Perbincangan Kelvin dan Karel akhirnya selesai juga, setelah setengah jam mereka berbicara bersama. Meskipun Karel masih ingin melanjutkan perbincangan tersebut, tapi Kelvin meninggalkan Karel begitu saja di depan rumah Kirana.
"Mas Karel maaf yah, bapak tutup pagarnya." Ucap Pak Adi dengan tidak enak hati.
"Oh, iya pak tutup aja. Dan ini aku minta tolong berikan sama Kirana." Ucap Karel sambil memberikan satu kotak sarapan dan bucket bunga Mawar yang sejak tadi dia pegang.
"Eh, tapi Mas..." Ucap Pak Adi yang tahu kalau pemberian dari Karel pasti tidak akan diterima Kirana.
"Aku permisi yah pak Adi, terima kasih sebelumnya." Kata Karel meninggalkan rumah Kirana.
........
Pak Adi masuk sambil membawa apa yang tadi di titipkan dengan dia.
"Non, maaf tapi ini Mas Karel titip untuk non Kirana." Kata Pak Adi dengan wajah ragu.
"Pak Adi ambil aja yah makanannya, trus bunganya kasih bi sri aja biar dia seneng dapt bunga hahaha. Iya kan Kirana?" Kata Kelvin.
"Hehehe iya Pak Adi. Pokoknya Kirana nggak mau apapun dari Karel." Kataku.
"Alhamdulillah Ya Allah heheh double sarapan lagi. Makasih banyak Non." Kata Pak Adi sambil keluar membawa makanan dan bucket bunga dari Karel tadi.
"Kelvin kamu nggak di apa - apain kan sama Karel?" Tanyaku.
"Kirana kenapa pertanyaanmu seperti itu sih? Kamu seperti menilai kalau aku lebih lemah dari Karel, aku sedih tau huhuhu." Jawab Kelvin.
"Eh, nggak gitu Vin. Aku cuma takut aja kamu di apa - apain sama dia. Kamu tau kan perbuatannya bisa sampai membuatku seperti ini, aku takut kalau dia bisa gelap mata lagi." Jelasku.
"Kamu nggak usah khawatirin aku Kirana, aku bisa jaga diri dari orang seperti Karel. Karel belum tau aja gimana jagonya aku berkelahi hahaha." Kata Kelvin lagi.
"Huhhh Kelvin. Terus tadi kamu sama dia ngapain? Kok lama banget sih. Apa yang kalian berdua omongin?" Tanyaku.
"Banyak, tapi nggak ada yang penting kok. Kamu nggak usah fikirin yah, sekarang kamu cukup fokus dengan kesehatanmu dan nggak boleh ngurung diri di kamar lagi." Kata Kelvin dan mengambil tanganku untuk di genggam olehnya.
"Makasih Kelvin. Mungkin kalau kamu nggak datang hari ini, aku masih mengurung diriku di kamar. Terima kasih sudah repot - repot datang ke rumahku sepagi ini." Kataku tersenyum bahagia di hadapan Kelvin.
"Iyaa, kalau gitu aku pulang dulu yah Kirana. Kamu istirahat, dan jangan lupa makan. Okey tuan putri?" Kata Kelvin berdiri sambil mengelus kepalaku dengan lembut. "Tante aku pulang yah, kalau Kirana ngurung dirinya di kamar lagi, telvon aku biar aku marahin."
"Apasih Vin. Hati - hati yah."
Terima kasih Kelvin, karena kalau bukan dengan caranya membujuk aku untuk keluar kamar, mungkin saja aku masih seperti orang bodoh, orang yang sakit keras yang hanya berbaring di tempat tidurku.
———
AUTHOR POV
-SEKOLAH-
Pagi itu suasana sekolah sangat berisik, dan penuh dengan gosip - gosip yang tidak jelas tentang Kirana, Karel dan Kelvin.
"Eh eh eh, denger - denger Kirana katanya habis kecelakaan yah sama Karel dan Kelvin. Katanya Kelvin berusaha ngerebut Kirana tuh dari Karel. Bener begitu Kelvin?" Tanya Carol menatap Kelvin.
"Denger - denger, denger denger apasih? Lo tuh harus tau dulu kebenarannya gimana baru lo ngomongin sekeras itu bodoh." Kata Sherill.
"Lah, makanya kan gue bertanya sama Kelvin supaya tau kebenarannya. Dan kenapa lo juga yang jawab? Orang gue nanya sama Kelvin." Balas Carol mengejek.
"Semua yang lo omongin itu nggak bener Carol." Kata Kelvin yang sejak tadi malas untuk menanggapi omongan Carol.
"Masa sih? Tapi katanya yang lebih parahnya lagi si Kirana buta yah? Duh gadis malang, kasin banget sih. Masa cuma gara - gara cowok sampai buta, gitu tuh kalau jadi cewek yang kecentilan. Dapat batunya kan hahahah." Ucap Carol tertawa sangat puas.
Kelvin dan teman - teman Kirana yang mendengar hal itu sangat marah. Kelvin berdiri dan hendak mendatangi meja Carol, tapi di tahan oleh Sherill.
"Udah nggak usah Vin, lebih baik orang kayak dia nggak usah di tanggepin. Capek tau." Kata Sherill.
"Iya Vin, kita semua juga yang denger omongan dia sangat marah kok." Kaya Gina.
"Biarin aja Vin, kita semua udah terbiasa dengan ocehan dia." Kata Gadis.
Kelvin yang mendengar itu, mengurungkan niatnya. Dan hanya mengelus dadanya melihat ke arah Carol. Sepertinya Carol sangat puas dengan apa yang di alami Kirana.
"Yahh, kasihan temennya yang paling cantik udah nggak bisa sekolah lagi. Sekarang udah jadi gadis buta." Kata Carol lagi memancing keributan.
Karel yang tidak sengaja lewat di kelas Kirana mendengar perkataan itu dari luar jendela, dan masum mengampiri Carol.
"Hei, cewek kurang ajar. Apa yang barusan kau bilang hah? Coba Lo ulangi lagi di hadapan gue." Kata Karel menatap tajam wajah Carol.
"Kirana udah jadi gadis butakan Rel. Apa gue salah? Kenapa Lo masih belain dia sih. Apa jangan - jangan Lo suka yah sama gadis buta?" Tanya Carol.
Praaaaakkkkk....
Karel menampar wajah Carol. Semua mata tertuju tepat di tempat Carol dan Karel bicara.
"Hhhaaaaahhhhhh, wah Karel jahat banget sih." Teriak Dinda sambil sedikit tertawa.
"Sekali lagi Lo bicara hal buruk tentang Kirana, gue nggak akan segan - segan mukulin Lo lagi, ingat itu cewek brengsek." Kata Karel dengan nada yang sangat besar.
Beberapa anak kelas lain juga menyaksikan apa yang terjadi saat itu, dan mengelilingi jendela kelas Kirana, mereka berusaha untuk mengetahui apa yang terjadi. Dan tidak lama setelah itu guru - guru pun mulai berdatangan.
"Eh Ada apa ini? bubar - bubar"
"Nggak ada apa - apa kok bu pak, jangan khawatir."
Kata beberapa anak yang berada di luar dan Karel pun beranjak pergi dari kelas Kirana yang masih menahan emosi.
"Sakit yah? Kasian... makanya jangan suka ngomong sembarangan, tambah merah kan itu pipi. Hahahah." Dinda menyahut di tengah keributan itu.
"Sini - sini pipi kamu Din, aku elus - elus biar nggak sakit. Uhh kasiaannn... Hahhahah." Kata Gina membalas perkataan Dinda yang mengejek Carol sambil memegangi pipi Dinda.
"Hahahahha kasian." Beberapa yang ada dikelas menertawakan Carol.
"DIAM DEH KALIAN !!! Tunggu saja apa yang akan ku lakukan sama kalian dan sahabat kalian yang buta itu." Ucap Carol yang masih memegangi pipinya.
"Coba aja lo macem - macem sama Kirana, lo nggak hanya dapat tamparan di pipi lo itu, tapi bisa lebih parah lagi." Ucap Sherill.
Nggak lama setelah itu, guru yang mengajar di kelas Kirana pun masuk untuk mengajar. Suasana belajar di mulai seperti biasanya.
“Sherill, setelah jam pelajaran selesai kamu ikut ibu ke ruangan guru yah.” Kata Wali Kelas.
“Oh, iya siap bu.” Balas Sherill.
“ssssttt, ada apa yah? Kok lo di panggil ke ruang guru sih Rill?” Tanya Gadis.
“Lah, nggak tau juga gue. Mungkin mau ngomongin soal Kirana kali.” Jawab Sherill.
Begitu jam pelajaran selesai Sherill dan teman – temannya yang lain berjalan ke ruang guru.
“Eh, kalian tunggu aja di sini, nanti ibu marah kalau kita banyak kayak gini.” Kata Sherill.
“Iya iya, cepetan yah Rill. Kita penasaran nih.” Kata Dinda.
“Iyaaaa.” Sherill pun masuk ke ruang guru.
“Siang bu, ada apa yah ibu manggil saya kesini?” Tanya Sherill.
“Duduk nak.” Kata Ibu aisyah wali kelas sambil mempersilahkan Sherill duduk.
“Gini Sherill, ibu mau tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi sama Kirana. Karena ibu dengar – dengar dari anak – anak sekolah ini katanya Kirana buta gara – gara Karel. Ibu nggak bisa tenang kalau salah satu murid ibu mengalami hal semacam itu, dan ibu sama skali nggak tau.”
“Duh, maaf yah ibu. Tapi sepertinya ibu lebih baik bertanya ke orang tuanya Kirana, karena Sherill nggak ada hak buat ngasih tau gimana – gimananya bu. Tapi yang ibu dengar itu nggak sepenuhnya salah, dan memang sekarang Kirana buta bu.” Kata Sherill dengan nada sedih.
“Iya sih nak, kemarin ibu coba menghubungi orang tuanya Kirana tapi nggak ada jawaban sama sekali. Apa ibu coba kerumahnya saja yah? Ibu sangat khawatir, apalagi Kirana adalah murid yang sangat berprestasi di sekolah ini.” Kata Ibu Aisyah.
“Mungkin mereka masih sibuk mengurus Kirana bu, mengurus rumah sakit Kirana yang masih belum mendapatkan donor mata. Atau begini saja bu, sebentar aku sama teman – teman mau kerumah Kirana kok, nanti aku coba tanyakan ke Mamanya Kirana gimana baiknya bu.” Kata Sherill.
“Oh, ya udah nak begitu saja. Ibu minta tolong yahh, makasih banyak nak Sherill.” Kata Ibu Aisyah.
“Iya ibu, sama – sama. Kalau gitu Sherill permisi yah bu.” Kata Sherill berdiri dari tempatnya duduk.
Setelah berbincang dengan wali kelasnya, Sherill pun keluar dari ruang guru.
“Gimana Sherill? apa yang ibu bilang?” Tanya Gina.
“Ibu nanya soal apa yang sebenarnya terjadi sama Kirana, apa benar semua karena Karel? Katanya ibu denger dari anak – anak yang lain.” Jawab Sherill.
“Terus Lo bilang apa?” Tanya Gadis
“Yahh, gue bilang apa yang ibu dengar dari anak – anak sekolah ini memang nggak sepenuhnya salah, dan aku nggak ada hak buat ngasih tau ibu gimana rincinya kan?” Kata Sherill.
“Lo bener Sherill, kita semua nggak ada hak. Nanti keluarganya Kirana gimana lagi.” Ucap Dinda.
“Iya terus gue bilang lagi, kalau ntar aku coba bicara ke mamanya Kirana gimana baiknya. Apa dia mau Wali kelas yang kerumah Kirana atau orang tua Kirana yang ke sekolah.” Kata Sherill lagi.
“Kenapa ini semua bisa terjadi sih? Gue nggak habis fikir kemarin – kemarin kita lagi seneng – seneng aja. Kita makan sama Kirana, belajar sama Kirana, pergi bareng Kirana. Hhhuuuuhhhh semua ini benar gara – gara Karel si cowok b***t, b******k yang nggak tau diri itu. Sialaaaannnn.” Teriak Dinda dengan penuh emosi.
“Diiiinnnnn, ini di sekolah jangan terlalu berisik begitu dong. Anak – anak yang lain nanti dengar, dan jadi bahan omongan mereka lagi. “ Ucap Gadis.
“Habisnya gue terbawa emosi, gue kasihan sama Kirana dis hikkss…. Hiikssss… hikssss.” Dinda mulai mengeluarkan air matanya menahan kesedihan mengingat bagaimana penderitaan Kirana sekarang.
“Iya Din, kita semua juga sedih kok. Tapi kita nggak boleh kayak gini di sekolah. Kasihan Kirana kalau dia jadi bahan omongan satu sekolah.” Kata Gina menenangkan Dinda.
Dari ruang guru, Dinda, Sherill, Gadis dan Gina berjalan menuju kantin. Di kantin banyak anak – anak yang memperhatikan mereka dari kejauhan.
“Guysss, sini yuukkk.” Teriak Kelvin yang duduk di meja dekat salah satu penjual bakso yang ada dikantin itu.
“Mereka semua pada kenapa sih? Kok liatin kita gitu amat.” Tanya Dinda. Mereka semua berjalan menuju meja Kelvin.
“Yang aku denger sih, mereka semua penasaran apa yang terjadi dengan Kirana. Ternyata gossip yang di ributin sama Carol tadi semua anak sekolahan udah pada tau.” Jawab Kelvin.
“Tapi mereka semua tau dari mana sih? Kita semua aja nggak pernah ada yang cerita sama anak – anak di kelas.” Jelas Sherill sambil memanggil ibu kantin.
“Tadi aku sempet di tanya sama siapa yah tadi itu. Nggak tau anak kelas mana, katanya apa semua gossip yang mereka dengar itu benar. Dan ternyata ada anak sekolahan kita di tempat kecelakaan aku sama Karel kemarin, dia salah satu korban tabrakan waktu itu. Dia juga di bawa kerumah sakit yang sama saat itu, dia nggak sengaja denger kalau Kirana buta.” Kata Kelvin.
“Hahhhh? Yang bener??? Yang mana anaknya?? Duh jangan – jangan dia lagi yang nyebarin gossip.” Tanya Gina.
“Aku nggak tau dia anak kelas mana, tapi kalau aku liat wajahnya lagi pasti aku bakalan inget kok. Tapi kayaknya dia nggak ada maskudu buat nyebarin gossip itu deh. Mungkin aja kan dia ditanya sama teman kelasnya kenapa dia luka – luka seperti itu dan dia hanya menjawab pertanyaan temannya, bisa aja kan kayak gitu.” Jelas Kelvin lagi sambil meminum jus jeruk yang ada di depannya.
“Iya juga sih, bener kata Kelvin. Kita nggak bisa nyalahin dia, tapi memang mungkin awalnya gara – gara itu jadi tersebar dan jadi bahan gossip satu sekolah. Belum lagi yang di gossipin adalah Kirana. Yah pasti mereka sangat penasaran.” Kata Sherill.
“Terus gimana dong sekarang, kalau ada yang kepo banget terus nyari info sampai ke akar – akarnya gimana? Nanti masalah yang itu juga malah satu sekolahan tau. Guee nggak mauuuuu.” Kata Dinda mulai khawatir.
“Diinnn, itu semua nggak akan terjadi. Kita harus membuat itu semua nggak boleh terjadi. Yang tau itu kan Cuma kita semua, kita harus jaga rahasia itu baik – baik.” Kata Gadis
“Sampai segitunya yah, anak – anak disini? Kasian Kirana.” Kata Kelvin.
“Vin, lo nggak tau seberapa dikenalnya Kirana sama satu sekolahan. Dan kalau mereka pada tau apa yang sebenarnya terjadi pasti Karel nggak akan sekolah di sini lagi, dan kalau Kirana tau satu sekolahan tau apa yang terjadi dengan dia, dia pasti bakalan sedih banget kita semua nggak mau kalau Kirana sedih lagi.” Kata Gadis.
“Tadi pas anak itu nanya ke gue, sumpah gue malas banget tau nggak sih buat jawab. Yah, gue tau mungkin dia peduli sama Kirana, tapi gue ngerasa nggak bisa aja buat ngejelasin semua ke dia.” Kata Kelvin.
“Iya sih Vin, lebih baik lo nggak usah jawab. Tapi lo nolaknya baik – baik. Takutnya mereka makin curiga dan membenarkan apa yang Caroll bilang tadi pagi.” Kata Sherill.
“Hmmm.” Kelvin menghela nafas.
Mereka semua menghabiskan waktu isitirahatnya dan melajutkan hari itu dengan sangat melelahkan.