Aku meminta Harold tuk berhenti sejenak tuk makan sebelum gelap. Frederick tinggal di apartemen yang letaknya lima belas menit dari kantor Mrs. Forrest, kami sudah mencari tau di maps, jadi tak perlu buru-buru.
Kami mengisi perut di restoran italia, Pepe rosso. Aku memesan pasta carbonara, Harold memesan salmon panggang dengan asparagus, tapi yang datang Tuna cheese dengan kentang goreng. Kami saling menatap ke arah pesanan yang salah. “Erm, aku akan mengembalikan ini dan memesan lagi,” kata pria itu yang bangkit dan berjalan pergi ke meja kasir.
Teringat lagi tatapan dingin Mrs. Forrest, melintas di pikiran. Itu apa ya? Apa dia tak suka Harold datang bersamaku?
Ya, kalau dipikir-pikir lagi, Harold dan si nyonya kucing hitam memang terlihat akrab, tapi tak terlihat seperti teman. You all know what i mean.
Harold kembali dengan piring berisi tuna pesanannya. “Pelayannya membawa piringku ke meja lain,” katanya, lalu tertawa jenaka.
Dia baru hendak menyuap, lalu mengurungkan diri. “Kalau kau tidak keberatan.”
“Kenapa? Baunya tidak enak?” tanyaku.
“Dean bakal marah kalau aku makan di luar. Aku tidak ingin dia mogok masak.”
Alisku mengerut. Sampai segitunya?
“Boleh.” Aku menarik piringnya mendekat. “Tapi, kau yang membayar, kan?”
“Tentu. Pastamu juga sudah kubayar sekalian tadi.”
Aku berhenti mengunyah, menatap sinis. Dia tersenyum tanpa dosa. “Makanlah.”
Kurogoh uang kertas dari tas selempang. “Tidak, jangan,” tolaknya.
“Diam. Terima atau aku akan marah padamu,” tekanku menyodorkan uang dengan jumlah yang tepat.
“Aku mentraktirmu.”
“Berisik.”
“Kalau begitu, besok saja kalau kau mau menggantinya. Besok, kan, kita bertemu lagi,” katanya yang bagiku terdengar tidak masuk akal. Karena apa? Besok aku tak ingin bertemu dengannya. Aku butuh waktu libur tuk melihat pria ini, kalau tidak, emosiku akan meledak.
Aku tersenyum tipis, menaruh lipatan uang itu serta koin-koinnya ke telapak tangannya dengan paksa.
“Orang dewasa tidak boleh keras kepala, Mr. Harold,” tuturku dengan manis.
Harold tediam, merapatkan bibir.
“Tertawa saja kalau kau mau tertawa. Aku sendiri setuju kalau nada bicara barusan terdengar menggelikan,” timpalku, menggulung pasta di sendok dengan garpu, lalu menyantapnya.
Kulirik potongan kecil tuna di piring sebelah, menusuknya dengan garpu. “Ini,” kataku menyodorkan piring tuna itu ke arahnya.
“Hmm?”
“Makanan ini sudah jadi milikku, jadi tidak masalah kalau kau memakannya, kan?” Tidak enak juga kalau makan di depan seseorang yang tidak ikutan makan.
Mendadak dia meraih tanganku, menyantap potongan tuna di garpu dengan memajukan tubuh. Gerakannya cukup cepat dan aku tak sempat melawan.
Dia menganggukkan kepala, menggumamkan rasa lezat dengan mulut tertutup. “Cobalah, tunanya enak.”
“Ck. Malas sekali memakai garpu sendiri,” dumalku, menarik kembali sepiring tuna dan memotongnya.
Kami berangkat ke rumah Frederick sebelum jarum panjang sampai di angka sebelas dan jarum pendek menetap di angkat tujuh. Apartemennya cukup luas untuk satu orang, dengan tembok abu-abu cerah dan perabotan yang kebanyakan berwarna abu-abu gelap, hitam dan putih.
Frederick Timothy ialah laki-laki yang dua tahun lebih tua dariku. Bersurai hitam rapi lurus berponi, dengan manik biru di mata yang terkesan tenang. Suaranya tidak dalam, tapi sepintas terdengar seperti suara berat perempuan.
“Kalian mau minum sesuatu?” tawarnya.
“Tidak perlu, kami baru saja minum tadi,” balas Harold.
Laki-laki itu duduk di sofa tengah, sudah memakai piyama polos warna hijau. “Maaf kalau aku berpenampilan begini. Aku sudah hendak tidur saat kalian sampai.”
Baru jam tujuh malam dan dia sudah ingin tidur?
“Kami tidak akan berlama-lama. Kudengar dari Mrs. Forrest kalau kau menangani klien kerasukan. Apa ada spirit yang masuk ke tubuh si klien?” tanyaku, membuka buku catatan Harold dan menekan belakang ballpoint.
“Tidak ada.”
Kutulis bulatan hitam kecil, lalu ‘Tidak ada spirit’. “Boleh kutau namanya?”
“Miss Yune Kadric, 18 tahun. Tinggal sendiri di Northwood, sepuluh menit dari kantor. Sepulang dari klub bersama teman, dia mulai melihat dan mendengar hal-hal aneh.”
Mataku membulat. Ada fenomena supranatural! Klien kali ini bisa membawa titik terang. “Apa boleh besok kami ikut kau ke sana? Kami ingin menemui kliennya,” tanya Harold.
“Kami?” ulangku dengan nada bertanya.
“Kita tim dua orang.”
Kuhela napas. “Besok? Dude, aku butuh libur seharian.”
“Pekerjaan kita tidak menguras tenaga, kenapa kau selelah itu?” katanya.
“Aku lelah berinteraksi denganmu,” lontarku kesal.
Kutangkap keheningan dari Fred, aku pun berdeham, mengontrol sikap. “Tolong beritahu kami, sudah berapa lama dia mengalami hal itu?”
“Kemarin malam dan sampai tadi siang saat aku berkunjung, dia mengaku terus mendengar suara tidak jelas. Bukan teriakan, seperti bisikan beberapa orang katanya.”
Saat kutulis penjelasannya, dia berkata, “Apa aku boleh bertanya sesuatu?”
“Silakan, Frederick.”
“Kalian tim yang sir Graham utus tuk menyelidiki kasus aneh ini?”
Aku mengangkat wajah, mengangguk. “Kami belum tentu bisa memecahkan ini, jadi jangan berharap banyak. Sudah empat orang tewas dalam kurun waktu dua minggu, bisa jadi ini melibatkan penyihir.”
Saat kami pulang, dia bicara padaku yang menunggu Harold keluar dari area parkir. “Kau berbeda dari yang kutau.”
Manikku menabrak manik biru itu. “Kau dengar seseorang berbicara jelek soalku?”
“Ya. Bukankah wajar saling membicarakan di belakang orang itu? Apalagi di bidang pekerjaan seperti ini,” balasnya.
Aku tertawa karena setuju soal ucapannya. “Jadi, apa saja yang berbeda setelah melihatku langsung?” tanyaku iseng.
Klakson berbunyi sebelum Fred berucap, mobil Harold menepi di depanku. Aku menoleh ke Frederick lagi. “Terima kasih, kau banyak membantu.”
“Kau tak perlu menungguku kalau kau mau mengunjungi Miss Kadric,” tambahnya sebelum berlalu pergi.
Aku masuk ke mobil. “Dia bicara apa tadi?” tanya Harold.
“Dia bilang kita boleh mendatangi Miss Kadric langsung tanpa bersamanya. Namun, kurasa itu bukan ide bagus.”
“Bukan, sebelum itu.”
“Sebelum itu?” ulangku. Maksudnya yang mana?
Kubertanya dengan sebelah alis terangkat. “Kenapa memangnya?”
Pria itu mengerjap, mengalihkan wajah ke depan. “Nothing.”
Aneh sekali orang ini.
“Aku akan mengantarmu sampai rumah.”
Dia mulai keras kepala lagi. “Tidak. Turunkan aku di dekat cafe, aku naik bus dari sana.”
Harold tak membalas, tak juga berkata apa pun. Kenapa dia? Kok mendadak membisu.
Masuk ke area pemukiman yang kukenal, baru kusadar pria ini tau alamat rumahku. Dia berhenti tepat di depan jalan kecil menuju pintu. “Kau menyelidikiku diam-diam?” tekanku tak percaya padanya.
Harold menarik senyum tipis. “Selamat malam, Natalie.”
Kubuka dan kubanting pintu mobil dengan darah mendidih, langsung masuk ke rumah. Pokoknya besok aku libur dari aktivitas tim ini. Aku bisa gila bersama orang yang semena-mena macam dia.