Saat didalam mobil, Arma teringat masa lalu dimana dia pertama kali bertemu dengan Gilang.
~~ Flashback ~~
Fiqi membuka mata dengan kepala yang terasa berat. Pandangannya masih buram, dan suara gemericik air terdengar di kejauhan. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba mengingat apa yang terjadi.
Sungai. Mobil. Dinginnya air yang menyelimuti tubuhnya.
Jantungnya berdegup kencang saat ia terbangun dengan napas memburu. Bagaimana ia bisa selamat?
Ruangan itu remang-remang. Bau khas kayu bercampur dengan aroma rempah samar-samar tercium di udara. Fiqi berusaha bangkit, tetapi rasa nyeri menusuk di lengan kirinya. Saat itu, pintu di ujung ruangan terbuka.
Seseorang berdiri di sana sosok yang samar dalam cahaya redup.
“Syukurlah, kau sudah sadar,” suara itu terdengar tenang, tetapi ada ketegangan dalam nadanya.
Fiqi mencoba mengenali wajah orang itu. Siapa dia? Dan mengapa ia menyelamatkannya?
Fiqi menelan ludah, mencoba menenangkan napasnya yang masih tersengal. Sosok di ambang pintu melangkah mendekat, wajahnya semakin jelas diterangi cahaya redup dari lampu minyak di sudut ruangan. Seorang pria usia tak jauh darinya, dengan sorot mata tajam penuh selidik.
“Siapa kau?” tanyanya dengan nada datar, tapi tegas. “Dan kenapa bisa jatuh ke sungai?”
Fiqi membuka mulut, tapi tak langsung menjawab. Pikirannya masih kacau, kenangan semalam berkelebat tanpa bisa ia susun dengan jelas. Ia hanya ingat satu hal: alkohol, kemudi yang kehilangan kendali, lalu air yang begitu dingin menelannya.
“Aku…” Fiqi menghela napas, suara seraknya terdengar asing di telinganya sendiri. “Aku Fiqi. Aku…”
Ia ragu sejenak, lalu menatap pria itu. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya?
Fiqi menelan ludah, berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberanian dalam tubuhnya yang masih lemah.
“Aku… aku kehilangan kendali,” katanya pelan. “Aku mabuk. Aku mengemudi, lalu tiba-tiba semuanya kabur. Yang kuingat hanya air sungai yang begitu dingin…”
Pria di depannya diam sejenak, ekspresinya sulit dibaca. Matanya menelusuri wajah Fiqi, seakan sedang menganalisis setiap kata yang baru saja diucapkan.
“Kau sendiri?” tanyanya akhirnya.
Fiqi mengangguk lemah. “Iya.”
Pria itu menghela napas pelan, lalu melipat tangan di d**a. “Kau tahu, tidak banyak orang yang bisa selamat kalau mobilnya masuk ke sungai deras seperti itu.”
Fiqi hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa. Ada sesuatu dalam nada pria itu yang terasa aneh. Seperti… seolah dia sedang menyembunyikan sesuatu.
“Kau yang menyelamatkanku?” tanya Fiqi.
Pria itu tersenyum tipis, tapi tidak menjawab langsung. “Yang penting kau masih hidup.”
Ada sesuatu yang tidak beres. Tapi Fiqi masih terlalu lemah untuk memikirkan lebih jauh. Yang jelas, ia berutang nyawa pada pria ini.
Yang belum ia sadari adalah… pria itu bukan sekadar penolong biasa. Ia adalah seorang agen rahasia. Dan Fiqi mungkin baru saja masuk ke dalam masalah yang lebih besar dari sekadar kecelakaan di sungai.
Fiqi masih bersandar di tempat tidurnya, tubuhnya terasa berat, tapi pikirannya mulai jernih. Pria di depannya masih mengamatinya dengan tatapan tajam, seolah sedang menilai sesuatu.
“Apa kau pernah berpikir untuk memulai hidup baru?” tanya pria itu tiba-tiba.
Fiqi mengernyit. “Maksudmu?”
Pria itu berjalan ke arah jendela, menyibak sedikit tirai. Di luar, langit masih gelap. “Aku melihat sesuatu dalam dirimu,” katanya, suaranya tenang tapi penuh keyakinan. “Refleksmu cepat. Kau selamat dari kecelakaan yang seharusnya mematikan. Itu bukan kebetulan.”
Fiqi tertawa kecil, sarkastik. “Jadi maksudmu aku punya semacam kekuatan super?”
“Bukan kekuatan super,” pria itu berbalik, menatap Fiqi dalam-dalam. “Tapi insting bertahan hidup. Dan itu sesuatu yang tidak dimiliki semua orang.”
Fiqi terdiam. Kata-kata itu anehnya terasa masuk akal.
“Aku bekerja untuk sebuah organisasi,” lanjut pria itu. “Kami membutuhkan orang-orang seperti kau. Orang-orang yang tidak terikat oleh masa lalu, yang ingin hidup dengan tujuan baru.”
Fiqi menatapnya dengan penuh keraguan, tapi di saat yang sama, ada sesuatu dalam dirinya yang bergolak.
“Kalau aku ikut, apa yang harus kulakukan?” tanyanya.
Pria itu tersenyum tipis. “Latihan. Ujian. Dan jika kau berhasil melewati semuanya… kau akan menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar pria yang hampir mati di sungai.”
Fiqi terdiam. Selama ini hidupnya penuh masalah utang, kesalahan, keputusan buruk. Jika ada kesempatan untuk memulai dari nol, bukankah seharusnya ia mengambilnya?
Tanpa pikir panjang, ia mengangguk.
“Aku setuju.”
Pria itu menatapnya selama beberapa detik, lalu mengulurkan tangan.
“Selamat datang di dunia yang baru, Fiqi.”
Pria itu menatap Fiqi dengan ekspresi tenang, seolah sedang menimbang sesuatu.
“Mulai sekarang, lupakan nama lamamu,” katanya. “Fiqi sudah mati di sungai malam itu.”
Jantung Fiqi atau siapa pun dirinya sekarang berdegup lebih cepat.
“Apa maksudmu?” tanyanya.
Pria itu menarik kursi, duduk di depan Fiqi dengan sikap santai tapi tetap penuh wibawa. “Kalau kau ingin masuk ke dunia ini, kau harus melepaskan masa lalu. Itu syarat pertama.”
Ia menatap Fiqi dalam-dalam sebelum melanjutkan, “Mulai hari ini, namamu Arma Dwijaya.”
Fiqi atau Arma, sekarang terdiam. Nama itu terasa asing di telinganya, tapi di saat yang sama, ada sesuatu yang menggelitik di dalam dadanya.
“Arma?” ia mengulang pelan.
“Ya,” pria itu mengangguk. “Arma berarti senjata. Dwijaya berarti kemenangan ganda. Kau bukan hanya senjata bagi kami, tapi juga bagi dirimu sendiri.”
Arma terdiam sejenak. Nama itu terasa jauh lebih kuat daripada ‘Fiqi’, nama yang selama ini hanya melekat pada hidup penuh kesalahan dan kegagalan.
Ia menghela napas, lalu mengangguk.
“Baik,” katanya. “Mulai sekarang, aku adalah Arma Dwijaya.”
Pria itu tersenyum puas, lalu bangkit. “Bagus. Sekarang bersiaplah, Arma. Hidup barumu baru saja dimulai.”
Arma masih mencerna nama barunya ketika pria itu berdiri, melipat tangan di d**a.
“Aku Gilang Wicaksana,” katanya. “Mulai sekarang, aku akan menjadi mentormu. Dan jika kau berhasil melewati pelatihan, aku juga akan menjadi rekan kerjamu di lapangan.”
Arma menatap Gilang dengan sedikit keraguan. “Jadi… ini semacam pelatihan militer?”
Gilang tersenyum tipis. “Bisa dibilang begitu. Tapi lebih dari sekadar itu.”
Ia berjalan ke arah jendela, menatap langit yang mulai terang di kejauhan. “Di dunia ini, kekuatan bukan hanya soal fisik. Kau harus bisa berpikir cepat, membaca situasi, dan yang paling penting…” Gilang berbalik, menatap Arma tajam. “Kau harus siap menghadapi kematian kapan saja.”
Arma menelan ludah. Ini bukan hanya soal melarikan diri dari masalah hidupnya yang lama. Ini tentang memasuki dunia yang benar-benar berbeda.
“Kau masih bisa mundur sekarang,” kata Gilang. “Begitu kau mulai, tidak ada jalan kembali.”
Arma terdiam sejenak. Namun, pikirannya sudah bulat.
“Aku tidak punya apa-apa untuk kembali,” katanya mantap.
Gilang mengangguk, lalu mengambil sesuatu dari meja di sudut ruangan. Sebuah amplop hitam. Ia melemparkannya ke pangkuan Arma.
“Buka itu.”
Arma merobek amplopnya. Di dalamnya ada kartu identitas baru dengan namanya: Arma Dwijaya.
Juga ada satu tiket pesawat.
“Besok pagi kita terbang ke markas,” kata Gilang. “Saat itulah pelatihanmu dimulai.”
Arma mengepalkan tangannya. Ini benar-benar terjadi. Hidupnya yang baru dimulai sekarang.
Dan ia siap menghadapi apa pun yang akan datang.