"Kenapa, Mil? Kamu keliatan beda hari ini?"
"Beda gimana? Sama aja jelek-jelek juga," sungutku sembari terus mengelap meja.
"Nggak boleh gitu. Semua wanita itu pada dasarnya cantik."
"Halah, itu mah kata-kata yang keluar dari buaya."
Aa Toni tertawa. "Pandai-pandailah mensyukuri diri sendiri, Mil. Jangan merasa rendah. Gimana orang mau sadar kelebihan kamu, kalau kamu sendiri insecure begitu. Emang ada yang bilang kamu jelek? Sini, biar kuhajar. Cantik begini dibilang jelek."
"Jeleklah. Buktinya dicampakkan terus," sahutku memelan.
"Halah, itu mereka aja yang rugi. Nggak bisa lihat cewek unik dan langka di depan mata."
"Langka. Emangnya aku hewan yang hampir punah?"
Aa Toni tergelak sambil menghindari kanebo yang kulempar ke arahnya.
"Kenapa, sih, hm? Dari pas datang kamu bete terus?"
Kuhela napas panjang, kemudian duduk di kursi dengan bersandar dinding. "Gebetanku ternyata udah punya calon istri, Aa."
"Mas-mas yang kemarin itu?" Dia menarik satu kursi, lalu ikut duduk di hadapanku.
Aku mengangguk, kemudian menunduk. Melipat kedua tangan di atas meja dan menyandarkan kening di atasnya.
"Pupus sudah harapanku melepas status jomlo."
Aa Toni tertawa, kemudian berdiri ketika mendengar pembeli datang.
"Udah jangan sedih. Stok cowok single di luar sana masih banyak, kok," ujarnya sembari mengusap kepalaku sebentar, lalu pergi mendekati pembeli.
Seharian ini moodku benar-benar tak baik. Meski begitu, aku tetap memasang senyum ramah ketika melayani pembeli. Jangan sampai mereka kecewa dan mual melihat wajahku yang asem bin kecut.
Untunglah, pembeli hari ini cukup ramai. Jadi, aku bisa fokus dengan pekerjaan tanpa harus memikirkan pria tampan itu. Akan tetapi, ketika aku tengah menyiapkan pesanan, fokus mata ini teralihkan ketika Aa Toni mencolek lengan, kemudian memberi kode dengan mata agar aku melihat ke dekat jalanan.
Di sana, motor sport Mas Mustafa sempat berhenti sejenak seraya melihat ke sini tanpa membuka helm, kemudian melaju lagi begitu saja.
"Ngapain dia nengok-nengok ke sini dulu? Pasti mau ngeledekin aku itu," gerutuku kesal, kemudian bergegas mengantarkan pesanan pembeli ke mejanya.
Sekitar pukul lima sore, aku bisa bersantai lagi karena pembeli mulai jarang.
"Mela!"
Aku yang tengah berselancar di dunia maya pun seketika mendongak. Leha dan Minah mendekat dengan senyum riangnya, lalu memelukku bersamaan.
"Kangen tau," rengek Minah.
"Kok, tumben? Kalian nggak kerja?"
"Kerjalah," sahut Leha seraya melepas pelukan, kemudian menarik kursi dan duduk. "Kita kebagian masuk shift pagi minggu ini plus nggak ada lemburan."
"Ooh." Aku mengangguk-angguk.
"Kok, responnya gitu doang? Kamu nggak kangen ketemu kita-kita?" tanya Minah.
"Terus, harus gimana? Guling-guling di lantai gitu?"
"Yaa, minimal nangis terharu, kek," kata minah lagi.
Aku tertawa seraya mencubit gemas pipinya. "Lebay."
"Aa, baksonya dua, ya," pesan Leha, lalu fokus menatapku lagi. "Mana foto gebetan kamu itu. Katanya mau dilihatin ke kita-kita."
"Tau, ih. Ditungguin tapi nggak kirim-kirim," sambung Minah.
"Nggak jadi. Udah punya calon istri dia."
"Hah?" pekik keduanya serempak.
"Set, dah." Aku mengibaskan tangan di depan wajah dengan satu tangan lain memencet hidung. "Bau pete."
Lani dan Minah kembali menarik wajahnya menjauh lagi secara bersamaan, lalu tertawa.
"Dia tuh yang makan pete." Minah menunjuk Leha.
"Lah, kamu juga makan, kok," debat Leha sambil tertawa.
"Udah, udah, jangan ngeributin pete. Nih, dimakan baksonya," ujar Aa Toni seraya meletakkan dua mangkuk bakso di meja. "Mending hibur temen kalian yang lagi patah hati."
"Beres, Aa. Tapi kita makan dulu baksonya."
"Kalian makan aja, ya. Aku mau bantu layanin pembeli dulu," kataku seraya berdiri, kemudian mendekati Aa Toni yang kedatangan beberapa pembeli. Sebelum akhirnya, kembali menemui teman-temanku ketika kedai sepi lagi.
"Udah, Mil. Jangan cemberut terus! Semangat, dong!" ujar Leha seraya memijat lengan kiriku.
"Iya, Mil. Kan, baru calon, belum jadi istri beneran. Maju terus pokoknya, jangan menyerah. Selama janur kuning belum melengkung, itu artinya kamu masih ada kesempatan."
"Bener itu. Maksimalin jurusnya, Mil. Pepet terus!" Leha makin mempercepat pijatannya.
"Tau. Mana Mila yang dulu kita kenal pantang menyerah dan tegar? Pokoknya kamu nggak boleh putus asa. Kita dukung!" sambung Minah yang juga semakin mempercepat dan memperkuat pijatannya di pundak.
"Kasih semangat, sih, kasih semangat. Tapi jangan dipijitin kenceng begini juga, dong. Sakit tauk," protesku seraya menurunkan tangan mereka. "Aku kan mau perjuangin cinta, bukan mau smackdown."
Keduanya tertawa, lalu memelukku bersamaan.
"Kita sayang kamu, Mil. Kita nggak mau kamu sedih-sedih. Kamu itu harus selalu ceria. Ngegemesin tauk."
Aku tersenyum seraya mengusap lengan mereka. "Makasih, ya. Kedatangan kalian benar-benar menghibur."
???
Setelah bertemu dan mengobrol banyak dengan keduanya, perasaanku menjadi lebih baik. Semangat pun kembali menggebu. Minah dan Leha benar-benar bak mood booster. Benar kata mereka, sebelum janur kuning melengkung, aku harus maju terus.
Aku yang baru turun dari ojek pun langsung tersenyum senang, ketika melihat Mas Mustafa sedang duduk di teras rumahnya sambil memainkan ponsel.
Tumben dia nongkrong di luar. Biasanya ngumpet dalam rumah terus.
"Lagi nyantai, Mas?" sapaku dengan ramah.
Dia menoleh, lalu mengangguk dan ... tersenyum?
Wah, ada angin apa gerangan? Tumben-tumbenan dia nggak pasang tampang kecut?
Duuh, nanya apa lagi, ya? Kenapa aku mendadak grogi begini? Ke mana jurus-jurusku?
Aku sempat bingung antara mau masuk atau mendekat padanya. Setelah terdiam bak patung untuk beberapa saat, akhirnya aku memilih masuk saja ke rumah.
Selesai mandi, aku menghampiri Ibu dan Bapak yang sedang asyik menonton televisi berdua ditemani sepiring pisang goreng, kopi dan teh.
"Geser-geser." Aku menyelinap duduk di antara keduanya di karpet. "Bapak sama Ibu itu udah nggak cocok romantis-romantisan. Bikin panas anaknya aja."
Bapak dan Ibu tertawa. Sementara, aku melahap satu pisang goreng dalam sekali suap.
"Kayaknya udah nggak bete lagi, nih, anakmu, Pak," kata Ibu.
"Siapa juga yang bete? Perasaan Ibu doang kali."
"Ngeles aja." Ibu mencubit pipiku gemas.
Aku dengan cepat menelan sisa pisang di mulut, kemudian meneguk teh milik Ibu sampai habis setengahnya. Setelah itu, aku mengubah posisi duduk menghadap Bapak. Bapak kaget ketika pipinya tiba-tiba kutangkup dengan kedua tangan.
"Tatap mata saya," titahku dengan tatapan fokus ke Bapak.
Mata keriput Bapak mengerjap bingung, pisang goreng di mulutnya pun terjatuh.
"Heh, kamu mau ngapain Bapakmu?" Ibu menepuk pundak, tapi aku tak acuh.
"Punya nomor hape Mas ganteng itu nggak? Tolong jawab dengan jujur, Rhoma."
"Punya, Ani."
"Yes!" Aku sontak bersorak riang seraya melepas tangan dari pipinya dan bertepuk tangan. "Kenapa Bapak nggak bilang dari awal? Haduuh!"
"Kamu juga nggak tanya. Ya, Bapak diem aja." Bapak terkekeh seraya mengambil kembali pisang gorengnya yang terjatuh.
"Eladalah, Jum. Kirain ada apa?" Ibu menjewer telinga ini, tapi aku justru tertawa.
"Minta nomornya, Pak," kataku bersemangat.
Bapak memberikan ponsel jadulnya. Dengan cepat kuketik nomornya di ponselku sambil terus tersenyum.
"Makasih, ya, Bapak sayang," ucapku seraya mencubit gemas pipinya.
"Eh, sakit itu pipi bapakmu." Ibu sempat memukul pelan p****t ini sebelum aku pergi menuju kamar sambil melompat-lompat kecil dan tertawa senang.
[Mas]
[Ping!]
Aku mengirimkan banyak pesan singkat seperti itu di wanya, tapi centangnya masih belum berubah biru.
[?]
Aku yang sudah berbaring di ranjang, spontan kembali ke posisi duduk sambil tersenyum senang ketika mendapatkan balasan darinya.
[Lagi apa, Mas?]
[Siapa ini?]
[Siapa, ya? Hayo tebak,] balasku disisipi emot tersenyum dengan pipi memerah.
[Maaf. Saya nggak ada waktu meladeni pesan nggak jelas.]
[Ini aku, Mas. Mila kembarannya Esmeralda.]
[Oh.]
Aku melongo dan mendecak sebal melihat balasan singkatnya.
[Belum tidur, ya, Mas?] Aku tak menyerah mengirimkan pesan.
[Kalau udah tidur, emang bisa bales wa?]
Aku terkekeh pelan. Senang dia merespon pesan meski balasannya ketus.
[Mas nggak capek apa?]
[Capek? Capek kenapa?]
[Capek lari-lari terus di pikiranku,] balasku disisipi emot simbol cinta.
???