Episode 10

2071 Words
- KIRANA POV - Siang itu aku ditemani Kelvin dan Carol sampai sore dirumahku. Tidak seperti yang ku bayangkan ternyata Carol anaknya asyik juga, tidak ada perkataan jelek yang keluar dari mulutnya hari itu. Tapi, aku cuma tidak bisa mengerti dengan pesaraan yang kurasakan tadi. "Kelvin dan Carol udah pulang yah nak?" Tanya Mama. "Iya Maa, tadi mereka mau pamit sama mama, tapi aku panggilin mama, mama nggak denger. Jadi aku suruh langsung pulang saja." Kataku yang masih duduk disofa. "Oh, iya Mama tadi habis menelvon. Makanya Mama nggak denger. Mama tadi menelvon sama rumah sakit yang mama minta untuk mencarikan donor mata buat kamu, katanya mungkin minggu - minggu depan sudah ada donor yang cocok buat kamu." Kata Mama. "Bener Mahh? Alhamdulillah, Semoga aja secepatnya. Kirana udah nggak sabar buat ngeliat lagi." Kataku dengan penuh semangat. "Iya nak, tetap berdoa saja yah." Kata Mama. "Iya Maahh." Kataku "Biiii, bi Sri tolong beresin dong semua ini. Temennya Kirana sudah pulang." Panggil Mama. "Eh, tadi Mama kaget banget tau pas ada Carol. Kok anak itu tiba - tiba datang ke rumah sih, dia nggak ngehina kamu kan sayang?" Tanya Mama. "Nggak kok Maa, malahan dia minta maaf sama Kirana atas ucapan - ucapannya selama ini. Kirana sempet kaget juga sih, tapi ternyata dia baik kok Maa." Kataku. "Beneran? Kok tiba - tiba bisa gitu yah? Padahal tadi pas mama disekolah, dia ngehina kamu didepan Mama dan Papa. Terus habis itu, dia dimarahin sama wali kelas kamu." Kata Mama heran. "Orang bisa berubah kapan saja kan Mama.. mungkin Carol tiba - tiba dapet hidayah kali." Kataku. "Hmm semoga aja sih, dia beneran berubah. Kok perasaan Mama nggak percaya yah." Kata Mama. "Ih Mama kok gitu. Hahahha.." kataku sambil tertawa. "Yah kan Mama cuma ngeluarin pendapat Mama." Kata Mama lagi. "Iya deh iya deh. Kalau gitu Kirana mau ke kamar dulu Mahh, tolongin Kirana naik yah." Kataku berdiri dari sofa. "Iya ayo sayang." Mama berdiri dan memegangiku. "Maa, sebelum turus tolong hubungi Sherill dong." Kataku sambil memberikan handphoneku ke Mama. "Nih, sudah berdering yah." Kata Mama. "Iya Makasih Maahh." Aku menelvon Sherill untuk menanyakan bagaimana bisa dia bertengkar sama Carol sampai banyak cakaran di tangan Carol. Dan aku juga khawatir dengan keadaan sahabat - sahabatku, pasti mereka juga banyak lecet - lecetnya. Makanya mungkin mereka nggak kesini hari ini, karena nggak mau aku tau. "Halo, iya Naa.." Sherill mengangkat telvonnya. "Iya Naa iya Naa, ckckckk kalian tuh yah kenapa bertengkar sama Carol sih? Kalian nggak papa kan? Luka - luka juga sama kayak Carol?" Tanyaku. "Hah? Lo tau dari mana Kirana? Kami kan sengaja nggak ke rumah Lo, biar Lo nggak khawatirin kami." Kata Sherill. "Ya Ampun, aku makin khawatir kalau aku tau semuanya dari orang lain. Sekarang jawab pertanyaanku deh." Kataku ketus. "Yah habisnya tadi kami nggak suka, pas dia ngehina keadaan Lo yang sekarang, di depan Mama dan Papa Lo. Itu sama aja kan, kalau dia ngehina orang tua Lo juga. Dan kita udah kehabisan kesabaran ngeliat tingkah dia. Makanya terjadi begitu saja." Jawab Sherill. "Duh, kalian ini. Tapi nggak sampai dihukumkan? Guru nggak ada yang liatkan?" Tanyaku lagi. "Nggak kok, untung saja jam pelajaran saat itu nggak jadi. Eh tapi tunggu deh, lo tau semua ini dari Kelvin? Isshh bener - bener yah tuh cowok ember banget." Kata Sherill. "Eh, bukan Kelvin. Tapi Carol sendiri, tadi dia datang kerumahku sama Kelvin." Jawabku. "Hah? Tunggu bentar... Kelvin sama Carol ke rumahmu? Kok bisa? bersamaan? Kelvin? Carol?" Tanya Sheril dengan sangat penasaran. "Iya Sheriiilllll.. mereka bersamaan, katanya sih tadi ketemu di minimarket yang dekat rumahku. Kan rumah Carol juga nggak jauh dari sini." Jawabku. "Lah, nggak bener nih si Kelvin.. dia kan tau gimana Carol sama Lo, gimana perlakuan Carol selama ini sama Lo. Harus gue kasih pelajaran nih anak." Kata Sherill penuh amarah. "Tenang dulu Sherill.. Carol juga datang ke rumahku nggak berniat jahat kok, dia tadi sempat minta maaf sama aku atas perlakuan dia selama ini. Atas penghinaan yang juga dia lakukan selama aku nggak masuk sekolah." Kataku menenangkan Sherill. "Loh? Minta maaf? Secepat itu dia minta maaf? Padahal tadi dia semangat banget loh bertengkar sama kita, sampai rambut - rambut kita pada rontok. Masa iya, hari ini juga dia langsung minta maaf sama Lo? Kok aneh yah." Kata Sherill lagi. "Ih kamu ini.. orang minta maaf dibilang aneh. Kan mungkin aja dia tiba - tiba disambar malaikat, terus habis itu jadi baik deh." Kataku. "Hmm, ya udah deh kalau gitu. Bagus juga, kalau dia nggak sampai ngapa - ngapain kamu pas dirumah. Semoga aja, dia beneran berubah." Kata Sherill. "Kalau gitu kamu istirahat aja deh, kalau ada lecet - lecet cepat kasih obat merah. Kasih tau juga yang lain. Soalnya aku tadi cuma minta tolong telvon kamu sama Mama, kalau mau nelvon yang lain aku nggak bisa sendiri." Kataku dengan sedih. "Iya Kirana iya.. nggak papa kok, Lo jangan sedih begitu, nanti gue sampaikan sama anak - anak yah. Lo juga istirahat gih." Kata Sherill. "Byee Sherill." "Byee Naaa." Sherill menutup telvonnya. Aku berbaring ditempat tidurku yang nyaman ini, aku memikirkan sahabat - sahabatku yang selalu saja membelaku sampai mereka terluka hanya gara - gara aku. Seandainya saja aku tidak buta, pasti saat ini aku masih bisa bermain dengan mereka. Bersekolah dengan baik, huuhhh aku kangen sekolahku.   Author POV - Sekolah -   Pagi itu, sebelum jam pelajaran dimulai semua anak - anak masih saja meributkan keadaan Kirana. Sahabat - sahabat Kirana sangat terganggu dengan ucapan - ucapan mereka. "Huh, Gue kesal banget... apa mereka sampai segitunya yah pengen tau keadaan Kirana dan apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Gadis Ke teman - temannya. "Iya nihh, kok mereka nggak bisa diem aja sih. Aku capek tau denger mereka ngomongin Kirana terus, kasian kan Kirana jadi bahan omongan mereka terus." Kata Dinda. "Hmm, biarin aja. Kalau di diemin kan bakalan hilang juga nantinya. Pasti nanti mereka bakal bosan dengan pembahasan mereka yang nggak selesai - selesai itu." Kata Sherill. "Iya juga sih yah? Semoga mereka cepetan bosan deh." Kata Gadis. Dari jauh terlihat Kelvin dan Carol datang bersamaan, dan di ikuti Gina dari belakang yang baru saja datang. "Eh eh itu kan Kelvin sama Carol? Kok bisa barengan gitu sih? Dan kayak mereka udah akrab gitu?" Tanya Dinda. "Tuh kan beneran apa yang Kirana bilang kemarin? Hmm kok mencurigakan gini sih." Kata Sherill. "Apanya yang mencurigakan sih Sherill? Kan mungkin aja kalau Carol udah berubah, dan pengen akrab sama Kelvin. Nggak papa kan?" Kata Gadis sambil tersenyum. "Pagi gengssss... kenapa sih mukanya pada nggak nyantai gitu? Masih pagi tau nggak sih, nanti kalian nggak cantik lagi. Hahahah." Sapa Gina yang baru saja datang. Tapi tidak ada yang menggubris Gina, mereka semua masih terpaku melihat Kelvin dan Carol yang masuk kelas bersamaan. Gina pun tersadar apa yang teman - temannya dari tadi perhatikan. "HHOOOIIIIIIII !!!!!" Teriak Gina. Teman - temannya semua tersontak karena kaget. "Ih Gina apaan sih. Kalau kita mati karena jantungan gimana???" Kata Dinda sambil memegang dadanya. "Iya nih kenapa sih Lo? Masih pagi jugaa." Kata Sherill. "Hahahahhaha kalian sih.. gue udah sapa kalian baik - baik loh tadi, tapi kalian nyuekin gue dan lebih memperhatikan kedua orang itu *dengan nada pelan " kata Gina. "Masa sih? Kita nggak kayak orang bego kan merhatiin mereka dari tadi?" Tanya Sherill yang tersadar. "Waaahhh, kalian kelihatan sangat bego tauu. Hahahahhahaa" Kata Gina tertawa sangat Keras. "Issshhh Ginaaaaaaa !!!!" Teriak mereka semua. "Hahhaha nggak deng.. emang kenapa sih kalian liatin meraka kayak gitu banget? Tanya Gina. "Sini deh Gin, Lo nggak heran yah liat mereka tiba - tiba akrab gitu? Masa iya dalam sehari langsung akrab kayak gitu." Kata Sherill sambil menarik Gina ke dekatnya. "Nggak sih. Kenapa harus heran, kan kemarin udah di jelasin sama Kirana gimana detailnya sama Lo." Kata Gina. "Beneran Lo nggak ada rasa heran gimana gitu Gin?" Tanya Dinda. "Gue udah ngomong kayak Lo juga tadi Gin, tapi nih mereka berdua masih bertanya - tanya kenapa bisa kayak gitu. Tapi gue sontak aja ngikutin mereka ngeliatin tuh Kelvin sama Carol kayak orang bego." Kata Gadis dengan wajah jengkelnya. "Hahahha sabar yah Dis, emang nih Sherill sama Dinda suka aneh - aneh aja." Kata Gina. "Heiiiii, pada ngomongin gue yahh? Hahahah.." Kata Kelvin tiba - tiba datang ke meja mereka meletakkan tangannya diatas meja. Mereka semua yang melihat Kelvin tentu saja sangat kaget dan nggak bisa ngomong apa - apa. "Lahhh, kok diem aja sih. Hahhaha.. aku nanya kalian loh." Kaya Kelvin tertawa. "Diiihhh, pd banget Lo. Emang Lo siapa sampai mau di omongin sama Kita, males banget tauuu." Kata Sherill tersadar. "Iya nih PD Lo.." Celetuk Dinda kesal. "Ih pada galak amat sih. Iya iya, gue tau kok kalian lagi ngomongin apa. Mau gue jelasin nggak?" Tanya Kelvin sembari menarik bangku yang ada didekatnya. "Hmmm." Sherill melihat Kelvin menatap tajam, sambil melipat kedua tangannya. "Serem amat sih Sherill." Kelvin ketakutan melihat tingkah saudara sepupunya itu. "Cepetan deh Vin, Lo mau di makan ama Sherill?" Dinda memukul meja yang ada di depannya. "Iya iya, ya ampun serem amat. Jadi gini... kalian juga pasti udah dikasih taukan sama Kirana? alasan gue juga mau ngajakin Carol supaya dia bisa berubah, nggak jelek - jelekin Kirana lagi. Dan juga gue sempet ngobrol - ngobrol banyak sama Carol, katanya dia iri dengan Kirana yang mempunyai segalanya hanya sebatas itu kok. Lagian dari apa yang gue tangkap dari Carol, dia nggak sejahat yang kita lihat selama ini. Jadi, kita kasih kesempatan aja buat dia berubah dan supaya dia nggak jelek - jelekkin Kirana lagi. Kan sumbernya dari dia juga kan kalau anak - anak pada ribut soal Kirana." Kelvin menjelaskan dengan panjang lebar, memasang wajahnya yang sangat serius. "Hmm bener juga sih apa kata Lo Vin. Kita liat aja nanti sifat dia kedepan nanti, semoga bisa berubah." Kata Sherill. "Tuh kan? Lebih baik kita nggak usah mengkhawatirkan hal yang nggak perlu kita khawatirkan. Mending kita hidup bahagia, tenang dan tentu saja selalu ada di saat Kirana membutuhkan kita." Kata Gadis tersenyum. "Tapiiii...." celetuk Dinda. "Tapi apalagi sih Dindaaa? Lo selalu aja deh kayak gini. Udah yahh, tenang aja." Gina meyakinkan Dinda yang sangat polos itu. Setelah perbincangan masalah Kelvin dan Carol selesai, mereka pun kembali belajar seperti biasanya. Hari itu di kelas mereka, tidak ada keributan yang mencari tahu tentang Kirana. Hanya anak - anak kelas lain saja yang masih penasaran. "Kantin yuk guyss." Ajak Kelvin. "Lo traktir kita kan yah? Kan Lo habis bikin kita khawatir." Sherill tersenyum licik. "Iya deh iya, ayo cepetan gue udah lapar nihh." Kelvin berdiri dari bangkunya. "Assyyiiiiiikkkk." Teriak Dinda, Gina dan Gadis bersamaan. Kelvin hanya tertawa melihat tingkah teman - temannya itu. Mereka pun berdiri dari bangku masing - masing hendak ingin ke kantin. Belum sampai di pintu kelas, tiba - tiba saja Carol berteriak. "Kelviiiinnnn... mau ke kantin yah? Bareng yahh." Carol memperlihatkan senyumannya yang lebar. Kelvin yang kaget langsung memandangi wajah Sherill, Gadis, Gina dan Dinda. Duh mereka pasti nggak suka nih* Kelvin bergumam didalam hatinya. "Nggak papa, iyain aja. Toh dia yang bayar makanannya sendiri kok." Kata Gina. Gadis, Sherill dan juga Dinda tidak ada penolakan saat Gina mengatakan itu. Akhirnya mereka ke kantin berjalan bersama Carol ke kantin. "Gue boleh duduk sama kalian nggak?" Tanya Carol memegang mangkuk makanannya. "Duduk aja, emang di kantin punya kita apa? Hahhaha." Kata Dinda. "Makasih yahh." Carol duduk memilih tempat tepat disamping Kelvin. "Kelvin Lo pesen apa? Makan mie ayam siang - siang gini enak banget tau." Carol menunjuk mie ayam yang ada didekatnya. "Ah, nggak deh. Gue mesen nasi goreng, soalnya gue laper banget nggak sarapan tadi pagi." Jawab Kelvin memegang perutnya. "Eh, itu ada Karel.. Kareeeeelll gabung sini yukkk" Panggil Carol melambaikan tangannya ke Karel. Kelvin, Sherill, Gina, Gadis dan Dinda saling menatap. "Apa - apaan sih cewek ini." Bisik Sherill ke Gina. "Iya kan akan canggung kalau ada Karel, ada dia aja masih canggung." Balas Gina berbisik. Karel yang mendengar ajakan Carol, langsung berjalan ke arah mereka dan tanpa izin dia duduk bersama di meja mereka. "Ada apa nih? Kok Lo bisa satu meja dengan teman - temannya Kirana? Ohhh kalian udah masukki cewek gila ini ke Geng kalian untuk gantiin Kirana? Iyaa??" Tanya Karel memandangi semua yang ada dimeja itu. "Sembarangan !!!! Kirana tuh nggak akan bisa digantiin oleh siapa pun. Kirana yah tetap Kirana, dan nggak akan ada yang bisa masuk lagi ke Gengg kita. Lo jangan ngomong sembarangan bego." Dinda langsung saja menjawab pertanyaan Karel dengan wajahnya yang sangat kesal. “Lo bener – bener yahh.. NGGAK TAU DIRI, ingat semua ini terjadi karena….. Sherill mencubit Gina sebelum menyelesaikan perkataannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD