Anehnya, dia tetap begitu.

1307 Words
[ N A T A L I E ] Harold pergi sendirian ke perkumpulan karena aku menolak ikut. Dean mengajakku makan malam sebelum pulang, jadi senja ini aku masih di rumah pria itu, di meja makan menonton spirit Jepang memasak. “Waktu itu, saat aku menangkapmu, kenapa kau memasak di rumah orang-orang?” tanyaku iseng. “Tuk mengusir rasa kesepian?” balasnya terdengar seperti pertanyaan. “Kesepian karena kehilangan tuan?” “Ya.” Kutopang dagu. “Bukankah kau sering berganti tuan? Kudengar dari sir Graham kau sudah ada sejak lama.” “Dulunya aku milik Ibu dari tuanku. Beliau wafat, aku berpindah ke putranya.” “Lalu ke putra dari putranya lagi, dan begitu sampai tuanmu terakhir adalah sir Levine.” Mungkin dari sekian banyak tuannya, dia paling suka bersama sir Levine, jadi dia begitu sedih. “Sir Levine hidup selama dua ratus tahun dan selama itu aku tidak berganti tuan,” kata Dean. Aku mengerjap, menegakkan punggung. “Dua ratus tahun?” Dia memiringkan badan, menatapku. “Harold belum cerita padamu soal sir Levine?” Kugelengkan kepala. “Tidak banyak. Beberapa hari lalu kita ke makamnya yang di Stratford-upon-avon.” “Levine tidak punya makam.” “Tapi ....” Dean kembali berkutat dengan masakan. “Tidak pernah ada makam. Dia kembali ke timeline-nya, meninggalkan luka dan memori tuk dikenang.” Kurasa Dean lebih tau soal sir Levine. “Jadi maksudmu dia bukan manusia? I mean, tak ada manusia yang tinggal sampai dua ratus tahun.” “Maaf. Aku tak bisa mengatakannya. Aku takut kau terluka setelah tau soal ini.” “Terluka?” Aku mendengus. “Apa sangat mengerikan tuk di dengar? Ayolah, katakan saja.” Dia pikir karena aku baru menjadi cenayang, aku belum pernah melihat makhluk-makhluk berwujud mengerikan lain? Aku hidup dengan Chelsea—spirit biarawati—selama sembilan belas tahun, dude. Pintu rumah terdengar dibuka dari jauh, Harold sudah pulang. Dia langsung duduk di bangku sebelahku dan melebarkan buku catatannya di antara kami. “Aku tidak salah ternyata, Nat.” Aku topang sisi wajah menatapnya bingung. “Maksudnya?” Dia membuka buku bersampul kulit yang sebelumnya kita cari di atas buku catatan baru. Dia menunjukkan halaman terakhir. “Aranath, Dark Elf. Waktu itu aku tak mendengar informasi lebih rinci karena aku dapat misinya dari klien dan dia mendesakku tuk segera menghabisi Dark Elf ini.” “Jadi, kau tadi pergi menanyakan rinciannya ke klien itu?” “Tidak. Percuma juga, kliennya sudah wafat.” “Ah.” Aku mengangguk kecewa. “Tapi aku ingat siapa yang tau soal itu jadi aku berkunjung ke kantornya, meski aku benci,” gumamnya. “Siapa?” Harold, melirikku sekejap. “Kau tak perlu tau. Sekarang, lihat ini.” Aku melihat telunjuknya yang mengarah ke paragraf paling atas di buku catatan yang baru. Tulisannya berbeda dari tulisan elok super miring yang di buku bersampul kulit. “Aku minta Mrs. Jane yang tulis agar bisa kau baca.” Sampai segitunya? ‘Dark Elf terbilang monster-spirit yang tidak agresif. Mereka lebih sering terlihat bergerak secara individual—tidak berkelompok. Meskipun begitu, mereka memiliki satu ketua tetap yang dipilih lewat sayembara.’ “Ini laporan atau biografi?” tanyaku. “Biografi. Dari situ, bisa kita simpulkan kalau musuh kita adalah satu monster yang cukup tangkas,” timpal Harold. “Kau sudah yakin kalau monster ini yang membuat orang-orang sekitar meninggal?” “Aku bakal yakin kalau kita berhasil menangkap basah mereka melancarkan aksi.” “Bakal sulit.” Aku menutup buku catatan itu setelah membaca semuanya. “Para korban saja tidak sadar dengan apa yang menimpa mereka. Pergerakan Dark Elf pasti lebih cekatan dari kucing jalanan.” Harold mengerjap. “Kucing jalanan?” Aku sadar omonganku tidak dia mengerti. “Maksudku cerdik dan licik.” Pria itu mengangguk pelan. “Namun, masalah yang kuhadapi terkait Dark Elf pada saat itu sangat berbeda dengan masalah saat ini. Dark Elf mencuri sebelah mata seseorang dan jika dia memakan mata orang itu, dia bisa menghisap energi dari si pemilik mata, mengurasnya habis-habisan.” Dean menghampiri dengan pasta saus tomat dengan bakso di piring dan menaruhnya di depanku. “Kalian akan kesulitan berpikir dengan perut kosong.” “Baiklah, Ibu sudah mengoceh, lebih baik kita makan dulu,” canda Harold. Pria itu kembali menawarkan diri tuk mengantarku pulang dan seperti sebelumnya aku menolak. Aku punya uang cukup tuk menaiki bus. “Aku sekalian ingin tau di mana rumahmu,” katanya. Aku memakai tas selempang dan berbalik, menatapnya yang berdiri di ambang pintu masuk utama. “Buat apa?” “Semisal ada perihal mendadak terkait Dark Elf, aku bisa langsung ke sana.” “Kau bisa meneleponku,” balasku, menghindari kesempatan dirinya tau alamat rumahku. “Aku tidak tau nomormu.” Dia benar. Aku juga tidak senyaman itu tuk memberikan nomor pribadi ke orang asing—ya, Harold masih termasuk orang asing. Namun, kita tim. Bakal efisien kalau setidaknya dia bisa menghubungiku. Mana yang lebih merugikanku? Setelah berpikir dalam-dalam, aku menjawab, “baiklah ... Ini nomor ponselku.” Dia menyimpannya, menunjukkan nama yang dia cantumkan di atas nomor ponselku. ‘Cenayang terbaik, Natalie’. “Ganti itu,” protesku. “Karena kau menolak tawaranku tuk mengantar, maka aku tidak mau dengar protes. Sampai jumpa lain hari, Nat.” Dia pun melambai, meninggalkanku di balik pintu depan. *** Sampai di rumah, aku membersihkan diri dan mengecek kotak suara di telepon berbeda yang kujadikan telepon kantor. Tak ada yang memanggilku di saat aku pergi tadi. Apakah orang-orang mulai berpikir aku tidak becus karena sudah dua klien yang wafat? “Belum ada sehari sejak klien terakhir, jangan berpikir yang tidak-tidak dulu, Carrot,” ucapku, meniru kakak laki-laki yang suka menyemangati—At. “Kan sudah kubilang untuk berhenti jadi cenayang,” timpalku lagi meniru Mat yang keterbalikan dari At. Ah, di saat memusingkan begini, biasanya aku curhat ke mereka atau Aliza. At dan Mat ada di kampus dan aku tak tau sekarang mereka sedang belajar atau tidak. Aliza ... apa kuajak saja dia ke Cafe? “Harusnya aku mencari tau lebih dalam soal Dark Elf, bukan melamun.” Aku punya nomor Mrs. Jane—pengurus ruang laporan dan berkas-berkas milik perkumpulan. Kebetulan, selama training, aku juga disuruh membantunya tuk mengurus ruangan jadi bisa dibilang kami berteman. Aku meneleponnya. “Mrs. Jane?” “Malam, Austryn. Aku rasa kau ingin menanyakan sesuatu tentang berkas terkait Dark Elf.” Aku membeku di tempat. “Kenapa kau berpikir begitu?” Kudengar tawa jenakanya. “Mr. Harold siang tadi menyombongkan diri kalau dia dan kau sekarang satu tim. Dia sangat imut.” Rahangku jatuh. “M-menyombongkan diri?” pekikku. “Dengar ini, Miss Jane. Aku dan Natalie sekarang sedang menghadapi Dark Elf! Ini masalah genting dan serius, jadi tolong segera bawakan aku berkas-berkas terkait Dark Elf!” Wanita yang seingatku memakai kacamata bulat itu tertawa makin girang setelah meniru perkataan Harold. “Dia begitu antusias. Ya ampun, kau beruntung, Austryn. Kau tidak akan bosan bersamanya.” Kupejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Damn it to hell, Harold. “Sayang sekali, tidak ada informasi lain terkait Dark Elf selain yang sudah Mr. Harold catat di bukunya. Lagi pula, mereka monster tak ganas, tidak akan menyerang kalau kita tidak menyerang lebih dulu,” sambung Mrs. Jane. Kalau begitu, bukan Dark Elf yang kita hadapi kali ini. “Sungguh tidak ada berkas lain terkait Dark Elf?” tanyaku sembari memijit pelipis dan berjalan di sisi kasur bolak-balik. “Tidak ada. Jika ada pun, itu terkait penyihir.” “Hmm?” “Meski Dark Elf memiliki ketua, tidak menjadi alasan untuk mereka tak bisa patuh pada penyihir. Makanya, monster-spirit itu jadi peliharaan paling umum yang penyihir miliki.” Apa perlu aku berkorban, membahayakan nyawa tuk mencari data akurat dari penyihir—rival bebuyutan cenayang? Tentu tidak. Jadi aku memilih tuk menghabiskan waktu, menangani klien lain sembari menunggu kabar dari Harold dan waktu percobaan tim ini berakhir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD