Hubungan kami kembali membaik. Emosi karena melihatnya jalan dengan wanita lain pun sudah lenyap entah ke mana. Dia sedang berusaha mencintaiku, pun aku akan berusaha mempercayainya sepenuh hati. Jika terus dilanda perasaan curiga, hubungan kami berdua malah akan semakin renggang. Sikap Mas Mustafa tetap dingin. Dia hanya mengajak bicara seperlunya saja. Harus selalu aku yang memulai jika ingin mengobrol dengannya. Kutekan ego dan harga diri dengan sering menggodanya. Toh, saat masih belum menikah saja aku berani, bukan? Sekarang pun aku jangan sampai kalah dan mundur begitu saja hanya karena dia belum merespon. Cepat atau lambat, dia pasti luluh. "Mil!" Aku yang tengah mengepel teras langsung menoleh saat mendengar Asep memanggil. "Apa?" Asep tersenyum, lalu turun dari motor dan men

