PART 1

973 Words
Louisa merapikan kancing bajunya. Dia menatap tampilannya dalam cermin. Ibunya akan menautkan alisnya hingga menukik kalau saja dia sedang berada di dekat Louisa sekarang. Dan semua adalah karena Louisa gemar memakai celana denim dengan sobekan besar di mana-mana seperti sekarang ini. Louisa tertawa pelan. Dia merindukan Ibunya yang sekarang lebih banyak bepergian dengan Ayahnya. Louisa mengikat tali sepatu ketsnya lalu keluar dari kamar hotel yang ditempati nya. Sengaja dia tidak menginap atau singgah sementara di rumah Isabela karena dia tahu, Isabela membutuhkan banyak istirahat karena hasil pemeriksaan dokter sore itu memberitahukan bahwa Isabela tengah hamil 5 minggu. Louisa yakin selain istirahat yang cukup, Isabela pasti membutuhkan waktu lebih banyak dengan Mateo. Louisa tidak tahu kondisi wanita hamil itu akan seperti apa, tapi sedikit banyak dia tahu bahwa wanita hamil membutuhkan kebersamaan dengan pasangan mereka dengan durasi yang lebih banyak. Seperti Elena Giuliano, sepupunya yang lain yang menempel erat pada suaminya Ansell saat dia hamil anak pertamanya. Louisa melangkah keluar dari kamarnya. Sejenak dia terpaku di depan pintu. Tangannya terulur mengambil selembar tisu dari tasnya. Louisa mengusap gagang pintu dengan tisu hingga dia menunduk untuk memastikan bahwa gagang pintu itu benar-benar bersih sebelum akhirnya dia menariknya dan keluar. Louisa melakukan hal yang sama pada gagang pintu sebelah luar sebelum dia mengunci pintu itu. Louisa melangkah sepanjang koridor dan memasuki lift untuk turun ke lantai dasar. Louisa terlihat keluar dari halaman hotel dan berjalan di sepanjang pedestrian menuju pusat event. Louisa akan memulai hari pertama event dengan menjalankan rencana yang sudah disusun jauh-jauh hari dengan para karyawannya. Mereka akan mengajukan penawaran pada banyak perusahaan besar. "Lou..." Louisa menoleh dan mendapati asistennya datang tergopoh ke arahnya. "Ada apa? Apa aku terlambat?" Louisa menatap jam di pergelangan tangannya. Asistennya yang bernama Juliet Rose itu menggeleng. "Seseorang dari kapal pesiar yang bersandar di dermaga meminta tanggapan tentang komplain pembelian anggur mereka kemarin." Louisa mengernyit. "Apa nama kapalnya?" "Faith Star." Juliet mengeja nama yang dia baca dari ponsel pintarnya. "Okay. Aku akan turun langsung ke sana. Kau teruskan pekerjaanmu." Louisa berbalik hendak melangkah. "Jangan lupa tisu dan cairan antiseptik mu, Lou." Louisa tertegun dan meraba tasnya sesaat kemudian."Aku membawanya di tasku, Juliet. Terimakasih." Louisa melangkah menjauhi standnya. Sejenak dia berpikir untuk menggunakan taksi. Tapi dia menggeleng. Dermaga memang cukup jauh dari tempat event, tapi menggunakan taksi membuat Louisa sedikit agak khawatir. Akhirnya Louisa melangkah perlahan. Setelah seratus meter dia menyerah dan memutuskan menaiki sebuah bus dan duduk dengan canggung. Dia mendekap erat tasnya. Menatap sekelilingnya tajam dan berharap dia segera sampai ke dermaga. Louisa merutuk keringat dingin dan tubuhnya yang gemetar saat dia naik bus itu. Berulangkali Louisa menghembuskan napasnya perlahan. Lalu bagaikan rusa liar yang tengah dilanda kecemasan, Louisa melompat cepat keluar dari bus saat bus itu berhenti di sisi dermaga. Louisa berjalan cepat memasuki dermaga dan menatap satu persatu kapal yang bersandar. Langkah Louisa terhenti sesaat kemudian saat dia berada di depan sebuah kapal besar berwarna putih bersih bertuliskan Faith Star. Kapal itu sangat mewah dan megah. "Nona Louisa Devonshire?" Louisa mendongak dan mendapat seorang crew kapal menghampirinya. Baju pria itu putih bersih dengan pin berkilat lambang Faith Star. "Kami sudah menunggu anda." "Maaf sedikit terlambat." "Tidak masalah. Mari aku tunjukkan tempat penyimpanan anggur kami." "Baiklah." Louisa mengikuti pria itu. Mereka naik ke atas kapal dan berjalan di sepanjang dek kapal yang sangat luas itu. Setelah beberapa saat berjalan, mereka menuruni sebuah tangga menuju ruang bawah kapal. Sebuah tempat penyimpanan anggur yang sangat mewah menyapa mata Louisa. Tempat itu nyaris sama dengan yang dimiliki keluarganya di New York. Kapal pesiar dengan penyimpanan anggur berkualitas yang sangat mewah. Hanya orang-orang dengan pengetahuan tentang anggur yang baik, yang rela membuat tempat seperti ini. "Ada beberapa botol sepertinya tidak sesuai daftar yang kami minta Nona. Kami sudah memisahkannya di sebelah sana." Pria itu menunjuk sebuah peti kayu di depan rak yang tinggi. Mereka melangkah ke arah peti... "Jake, kami membutuhkan bantuanmu di atas sini." Louisa dan pria bernama Jake itu menoleh. Seorang pria lain terlihat melongok dari lantai atas ke arah mereka. "Nona sepertinya aku harus meninggalkanmu sebentar." "Tidak masalah. Aku tahu apa yang harus aku kerjakan." Louisa tersenyum maklum dan pria bernama Jake itu berlalu darinya. Louisa menatap sekelilingnya sekali lagi. Menghela napas lega karena melihat tempat itu cukup steril. Louisa bergerak menghampiri kotak anggur lebih dekat dan membuka penutupnya. Segera saja dia larut dalam pekerjaannya. Berulangkali Louisa mengangguk setelah mencatat beberapa kesalahan pengiriman yang dilakukan anak buahnya. Louisa berpikir, mereka pasti sangat kelelahan setelah perjalanan jauh dari New York ke Napoli. Jadi kesalahan seperti ini sangat wajar terjadi. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana tidak menjadikan hal itu sebuah kebiasaan. Louisa merasa dia bersalah karena anak buahnya pasti tak beristirahat banyak karena harus mempersiapkan segala hal terkait event dan... "Lou..." Louisa membeku. Dia terhenyak namun tak kuasa bergeming dari tempatnya berdiri. Rasa hangat menjalar ke pipinya. Rasa penasaran menerjang hatinya tapi dia tak kuasa memenuhi rasa penasaran itu dengan hanya sekedar menoleh ke arah sumber suara. Tubuh Louisa terhuyung. Lalu dia merasa dia menjadi gemetar. Bagian kiri tubuhnya terasa aneh seakan ada yang menghujamkan tatapan tajam ke arahnya. Suara yang didengarnya tadi membuat sulur-sulur otaknya terkoneksi dengan cepat. Terlalu cepat hingga menjadi simpul yang rumit dan sulit terurai. Menghasilkan sebuah kebingungan yang seharusnya tak terjadi. Louisa merasa kacau dan...dungu seketika. Louisa menelengkan kepalanya. Melirik seseorang yang baru saja mengacaukan otaknya. Tangan Louisa mencengkeram erat sebuah botol anggur. Iblis itu di sana. Berdiri tegak dengan ketampanan tak tercela. Mengeluarkan feromon yang membuat sekujur tubuh Louisa berkhianat massal. Iblis itu berdiri di sana. Memberikan Louisa tatapan membunuh kepercayaan diri. Merontokkan keyakinan Louisa bahwa dunia ini dipenuhi oleh kuman. Iblis itu... "Louisa? Kau baik-baik saja" Iblis itu dengan suara beratnya... Bertanya bagaimana kabar dirinya? Oh seandainya iblis itu tahu, setahun adalah waktu yang sangat lama untuk melupakan sebuah ciuman. Setahun itu waktu yang sangat lama untuk membuat Louisa mengerti apa makna ciuman itu. Setahun adalah waktu yang sangat lama yang sanggup membuat Louisa memandang dunia sekelilingnya dipenuhi oleh kuman, hanya karena standar kebersihan yang menjadi tolak ukur bagi Louisa bagaikan lenyap ditelan bumi. Tepat setahun lalu. Setelah ciuman itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD