KIRANA POV
Malam sehabis teman – teman datang kerumahku, aku sudah lebih tenang. Aku membersihkan kamarku, sepertinya aku benar – benar bucin (b***k cinta) saat bersama Karel. Disetiap sudut kamarku ada saja foto – foto yang ku pajang bersama Kelvin dan sangat banyak barang pemberian dari Karel. Boneka – boneka yang berada diatas tempat tidurku juga sangat banyak pemberian dari Karel. Ya ampun! Mau aku kemanain semua ini. Sungguh aku lelah membersihkan semua ini.
Saat membereskan kamarku, aku teringat kalau hari ini aku mematikan handphoneku. Ku ambil Handphoneku dan ku nyalakan. Banyak sekali pesan dan missed call yang masuk. Ada 14 missed call dari Karel. Karel juga mengirimiku pesan, lagi – lagi dia meminta maaf. Tapi ada salah satu pesannya yang membuatku sangat marah lagi dengannya.
“ Bagus yahh Kirana, kamu baru 1 hari memutuskanku dan kamu sudah mengundang Kelvin kerumahmu. Orang yang membuat hubungan kita hancur seperti ini. Memang yahh kamu sudah menyukai Kelvin. Dasar cewek jalang. Harusnya kamu melakukan apa yang aku mau kemarin, dan kamu nggak perlu nangis – nangis seperti itu. Aku yakin kamu dan Kelvin sudah melakukannya kannn??? “
Isi pesannya membuat aku menangis lagi, tega sekali dia berbicara seperti itu. Padahal baru saja aku berfikir untuk memaafkannya. Apa dia tidak mengenalku selama 2 tahun ini? Aku benar – benar nggak habis fikir. Tapi setelah dia mengirim pesan seperti itu, dia minta maaf lagi dan mengatakan nggak bermaksud berbicara seperti itu. Dia seperti orang gila saja.
“Hufftt aku lebih baik tidur, dan nggak usah memikarkannya lagi. Aku harus move on dari orang gila seperti Karel.“ Kataku menggerutu sendiri didalam kamar.
------
Angin sejuk pagi menerpa wajahku menembus jendela kamarku yang sedikit terbuka, memberikan sedikit tiupan ke rambutku. Aku menikmati sambil menarik nafas panjang dan membuka mataku. Perasaanku pagi ini sudah lebih baik, karena tekadku sudah bulat untuk melupakan Karel. Seseorang yang sangat aku cintai selama 2 tahun terakhir ini. Yap, tapi aku belum mau ke sekolah. Aku nggak mau melihat wajah Karel dulu, aku belum siap. Handphoneku berdering dan ternyata itu dari Dinda.
“Halo, ya Diiinnn.“
“Lo beneran belum masuk yahh naa?“ Tanya Dinda.
“Iya nih, aku masih belum siap buat melihat wajah cowok b******k itu.“ Kataku.
“Wah wah ada apa ini, sampai Kirana mengeluarkan perkataan kasar serperti itu? Hahahah.“ Gina menyela.
“Lah, speaker yahh ? Hahahah.“ Tanyaku.
“Iyalah, kita semuakan mau denger kabar lo. Tenang aja, kita dalam satu mobil kok.“ Kata Gadis.
“Hahah iya deh, tadi malam Karel ngirimin aku pesan banyak banget. Dan salah satu pesannya sangat kasar.“ Kataku.
“Wah, gila yah tuh orang. Apa isi pesannya Kirana ?“ Tanya Sherill.
“Kalian liat aja yah ntar di rumahku, kalian jadi datangkan ?“ Kataku.
“Oh, iya deh kalau gitu. Tenang aja Kirana, kita pasti datang kok. Tungguin kita kita yahh, dan jangan galau – galau lagi.“ Kata Gadis.
“Iya, sekolah yang bener yah anak – anak hahahah. Byeee.“
“Siap buuu. Byeee.“
Aku menutup teleponnya, dan melihat seisi kamarku. Sudah ada dua kardus barang – barang yang aku kumpulkan. Ntah aku harus membuangnya, atau lebih baik ku sumbangkan saja ke Panti asuhan.
“Pagi Maa Pagi Paa.“ Aku turun dari kamarku menyapa mereka.
“Alhamdulillah anak Papa udah mulai ceria lagi.“ Kata Papa memberiku segelas s**u hangat.
“Iya dong, dia kan kuat seperti Mamanya.“ Kata Mama.
“Hahahah, apasih Maa. Aku kan emang baik – baik aja, dan aku memiliki kedua orang tua yang sangat menyayangiku. Jadi, pasti aku bisa kuat dan tegar berkat kalian.“
“Gimana barang – barangnya, mau dibantuiin bi Sri nggak ngeberesinnya ?“ Kata Mama.
“Iya Non, aku bantuin yahh. Sapa tau barangnya bisa bibi pake kan, biar bibi juga cantik kayak non Kirana.“ Seru Bi Sri.
“Hahaha iya deh, ntar bibi bantuin aku yahh.” Kataku.
Setelah sarapan aku naik kembali ke kamarku bersama bi Sri. Dan mulai lagi membersihkan kamarku. Bagaimana bisa sih sebanyak ini barang kenangan bersama Karel, 2 tahun ternyata memiliki barang kenangan yang sangat banyak.
“OMG, Non ini semua mau dibuang ???“ Teriak Bi Sri.
“Bibiiii, kaget tau ih.“
“Maap Non, habis bibi juga kaget liat barang sebagus ini mau dibuang.“
“Nggak kok bii, ini terserah bibi aja deh. Mau di pake sama Bibi, mau dikasih anaknya Bibi, atau di sumbangin aja.“
“Beneran Non ???“ Tanya Bibi terheran - heran.
“Iya Bibiii.“
“Makasih yahh Non, Non baik banget dehh.“
“Iya yang penting jangan di pake di depan aku aja yahh. Kalau mau pake pas aku nggak ada aja.”
“Oke siapp Non.“
Kulihat Bi Sri tersenyum kegirangan, iya juga sih barang – barangnya semua sangat bagus dan sayang untuk dibuang. Tapi mau di apalagi aku nggak mau melihat apapun yang berhubungan dengan Karel. Meskipun dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku nggak bisa merelakan semuanya.
Nggak terasa udah siang aja, sebentar lagi teman – temanku datang. Aku dan Bibi sudah membereskan sebagian yang udah aku masukin semalam di dalam kardus.
“Bi, udah dulu yuukk, sepertinya teman – temanku sudah mau datang nih.“
“Oh, ya udah Non. Kalau sudah Bibi pilih – pilih yang mau Bibi ambil, sisanya Bibi simpan di depan rumah aja kan Non ?“
“Iya Bii, biar sekalian sama yang masih belum diberesin. Nanti sisanya disumbangin aja.“
“ Oke Non, Bibi turun siapin celiman juga buat teman – temannya Non.“
“Makasih yah Bi.“
Terdengar suara klakson mobil dari bawah, aku melihat dari jendela kamarku. Yap, teman – temanku sudah datang. Tapi ada satu mobil yang melintas seperti mobilnya Karel. Ah, mungkin saja aku salah lihat. Aku bergegas turun.
“Assalamualaikum.“ Sorak mereka semua.
“Walaikumsalam, masuk girlsss.“ Kataku.
“Loh, tumben kamu yang bukain pintu.“ Kata Gina.
“Bibi lagi sibuk buatin cemilan buat kalian, dan Mamaku lagi ada urusan di luar. Makanya aku yang bukain.“
“Kelvin datang juga ? Hahah sepertinya Kelvin udah masuk di gengg kita nih.“ Kataku tertawa melihat Kelvin.
“Iya, aku di paksa nih sama mereka. Katanya buat jadi tukang foto kalian. Sedih banget sih hidupku bergaul sama cewek – cewek rempong kayak kalian.“ Kata Kelvin.
“Hahahahahhahah .“ Kita semua tertawa mendengar keluhan Kelvin.
“Eh, iya Naa. Mana coba pesan – pesannya Karel.“
Aku memberi handphoneku ke teman – temanku, dan memperlihatkan semua isi pesan dari Karel kemarin.
“Wahh, bener – bener gila yah nih orang. Nggak bisa dibiarin sih ini, Kirana kamu nggak boleh diemin dong. Omongannya sudah diluar batas. “ Kata Gadis.
“Iya Kirana, kamu harus bales pesan gila seperti ini. Atau kamu mau biar kami semua aja yang balas Karel.“
“Eh, tapi tunggu deh. Kok Karel bisa tau sih kalau Kelvin ke rumah kamu. “ Kata Gadis.
“Itu juga yang aku pertanyakan. Tapi sepertinya tadi juga aku melihat seperti mobilnya Karel melintas di depan rumahku.“
“Wah, jangan – jangan dia melihat – lihat dari kejauhan nih.“ Kata Dinda.
Dinda memang salah satu sahabatku yang paling polos, tapi tebakannya selalu benar sih.
“Tuhkan, aku seharusnya nggak kesini. Aku nggak mau membuat Karel jadi salah paham dan membuat Kirana seperti ini.“ Kata Kelvin.
“Mulai lagi deh kamu. Nggak kok, justru isi pesan dari Karel ini membuat aku semakin yakin untuk melupakannya, meskipun hatiku tetap saja sakit saat membacanya. Tapi kalian tenang aja, aku baik – baik saja. Kalian nggak usah bales apa – apa ke Karel. Dan Kelvin nggak usah minta maaf terus. Okey genggsss ???“
“Iya deh iya, selama kamu baik – baik saja. Kita bakalan turutin kemauan kamu.“ Kata Sherill.
Kulihat Kelvin hanya bisa tersenyum. Aku tau dia sedang was – was karena tau kalau Karel melihatnya lagi datang ke rumahku.
“Non, Bibi simpan di depan aja kan ?“ Bi Sri keluar membawa kardus – kardus yang tadi.
“Iya Bi.“
“Wow, banyak amat. Itu semua barang – barang dari cowok gila itu ?“ Kata Dinda.
“Iya, masih ada lagi tau di atas hahaha.“ Kataku.
“Hahhaah semangat yah Kirana.“ Kata Gina.
Lagi – lagi mereka semua menghiburku.
------
Di balkon depan kamarku, aku bisa melihat kendaraan berlalu Lalang dijalan. Dan di sini adalah spot yang paling bagus untuk menghirup udara malam yang segar. Kulihat handphoneku terus saja berdering. Ya, tentu saja itu dari Karel. Aku nggak mau mengangkat teleponnya, kenapa dia sampai seperti ini sih. Ada pesannya yang masuk, Karel mengatakan bahwa dia melihatku di balkon dan dia ingin bertemu denganku. Kudengar bel pagar rumahku berbunyi, sontak saja aku berifikir yang datang pasti Karel.
Aku sangat takut, karena Papa sudah ada dirumah. Aku berlari turun ke bawah.
“Apa anak itu berani datang ke sini ???“ Kata Papa.
“Iya Pak, dia ada di depan rumah katanya mau ketemu sama Non Kirana.“ Kata Pak Adi.
“KURANG AJAR TUH b******n, biar aku yang keluar. Bakalan ku hajar.“ Kata Papa dengan sangat emosi.
“Paa Papa. Jangan, Kirana mohon Papa nggak usah keluar. Kirana nggak mau dia ada di rumah ini. Tolong suruh satpam aja usir dia Pak Adi.“ Kataku menahan Papa
“Kirana kamu ini kenapa sih, biar Papa kasih pelajaran ke anak itu. Biar dia nggak mengganggumu lagi. “ Kata Papa.
“Nggak Paa, Kirana mohon.“ kataku sambil menangis.
“Udah, Paa. Dengerin Kirana aja.” Mama berusaha menenangkan Papa.
“Oke oke. Papa nggak bakalan keluar. Pak Adi usir saja anak itu, dan jangan biarkan dia datang lagi ke rumah ini." Kata Papa.
“Baik Pak.“ Kata Pak Adi.
Dari dalam rumah kudengar Karel berteriak dan tidak ingin pergi dari rumahku.
“Kiranaaaaa Please maafin aku. Tolong kasih aku satu kesempatan lagi. Aku khilaf Kirana.“ Teriak Karel.
Aku hanya bisa menangis di pelukan Mama. Ada satu jam Karel di depan rumah berteriak – teriak seperti orang gila. Satpam dan Pak Adi kewalahan mengusirnya, dan dibiarkan saja dia di depan rumah. Aku naik ke kamarku, penasaran apakah dia sudah pergi atau belum. Ternyata dia masih ada, dan tepat berdiri di bagian depan balkon kamarku. Ku lihat dia berdiri dari belakang, dia memegang handphonenya dan terus saja menelponku.
“Kirana maafin aku, aku janji nggak akan seperti itu lagi. Aku sangat menyayangimu Kirana, ku mohon keluar lah dan kita bicarakan ini baik – baik.“ Karel masih saja berteriak.
Hujan pun turun, Karel masih saja berdiri di depan rumah. Aku kasihan melihatnya, aku berfikir apa aku turun saja dan menyuruhnya masuk. Tapi lagi – lagi perbuatannya kemarin terlintas di fikiranku dan kembali ku urungkan niatku. Aku tidak sanggup bertatapan dengan Karel. Hujan semakin deras, Karel berbalik melihat ke arah kamarku, hampir saja dia melihatku sedang memperhatikannya. Akhirnya dia berlari ke masuk ke Mobilnya dan segera meninggalkan rumahku. Syukurlah dia sudah pergi, bisa saja dia sakit gara – gara aku. Tidak lama dia pergi, ada pesannya yang masuk.
“ Aku nggak akan menyerah, aku akan membuatmu kembali kepadaku Kirana sayangku. Apapun itu akan ku lakukan untuk membuatmu berada di pelukanku lagi. Ingatlah, masa – masa indah kita bersama. Aku yakin kamu masih sangat sayang denganku. LIHAT SAJA KAMU AKAN KEMBALI KE PELUKANKU SAYANGKU. “
Saat membaca isi pesannya, perasaanku tidak enak dan aku merinding. Aku sangat takut, dia berbuat sesuatu yang sangat salah. Ternyata seseorang bisa berubah dalam sekejap. Orang yang sangat – sangat baik, romantis, membuatku merasa nyaman, aman saat berada didekatnya, orang yang selalu menjagaku tiba – tiba berubah seperti iblis yang menyeramkan tidak ada tempat aman lagi buatku. Hanya karena alasan cemburu dia berbuat sejauh ini. Hari – hari yang ku lalui bersama Karel terasa sangat sia – sia, tapi bagiku kisahku bersama Karel adalah sebuah pembelajaran untuk selanjutnya aku mendapatkan lelaki yang pantas untuk mendampingi hidupku. Tiba- tiba saja terlintas di fikiranku Kelvin, aku takut kalau Karel membahayakan hidup Kelvin juga, orang yang sudah menolongku. Aku hanya merasakan firasat buruk saat itu. Aku membuka handphoneku dan menelvon Kelvin.
“Halo, Kelvin aku ganggu nggak ?“
“Eh, Kirana ada apa nih ? Nggak kok, kamu nggak ganggu. Kenapa ?“ Tanya Kelvin.
“Nggak, aku cuma mau bilang makasih lagi dan minta maaf.“
“Kirana aku bilangkan nggak papa, aku Cuma kebetulan nolongin kamu aja kok.
“Aku takut kalau Karel berbuat sesuatu yang tidak di inginkan lagi, dan kamu juga jadi korbannya. Maafin aku, tapi tolong kamu jaga jarak dengan Karel yah. Aku takut kamu di apa – apain sama dia.“ Jelasku.
“Kirana harusnya kamu mengkhawatirkan diri kamu sendiri, aku bisa jaga diri Kirana, aku cowok. Kalau memang Karel akan berbuat hal buruk, aku siap untuk ngejaga kamu.“ Kata Kelvin.
“Makasih yahh Vin, dan maafin aku merepotkanmu lagi.“
“Sudah yahh, kamu istirahat dan jangan terlalu difikirkan. Good Night Kirana. “
Kelvin menutup teleponnya, aku sedikit lega berbicara dengan Kelvin. Semoga saja tidak terjadi apa – apa.
~~~~~