Di depan rumah, ku lihat mama yang berdiri menungguku pulang. Aku turun dari mobil dan berlari ke Mama.
"Maa, maafin aku Maa." Aku menangis memeluk mama.
"Kamu kenapa sayang? Apa yang terjadi? Kenapa bajumu seperti ini hah?"
"Kirana sebaiknya kamu ganti baju dulu, tenangin diri kamu, biar aku yang jelaskan ke Mamamu." Kata Kelvin.
"Ini kenapa sih? Ada apa?" Tanya Mama lagi.
"Ma aku naik dulu yah, ganti baju."
Mama mengangguk, dia sangat penasaran dan terlihat sangat khawatir.
"Sini - sini kamu, masuk dulu jelaskan semua sama tante. " kata Mama ke Kelvin.
"Maaf sebelumnya tante, mungkin sebelumnya ini gara - gara aku yang muncul di kehidupannya Kirana." Jelas Kelvin.
"Apasih? Tante nggak ngerti. Jelaskan apa yang terjadi dengan Kirana?"
"Tadi Kirana hampir di lecehkan sama Karel tante, tante tau kan pacarnya Kirana?"
"Apa? Dimana anak itu sekarang? Bisa - bisanya melakukan itu pada Kirana. Apa yang ada di fikirannya, kamu sekarang antar tante ketemu Karel. "
"Ma tenang dulu Ma, Kirana baik - baik aja sekarang. " Aku turun dari kamar.
"Mama, nggak terima kamu di giniin. Apanya yang nggak papa? Kalau Papa kamu tahu dia akan membunuh anak itu. “
"Dia nggak sempat apa - apain aku Ma, tadi Kelvin datang tepat waktu nolongin aku. “ Jelasku menenangkan Mama.
"Kenapa anak itu berbuat seperti itu sih, Mama nggak nyangka Karel akan melakukan hal yang sangat menjijikkan seperti itu. Padahal Mama sangat percaya sama Karel kalau dia bisa menjagamu."
"Maaf tante, tadi Karel sempat bilang kalau ini semua gara - gara aku, aku yang sudah masuk di kehidupannya Kirana, Kata Karel dia takut kalau aku akan merebut Kirana, maafin Kelvin tante." Kata Kelvin.
"Kelvin nggak yah, ini bukan salah kamu. Karel saja yang cemburu buta, kamu nggak perlu minta maaf.” Kataku.
"Iya nak, ini bukan salah kamu. Kalau memang dia cemburu, perbuatannya pun tak bisa di benarkan, ini sudah sangat salah." Kata Mama.
Kelvin terdiam mendengar semua itu, dia sudah tidak bisa berkata apa - apa lagi.
Tidak lama setelah kami ngobrol panjang lebar, hpku berbunyi. Ku lihat layarnya ternyata itu dari Karel, aku menatap mama.
"Karel kan? Sini Mama yang bicara."
Mama merampas hpku, dan langsung mengangkat telepon Karel.
"Apalagi yang kau mau anak b******k? Kau tidak tahu malu yah, masih berani menelpon anakku? Apa maaf? Jangan harap tante dan Kirana akan memafkanmu. Dan ingat kau jangan pernah lagi berhubungan dengan Kirana, jangan pernah mengganggu kehidupan Kirana lagi, ingat itu, enak saja kamu minta maaf.” Mama mematikan teleponnya, mama sangat marah. Baru kali itu aku mendengar Mama memaki seseorang.
"Sabar Maa, nanti mama kecapean marah - marah." kataku memberi mama minum.
Nggak lama setelah itu, ada pesan lagi dari Karel.
" Kirana maafkan aku, aku khilaf. Aku mohon maafkan aku. Aku nggak akan lagi berbuat seperti itu, aku janji. Tolonglah kirana maafkan aku, beri aku kesempatan lagi. Aku mohon sampaikan maafku ke orang tuamu juga.”
Aku langsung membalas pesannya, ku katakan saja, aku tidak ingin berhubungan lagi dengannya, dan aku memutuskan hubunganku dengan dia saat itu juga. Karel benar – benar tidak sadar apa yang barusan dia lakukan, hatiku sangat sakit. Karel yang ku kenal tidak pernah sekasar itu padaku, ntah apa yang ada di fikirannya.
"Kalau gitu aku pulang dulu yah tante, Kirana." Kata Kelvin.
"Loh tunggu dulu nak, kamu makan siang dulu yah sama tante dan Kirana, kamu sudah menolong Kirana dan mengantarkan Kirana pulang dengan selamat, setidaknya kamu makan dulu sama kami."
"Iya Kelvin, kamu makan dulu yah sama aku sama mama."
"Hmm, Iya baik lah kalau begitu."
Akhirnya suasana mulai tenang, aku, Mama dan Kelvin makan siang bersama. Meskipun aku sendiri masih syok karena kejadian itu, aku berusaha menutupinya untuk membuat Mama sedikit lebih tenang. Orang tua mana yang tega melihat anaknya dilecehkan seperti itu.
“Kalau gitu aku pulang yah tante, Kirana. Terima kasih banyak untuk makanannya.” Pamit Kelvin.
“Iya, hati – hati yah nak. Tante berhutang budi denganmu. Terima Kasih sudah peduli dengan Kirana.” Kata Mama.
Aku mengantar Kelvin ke Mobilnya.
“Kirana maaf kalau aku lancang, tapi aku tau kamu belum baik – baik saja. Sebaiknya besok kamu nggak usah masuk sekolah dulu, tenangin diri kamu dan jangan terlalu kamu fikirkan. Yahh, memang susah sih kalau nggak difikirkan. Tapi aku mohon, kamu tidak boleh sampai sakit karena ini dan jangan membuat Mamamu khawatir. ” Kata Kelvin.
“Hmm, iya Kelvin makasih banyak yah. Aku minta maaf juga kamu sudah terlibat dengan urusanku dengan Karel.” Kataku mengusap air mataku.
“Jangan nangis, baik – baik yahh. Dahhh.“
Malamnya Mama menceritakan semua yang terjadi ke Papa, aku benar - benar takut Papa nggak bisa menahan dirinya untuk melakukan hal buruk ke Karel. Tapi untunglah Mama bisa menenangkan Papa.
“Kiranaaaaa.” Panggil Papa dari bawah.
Aku segera berlari ke bawah.
“Kamu nggak papakan sayang? Kamu mau Papa apakan si Karel itu?“ Tanya Papa.
“Nggak Paa, Kirana nggak papa kok. Nggak usah apa – apain Karel, Kirana nggak mau memperpanjang masalah ini. Dan Kirana juga udah nggak mau lagi berusuran dengan Karel.“
“Tapi nak, dia sudah berbuat seperti itu denganmu, kita harus menghukumnya.“ Kata Papa.
“Kirana yakin suatu saat nanti Karel akan dapat ganjarannya kok Paa. Tadi juga udah dihajar habis – habisan kok sama Kelvin. Jadi, kita sudah menghukumnya kan melalui Kelvin.“
“Ya sudah kalau itu maumu nak, tapi kamu harus bisa jaga diri kamu yah. Kamu nggak boleh berurusan lagi dengan anak itu dan sampaikan terima kasih Papa ke Kelvin karena sudah menyelamatkan anak semata wayang Papa.“
“Iya Papa, nanti aku sampaikan ke Kelvin. Kirana naik dulu yahh Paa Maa. “ Kataku. Aku berusaha menahan tangisku saat itu.
Di kamar, aku mulai membersihkan apapun yang berhubungan dengan Karel. Aku berdoa semoga aku bisa melupakan Karel dan Tuhan bisa menghapuskan Karel dari hatiku, karena disisi lain aku sangat menyayanginya. 2 tahun bukan waktu yang cepat yang kulalui dengan Karel, semua yang kulalui dengannya sangatlah indah, kisah cinta yang selalu aku banggakan, kisah cinta yang selalu jadi panutan di sekolahku. Kurasa malam ini benar – benar malam yang sangat panjang, semalaman aku menangis, kenapa kisah cintaku dengan Karel bisa berakhir seperti ini, terlintas difikiranku kenangan – kenangan yang ku lalui bersama Karel, tapi aku sudah sangat tidak bisa memaafkannya. Semoga saja Karel bisa mendapatkan seseorang yang benar – benar bisa memahaminya, dan Karel bisa berubah jadi lebih baik lagi.
Paginya, kudengar Mama memanggilku membangunkanku ke sekolah.
“Oh, Tidaakk. Kalau mama melihatku seperti ini Mama pasti akan bertanya lagi dan sangat khawatir.“ Aku berdiri dan melihat wajahku di depan cermin.
“Kiranaaa.” Buka pintunya sayang, udah jam berapa ini kamu bisa terlambat. “ Kata mama.
“Maa, aku nggak sekolah dulu yah Maa. Aku mau istirahat dan menenangkan diri dulu di rumah. Kirana masih belum mau ketemu sama Karel.“ Kataku dari dalam kamar.
“Tapi kamu nggak papakan sayang? Kamu mau Mama antar ke dokter? “ Tanya Mama.
“Kirana nggak papa Maa, Mama turun aja yahh. Kirana istirahat dulu, ntar aku turun kok. “
“Ya sudah kalau gitu sayang, kamu turun sarapan yahh.”
*****
AUTHOR POV
- SEKOLAH -
Jam menujukkan pukul 7.20 Bell sudah hampir berbunyi.
“Kirana kemana sih, ini sudah mau bell. Apa dia nggak masuk? Tapi tumben nggak masuk dan nggak ada kabar kayak gini.“ Kata Gadis.
“ Iya nih, bikin khawatir aja.“ Kata Dinda.
Kelvin mendengar hal itu, wajahnya berubah menjadi tegang.
“Ada sesuatu yang terjadi kemarin dengan Kirana, tapi kalian bisa bertanya sama Kirana saja.“ Kata Kelvin.
“Apaaaaaaa???“ Teriak Sherill, Gadis, Gina dan Dinda.
“SSssssttttt kalian jangan berisik begini dong, semua orang bisa dengar.“ Kata Kelvin.
“Apasih, apa yang terjadi sebenarnya Kelvin? Kenapa kami semua nggak ada yang tau?” Tanya Gadis.
“ Maaf, tapi aku nggak punya hak untuk kasih tau ini sama kalian, lebih baik kalian tunggu Kirana untuk memberitahu kalian yahh.“ Balas Kelvin.
"Tapi Kirana nggak papa kan Kelvin?" Tanya Sherill.
"Iya dia nggak papa kok." Semoga Kelvin bergumam didalam hati.
“Gimana kalau pulang sekolah ntar kita kerumahnya Kirana?“ Kata Gina.
“Iya yuk, kita kesana aja daripada bikin khawatir kayak gini.” Kata Dinda.
“Iya kalian kerumahnya saja, dan mungkin hari ini Kirana izin sakit ke wali kelas, jadi kalian sebagai sahabat – sahabatnya pura -pura tahu yahh kalau Kirana sakit.“ Kata Kelvin.
“ Iya, tapi Lo harus ikut juga yah ke rumahnya Kirana. Lo harus tanggung jawab, karena nggak ngasih tau kita apa yang terjadi.“ Kata Sherill.
“Okeyy.“
“Kiranaaa Kiranaaa.” Tiba – tiba Karel datang ke kelas.
“Loh, kok Lo juga nggak tau sih kalau Kirana nggak masuk? Lo juga nggak tau apa yang terjadi kemarin? dan ada apa dengan wajahmu Karel?“ Tanya Sherill.
“Iya nih, harusnya kita kan yang nyari Kirana ke Kamu, heran deh. Ada apasih Karel?“
“Hah? Dia nggak masuk yah? Hmm baiklah kalau gitu aku kembali ke kelasku. Sebelum pergi Karel metanap Kelvin dengan tajam.
“Apa – apaan sih ini? Tunggu deh, wajah Kelvin juga.... sumpah yah bikin penasaran aja nih kalian berdua.“ Kata Dinda melihat Karel dan Kelvin.
Teman – teman Kirana semakin curiga dan penasaran sebenarnya apa yang terjadi kemarin dengan Kirana. Sepulang sekolah, teman – teman Kirana dan Kelvin ke rumah Kirana, mereka sangat penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya dengan Kirana. Karena Kirana tidak pernah sebelumnya seperti ini, nggak masuk sekolah tanpa kabar.
“Assalamualaikum, Kiranaaa.“ Panggil Gina.
“Walaikumsalam, loh kalian. Masuk – masuk sayang.” Kata Mama Kirana membukakan pintu.
“Kirana mana tante?“ Tanya Dinda.
“Tunggu yahh tante panggilkan.“
“Kirana, teman – teman kamu datang tuh turun yuk nakk.“
Kirana yang mendengar itu kaget dan langsung berdiri melihat matanya lagi, apakah masih sembab dan ternyata sudah mulai turun. Kirana nggak mau memperlihatkan keadaanku yang seperti ini kepada teman -temannya. Kirana buru – buru memperbaiki riasan dan segera turun.
KIRANA POV
"Kirana sayaaangggg.“ Teriak semuanya, Kecuali Kelvin yah.
“Kamu kenapa sih, nggak ngasih kabar ke kita semua. Kita Khawatir tau, kamu nggak pernah kayak gini.“
“Maafin aku teman – teman, aku nggak bisa dan benar – benar nggak sempat untuk ngabarin kalian.“ Kataku
“Tapi sebenarnya apa yang terjadi kemarin? Kata Kelvin dia nggak berhak ngasih tau kita semua.“
Aku melihat Kelvin, dia tersenyum dan mengangguk. Siang itu aku menceritakan sedetail – detailnya apa yang terjadi denganku kemarin. Dan lagi – lagi aku nggak bisa membendung air mataku, aku selalu mengingat apa yang sudah aku lalui dengan Karel dan benar – benar nggak bisa melupakan kejadian kemarin.
“Maafin aku yahh Kirana, gara – gara aku kenalin kamu sama Kelvin, Karel jadi gelap mata kayak gini. Maafin aku Kirana.“ Kata Sherill.
“Ya Ampun kamu nggak salah Sherill, jangan minta maaf seperti itu. Mungkin ini sudah jalan yang diberikan Tuhan untukku dan Karel. Mungkin kita berdua nggak ditakdirkan bersama untuk waktu yang lama. Kalau jodohkan nggak akan kemana, semua pasti akan ada jalannya.“ Kataku.
“Kirana kamu selalu saja berfikiran positif, tapi benar juga sih. Sherill kamu nggak perlu minta maaf kamu kan nggak salah, kan kamu ngenalin Kelvin ke kita semua juga dan kamu nggak ngenalin Kelvin untuk dijodohin ke Kirana kan.” Kata Gadis.
“Aku memang sayang sama Karel, dan aku nggak nyangka bisa seperti ini. Tapi aku juga nggak bisa memaafkan perbuatannya kemarin. Dia seperti binatang buas, aku nggak sanggup untuk membayangkannya lagi. Aku sangat takut.“ Kataku.
“Menjijikkan banget sih tuh orang. Sumpah deh pengen gue bejek – bejek dia kalau ketemu.“ Kata Dinda
“Sabar yah Kirana, kamu pasti bisa melupakannya. Tenang aja kita semua akan menghibur dan membuatmu melupakan si b******n itu. Kita semua selalu ada untuk kamu.“ Kata Gina.
“Terima kasih banyak yah teman – teman.“ Kataku sambil memeluk mereka semua.
“Dan Kelvin terima kasih banyak yah udah menyelamatkan Kirana, jangan diam – diam gitu dong hahahah.“ Kata Dinda membuat suasana lebih ceria lagi.
“Aku kan memberi waktu buat kalian, dan aku bukan siapa – siapa di sini hiksssss.“ Kata Kelvin.
Siang itu mereka semua menghiburku, aku benar – benar beruntung bisa mempunyai sahabat – sahabat seperti mereka. Kami selalu ada disetiap siapa saja yang membutuhkan kami satu sama lain, dan semuanya benar – benar tulus. Aku nggak tau kalau nggak ada mereka, aku bisa saja terus – terusan menangis dan nggak bisa berfikir positif.
“Byeee Kirana kita pulang dulu yahh, kamu nggak boleh nangis lagi.“ Kata Sherill.
“Iya, jangan nangis dan semangat buang – buangin foto – fotonya yahh. Besok kita kesini lagi kok untuk bantuin kamu. Jadi semangat yahhh.“ Kata Sherill.
“Makasih banyak yahh teman – teman kalian sudah sempatkan datang kesini untuk menghiburku, aku sayang kaliaaann.“
“Masuk gihh.” Kata Kelvin.
“Iya, hati – hati yahh kamu, bawa mereka sampai dengan selamat ke rumah masing – masing.“ Kata ke Kelvin.
“Siap Bossss.“
“Byee Kiranaaaaaaa.“ Teriak mereka semua beranjak pergi dari rumahku.
===