Hari ini adalah hari ke 3 aku tidak masuk sekolah, aku masih membersihkan kamarku yang penuh dengan foto – fotoku dengan Karel. Masih banyak barang yang harus ku buang, aku sudah benar – benar tidak ingin melihat semua yang berhubungan dengan Karel. Jam menujukkan pukul 14.30 dan itu waktunya pulang sekolah. Sebentar lagi teman – temanku akan datang lagi membujukku untuk masuk sekolah. Aku sebenarnya sudah bisa sih masuk sekolah, aku hanya masih ingin membereskan kamarku.
“Kiranaaaa.“
“iya maaa, kenapa? “
“Teman – temanmu datang lagi tuh, sini cepat turun.“
“iya aku turun sekarang.“ aku turun membawa kotak yang berisi barang – barang yang dikasih Karel.
“Kirana cintakuuuu, sudah dong absennya kita kangen tau main bareng sama kamu disekolah.“ teriak Sherill.
“Kirana kita bawa fast food lohh.“ kata Gina mengangkat kantongan yang dia pegang.
Sementara itu Dinda dan Gadis mengambil piring dan gelas yang ada didapur.
“Duh, kalian ini berisik banget sih, iya besok aku janji akan masuk sekolah lagi.” kataku keluar membawa kotak tadi untuk ku buang.
“Eh, itu sampah kamu lagi? wah banyak sekali ternyata hahah.“ kata Dinda mengikutiku keluar.
“Iya nih, sepertinya ini sudah yang terakhir.“
“ Hai, Kirana.“ tiba – tiba Kelvin muncul dari balik pagar.
“Loh, kamu kok ikut lagi.“ tanyaku.
“Nggak boleh yah? ya udah aku balik aja.“ jawab Kelvin memelas.
“Ya jangan pulang dong, yang anterin mereka pulang siapa kalau kamu pulang. Hahahah.“ kataku meledek Kelvin.
“Aku memang cuma supir disini hiks.“ Kelvin tertawa.
Kami semua pun masuk kembali, kulihat mama juga ikut duduk didekat teman – temanku.
“Oh, iya Kirana tadi Karel datang lagi ke kelas mencarimu. Dan kali ini dia memohon ke kami untuk membujukmu tidak memutuskannya.“ kata Dinda.
“Dia benar – benar gila. “ kata Gadis sambil memakan ayam goreng.”
“Kemarin dia juga datang lagi kok, mencariku kesini. Tapi diusir satpam.“
“Iya tuh, sampai Om pun pengen keluar untuk memukulnya, tapi Kirana larang.“ kata Mama.
“Lah, kok kamu larang sih, biarin aja dipukul sama Papa kamu. Biar tau rasa dia.“ kata Sherill kesal.
“Kan udah dipukul habis – habisan sama Kelvin.“ kataku melihat Kelvin.
“ Kelvin, Papanya Kirana sangat ingin bertemu denganmu, dia ingin berterima kasih langsung. Bisa kamu datang kalau malam? Soalnya Papanya Kirana pulang kantornya habis magrib.“ Kata Mama.
“Oh iya tante, nanti Kelvin sempatkan.“ Jawab Kelvin.
“Sempat kamu aja Vin. Nggak papa kok.“ Kataku.
Diruang tengah kami berkumpul menghabiskan waktu siang itu. Aku beruntung mempunyai teman – teman yang sangat baik seperti mereka. Di tambah lagi dengan Kelvin yang terus saja menuruti permintaan teman – temanku itu. Kasian Kelvin.
-----
Alarmku berbunyi. Mama mulai memanggilku dari bawah. Aku harus segera bergegas ke sekolah karena aku sudah berjanji dengan teman – temanku kemarin hari ini aku tidak boleh absen lagi. Ku pakai seragamku, berkaca, mengambil tasku dan segera turun kebawah.
“Apa kaamu sudah tidak apa – apa sayang? Kau yakin ingin masuk sekolah atau kau ingin pindah sekolah saja ? Mama akan mengurusnya segera kalau kau mau sayang.“ Kata Mama.
“Iya sayang, pindah saja kalau kau mau. Papa khawatir kau masih satu sekolah dengan b******n itu.“
“Maa Paa, Kirana nggak papa kok. Kirana bisa, kan aku juga punya teman – teman yang selalu ada buat Kirana.“ kataku menenangkan Papa dan Mama.
“Baiklah, kamu jaga jarak aja sama dia. Papa yakin hari ini dia pasti datang lagi ke kelasmu.“ Kata Papa.
“Iya Papaa, kalau gitu aku berangkat dulu yah. Oh, iya aku nggak bawa mobil deh mau diantar aja sama Pak Adi.“ kataku.
“Ya sudah, minta Pak Adi aja antar kamu dia ada diluar kok. Hati – hati yahh.“
Aku berangkat ke sekolah diantar Pak Adi. Pak Adi supirku dari kecil dan oramg kepercayaan Papa.
“Non, dompetnya Mas Kelvin sudah Non bawa?“ Tanya Pak Adi.
“ Dompet Kelvin ? Kenapa aku membawa dompetnya Kelvin Pak? “ Tanyaku heran.
“ Aduh pasti bi Sri lupa lagi deh kasih Non. Tadi malam tuh bi Sri bersih – bersih, terus nemuin dompetnya mas Kelvin dibawah kursi.“ Jawab Pak Adi.
“Ohh, gitu. Biar deh, ntar aku beritahu Kelvinnya saja kalau dompetnya ada dirumah.“
“Iya Non, Non kalau mau di jemput telvon saja yah.“
“Iya hati – hati yah pak.“
Aku sudah sampai disekolah, kulihat ada Gadis dan Dinda yang berdiri didepan gerbang. Mereka menungguku.
“Akhirnya datang juga.“ kata Gadis dan Dinda bersamaan.
“Masuk yuk, aku takut kalau ketemu Karel disini.“
“Tenang saja Kirana, kita ada untuk kamu kok.“ Kata Gadis.
Kami berjalan menuju kelas, kelasku tak jauh dari kelasnya Karel. Sepanjang jalan aku berdoa semoga aku tidak ketemu dia sampai aku masuk kelas dengan aman. Beberapa teman kelas memandangiku dan bertanya kalau aku sakit apa. Mereka memang tidak tahu apa yang terjadi sama aku dan Karel. Mereka hanya tahu kalu aku sudah putus dengan Karel.
Aku belajar seperti biasanya pagi itu, sampai akhirnya jam istirahat pun tiba. Aku masih takut untuk keluar kelas, hanya Sherill dan Gadis yang ingin ke kantin membelikanku makanan. Sebelum Sherill dan Gadis keluar, tiba – tiba Karel datang.
“Kiranaaa, maafkan aku. Aku sangat menyesal Kirana, tolong maafkan aku.“ Karel berteriak dari pintu, karena dia tidak di izinkan masuk ke kelasku oleh Sherill dan Gadis yang berdiri di depan pintu kelas.
“Kau, nggak bisa ngomongin ini disini bego? Kirana baru masuk, kau sudah membuat keributan.“ Kata Sherill.
Kelvin yang mendengar perkataan Karel, langsung berdiri di dekatku. Dia tidak membiarkanku melihat Karel.
“Tenang Kirana, abaikan saja dia. Aku akan melindungimu.“ Kata Kelvin.
“Kau jangan coba – coba mempengaruhi Kirana brengseekkk.“ Teriak Karel lagi.
“Sudah Karel, kembali saja ke kelasmu. Banyak orang di sini, jangan bikin malu deh.“ Kata Dinda yang berjalan menuju Karel.
Semua mata yang ada di kelas memandangi kami, mereka sepertinya heran. Kenapa aku bertengkar dengan Karel. Di kelas memang masih banyak yang belum ke kantin. Karel terpaksa pergi karena sudah di usir oleh teman – temanku. Aku tidak bisa menatap Karel, aku benar – benar tidak ingin mengingat kejadian itu lagi. Ada Gina disampingku yang juga terus mengalihkan pandanganku.
“Terima kasih semua. Maaf aku merepotkan kalian.“
“Sssstttt kau tidak usah memikirkannya.“ Kata Gina.
“Oh, iya Vin. Dompetmu ada di rumahku, bi Titin menemukannya dibawah sofa, dan aku baru diberitahu tadi pas perjalanan ke sekolah.“ Kataku ke Kelvin.
“Ya ampun aku kira udah bener – bener hilang, kalau gitu aku mampir kalau pulang sekolah.“
“Kalau gitu aku plangnya bareng kamu aja yah. Aku nggak bawa mobil.“ Kataku.
“ Okey Kirana.“
Akhirnya waktunya pulang, disekolah aku sangat was – was. Aku cepat – cepat keluar dari kelas bersama teman – temanku dan juga Kelvin menuju parkiran.
“Aku bareng Kelvin yah guyss, dompetnya ketinggalan di rumahku. Dan aku nggak bawa mobil.“
“Iya, hati – hati yahh.“ Mereka semua berjalan menuju mobil masing – masing.
Kelvin menyalakan mobilnya, segera keluar dari sekolah. Belum jauh dari sekolah, Karel muncul disamping mobil Kelvin. Karel membuka kaca mobilnya.
“Kirana, turun dari mobil itu. Aku masih pacarmu, kau memutuskan hubungan kita sepihak.“ Karel teriak dari mobilnya.
Aku cepat – cepat menaikkan kaca mobil Kelvin, dan mengunci pintu mobilnya.
“Kelvin, gimana ini? “
“Tenang Kirana, kau bersamaku.“ Kelvin menginjak gasnya, dia melajukan mobilnya sangat cepat.
“Karel masih mengejar kita Vin.“
Karel dapat mengejar kecepatan mobil Kelvin, tiba – tiba dia menghadang mobil Kelvin didepan, sehingga Kelvin memberhentikan mobilnya.
“Kirana aku bilang turun kan, aku masih pacarmu. Please, maafkan aku. Aku benar – benar khilaf Kirana, kumohon beri aku kesempatan lagi. Aku berjanji tidak akan berbuat seperti itu lagi.“ Kata Karel yang berusaha membuka pintu mobil Kelvin.
“KITA PUTUS, aku tidak bisa bersama orang seperti kamu lagi Karel, kau sudah menghancurkan apa yang sudah kita bangun selama ini.“ kataku menurunkan sedikit kaca mobil Kelvin.
“Tidak Kirana, Pleaseee !!! Kamu turun dan kita bicara berdua baik – baik. Karel terus memohon.
“Vin? “ Aku melihat ke arah Kelvin.
“Terserah kamu Kirana, kamu mau turun atau gimana?“ Kata Kelvin.
“Aku nggak mau Vin, aku nggak mau bicara dengan dia.“ kataku dengan nada pelan.
“Kalau gitu kamu bilang ke Karel, kamu akan turun dan suruh Karel menjauh dari pintu.“ Kata Kelvin.
“Hah, tapi?“ Tanyaku bingung.
Aku melakukan apa yang Kelvin katakan, membuka pintu mobil dan tiba – tiba Kelvin menutupnya lagi, memundurkan mobilnya, dan kembali melajukan mobilnya dengan sangat cepat hingga kita kabur dari Karel.
“Hahahah, apa yang kau lakukan sih Vin? “
“Kita harus kabur dari cowok gila itu kan ? hahahah.“
Kelvin tertawa sangat puas karena berhasil membodohi Karel. Kulihat ke belakang tidak ada mobil Karel. Kelvin melajukan pelan mobilnya dan mengendarai mobilnya seperti biasa. Ku kira sudah aman, tapi tiba - tiba ku lihat mobil Karel dari arah sebaliknya dia juga melajukan mobilnya sangat cepat yang akhirnya dia menabrak mobil Kelvin yang mengakibatkan beberapa pengendara lainnya juga ikut tertabrak dijalan itu. Kulihat dengan samar kepala Kelvin bercucuran darah, ku panggil dia tapi dia tidak menyahut, kepalaku sangat pusing, mataku sakit.
-----
Aku terbangun dirumah sakit, kudengar ada suara mama, papa, dan juga teman – temanku. Aku perlahan membuka mataku tapi aku tidak bisa melihat apapun. Sepertinya hari itu, hari yang sangat sial bagiku. Seandainya saja aku belum masuk sekolah, semua ini pasti tidak akan terjadi. Tidak kusangka Karel nekat menabrakkan mobilnya.
“Maa, Paa kenapa Kirana nggak bisa melihat apapun? “ aku sangat panik.
“Sayang begini ... kamu mengalami kebutaan karena serpihan kaca yang masuk dimatamu dan benturan yang sangat keras dibagian kepalamu.“ Papa mendekatiku dan memelukku.
“Nggak, ini nggak mungkin paa. Maa papa bohongkan Maa? MAMA JAWAB KIRANA DONG. “ Aku mulai menangis berusaha melepaskan pelukan Papa.
Tapi Mama tidak menjawabku, berarti semua itu benar. Sekarang aku seorang gadis yang buta.
“PERGI KALIAN DARI SINI !!! AKU NGGAK MAU ADA KALIANNNN. PERGIIIIIIII !!!!!“
“Tenang sayang, Mama mohon tenanglah. Kau bisa drop lagi kalau kamu teriak seperti ini.”
“ Maa aku nggak bisa lihat mama lagi, aku udah nggak punya kehidupan normal lagi. KIRANA NGGAK MAU SEPERTI INI MAA, NGGAK MAAUUUU... KIRANA BENCI KAREEEELLLL !!!!!!!!
Aku membanting semua barang – barang yang ada didekatku, tanganku mulai sakit. Inpus yang menusuk tanganku saat itu sudah goyang, dan sepertinya tanganku mulai berdarah.
Kudengar semua orang yang ada diruangan itu menangis, mereka mencoba menenangkanku. Aku benar – benar tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa melihat lagi. Kehidupanku yang indah dulu sekarang sudah sirna.
“Maa, Kelvin dimana? Apa Kelvin baik – baik saja? Dia dimana Maaa? “ tanyaku.
“iya dia baik – baik saja sayang, dia memiliki luka jahit dikepalanya akibat serpihan kaca. Sebentar lagi dia akan kesini.” Jawab Mama yang masih terisak sambil memelukku.
“Papa nggak nyangka kalau Karel akan berbuat senekat itu. Papa akan menuntut anak itu.“ Kata Papa.
“Om, sebaiknya kita jangan bahas itu dulu sekarang. Kasihan Kirana, dia pasti sangat terpukul sekarang.“ Kata Sherill dengan nada yang berbisik ke papaku.
“Kirana, kami sangat bersyukur karena kamu sudah sadar. Kami sangat khawatir denganmu.“ Kata Dinda.
“Terima kasih teman – teman, tapi sekarang aku sudah tidak bisa bermain lagi dengan kalian. ” Kataku yang masih menangis.
“Nggak Kirana, kami masih bisa bermain denganmu. Kami akan selalu bersamamu. Jadi tolonglah jangan bersikap seperti ini. “ Kata Gadis dan mereka mulai memelukku.
“Assalamualaikum.“ kata Kelvin.
“Walaikumsalam.“ kata semua orang yang ada dalam ruanganku.
“Kelvin? Kelvin maafkan aku sudah melibatkanmu didalam masalahku. Maafkan aku sudah membuatmu luka. Kamu baik – baik saja kan?“ kataku.
Mereka yang ada diruangan itu satu persatu keluar kecuali Kelvin, seolah mereka membiarkanku berbicara berdua dengan Kelvin.
“Heii heii.. dengarkan aku baik - baik. Aku nggak papa Kirana, aku sama sekali nggak menyesal telah membantumu. Toh, memang kita bersama dalam mobil aku, mana mungkin aku membiarkanmu pergi bersama Karel, yang sudah aku tahu kalau dia adalah cowok b******k. Jadi aku mohon sama kamu untuk tidak menyalahkan diri kamu sendiri atas kejadian ini.“ Kelvin memegang tanganku berusaha membuatku lebih tenang.
"Benerkan Vin kamu nggak papa?" Aku meraba kapala Kelvin dan menemukan luka jahitnya. Luka jahit yang dimiliki Kelvin cukup panjang, hatiku sangat sakit ketika memegang lukanya. Rasanya aku ingin membunuh Karel saat itu juga.
"Vinnn.. Aku sekarang buta, aku tidak bisa melihatmu lagi.“ Aku mulai menangis lagi.
“Kamu jangan putus asa begitu, kan kita masih bisa mencari donor mata buat kamu. Jadi kamu tenang saja dulu untuk saat ini.“ Kelvin menenangkanku sambil memegang tanganku.
Setelah mendengar ucapan Kelvin, hatiku luluh. Aku mencoba berfikir positif, dan pasti bisa mendapat donor mata. Sekarang aku benar – benar membenci Karel, aku tidak tahu apa yang sudah kulakukan padanya himgga dia nekat berbuat seperti ini. Dia tidak berfikir panjang. Dan sekarang aku tidak tahu bagaimana keadaan dia, ntah dia sekarat dalam kecalakaan yang dia akibatkan sendiri atau dia baik – baik saja sekarang. Aku mendoakannya agar dia juga tidak baik – baik saja.
===