KIRANA POV
Siang itu, aku sedang berdiri dibalkon depan kamarku menghirup udara siang yang tidak terlalu panas. Aku mencoba merasakan apa yang ada di luar sana melalui pedengaranku. Sudah hampir 2 minggu aku menjalani hidup sebagai Kirana yang tidak bisa melihat. Sesekali aku meyakinkan diriku bahwa bukan hanya aku yang menderita seperti ini, masih banyak orang – orang di luar sana yang lebih menderita disbanding aku, jadi aku harus menguatkan diriku. Aku nggak tau harus melakukan apa untuk menghabiskan waktuku seharian di rumah, aku belum terbiasa dengan semua ini.
“Maaaa Mamaaaa.” Aku ingin keluar dari kamarku dan turun ke bawah menunggu teman – temanku datang.
“Mama kemana sih? Biiii bii sriiii…. Panggilku. Pada kemana sihh?
Aku mencoba keluar kamar dan menuruni tangga sendiri karena mama dan Bibi tidak mendengarku. Mungkin mereka lagi pada sibuk dibawah.
“Loh, kok bisa gitu sih Pahh… Terus Kirana gimana… Mama kasian Paa sama Kirana… Kita mau nunggu sampai kapan Pahh kalau nggak ada kejelasan seperti itu… Papa juga yang tegas sedikit dong sama rumah sakitnya, apa Papa nggak kasian sama Kirana… hikkss hikss Maafin Mama yah Paahh, Mama kayak gini karena nggak bisa melihat Kirana menderita seperti itu Paahh… Iya, Pahh jangan lupa makan siang yahh.. Assalamualaikum…”
Aku nggak sengaja mendengar obrolan Mama dan Papa di telvon. Aku yang mendengar itu semua berusaha tegar dan aku pura – pura nggak mendengar obrolan Mama dan Papa saat itu. Aku juga kasian sama Mama, dia pasti sangat sedih melihatku begini. Maafin aku yah Maa, aku nggak bisa ngejaga diri aku.
“Eh, nak sejak kapan kamu di situ? Kamu turun sendiri? Hah?” Tanya Mama yang melihatku duduk di sofa ruang keluarga.
“Iya Maa, aku turun sendiri. Soalnya aku manggilin Mama sama Bibi tadi tapi nggak ada yang denger, jadi aku turun sendiri aja.” Jawabku.
“Ya ampun maafin Mama yah nak, Mama sama skali nggak denger kamu. Dan mungkin Bi Sri lagi sibuk masak di dapur makanya dia juga nggak dengar.” Kata Mama memegang tanganku.
“Dih apaan sih Mama, nggak usah minta maaf gitu. Kirana kan juga lagi belajar mandiri, meskipun aku nggak bisa liat tapi Kirana harus biasain diri Kirana untuk bisa melakukan semuanya sendiri.” Kataku sambil tersenyum.
“Huuhuhuuhuuu… Kirana kamu membuat Mama bangga, kamu sabar sedikit lagi yah nak sampai donor mata kamu ada.” Mama menangis lagi.
“Maa, Mama nggak usah terlalu fikirin itu yahh. Mama jangan terbebani dengan semua itu, Kirana nggak mau kalau Mama terlalu sedih, kalau Mama sedih Kirana juga ikut sedih. Sekarang Kirana, insyaAllah bisa menerima semua takdir yang diberikan Tuhan ke Kirana dengan ikhlas, Mama cukup berada disampingnya Kirana saja, tanpa harus bersedih.” Kataku menyandarkan bahuku ke Mama, meneteskan air mata.
“Hmm Ya Allah terima kasih banyak engkau telah memberikan seorang anak yang sangat sabar seperti ini. Mama janji Mama bakal usahain untuk tidak menangis lagi.” Kata Mama sambil memelukku.
Nggak lama setelah aku ngobrol panjang lebar sama Mama, teman – temanku pun datang.
“Assalamualaikuummmm.. Kiranaaaa..” Panggil Dinda.
“Iya, walaikumsalam.” Aku bangun dari sandaranku dan menghapus air mataku.
“Duh teman – teman kamu sudah datang, gimana nih nanti mata Mama sembab lagi hahaha.” Kata Mama tertawa sambil mengusap air matanya.
“Hahah Mamahh.. Sini aku hapusin air matanya.” Kataku sambil meraba wajah Mama. Ternyata sangat berlinang air mata.
“Kami masuk yahh tantee.” Teriak Sherill dari depan pintu.
“Iya, masuk aja nakk. Duduk dulu yahh.” Teriak Mama.
Aku berjalan keluar bersama Mama menyambut teman – temanku.
“Haii guysss. Makasih yahh udah mau mampir lagi, padahal aku tau pasti kalian capek banget pulang sekolah.” Kataku
“Dih, lebay deh Lo.. Kan kita juga bisa rebehan disini kalau kami mau, kan udah kayak rumah sendiri, iyakan tante?? Hahaha.” Kata Gadis.
“Iya.. iyaa terserah kalian mau ngapain.” Kata Mama. “Tante keatas dulu yah, kalian main aja. Nanti Bi Sri bawain kalian cemilan.” Kata Mama lagi.
“Eh, Tante tunggu duh aku hampir lupa lagi.” Kata Sherill.
“oh, kenapa nak?” Tanya Mama.
“Gini tante, tadi aku dipanggil wali kelas. Katanya khawatir sama keadaan Kirana, mau berbicara bagaimana baiknya dengan sekolah Kirana, dan kalau tante nggak keberatan dia mau mampir kerumah tante atau tante yang kesekolah.” Jelas Sherill.
“Ya ampun, saking sibuknya tante sampai lupa harus ngabarin sekolah kalian. Nanti tante saja yang datang kesekolah untuk bicarakan semuanya, sampaikan sama wali kelas kalian yah.” Kata Mama.
“Okedeh kalau gitu tante, besok Sherill kasil tau wali kelas.” Kata Sherill.
“Makasih yahh Nak.. Kalau gitu tante naik dulu sayang. Kirana have fun yahh nak.” Kata Mama mengelus rambutku.
“Iya Maahh.” Kataku.
Semenjak kecelakaan yang terjadi padaku, kehidupanku menjadi sangat berubah. Bahkan Mama juga menjadi dua kali lipat kesibukannya. Belum urusan kantornya, rumah, dan sekarang aku yang harus di jaga dengan lebih ekstra. Dan lagi sekolahku yang ntah bagaimana jadinya. Mama sangat sabar dalam menghadapi semua ini. Semoga saja Mama selalu diberi ketabahan dan kesehatan.
“Eh, Naa tadi si Carol bikin keributan tau di kelas. Mana masih pagi lagi.” Tiba – tiba Dinda menyahut.
“Dindaaaaa. Lo tuh yahh, cckckckk.” Kata Gadis dengan nada sedikit tinggi.
“Ya Ampun. Maaf gue tiba – tiba inget, gue keceplosan. Maafin gue huhuhu.” Kata Dinda lagi.
“Kenapa sih? Nggak papa cerita aja, nggak usah kalian tutupin gitu dong.” Kataku.
“Duh nggak usah deh Naa, nggak penting juga kok.” Kata Sherill.
“Aku udah penasaran tau. Jangan bikin aku penasaran deh, Cerita aja.” Kataku. Aku memang orang yang sangat nggak suka penasaran. Pasti kebanyakan orang juga seperti itu sih.
“Lo sih Din. Tuh mulut lo emang paling nggak bisa di jaga.” Kata Gina.
“Maaf.” Kata Dinda sedikit memelas.
“Lo aja Sherill yang cerita.” Kata Gadis
“Hmm, jadi gini Naa. Tadi pagi tuh si Carol teriak nggak jelas, ngasih tau ke anak – anak gimana keadaan lo sekarang, yahh kayak ngejek gitu deh yahh. Lo tau kan gelagat si Carol kalau udah ngejek, ngeselin banget tau nggak sih.” Jelas Sherill.
“Ohh, gitu.. Terus respon anak – anak gimana?” Tanyaku.
“Tuh kan, ini nih yang gue takutin kalau kita cerita sama Lo. Kita takut Lo bakalan stress mikirin ini. Pokoknya lo nggak usah fikirin ini yahh Naa.” Kata Gina.
“Iyaa, nggak kok. Aku Cuma mau tau responnya anak – anak yang lain gimana.” Kataku.
“Mereka semua tercengang tau, mereka mungkin juga masih bertanya – tanya sampai sekarang. Dan yang lebih parahnya lagi,waktu Carol teriak – teriak nggak jelas gitu, Karel nggak sengaja lewat, dan dia marah banget denger Carol bicara buruk soal Lo, Karel sampai nampar Carol. Kejadiannya sampai di dengar oleh kelas lain, mereka semua berdatangan menonton dikelas kita, duhh pokoknya masih pagi udah geger aja.” Kata Sherill menceritakan semuanya dengan menggebu – gebu.
“Hah, sampai di tampar???” Tanyaku.
“Iya Naa. Duhh waktu dia tampar gue puas banget tau nggak sih, pipinya makin merah. Udah blush onnya tebel, di tambah lagi tamparan dari Karel ahahhahaha.” Kata Dinda tertawa sangat puas.
“Huussshhh, nggak boleh gitu tau. Kan Kasian pasti sakit banget tuh.” Kataku.
“Ish, Kirana kok Lo malah kasian sih sama Carol, dia pantas tau dapat itu. Makanya nggak boleh suka ngomong sembarangan. “ Kata Gina.
“Yahh, begitu lah Kirana. Sepertinya sifatnya masih saja nggak berubah, dia emang super baik hahahah.” Kata Gadis.
“Tapi kenapa Karel ngelakuin itu sih, aku bingung sama Karel. Kenapa dia masih ngebela aku, sementara yang membuat semua ini penyebabnya karena dirinya sendiri.” Kataku bertanya – tanya.
Di sela – sela pembicaraanku dengan teman – temanku Bi Sri datang membawakan makan siang untuk mereka.
“Mungkin Karel udah sadar kali Naa. Makanya dia sampai ngelakuin itu, dia nggak mau ada seorang pun berkata jelek tentang kamu.” Kata Sherill.
“Haahh, aku nggak tau lagi deh. Bingung banget.” Kataku.
Siang itu seperti biasa, teman – temanku menghabiskan waktu dirumahku dan mereka pulang saat menjelang sore. Aku benar – benar bersyukur mempunyai mereka.
____
Malamnya, aku kedatangan tamu yang benar – benar aku nggak mengharapkannya datang. Karel datang bersama Mamanya. Aku sudah cukup mengenal Mamanya, dan orang tuaku pun juga cukup mengenal orang tua Karel. Pas di hari Mama dan papa aku tau kalau aku buta, ternyata mereka sempat menelfon orang tua Karel marah – marah, dan minta pertanggung jawaban atas apa yang sudah anaknya lakukan sama aku. Aku tau Mamanya Karel pasti tidak menyangka kalau anaknya akan berbuat senekat itu. Orang tua Karel ternyata terus saja meminta maaf ke orang tuaku.
Kudengar dari ruang keluarga Tante Diana (Mama Karel) bilang bahwa Karel sangat menyesal atas apa yang diperbuatnya dan dia ingin memperbaiki semuanya.
“Karel saat itu khilaf, Karel sangat takut kalau Kirana direbut oleh temannya yang bernama Kelvin.” Kata Tante Diana.
“Bukannya aku membela anakku sendiri, aku tau kalau perbuatannya sangat tidak bisa dibenarkan, tapi aku datang kesini benar – benar ingin meminta maaf ke kalian semua dan juga Kirana. Dan kejadian kemarin harus bisa dijadikan pelajaran.” Kata Tante Diana lagi.
“Begini yahh bu, bukannya kami nggak mau maafin. Tapi kami sekeluarga sangat butuh waktu, dan amarahku terhadap anak ibu belum bisa reda. Sekarang saja saya masih menahan untuk memukulnya. Kalau saja saya tidak ingat apa yang dikatakan anak saya, saya tidak akan mengijinkan anda dan anak anda masuk kerumah kami.” Kata Papa.
“Ibu bisa seenaknya saja minta maaf, coba kalau anak ibu merasakan apa yang Kirana rasakan. Kirana buta karena sikap kekanak- kanakan anak anda. Dan apa ibu juga sudah tau kalau anak ibu, sempat melecehkan anak saya???” Kata Mama dengan penuh amarah.
“Apa??? Apa benar itu Karel???” Tanya Diana ke Karel.
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Karel.
“Kamu benar – benar bikin Mama malu Karel. Kamu memohon – mohon agar Mama menemanimu datang kesini, tapi apa yang sudah kamu lakukan.” Kata Mama Karel dengan Nada tinggi.
“Duhh, maafkan sy Bu Pak, saya benar – benar tidak tau kalau anaknya berbuat seperti itu. Maafkan saya, lebih baik saya permisi saja, saya sangat malu harus bertatapan dengan kalian. Sekali lagi saya minta maaf, tolong sampaikan juga ke Kirana kalau saya meminta maaf dengannya.” Kata Mama Karel lagi.
“Tapi Maaa.. Aku mau baikan sama Kirana, aku nggak bisa hidup tanpa Kirana Maa.. Om Tante tolong maafin aku, aku janji untuk menemani Kirana, aku janji untuk menebus semua kesahalanku sama Kirana. Karel mohon Om.. Tantee..” Kata Karel memohon.
“Kamu jangan begini.. cepat berdiri, kamu nggak perlu berlutut dihadapan kami.” Kata Papa
Ternyata Karel berlutut memohon maaf ke Mama dan Papaku.
“Maaa, tolongin aku maa.. Aku ingin bersama Kirana lagi.. Kiraaannaaaaaa maafiiinnn akuu please kita sama – sama lagi…” Teriak Karel memanggilku.
“Berdiri kamu, kamu tuh yahh benar – benar bikin malu Mama. Jangan begini Karel, sadar kamu nakk. Ayo kita pulang sekarang, tenangin diri kamu dulu.” Kata Mamanya Karel yang sudah mulai menangis.
“Iya, lebih baik kalian pulang saja. Bukannya kami tidak menghargai Kalian, tapi kamu sangat butuh waktu untuk memaafkan kalian. Kami mohon pengertian anda, dan untuk kamu Karel kalau kamu memang sangat menyesali apa yang kamu perbuat, lebih baik kamu tenangin saja diri kamu dan mulai memperperbaiki dirimu. Kalau memang kamu berjodoh dengan anakku kamu pasti akan bertemu lagi suatu saat nanti.” Kata Papa menenangkan Karel.
“Kalau begitu kami permisi dulu. Ayo Karel.” Mamanya Karel sudah tidak berkara apa – apa lagi, dia sudah tidak bisa membendung air matanya melihat anaknya seperti itu. Aku yang berada diruang tengah juga ikut menangis mendengar semua perbincangan mereka. Rasanya hatiku sakit sekali melihat orang tua menangis akibat anak – anaknya yang tidak bisa menjaga diri dan menjaga sikapnya.
Setelah perbincangan yang cukup lama, dan keributan yang dibuat Karel akhirnya mereka pulang. Aku kasihan sama Mamanya Karel, dia sampai mengeluarkan air mata dan menahan malu karena perbuatan anaknya.
Selama aku berpacaran dengan Karel, kami sama sekali tidak pernah berdebat atau pun bertengkar hebat. Karel yang ku kenal adalah orang yang sangat baik. Seperti yang pernah ku katakan dia sangat sayang padaku, setelah ini semua terjadi, dia orang yang sangat romantis, yang sangat mengerti aku, dia selalu membuktikan kalau dia suka dan sangat jatuh cinta denganku. Bagiku selama ini Karel memahamiku, aku bahagia bersamanya.Tapi tiba – tiba dia berubah, yang dia perbuat kemarin membuatku sangat takut dengannya, dia sudah mulai menyentuhku dan bahkan memukulku. Belum lagi orang tua kami sudah mengenal satu sama lain. Aku bertanya – tanya pada diriku sendiri, apa yang salah?? apa benar Karel berbuat seperti itu karena takut kehilanganku?? Atau hanya obesesi semata?? Atau karena kami sudah berpacaran lama?? Dan setelah berbuat semua itu dia datang lagi memohon maaf, apa dia tidak sadar dengan apa yang dia perbuat?? Aku benar – benar bingung dengan semua ini.