya di bagian mana?”
“ ... Aku lupa.” Aku tersenyum lebar.
Dia meraih bangku tanpa sandaran di depan meja area lukis, menyeretnya sampai ke rak buku paling kanan. “Ini akan memakan waktu berminggu-minggu.”
“Aku yakin salinan laporannya ada di dalam buku bersampul kulit warna hitam dengan kancing. Ukurannya ... kurang lebih satu jengkal tanganmu,” jelasku mengingat buku yang dimaksud.
Nat meraih satu buku bersampul hitam hardcover, kembali memasukkannya. “Buku apa saja sih ini?”
“Buku-buku yang kupakai saat kuliah, sebagian besar novel dan kalau kau beruntung ada diary pribadiku,” balasku yang bergeser tuk mencari dari sebelah kiri.
Kami terdiam, sibuk mencari buku salinan laporan yang kurangkum selama aku bekerja di bawah naungan sir Graham. Buku itu sudah tak terlihat cukup lama, seingatku setelah mengontrak di Stratford-upon-avon selama beberapa bulan tuk mengikuti Gabriel yang membangun Cafe di sana. Makanya, sekarang aku mesti langsung ke perkumpulan untuk mencari laporan.
Mumpung Natalie menawarkan diri, jadi aku ingin mencarinya.
“Apa bukunya punya judul?” tanya Nat.
“Tidak.”
“Ini ada catatan tulis tangan, ‘Soul’ judulnya.”
“Bukannya itu novel?” Aku meraih buku bersampul hitam kulit tanpa kancing. Aaah, bukan ini.
Sunyi sejenak, lalu Nat kembali bicara. “Kau Novelis?”
Aku mengerut dahi sembari melihat ke arahnya. Mataku membulat mendapat sampul buku hitam dengan tempelan kertas putih bertuliskan ‘Soul’ menggunakan fountain pen.
Segera kurebut buku itu dari tangannya dan melemparnya ke paling atas rak. Nat menganga melihat aksiku. “Kenapa? Itu sungguh tulisanmu?”
“Bukan.” Suaraku meninggi.
Entah kenapa dia tersenyum. Jelas bukan senyum yang mengartikan niat bagus. “Dia kembali dari pekerjaannya dengan jalan gontai—“
“Nu-uuh!” kataku menutup kuping dan melangkah menjauh, tak mau mendengarnya menyuarakan tulisanku.
“Rumah itu selalu kosong—“
“Aaaa, berhenti!”
Kudengar dia mendengus saat kujauhkan tangan dari telinga, tapi dia tak tertawa dan terus mencari.
Dia sudah tak kesal padaku, kan?
Pintu dibuka. “Nat, croissant-nya ....”
Kini aku membelalak lagi dan segera berlari ke pintu, mengambil nampan yang Dean bawa dan berusaha menutup pintu dengan lututku. Namun, spirit laki-laki itu sudah terlanjur melihat kehebatan, keindahan, dan kerapian area lukis dan menyalangkan telunjuk ke sana.
“Itu—permisi, biar aku bereskan segera.”
“Tidak perlu, Dean. Biarkan saja seperti itu,” tekanku terus mendorong pintu dengan lutut.
“Oh tidak bisa. Aku sudah bertekad untuk membersihkan kekacauan itu,” balas Dean yang mendorong pintu dari luar agar terbuka lebar untuk dirinya masuk.
“Itu imajinasi liarku, kalau kau hapus, aku tidak bisa dapat inspirasi lagi!”
“Tapi ada kotoran burung di lantai!”
“Itu cat minyak yang jatuh dan mengering!”
“Aku setuju, itu kotoran burung,” seru Nat dari seberang.
Aku berhasil mendorong mundur Dean yang tangannya nyaris terjepit pintu dan segera mengunci pintunya. Kutarik napas yang tersengal masih dengan nampan berisi empat croissant dan jar selai kecil di atasnya. “Nat, apa spirit peliharaan bisa lebih kuat dari majikannya?”
“Tentu. Kan mereka bertugas menjagamu.”
Seram sekali membayangkan suatu hari nanti Dean melemparku keluar dari jendela gara-gara ruangan ini.
Mencarinya tidak selama dan sesulit yang kupikir. Setengah jam lebih kemudian, aku menemukan buku salinan laporan itu di belakang buku-buku sastra tebal. Aku baru ingat kalau aku sengaja menyembunyikannya waktu dulu, supaya aman.
Kami duduk di sofa tengah dengan jendela besar terbuka karena debu di rak buku yang membuat ruangan terasa pengap dan menggelitik hidung.
Nat membuka buku bersampul kulit itu, melihat tulisan di halaman pertama yang bisa dibilang tak terlalu rapi. Tulisan elok yang lembarannya sudah agak menguning jika dibandingkan dengan kertas baru.
“Aku nyaris tidak bisa membaca tulisanmu,” ucapnya menyerahkan buku itu padaku.
“Maaf, aku mengikuti guru belajar tulisku dan akhirnya terbawa sampai sekarang,” kataku dengan mata terpaku di halaman pertama yang menuliskan salinan laporan pengejaran penyihir di tahun 19.
“Tulisan tangan gurumu pasti lebih bagus dan jelas dari itu.”
“Ya.” Jemariku mengusap setiap kata yang tertulis dengan pikiran pergi mengunjungi memori lama, saat Levine mengajariku cara menulis. “Ayahku memang begitu.”
Kutaruh buku di tengah kami berdua dan terus membalik halaman, mencari laporan penanganan monster dengan kemampuan hipnotis dan ilusi.
“Apa ada Medusa?” tanya Natalie.
“Tidak. Mungkin dulu ada, tapi dari abad 19 ke atas tidak tertulis lagi soal serangan dari Medusa.”
Manik kami bergeser dari kanan ke kini terus menerus sampai halaman habis. Aku sendiri kaget dan memperhatikan halaman terakhir yang berisi laporan penanganan Aranath, si Dark Elf, yang kutangani sendiri.
“Sepertinya kita harus langsung ke perkumpulan,” kataku sambil tertawa kaku.
Nat menyandarkan punggungnya. “Aaaah, malas sekali ke sana.”
“Kenapa?”
Dia menjawab dengan erangan kesal. “Sir Graham bakal meledekku jika dia melihat kita datang bersama.”
Aku tau kalau sir Graham hobi menggoda orang yang menarik kembali kata-katanya, tapi aku rasa dia tidak begitu ke semua orang.
“Coba kau ingat lagi, pasti ada yang tersempil di pikiranmu. Monster dengan kemampuan hipnotis,” kata Natalie mendesakku.
Aku usap dagu. “Medusa ... Medusa ....”
“Hanya Medusa?”
“Maaf sekali, Nat. Aku rasa aku mulai pikun. Maksudku, di umur segini, tidak heran untuk menjadi pelupa,” balasku tak enak hati.
“Berapa umurmu?”
“Tahun ini tiga puluh. Wait, bulan berapa aku ulang tahun ya?”
Dia membelalak, merapatkan bibir. “Ya, aku tau,” gumamku menebak isi pikirannya yang menolak aku tak terlihat seperti pria tiga puluhan. “Tapi, jiwaku masih membara seperti jiwa muda.”
“Itu berarti kau kekanak-kanakan,” ketus Nat.