Bab 6. Kabur dari Kantor Polisi

1086 Words
~~flashback selesai~~ kembali ke kantor polisi dimana Arma ditahan … Arma duduk di ruang interogasi dengan tangan diborgol ke meja. Tatapannya tajam, tetapi ekspresinya tetap tenang. Situasi seperti ini bukanlah hal baru baginya. Namun, yang tidak biasa adalah kedatangan seorang pengacara yang tiba-tiba mengaku akan membantunya. Pintu terbuka, seorang pria dengan jas hitam rapi masuk, membawa tas kerja dan beberapa dokumen. “Arma Dwijaya, saya pengacara Anda,” ucapnya dengan nada tenang. “Nama saya Adrian.” Arma mengernyit. Ia tidak pernah menyewa pengacara. Lagi pula, sebagai agen rahasia, identitasnya seharusnya tidak diketahui orang luar. “Siapa yang mengutus Anda?” tanyanya dengan suara rendah. Adrian tersenyum kecil, lalu duduk di hadapannya. “Anda tidak perlu tahu. Yang jelas, saya di sini untuk mengeluarkan Anda dari tempat ini. Namun, ada satu syarat.” Arma bersandar di kursi, rasa penasarannya tumbuh. “Syarat apa?” Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap mata Arma dengan serius. “Saya tahu siapa Anda sebenarnya. Dan saya membutuhkan bantuan Anda untuk sesuatu yang lebih besar dari ini.” Arma merasakan sesuatu yang berbeda dari pria ini. Ia bukan pengacara biasa. “Saya mendengarkan,” ucapnya, mulai tertarik. Arma menatap Adrian lekat-lekat, mencoba membaca maksud di balik kata-katanya. “Anda bilang membutuhkan bantuan saya. Untuk apa?” Adrian menarik napas perlahan, lalu menyandarkan punggung ke kursinya. “Saya dikirim oleh orang yang sama dengan Anda,” ucapnya tenang. Arma terdiam. Kini semuanya masuk akal mengapa seorang pengacara muncul tiba-tiba, bagaimana dia tahu identitas aslinya. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal. “Jika kita dari pihak yang sama, mengapa saya tidak diberi tahu sebelumnya?” Adrian tersenyum tipis. “Karena misi ini bersifat rahasia, bahkan bagi Anda.” Ia melirik ke arah cermin satu arah di ruangan itu, lalu melanjutkan, “Saya datang dengan perintah langsung. Anda harus keluar dari sini malam ini juga.” Arma melipat tangannya di atas meja. “Apa misinya?” Adrian membuka tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat. Ia mendorongnya perlahan ke arah Arma. “Seseorang mengkhianati kita. Nama Anda dijebak, dan itu bukan kesalahan biasa.” Arma membuka amplop itu, membaca isi dokumen di dalamnya dengan saksama. Matanya menyipit. “Jadi ini bukan hanya tentang saya. Ada permainan yang lebih besar.” Adrian mengangguk. “Dan kita tidak punya banyak waktu. Saya sudah menyiapkan cara untuk membawa Anda keluar.” Arma menatap Adrian dengan ekspresi penuh pertimbangan. Dalam sekejap, ia tahu bahwa kebebasannya bukanlah tujuan akhir, ada sesuatu yang lebih besar yang harus ia hadapi. Malam ini, ia bukan hanya akan melarikan diri. Ia akan memburu kebenaran. Arma menutup amplop itu perlahan, pikirannya berpacu. Jika benar ada pengkhianat di dalam agensinya, maka ia tidak bisa mempercayai siapa pun. “Apa rencana Anda untuk mengeluarkan saya?” tanyanya, masih mempertimbangkan kemungkinan jebakan. Adrian melirik ke arah pintu sebelum menjawab, suaranya lebih pelan. “Saya sudah mengatur segalanya. Dalam lima menit, akan ada gangguan listrik di kantor polisi ini. Begitu lampu padam, saya akan membuka borgol Anda dan membawa Anda keluar melalui jalur yang sudah disiapkan.” Arma menyandarkan punggungnya ke kursi, berpura-pura santai meskipun otaknya bekerja cepat. “Terlalu berisiko. Bagaimana jika mereka mencurigai Anda?” Adrian tersenyum tipis. “Saya sudah memastikan alibi saya kuat. Dan Anda tidak perlu khawatir tentang polisi di sini. Mereka tidak tahu dengan siapa mereka berurusan.” Sebelum Arma sempat menjawab, lampu di ruangan itu berkedip sekali, lalu mati total. Kantor polisi seketika dipenuhi suara kegaduhan dari luar. Adrian bergerak cepat. Ia mengeluarkan kunci kecil dari saku jasnya dan membuka borgol Arma dengan cekatan. “Waktunya pergi,” bisiknya. Tanpa menunggu lebih lama, Arma berdiri dan mengikuti Adrian keluar dari ruangan. Lorong-lorong dipenuhi suara langkah kaki para petugas yang berusaha mengendalikan situasi. Beruntung, dalam kegelapan, mereka bisa bergerak tanpa banyak perhatian. Adrian membawa Arma menuju pintu darurat di ujung lorong. Begitu pintu itu terbuka, udara malam yang dingin menyambut mereka. Sebuah mobil hitam sudah menunggu dengan mesin menyala. “Masuk,” perintah Adrian. Arma melompat masuk ke dalam mobil, Adrian menyusul di sampingnya. Begitu pintu tertutup, pengemudi langsung menekan pedal gas, membawa mereka menjauh dari kantor polisi. Dalam diam, Arma menatap keluar jendela, menyadari bahwa ini baru permulaan. Jika ada pengkhianat di dalam agensinya, maka ia harus mencari tahu siapa. Dan untuk itu, ia harus kembali ke dunia yang selama ini berusaha menjebaknya. “Kemana kita sekarang?” tanyanya, memecah keheningan. Adrian menoleh dengan ekspresi serius. “Ke tempat yang aman. Tapi setelah itu, kita berburu.” Mobil melaju kencang di jalanan yang masih basah akibat hujan. Lampu kota memantul di jendela, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di wajah Arma. Ia masih diam, mencerna informasi yang baru saja diterimanya. Adrian membuka ponselnya dan mengetik sesuatu. “Kita akan ke tempat persembunyian sementara. Setelah itu, saya akan menjelaskan semuanya,” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Arma melirik ke arah pengemudi, seorang pria berperawakan tegap dengan rahang kokoh dan ekspresi dingin. Ia belum mengenalnya. “Siapa dia?” “Raka. Dia orang kita,” jawab Adrian singkat. Raka tetap fokus mengemudi, tidak bereaksi terhadap percakapan mereka. Arma bersedekap. “Jika ada pengkhianat di dalam agensi, bagaimana Anda bisa yakin bahwa tempat persembunyian kita aman?” Adrian menutup ponselnya dan menatap Arma. “Karena tempat itu bukan milik agensi. Itu lokasi yang hanya diketahui oleh saya dan beberapa orang tepercaya.” Mobil berbelok ke sebuah jalan kecil yang gelap dan sepi. Raka menghentikan kendaraan di depan sebuah gudang tua. Pintu besar diangkat perlahan, dan mobil meluncur masuk sebelum pintu kembali ditutup. Begitu mesin dimatikan, Adrian dan Arma keluar. Di dalam gudang, beberapa orang sudah menunggu. Mereka semua tampak waspada. “Selamat datang,” ucap seorang pria berambut cepak dengan suara berat. “Kita tidak punya banyak waktu.” Arma menatap pria itu tajam. “Siapa Anda?” Pria itu menyeringai tipis. “Nama saya Dirga. Dan jika Anda ingin bertahan hidup, Anda harus bekerja sama dengan kami.” Arma menyipitkan mata. Ia tidak suka diperintah, apalagi oleh seseorang yang belum dikenalnya. “Bekerja sama untuk apa?” Dirga melangkah mendekat dan menyerahkan sebuah tablet kepada Arma. “Untuk menemukan siapa yang mengkhianati kita. Dan lebih penting lagi menghentikannya sebelum semuanya terlambat.” Arma menatap layar tablet itu. Sebuah daftar nama muncul, disertai foto dan data pribadi mereka. Salah satu nama di daftar itu membuat napasnya tertahan. “Ini tidak mungkin,” gumamnya. Adrian menatapnya tajam. “Kita butuh kepastian. Dan hanya Anda yang bisa menemukannya.” Arma menggenggam tablet itu erat. Ia tahu, mulai saat ini, setiap langkahnya akan menentukan hidup dan matinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD