Harold semakin mendekat.

1095 Words
[ H A R O L D ] Malam setelah Natalie pulang, aku kedatangan tamu tidak menyenangkan. Bukan kedatangan lebih tepatnya. Orang itu secara mendadak ada di ruang tamu rumah tanpa aku dan Dean ketahui. Namun, tidak heran juga kalau seorang sesakti Moirai yang begitu, karena kalian tau sendiri dia siapa. Senyumnya merekah tanpa merasa bersalah. Manik tosca itu kini kubalas dengan picingan jengkel, ingin dia segera lenyap dari pandangan. “Lama tak jumpa, Harold. Ah, tadi siang kau datang ke kantorku dengan heboh, jadi apakah lebih baik kubilang ‘kita jumpa lagi?’ “ Aku yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepala dan bertelanjang d**a melangkah ke atas menuju kamar. Kalau kuhiraukan dia bakal pergi. Ya, dia akan pergi. Kubuka kamar sembari mengeringkan rambut. “What—“ “Ah, kau ingin berpakaian?” tanya Moirai yang tadinya menatap foto di tembok kamarku. “Tenang saja, tidak akan melihat.” Wanita ini benar-benar kurang ajar! “Keluar sebelum aku bersikap kasar. Kau tau aku tak peduli soal kesetaraan gender, Moirai,” tekanku, siap menjadikan handuk sebagai alat perlawanan. “Lihat foto ini, seperti foto keluarga,” ucapnya pelan dengan mata masih fokus ke sana. Aku baru sadar kalau dia menatap foto diriku saat kecil di pangkuan Levine, lalu dia berdiri di sebelah. Keluarga katanya? Kuraih jam beker di laci dekat kasur, melemparnya ke Moirai. Namun, tak jadi kulempar karena wanita itu sudah berpindah posisi. “Aku juga tak peduli soal dendammu padaku.” Aku dengar suara itu dari belakang. “Terserah padamu.” “You kill him!” bentakku. Dia masih menyahut tenang. “I do nothing. Kau tau kalau kematian adalah apa yang paling dia inginkan. Kau juga tau aku tak bisa berbuat apa pun soal takdir.” Benar, aku tau, aku sangat tau itu! Tapi .... “Terus, kenapa kau di sini?” tekanku. “Urusan kita sudah selesai. Dia sudah tak ada, harusnya baik aku dan kau tak ada lagi ikatan. Atau apa? Kau juga merindukannya?” “Secara sah kau anakku. Apa salah aku mengunjungi anak sendiri?” Aku menghempas napas sarkas. “Anakmu banyak. Bahkan semua orang di dunia ini masuk kategori itu.” “Kau berlebihan. Aku akan pergi setelah memberitahumu soal ini.” Aku tidak berbalik melihatnya, tapi kutahu dia mengeluarkan secarik kertas dan menyempalkannya di telapak tangan kananku. “Makam Levine yang sebenarnya.” Aku membelalak. “Dia kembali ke timeline-nya, hidup seperti manusia lain, lalu meninggalkan jasad. Itu nama asli Levine serta alamat makamnya. Berkunjunglah kalau kau siap,” lanjut Moirai. Saat aku berbalik tuk memaki, dia sudah tak ada di belakangku. Paru-paru kembali sesak, aku tahan tangisan karena lelah dan muak tuk merasakan air mata kembali mengalir. “Kenapa ... kau selalu suka membuatku menderita?” Saat aku sudah bangkit dan berlari, wanita itu menyeretku lagi ke garis start. Kubuka kertas, ada dua tulisan. ‘You are not trying to forget him’, lalu tertera nama seseorang dan alamat pemakaman di baliknya. Kuremas tangan itu di tangan. Terus kenapa? Aku sedang mengobati luka ini dengan menghiraukannya, melempar kilasan memori jauh-jauh saat kuteringat. Aku sudah mencoba! Bukankah wajar sedih karena kehilangan satu-satunya keluarga yang kupunya? Dean naik ke atas, melihatku dengan raut risau. “Kau bicara dengan Moirai? Kulihat dia berjalan keluar tadi.” “Yeah.” Salah satu tanganku terkepal. “Dan sekarang aku semakin membencinya.” *** Esoknya, aku ada di Youth Cafe tempat Fania bekerja. Aku sendiri merasa konyol dan bodoh saat duduk menunggu pesanan minuman dan pastry yang kupesan sampai. Apa sih yang kulakukan? Harold, kutanya padamu, apa yang kaulakukan? Selagi meratapi diri dengan menopang dahi dan menatap meja, kulihat sepasang kaki di sisi kanan mendekat, berbalut sepatu sport putih. “Milktea dan tart telurnya, tuan—ah, kau temannya Natalie, kan?” Aku mengangkat wajah sekilas, langsung menyesal melihat karena dia Fania. “Y-ya, terima kasih,” tuturku sembari menarik nampan ke hadapan dan segera minum. “Tertular Nat dan mulai kecanduan Milktea juga?” katanya, terdengar girang. Jangan senang begitu, kau membuatku ingin menenggelamkan diri ke masa lalu. “Begitulah ....” Dia pergi, aku pun menghela napas lega. Sungguh, kenapa aku ke mari? Ini ladang ranjau. Semalam aku pergi ke alamat yang dimaksud, di Norwich—dua setengah jam ditempuh dengan mobil—, menjumpai makam tua tak terawat dengan nama ‘Julian Easton’ di batu nisan. Dia wafat di tahun 1875. Aku bahkan tidak mendapat bukti kalau itu makam Levine. Moirai bisa menipuku, tapi aku menangis di depan makam seperti menangisinya saat pertama kali kudengar berita kepergiannya. Makanya, sekarang pikiranku sangat kacau. Dean sampai mengira aku sakit, memaksa agar aku tidak bepergian dan istirahat total hari ini. Kembali aku menyesap Milktea yang tak kusadari sudah habis. Mungkin benar aku jadi kecanduan minuman ini karena terasa nyaman dan ringan diminum. Apalagi dengan pikiran ruwet begini. Fania datang lagi dengan gelas Milktea baru. “Aku cuma memesan satu,” ujarku. Perempuan bersurai cokelat itu menarik senyum. “Ini traktiran dariku,” katanya menaruh jari telunjuk di mulut. “Kau terlihat sangat menyukai minuman itu, membuatku teringat Nat. Aaah, anak itu pasti sibuk. Aku merindukan sarkasmenya.” Bayangan Natalie yang sarkas melintas, membuatku spontan mendengus dan rasa sesak berkurang. “Aku juga belum menemuinya hari ini. “ Dia mendadak duduk di bangku di depanku sembari ikut tertawa. “Ah, kalian sangat akrab, ya?” Kusadari surainya tidak berubah gaya sejak dulu, tetap lurus melewati pundak. Wajahnya yang kecil, sikap yang suka mengkhawatirkan orang itu. Fania Shane tetap seperti Fania Shane yang kukenal tapi di saat yang sama dia juga berbeda. “Tidak. Kami baru bertemu dan kurasa dia tak suka padaku,” balasku merendahkan pandangan, menatap meja. “Masa?” “Kami dekat karena pekerjaan.” Matanya membulat. “Kau teman kerjanya Nat? Aaaaah, kau Harold, ya?” Kini mataku yang membulat menatapnya. “Kenapa ....” “Temannya Nat tergila-gila padamu dan dia selalu menceritakanmu kalau mampir ke sini. Sekarang, aku mengerti kenapa gadis itu menggila.” Dia menganggukkan kepala. “Kau setampan ini.” Teman Nat yang mana? Apa yang dia maksud adalah perempuan bersurai hitam sepundak yang pernah berkunjung ke rumah itu? Tangannya terulur. “Aku Fania Shane. Senang bertemu denganmu, Harold,” tuturnya. Kuraih tangan itu, tersenyum tipis. “Aku juga sangat senang bertemu denganmu.” Aku sudah mencoba tuk melupakan, tapi itu semua terlalu indah. Melihat Levine merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya bersama Fania adalah hal yang paling kusyukuri dari semua momen membahagiakan yang pernah terjadi. Padahal, aku berharap mereka bisa terus bahagia seperti itu. Aku tidak merelakannya. Belum bisa merelakannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD