Tetapi aku merasa

1191 Words
[ N A T A L I E ] Setelah tiga hari, aku mendapat panggilan klien yang tinggal di jalan Carrick Gardens, empat puluh menit ke timur laut dengan bus. Laki-laki yang kuduga berumur dua puluhan itu mengaku sudah mengalami kejadian fenomenal seperti teriakan suara wanita dari rumah kosong di sebelah selama seminggu. Namun, ketika aku ke sana malam harinya, aku tak menjumpai klien yang bernama Mr. Tom Cline. Rumah ujung jalan yang dimaksud memang kosong dan terlihat jelas kalau sudah ditinggalkan selama beberapa tahun lebih. Aku menelepon nomor yang klien saat aku berada di depan pintu. Nomor itu tak bisa kuhubungi lagi sampai beberapa kali. Haaah, jangan bilang kalau kali ini orang iseng juga? Kumasukkan ponsel ke tas selempang. “Buang-buang waktu saja.” Ini bukan hal baru untukku. Sejak ibuku bekerja pun, dia suka didatangi orang-orang yang mencelanya secara terang-terangan. Pernah ada hari kami menerima kotak berisi tikus atau gagak mati di depan pintu rumah. Sesekali seseorang melempari telur ke jendela, lebih sering panggilan iseng. Untungnya tidak terjadi setiap hari, kami bisa gila. Geraman kucing menyita perhatianku. Kucing berbulu abu-abu dan cukup gemuk itu ada di atas pagar beton yang menjadi pembatas taman antara rumah majikannya dengan rumah tetangga. Ekornya bergerak ke kanan-kiri dengan lambat, sembari memperhatikan jendela lantai dua tetangga yang lampunya masih menyala, bersinar samar ke luar. Aku memanggilnya. Dia tetap menggeram dan semakin nyaring. Apa dia kesakitan? Tak lama, suara jeritan wanita terdengar dari rumah yang kucing itu pelototi. Aku sampai menegang di tempat karena kaget. Dari depan rumah itu aku bisa dengar suara langkah cepat di lantai kayu lalu panggilan seorang pria, disusul ketukan pintu. Teriakan tidak berhenti, kurasa si pemilik suara bakal kehilangan suaranya jika terus-terusan memekik begitu nyaring. Lalu, aku mendadak merasakan suatu keberadaan. Keberadaan yang jahat, membuat bulu di tangan dan leherku bangkit karenanya. Namun, aku tak melihat apa pun yang aneh dari luar. Teriakan berhenti saat kudengar suara bantingan. Siapa pun itu mungkin berhasil mendobrak pintu dan masuk. Kesunyian memberitahu kalau sesuatu yang hadir tadi sudah pergi, situasi sudah terkendali, tapi aku belum mengerti soal apa yang terjadi. Sebelum pagi, kudapat telepon dari sir Graham kalau ada dua klien baru yang memiliki gejala serupa seperti Irma dan Owen. Satu orang berada di tepi London, satunya lagi bertempat tinggal di area yang kulewati semalam. “Klien yang lokasinya berdekatan denganmu ditangani oleh tim Ash, satu lagi oleh Mrs. Forrest. Kau bisa menanyai mereka soal detailnya.” Dari sekian banyak cenayang di London, kenapa harus Ash Gusman yang klien itu datangi? Bakal lebih bagus kalau mereka datang padaku. “Kalau kau mau bekerja sama dengan Harold, kau tidak perlu bepergian dua kali, jika itu yang membuatmu menghela napas,” ujar tuan Graham. Aku sudah bekerja sama dengannya, tapi sir Graham belum tau. “Baiklah, aku akan bicarakan ini dengan Mr. Harold.” Kuputuskan panggilan, kembali merebahkan badan. “Monster-spirit, Dark elf ...,” gumamku dengan pikiran bercabang. Apa yang membuat mereka agresif? Bagaimana cara mereka menyerang orang-orang itu tanpa menunjukkan diri? Kalau penyihir ikut terlibat, bakal semakin berat tuk ditangani, dan tentu, butuh lebih dari dua orang cenayang untuk melindungi masyarakat. Harold, cenayang monster. Ibu belum pernah membicarakan jabatan itu, makanya aku tidak tau banyak. Jadi, dia melawan monster dengan fisik, begitu? Kalau iya, berarti siapa pun dengan fisik kuat bisa jadi cenayang monster. Setelah bersiap, aku mendapat panggilan lagi, kali ini dari nomor tak dikenal. “Halo?” ujarku. “Selamat pagi, Miss Natalie,” tutur Harold seolah dia seorang pria terhormat dari abad ke delapan belas. “Pagi,” balasku, malas bermanis kata. Dia tertawa jenaka. “Aku akan menjemputmu tuk menanyai sir Ash dan sir Forrest. Bisa beritahu tempatnya?” “Temui aku di Youth cafe yang biasa.” *** Karena kantor Ash yang paling dekat, jadi Harold menyarankan kami tuk ke sana lebih dulu. Aku merosotkan punggung di kursi penumpang sebelahnya. “Nanti kau saja yang keluar dan bicara dengan sir Ash.” Pria yang hari ini berpenampilan semi-casual dengan turtle neck berwarna porselen dan blazer hitam itu menoleh. “Kenapa? Kau takut padanya?” Aku melirik sinis. “Lalu kalau bukan, kenapa?” lontarnya yang tau responsku tanpa kata-kata. “Aku malas bicara padanya.” “Kalian pernah bertikai?” “Ck. Bukan urusanmu. Intinya aku tak mau bicara padanya. Kau saja.” “Baiklah. Terus, tadi kau mau bicara apa soal klien sir Ash?” Mobil berhenti di perempatan dekat lampu merah. Rintik hujan satu per satu mendarat di jendela mobil, semakin banyak dan semakin deras. Bahkan cuaca setuju dengan moodku yang sekarang. “Tadi malam aku melintas di depan rumah klien itu, lalu kudengar teriakan. Aku ... juga merasakan keberadaan jahat, tapi aku tak melihat monster atau spirit yang berlalu,” tuturku sembari menutup mata, menghirup aroma tanah basah yang masuk ke mobil. Harold diam sejenak. “Kurasa bakal lebih bagus kalau kita sekalian menemui klien sir Ash.” Kuhela napas panjang, kemudian menyeruput Milktea. “Boleh saja kalau kita ke sana tidak bersama sir Ash.” Lima belas menit kemudian, kami sampai di kantor cenayang Ash Gusman yang ternyata cukup dekat dari Carrick Gardens dan tak begitu jauh dari rumah yang kutempati. Tepatnya di lingkaran perempatan jalan Weil Hall. Rumah yang dia sewa berwarna putih dengan dua patung kuda berwarna perunggu dengan kaki depan terangkat yang dijadikan pilar serambi depan. Lantai dari marmer hitam berhias goresan abstrak keemasan. Dari pada kantor cenayang, kantor sir Ash mirip bangunan milik kedutaan—karena ‘ketegasan’ dan ‘kekuasaan’ yang terpancar jelas dari setiap sisi bangunan. Harold turun membawa buku catatannya. Dia menutupi kepala dengan tangan dan berjalan cepat masuk ke dalam. Aku kembali merosotkan diri agar tak terlihat dari luar jendela mobil. Namun, tak lama, dia kembali masuk ke mobil. “Sir Ash sedang di rumah klien. Ayo kita ke sana.” Lidahku seketika terasa pahit. Hah, berarti pertemuanku dengannya tak bisa dihindari. Baiklah, mau sejengkel apa pun aku padanya, harusnya perihal pribadi tidak bercampur dengan pekerjaan. Jadi, aku menurut dan memandang jalan dengan sensi. Sampai di salah satu rumah di Carrick Gardens, aku membuka pintu dan turun dari mobil, memandang langit mendung yang masih menitikkan rintik air tak sederas tadi. “Ah, itu dia.” Harold mengangkat sebelah tangannya, tidak begitu tinggi. “Sir!” Begitu berbalik, kudapati pria berumur setengah abad dengan surai putih perak yang agak berantakan. Alis dan matanya nyaris tak memiliki jarak, jadi terkesan dia selalu terlihat sinis. Tubuhnya lebih tinggi dariku tapi bakal terlihat mungil jika berada di dekat Harold. Ya, kurang lebih beginilah penampilan salah satu cenayang senior, Ash Gusman. “Natalie? Ah, jadi benar kalau kau dan Harold menjadi tim.” Suara tak berat, tak juga nyaring itu mengingatkanku pada algojo. Aku merotasikan mata mendapati manik abu-abu pensil itu menatapku. “Tidak usah terang-terangan begitu, aku tau kalau kau tidak akan ramah padaku. Mari masuk, aku akan memberikan kalian informasi rinci langsung dari kliennya.” Kami masuk ke dalam rumah klien sir Ash yang bernama Mr. Ronan. Pria itu sedikit lebih tinggi darinya, bersurai cokelat rapi dan cukup gemuk. Mata hijaunya sembab dan agak kemerahan saat kami berpandangan sejenak. “Silakan duduk,” ujar Mr. Ronan padaku dan Harold.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD