Bab 5. Kena PHK

1268 Words
Ayah Gesi memandang Gesi dengan wajah yang marah dan kecewa. Ia tidak bisa menerima bahwa Gesi ingin menikah dengan Fiqi, bukan Ardy. "Gesi, ayah tidak tahu apa yang kamu inginkan," ayah Gesi berkata dengan suara yang keras. "Ardy adalah pria yang baik dan akan membuat kamu bahagia." Tapi, Gesi tidak mau mendengarkan. Ia sudah membuat keputusan untuk menikah dengan Fiqi dan tidak akan berubah. "Ayah, aku sudah membuat keputusan," Gesi berkata dengan suara yang teguh. "Aku ingin menikah dengan Fiqi." Fiqi memandang Gesi dengan wajah yang bahagia dan bangga. Ia merasa bahwa Gesi benar-benar mencintainya dan ingin bersamanya. "Aku juga ingin menikah dengan Gesi," Fiqi berkata dengan suara yang lembut. "Aku akan membuatnya bahagia." Ayah Gesi memandang Fiqi dengan wajah yang marah dan kecewa. Ia tidak bisa menerima bahwa Gesi dan Fiqi ingin menikah. "Tidak akan pernah!" ayah Gesi berkata dengan suara yang keras. "Kamu tidak akan pernah menikah!" Ayah Gesi memanggil satpam dan menyuruhnya untuk mengusir Fiqi dari rumahnya. "Keluarkan dia dari sini!" ayah Gesi berkata dengan suara yang keras. Satpam segera menghampiri Fiqi dan meminta dia untuk meninggalkan rumah tersebut. "Maaf, pak. Anda harus meninggalkan tempat ini," satpam berkata dengan sopan. Tapi, Fiqi tidak mau pergi. Ia ingin melindungi Gesi dan membuatnya bahagia. "Aku tidak akan pergi!" Fiqi berkata dengan suara yang keras. Ayah Gesi memandang Fiqi dengan wajah yang marah dan mengancamnya. "Jika kamu tidak pergi, aku akan memanggil polisi!" ayah Gesi berkata dengan suara yang keras. Gesi memandang ayahnya dengan wajah yang sedih dan meminta dia untuk tidak mengusir Fiqi. "Ayah, jangan!" Gesi berkata dengan suara yang lembut. Tapi, ayah Gesi tidak mau mendengarkan. Ia meminta satpam untuk mengusir Fiqi dengan paksa... Satpam segera menghampiri Fiqi dan mencoba untuk mengusirnya dengan paksa. Tapi, Fiqi tidak mau pergi. Ia berusaha untuk melawan satpam dan tetap berada di samping Gesi. "Aku tidak akan pergi!" Fiqi berkata dengan suara yang keras. Gesi memandang Fiqi dengan wajah yang sedih dan meminta dia untuk tidak melawan. "Fiqi, jangan!" Gesi berkata dengan suara yang lembut. Tapi, Fiqi tidak mau mendengarkan. Ia terus berusaha untuk melawan satpam dan tetap berada di samping Gesi. Saat itu, ayah Gesi memanggil polisi dan melaporkan Fiqi karena dianggap mengganggu ketertiban umum. Polisi segera datang dan menjemput Fiqi untuk dibawa ke kantor polisi... Gesi memandang Fiqi dengan wajah yang sedih dan merasa sangat kehilangan. Ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan Fiqi. "Ayah, apa yang kamu lakukan?" Gesi berkata dengan suara yang sedih. Ayah Gesi memandang Gesi dengan wajah yang keras dan berkata, "Aku hanya melakukan apa yang terbaik untuk keluarga kita." Gesi merasa sangat marah dan kecewa dengan ayahnya. Ia tidak bisa memahami mengapa ayahnya bisa melakukan hal seperti itu. Saat itu, polisi membawa Fiqi pergi dan Gesi hanya bisa memandangnya dengan wajah yang sedih... Keesokan harinya, Gesi mendapatkan kabar bahwa Fiqi telah ditahan oleh polisi karena dianggap mengganggu ketertiban umum. Gesi merasa sangat sedih dan ingin melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Fiqi. Ia memutuskan untuk pergi ke kantor polisi dan mencoba untuk membujuk polisi untuk melepaskan Fiqi... Gesi pergi ke kantor polisi dengan hati yang berat. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi ia harus mencoba untuk menyelamatkan Fiqi. Saat ia tiba di kantor polisi, Gesi langsung menuju ke ruang tahanan tempat Fiqi ditahan. Ia melihat Fiqi duduk di dalam sel dengan wajah yang sedih. "Fiqi!" Gesi berkata dengan suara yang keras. Fiqi memandang Gesi dengan wajah yang sedih dan berkata, "Gesi, aku tidak ingin kamu datang ke sini." Gesi memandang Fiqi dengan wajah yang sedih dan berkata, "Aku tidak bisa meninggalkan kamu, Fiqi. Aku harus mencoba untuk menyelamatkan kamu." Fiqi memandang Gesi dengan wajah yang sedih dan berkata, "Gesi, aku tidak ingin kamu melakukan apa-apa yang berbahaya. Aku hanya ingin kamu bahagia." Gesi memandang Fiqi dengan wajah yang sedih dan berkata, "Aku tidak bisa bahagia tanpamu, Fiqi. Aku harus mencoba untuk menyelamatkan kamu." Saat itu, seorang polisi datang dan berkata, "Nona, kamu tidak boleh berbicara dengan tahanan. Kamu harus pergi dari sini." Gesi memandang polisi dengan wajah yang sedih dan berkata, "Tolong, aku hanya ingin menyelamatkan Fiqi." Polisi memandang Gesi dengan wajah yang sedih dan berkata, "Aku tidak bisa membantu kamu. Kamu harus pergi dari sini." Gesi memandang Fiqi dengan wajah yang sedih dan berkata, "Aku tidak akan menyerah, Fiqi. Aku akan mencoba untuk menyelamatkan kamu." Fiqi memandang Gesi dengan wajah yang sedih dan berkata, "Gesi, aku percaya padamu." Gesi memandang Fiqi dengan wajah yang sedih dan berkata, "Aku akan menyelamatkan kamu, Fiqi. Aku janji." Saat itu, Gesi pergi dari kantor polisi dengan hati yang berat. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi ia harus mencoba untuk menyelamatkan Fiqi... …… Setelah beberapa hari, Fiqi akhirnya dibebaskan dari penjara. Ia merasa lega dan bahagia karena bisa kembali bersama Gesi. Tapi, saat Fiqi tiba di rumah, ia mendapat kabar yang tidak terduga. Ia di-PHK dari pekerjaannya karena dianggap memiliki reputasi yang buruk setelah ditahan oleh polisi. Fiqi merasa terkejut dan sedih. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan karena ia sangat membutuhkan pekerjaan untuk membiayai hidupnya. Gesi melihat Fiqi yang sedih dan segera menghampirinya. "Fiqi, apa yang terjadi?" Gesi bertanya dengan khawatir. Fiqi menunjukkan surat PHK yang ia terima dan berkata, "Aku di-PHK, Gesi. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan." Gesi memeluk Fiqi dan berkata, "Jangan khawatir, Fiqi. Aku akan selalu ada untuk kamu. Kita akan mencari pekerjaan baru bersama-sama." Fiqi merasa sedikit lega karena memiliki Gesi yang selalu mendukungnya. Tapi, ia masih khawatir tentang masa depannya... Fiqi merasa sedih dan kecewa setelah menyadari bahwa ia tidak bisa bahagia bersama Gesi. Ia merasa bahwa kehadirannya hanya akan membawa kesulitan dan penderitaan bagi Gesi. Dengan berat hati, Fiqi memutuskan untuk menjauh dari Gesi. Ia tidak ingin Gesi terus menderita karena kehadirannya. Beberapa hari kemudian, Fiqi mendengar kabar yang membuatnya terkejut dan sedih. Gesi telah menikah dengan Ardy, pria yang dipilih oleh ayah Gesi. Fiqi merasa seperti telah dipukul oleh petir. Ia tidak bisa percaya bahwa Gesi telah menikah dengan orang lain. Ia merasa sedih dan kecewa, tapi juga merasa lega karena ia telah menjauh dari Gesi. Ia merasa bahwa ia telah melakukan hal yang tepat untuk Gesi. Tapi, Fiqi tidak bisa menghilangkan perasaan sedih dan kecewa yang masih ada di dalam hatinya. Ia merasa bahwa ia telah kehilangan kesempatan untuk bersama dengan Gesi... Setelah kejadian itu, Fiqi merasa sangat sedih dan kecewa. Ia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ia telah kehilangan kesempatan untuk bersama dengan Gesi. Untuk melupakan perasaan sedihnya, Fiqi mulai sering mabuk dan berjudi. Ia merasa bahwa dengan melakukan hal tersebut, ia bisa melupakan perasaan sedihnya dan merasa lebih baik. Tapi, kebiasaan buruk Fiqi tersebut mulai membuatnya kehilangan kendali. Ia mulai menghabiskan semua uangnya untuk judi dan minuman keras. Tabungannya yang dulunya cukup besar mulai habis, dan Fiqi mulai merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Ia mulai merasa menyesal karena telah melakukan hal yang tidak bijak. Tapi, ia tidak tahu bagaimana cara untuk menghentikan kebiasaan buruknya tersebut... Dalam keadaan mabuk, Fiqi mengendarai mobilnya dengan tidak stabil. Ia tidak bisa mengontrol mobilnya dengan baik dan akhirnya menabrak di jembatan. Mobil Fiqi terjatuh ke sungai di bawah jembatan, dan Fiqi terjatuh ke dalam air. Ia tidak bisa berenang karena keadaannya yang mabuk. Fiqi mulai tenggelam ke dasar sungai, dan ia merasa bahwa hidupnya akan berakhir di sana. Ia merasa menyesal karena telah melakukan banyak kesalahan dalam hidupnya... Tiba-tiba, Fiqi merasa ada yang menariknya ke atas. Ia membuka matanya dan melihat seorang pria yang tidak dikenalnya sedang menariknya ke tepi sungai. Pria tersebut berhasil menarik Fiqi ke tepi sungai, dan Fiqi merasa lega karena bisa selamat. Ia memandang pria tersebut dengan rasa terima kasih dan ia mulai tak sadarkan diri karena kehabisan tenaga...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD