"Udah sana, jangan ngintilin terus," tukasku, kemudian berlari lagi. Apakah Asep patuh? Tentu tidak. Dia kembali mengejar dan berjalan tepat di belakangku. Aku duduk sebentar di rerumputan dekat kebun untuk meneguk air minum. Begitu juga dengan Asep. Ibu-ibu yang tadi berada di belakang, kini berlalu melewati kami sambil menggoda dan tertawa. "Tim gibah kompak bener," gumamku sembari melihat pada mereka yang bergerak menjauh. "Namanya juga ibu-ibu. Jangankan ibu-ibu, anak muda aja doyan gibah." Asep tertawa kecil. Aku kembali berdiri, lalu menoleh ke belakang. Menunggunya beberapa menit di sini, tapi dia tak kunjung kelihatan. "Lama amat kek siput." Aku kembali menggerutu. "Udah, Mil. Kita duluan aja. Tar juga dia nyusul," saran Asep. Kusentak napas kasar, kemudian mengangguk dan ke

