Bab 7 . Sahabat sekaligus Mentor

1505 Words
Arma menatap nama yang tertera di layar tablet dengan napas tertahan. Gilang Wicaksana. Nama itu bukan sekadar nama bagi Arma. Gilang adalah salah satu agen terbaik yang pernah bekerja dengannya seorang mentor, sahabat, sekaligus orang yang pernah menyelamatkan nyawanya dalam misi paling berbahaya. Jika Gilang ada dalam daftar ini, berarti ada dua kemungkinan: dia memang pengkhianat, atau seseorang sedang mencoba menjebaknya. “Sejauh mana informasi yang kalian punya tentang dia?” tanya Arma, suaranya dingin. Dirga menyilangkan tangan di d**a. “Cukup untuk mencurigainya. Dia menghilang tanpa jejak sebelum nama Anda muncul dalam daftar buronan. Rekeningnya menunjukkan aktivitas mencurigakan, dan seseorang dari dalam agensi terus menghapus jejaknya.” Arma menghela napas. “Saya butuh lebih banyak bukti sebelum memutuskan apa pun.” Adrian mengangguk. “Itu sebabnya Anda di sini. Anda yang paling mengenal dia. Jika ada orang yang bisa menemukan kebenarannya, itu Anda.” Arma menatap layar tablet sekali lagi. Jika benar Gilang berkhianat, ia harus bersiap menghadapi seseorang yang tahu semua gerak-geriknya. Tapi jika tidak, maka ada seseorang yang berusaha memanipulasi mereka dari balik bayangan. “Kita mulai dari mana?” tanya Arma akhirnya. Dirga menatap Adrian sejenak sebelum menjawab. “Kami punya satu petunjuk. Sebelum menghilang, Gilang terlihat terakhir kali di sebuah tempat persembunyian di pinggiran kota. Kami belum bisa memastikan apakah dia masih di sana, tapi itu satu-satunya jejak yang kita punya.” Arma mengangguk mantap. “Kalau begitu, kita ke sana sekarang.” Adrian menaruh tangannya di bahu Arma, menghentikannya. “Kita tidak bisa bertindak gegabah. Jika dia benar pengkhianat, dia pasti sudah mempersiapkan segalanya. Kita butuh strategi.” Arma menyeringai kecil. “Jangan khawatir. Saya punya cara sendiri untuk membuatnya bicara.” Malam itu, mereka bersiap untuk berburu. Entah untuk menemukan seorang pengkhianat atau menyelamatkan seseorang yang dijebak. Malam semakin larut saat Arma, Adrian, dan Raka bergerak menuju lokasi yang disebut Dirga. Sebuah bangunan tua di pinggiran kota, jauh dari keramaian, dengan lampu-lampu jalan yang remang-remang. Dari dalam mobil, Arma mengamati bangunan itu. Jendelanya gelap, tapi ada tanda-tanda aktivitas di dalamnya samar-samar, ia bisa melihat bayangan seseorang bergerak di belakang tirai. “Kalau Gilang memang ada di sana, kita harus berhati-hati,” ujar Adrian pelan. “Kita belum tahu apakah dia sendirian atau tidak.” Arma mengangguk. “Saya masuk dulu. Kalian awasi dari luar.” Raka menoleh tajam. “Terlalu berisiko.” Arma menatapnya dingin. “Dia mengenal saya. Kalau kalian ikut masuk, dia bisa curiga dan kabur. Saya akan masuk sendiri.” Adrian tampak ragu, tapi akhirnya menyerah. “Baiklah. Kami akan bersiaga. Jika ada tanda-tanda bahaya, segera beri isyarat.” Tanpa menjawab, Arma membuka pintu mobil dan keluar. Udara malam terasa dingin, tetapi ia tetap melangkah mantap. Ia mendekati bangunan itu, lalu mengetuk pintunya tiga kali pola ketukan yang hanya diketahui oleh agen dalam jaringan mereka. Hening. Beberapa detik kemudian, suara langkah terdengar dari dalam. Pintu berderit terbuka sedikit, menampakkan sepasang mata waspada di baliknya. “Arma?” Suara itu membuat napasnya tertahan sejenak. Tidak salah lagi. Gilang. “Ya, ini aku,” jawabnya tenang. Pintu terbuka lebih lebar, memperlihatkan sosok pria berambut sedikit acak dengan wajah lelah. “Bagaimana kau menemukan aku?” Arma melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia menatap tajam ke arah pria yang pernah menjadi mentornya itu. “Aku harus tahu kebenarannya,” ucapnya dingin. “Apa benar kau berkhianat?” Gilang terdiam sejenak, lalu tertawa kecil tawa pahit yang membuat d**a Arma semakin sesak. “Jadi mereka mengirimmu untuk memburuku?” Gilang menatapnya dengan sorot mata tajam. “Dengar, Arma. Apa pun yang kau dengar di luar sana, itu tidak benar. Aku dijebak.” Arma tetap waspada. “Buktikan.” Gilang menghela napas, lalu berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan. Ia mengambil sesuatu dari laci sebuah flash drive kecil dan menyerahkannya kepada Arma. “Semua jawabannya ada di sini,” katanya. “Tapi begitu kau melihatnya, kau akan menyadari bahwa kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar daripada yang kita kira.” Arma menggenggam flash drive itu erat. Nalurinya mengatakan bahwa ini bukan jebakan. Tapi jika Gilang benar, berarti ada musuh yang jauh lebih berbahaya di balik semua ini. “Kalau kau benar,” ucap Arma pelan, “berarti seseorang ingin kita saling menghancurkan.” Gilang mengangguk. “Dan kita harus mencari tahu siapa sebelum terlambat.” Arma menatap flash drive di tangannya dengan perasaan campur aduk. Jika ini benar-benar bukti yang bisa membersihkan nama Gilang, maka ada pihak lain yang berusaha mengadu domba mereka. “Apa isinya?” tanya Arma, masih waspada. Gilang melirik ke arah jendela, memastikan tidak ada yang mengawasi mereka. “Rekaman komunikasi rahasia antara petinggi agensi dan seseorang yang tidak dikenal. Mereka membahas tentang ‘pembersihan internal’. Aku juga menemukan transaksi mencurigakan yang mengalir ke rekening-rekening asing. Jika dugaanku benar, ini lebih dari sekadar pengkhianatan. Ini adalah rencana besar untuk menyingkirkan kita semua.” Arma mengernyit. “Siapa yang ada dalam rekaman itu?” Gilang menggeleng. “Aku belum bisa memastikan. Suaranya dimodifikasi, tapi ada petunjuk yang bisa kita pecahkan.” Sebelum Arma bisa berkata apa-apa, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Adrian. “Keluar sekarang. Kita tidak sendiri.” Jantung Arma berdegup kencang. Ia segera menatap Gilang. “Kita harus pergi.” Gilang tampak tegang. “Mereka sudah menemukan aku?” Arma tidak menjawab. Ia hanya bergerak cepat menuju pintu, mengintip ke luar melalui celah kecil. Benar saja, dua mobil hitam tanpa tanda pengenal berhenti di seberang jalan. Beberapa pria bersenjata turun dengan gerakan terlatih. “Ini bukan polisi,” gumamnya. Gilang mengepalkan tangan. “Mereka datang untuk membungkam kita.” Arma segera memasukkan flash drive ke dalam sakunya. “Kita harus keluar dari sini sebelum mereka menyerbu.” Gilang mengangguk, mengambil pistol dari dalam laci. “Aku harap kau tidak kehilangan keahlianmu, Arma.” Arma menyeringai tipis. “Kau akan segera melihatnya.” Di luar, suara langkah kaki mendekat. Pintu depan mulai digedor keras. “Tiga… dua… satu…” bisik Arma. Begitu pintu hampir jebol, mereka bergerak. Tidak ada pilihan lain. Mereka harus bertahan dan mencari tahu siapa dalang dari semua ini sebelum semuanya terlambat. Pintu depan nyaris jebol saat Arma dan Gilang bergerak cepat. “Keluar lewat belakang,” bisik Gilang, tetapi Arma menggeleng. “Mereka pasti sudah mengepung,” jawabnya. “Kita harus cari cara lain.” Gilang melirik ke langit-langit. “Atap.” Tanpa menunggu lebih lama, mereka bergerak menuju tangga kecil di sudut ruangan yang mengarah ke loteng. Dari bawah, terdengar suara kayu yang retak pintu akan segera hancur. Gilang membuka jendela kecil di loteng, mengintip ke luar. “Bisa lompat ke gedung sebelah.” Arma melihat jaraknya sekitar dua meter. Tidak mudah, tapi bukan hal yang mustahil. Brakk! Pintu akhirnya jebol. Beberapa pria berpakaian serba hitam masuk dengan senjata terangkat. “Tidak ada waktu lagi!” Arma mendorong Gilang duluan. Gilang melompat ke gedung sebelah dengan lompatan terlatih. Arma segera menyusul. Namun, saat tubuhnya hampir mencapai tepian gedung, suara tembakan terdengar. Dor! Peluru melesat, mengenai dinding di dekat tangannya. Arma terhuyung, hampir kehilangan keseimbangan, tetapi Gilang dengan sigap menarik tangannya. “Mereka sudah tahu kita di sini!” seru Gilang. Dari bawah, pria-pria bersenjata mulai mengepung. Tidak ada jalan mundur. Adrian bersuara di earpiece Arma. “Lari ke arah utara. Aku dan Raka akan menjemput kalian di persimpangan!” Arma dan Gilang langsung bergerak, melompati atap demi atap, sementara tembakan terus berdentum di belakang mereka. Ini bukan lagi sekadar pelarian. Ini adalah perburuan. Dan mereka adalah targetnya. … Arma dan Gilang terus berlari di atas atap gedung-gedung tua, menghindari tembakan yang dilepaskan dari bawah. Napas mereka terengah, tetapi mereka tidak boleh berhenti. “Lima puluh meter lagi ke persimpangan!” seru Gilang sambil melompati celah antara dua bangunan. Arma mengikutinya, tetapi langkahnya terhenti sejenak saat melihat pria bersenjata muncul di atap gedung di depan mereka. “Sial, mereka sudah di depan kita,” gumam Arma. Pria itu mengangkat senjatanya, siap menembak. Namun, sebelum sempat menarik pelatuk, suara tembakan lain lebih dulu terdengar. Dor! Pria itu terhuyung dan jatuh ke bawah. Dari kejauhan, Arma melihat siluet seseorang di dalam mobil hitam di persimpangan jalan Adrian, dengan senjata sniper di tangannya. “Jangan berhenti! Cepat ke sini!” suara Adrian terdengar di earpiece. Arma dan Gilang segera melompat ke bangunan terakhir, lalu turun ke jalan kecil di belakangnya. Sebuah mobil hitam dengan mesin menyala sudah menunggu. Pintu belakang terbuka, memperlihatkan Raka yang sudah bersiap dengan pistol di tangannya. “Masuk sekarang!” Tanpa ragu, Arma dan Gilang melompat masuk. Begitu pintu tertutup, Raka langsung menginjak pedal gas, membawa mereka melesat pergi sebelum musuh sempat mengejar. Di dalam mobil, napas mereka masih memburu. Arma meraih flash drive di sakunya, merasakannya erat di tangannya. Ini bukan sekadar bukti. Ini adalah kunci untuk membuka misteri yang lebih besar. Adrian menoleh ke belakang, menatap mereka tajam. “Sekarang, katakan padaku… siapa sebenarnya yang ingin membunuh kita?” Gilang menatapnya dengan sorot mata gelap. “Kalau dugaanku benar… orang yang paling kita percaya.” Keheningan menyelimuti mereka. Jika benar pengkhianat ada di dalam lingkaran mereka sendiri, maka tidak ada tempat yang benar-benar aman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD