dia membuatku tenang.

1240 Words
Ruang tamu dengan tembok biru langit itu gelap di pagi menjelang siang yang masih mendung. Bahu layu Mr. Ronan menunjukkan dirinya masih terpukul. Melihat itu, sir Ash angkat bicara. “Aku akan mewakili penjelasan kejadian yang menimpa putrinya,” ujar sir Ash sembari membuka buku catatan bersampul kulit cokelat yang diikat dengan tali karet hitam. “Nona Skye Ronan, berumur 18 tahun, sejak dua hari lalu bertindak agresif, seperti berkata-k********r dan menghancurkan barang-barang rumah. Semalam, tak lama setelah dia pulang—sehari lalu dia berkumpul dengan temannya dan menginap di sana sampai sore—dia menjerit-jerit di kamarnya lalu pingsan. Dia belum bangun sejak tadi.” “Tidak ada fenomena supranatural?” tanya Harold yang siap mencatat dengan pulpen di tangan. “Tidak ada.” “Aku yakin anakku hanya terganggu psikologisnya,” lontar Mr. Ronan dengan sendu. “Kusadari dia mulai minum dan bersenang-senang bersama temannya sepanjang malam. Makanya kusewa psikiater terdekat. Aku tidak tau menahu soal pekerjaan tuan Ash yang juga cenayang. Apa pun itu, aku ingen Skye kembali seperti dirinya yang biasa.” Sir Ash menimpali. “Tidak apa, Pak Ronan. Aku bersedia bertukar profesi jika diperlukan. Kau tidak perlu membayar lagi.” “Aku juga baru tau,” kata Harold dengan tatapan lurus ke pria yang lebih tua dari kami bertiga. Manik abu-abu pensilnya bergeser padaku. “Kau tidak ada pertanyaan?” Aku tak menjawab karena kurasa tidak perlu. “Aku belum memeriksanya secara psikologis kalau itu yang membuatmu penasaran,” lanjutnya. “Aku tidak tanya,” ketusku. Suara jeritan mendadak terdengar dari lantai dua. Mr. Ronan segera ke atas diikuti sir Ash, Harold dan aku. Dari tangga dan lorong depan pintu kamar yang sempit, kami mendengar suara kaca yang pecah diiringi teriakan yang semakin nyaring. Guntur entah kenapa ikut memekik seolah menyahuti. Mr. Ronan memutar-mutar kenop pintu. “Sial, terkunci lagi!” “Permisi, biar aku yang dobrak.” Sir Arthur dan Mr. Ronan menepikan diri, mempersilakan Harold yang mengambil ancang-ancang tuk mendobrak. Sisi kiri lengan dan bahunya mendorong pintu dengan hentakan kencang, langsung membuatnya terbanting ke dalam. Di atas kasur di dalam kamar yang juga berwarna serba putih dan biru langit itu, ada seorang wanita dengan dress hitam tanpa lengan sepanjang paha, duduk dengan wajah mendongak ke atas dan mencekik diri sendiri. “Skye!” Mr. Ronan masuk, menarik tangan perempuan itu dari leher dan menepuk-nepuk pipi putrinya. Tak ada jawaban, tak ada pergerakan yang membuat kami setidaknya tau kalau dia masih ada. Bibir pucatnya agak terbuka, mata terus menatap ke atas dengan maskara yang luntur mengikuti jatuhnya air mata ke pipi. Isakan Pak Ronan makin kencang setelah sir Ash memeriksa nadi leher dan lengan Skye lalu membisikkan sesuatu padanya. Aku tidak punya kemampuan pendengaran super, tapi aku tau kalau dia bilang Skye sudah pergi. *** Dari empat korban yang terhitung, Skye yang paling cepat—meski masih samar soal sejak hari kapan mereka benar-benar mengalami halusinasi. Satu jam setelah Skye dimakamkan, aku dan Harold mengunjungi kantor Mrs. Forrest yang berada di Watford, depan sungai Colne, empat puluh lima menit jika berangkat dari rumah Mr. Ronan memakai mobil. Langit masih mendung disertai hujan yang mendadak reda dan deras, kami tetap bekerja, melakukan penelusuran. “Meski kliennya wafat, sir Ash tetap bersikap profesional, ya,” ujar Harold. “Dia tidak punya hati, makanya dia tak terpengaruh,” ketusku. “Sebenarnya apa yang dia lakukan sampai kau sebegitu bencinya?” Di seleksi pertama calon cenayang yang kuikuti, sir Ash dan beberapa cenayang senior lain tak meluluskanku. Baiklah, saat itu aku memang masih naif karena aku anak seorang cenayang senior juga. Tetapi, di seleksi kedua, semua senior yang jadi juri menyetujuiku, kecuali pria tua bermanik abu-abu pensil itu. Meski aku lolos, saat itu keegoisanku bertanya padanya, kenapa dia masih tak meluluskanku sementara yang lain sudah berubah pikiran. “Dirimu yang sekarang tidak membawa pengaruh bagus di perkumpulan.” Itu jawabannya, dengan nada dan pandangan dingin bak hakim yang menjatuhkan hukuman pada tersangka. “Kau tak usah tau,” kataku mengalihkan wajah memandang ke jendela samping. Kantor Mrs. Forrest tak kalah hebatnya dari kantor sir Ash. Jika pria tua itu memiliki tempat yang berkesan seperti kejaksaan, maka nyonya cenayang ini seperti Mesir. Bangunannya dari bata besar berwarna seperti pasir pantai, tak diplester dengan beton. Serambi depannya yang juga berpilar, lantainya dari susunan bata yang sama. Sebelum masuk, kusadari ada patung kucing hitam di atas serambi, terlihat sedang berpose tiduran memandang angkuh. Baru setelah masuk, lantai marmer putih dengan pola bunga krisan berwarna biru cerulean bergradasi biru gelap laut di tengah ruangan, di antara dua sofa wol putih dan meja kayu oval. Aku mulai heran, apa cenayang senior berlomba-lomba tuk membandingkan kantor siapa yang paling menakjubkan? “Tidak ada seorang pun?” tanyaku memperhatikan sekitar. “Kata siapa?” Aku membulatkan mata begitu mendengar Harold memekak kecil karena dia terkejut seseorang memeluk lengannya. Wanita dengan kesan kucing hitam kembali bertutur. “Mentang-mentang pintu terbuka, kalian masuk tanpa mengetuk,” tuturnya sinis. “Kami minta maaf, Nyonya Forrest,” kata Harold, tak lupa dengan senyum. Nyonya Forrest tersenyum lebar pada pria itu sampai matanya menyipit. “Aku tidak kesal. Mari duduk.” Mrs. Forrest adalah wanita bersurai hitam berusia dia atas tiga puluhan. Tubuhnya yang sangat elok dengan paras mirip dewi membuat para cenayang—khususnya laki-laki—menjulukinya Aphrodite. Dress satin model vintage berwarna champagne yang dia kenakan berpotongan d**a rendah, berlengan panjang. Terkesan anggun sekaligus seksi di tubuhnya. Ini kali ketiga aku melihatnya. Dua kali sebelumnya saat dia menjadi juri seleksiku. Dia tak pernah tidak meloloskanku dari awal, jadi kuanggap dia orang baik—meski kutak pernah berinteraksi langsung. Harold dan aku duduk di sofa putih sebelah kanan. Aku mendelik bingung saat Mrs. Forrest duduk di pangkuan Harold dan merangkul leher pria itu dengan santai. Harold menangkap ekspresi awkward dariku, dia tertawa kaku sembari berusaha menarik lengan wanita itu dari bahunya. “Erm, aku ke sini karena pekerjaan.” “Kau sudah tidak apa-apa?” tanya wanita itu. “Levine wafat, kan?” Sudah hendak dua bulan, bukankah berlebihan masih membahas sir Levine ke Harold yang jelas hanya temannya? Maksudku, memang Harold secengeng itu? “I’m fine now.” Entah mengapa aku mengalihkan wajah saat nyonya Forrest mendekatkan wajahnya ke Harold, aku tidak tau apa yang terjadi, tapi kudengar wanita itu bergumam. “Datang padaku kalau kau ingin rengkuhan.” Setelah itu dia bangkit, duduk menyilang kaki di sofa putih seberang kami. “Jadi, ada urusan apa kalian jauh-jauh kemari?” “Kami ingin menanyakan soal klien kerasukan yang kau terima baru-baru ini,” tuturku. Manik hitamnya mengarah ke tangga menuju lantai dua sebentar. “Kalau itu, salah satu anak dari timku yang menanganinya. Dia sudah pulang. Kalau kalian mau, aku bisa memberikan alamat rumahnya atau kalian datang lagi ke sini besok pagi.” Harold menoleh padaku. “Bagaimana, Nat?” “Hmm?” balasku, ikut menoleh ke arahnya. “Aku terserah padamu. Kau kan ketua tim.” “Sejak kapan kita sepakat soal itu?” ujarnya dengan senyum bingung. Aku pun menimpali, “kau yang membawa mobil, kau yang pertama kali menyelidiki ini, jadi kau ketua tim.” Dia mendengus tawa. “Baiklah, lebih baik kita langsung ke rumahnya, jika tidak mengganggu. Boleh kami tau nama dan alamatnya, nyonya?” Kurasakan tatapannya yang menusuk saat kukembali menatap ke depan. Kenapa dia menatapku dengan serius begitu? “Namanya Frederick Timothy. Alamatnya ....” Kuusap tengkuk sembari menurunkan pandangan. Apa hanya perasaanku saja kalau dia mendadak menjadi dingin?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD