Dari pohon Bintang kami harus belok kiri, menuju jalan yang sangat sempit. Ilalang yang tinggi hampir menutupi jalan setapak itu. Paman Didi menebas-nebas ilalang yang menghalangi “Ibuk sedang membuat ramuan dia jarang keluar gubuk akhir-akhir ini. Beberapa hari aku tidak kemari”
Setelah melalu jalan kecil itu sampailah kami di sebuah sungai kecil yang menggenang sungai itu mengarah pada sebuah tebing yang ku yakin adalah tebing air terjun dimana ada kincir air pembangkit listrik di sana.
Sebuah jembatan melengkung melintasi sungai kecil menuju sebuah rumah yang penuh dengan bunga. Rumah kecil beratap-kan jerami, jerami itu di tutupi dengan jaring lagi pada bagian atasnya. Dengan tujuan agar tidak terbawa angin. Musim angin memang sangat menyebalkan.
Tembok-temboknya pondok nenek Suki terbuat dari batu-batu kali yang tersusun. Dipenuhi bunga mawar merayap di temboknya. Terdapat teras pada bagian depan, teras itu sangat cantik, di tambah dengan kursi goyang dan bunga-bunga yang tersusun rapi disana. Sehelai kain wol yang belum selesai disulam tergeletak di kursi goyang.
“Cantik sekali” gumamku takjup
Paman Didi tersenyum “Disinilah aku dan ibumu tumbuh besar Lyan, tanah ini adalah tanah Juru Kunci yang di wariskan generasi ke generasi. Tidak ada orang yang berhati kotor yang bisa lewat jembatan ini” Kami sedang berjalan di atas jembatan lengkung. Aku melihat ke sungai. Di ujung sungai sana terdapat terjunan yang rendah. Di bawahnya angsa-angsa sedang bermain. Teratai-teraiatai berkembang indah di atas sungai, mengayun-ayun tenang. Air sungai ini tidak mengalir deras seperti sungai di bawahany airnya sangat tenang.
“Di atas sana mata air” Paman Didi memperhatikan aku yang melihat ke terjunan
Oh.., pantas saja
“Di ujung sana. Di puncak paling tinggi ada kawah belerang” Kami sama-sama melihat ke bukit yang lebih tinggi lagi, bukit itu terlihat lebih tandus “Biasanya aku ke sana untuk mengambil api abadi. Tunggu saja Lyan ! Sebentar lagi kamu akan menjelajahi tempat ini” Dia tersenyum “Kita tinggal di bukit yang sangat indah”
Aku tidak sabar menjalajahi bukit ini. Ternyata, ada banyak hal yang tidak ku ketahui. Terlalu banyak…
“Ibu…cucumu datang” teriak Paman Didi berlebihan sampai ayam-ayam Sang Juru Kunci berkokok terganggu.
Dia lagi… aku mendengar mereka bergumam.
Itu dia..itu dia… anak yang bisa mendengar kita ?
Aku menoleh pada angsa-angsa yang kini berenang mendekati kami, terseok-seok terhalang bunga teratai. Salah satu di antaranya terbang, menyipratkan air pada paman Didi.
“Hush” Paman didi mengusir angsa itu dengan tangannya.
Nenek Suki berjalan dari dalam rumahnya menggunakan gaun putih yang sangat cantik, bermanik-manik warna kuning yang cantik. Kukunya di cat berwaran merah. Bibirnya selalu berwarna merah. Dia sangat cantik di masa tuanya. Rambutnya di gerai berwarna putih perak akibat umurnya yang tidak lagi muda.
Dia mendekati ku, gaun putihnya mengayun di atas rerumputan, tergerai bak seorang ratu. Dia cantik sekali, ini pertama kalinya aku melihatwanita tua yang anggun dan cantik. Rambutnya keriting kecil-kecil, aku menarik ujung kepangku. Mencoba mengenali dari mana rambut keriting ini berasal. Aku mewarisi rambutnya.
“Lyan”
Aku melipat tanganku di perut dan membungkuk memberi hormat pada nya. Dia memegang kedua bahuku “Apa mereka ribut ?”
Dia melihat kea rah angsa, ayam dan bunga-bunga
“Tidak terlalu” jawabku. Aku mengerti maksudnya. Jelas dia mendengar apa yang aku dengar.
Dia melihat Halulu, mengusapnya lembut. Halulu lantas loncat dari gendonganku “Biarkan dia mengenali wilayah barunya” Kami berjalan melintasi rerumputan cantik menuju ke rumahnya. Asap mengepul dari cerobong asap di belakang rumah “Panggil aku nenek. Namaku Suki”
“Baik” jawabku kaku
Dia tertawa kecil, caranya tertawa mirip paman Didi “Jangan marah pada ibumu karena merahasiakan nenekmu yang seorang juru kunci. Hidup sebagai keluarga Juru Kunci penuh rahasia Lyan” dia merangkul bahuku ketika kami sama-sama memasuki rumahnya “Kalau banyak yang tahu ibumua dalah anakku. Hidupnya akan dalam bahaya”
Dia beralih pada Paman Didi “Kamu minta kemuning menyebarkan berita apa tentang Lyan”
“Ke kota, aku menyuruhnya menyebarkan Lyan di serahkan pada seorang teman di kota”
--------------------…………………..
Rumah ini tidak sereot yang terlihat dari luar. Sitiap ruangan di rumah ini sangat indah. Lantainya terbuat dari kayu jati yang kuat dan kokoh. Ketika aku berjalan, lantainya menciptakan derit-derit bising. Sudut-sudut ruangan terdapat lentera yang menerangi. Nenek, tidak menggunakan listrik sama sekali di rumahnya. Aku tidak tahu pasti seperti apa kerja turbin air di bawah hingga aliran listrik yang diciptkana tidak sampai di rumah ini. Di langit-langit tergantung bunga-bunga kering yang baunya sangat khas.
Kursi-kursi terbuat dari kayu hitam mengkilat. Dari jendela menyeruak bunga mawar pink kelihatan seperti ingin masuk mengusai rumah. Cantik sekali. Rumah ini cantik sekali. Terdapat lorong yang menghubungkan ke tempat gelap di ujung sana. Pada Lorong itu ada tiga pintu saling berhadapan.
“Ujung sana, dapur dan tempatku membuat ramuan” ujarnya nenek Suki
Aku mengambil tempat duduk di kursi kayu. Paman Didi dengan nyaman masuk ke dalam rumah lalu turun ke dapur “Biar aku buatkan teh kayu manis”
Teh apa itu ?
Di satu sudut, aku melihat rak berisi susunan toples kaca. Di dalam toples kaca itu berisi macam-macam renda, pengait besi, kancing. Lalu di susunan rak lainnya ada benang-benang yang tertumpuk, tersusun menurut gradasi warnanya. Di sebelah rak bersandar gulungan-gulungan kain, bermacam-macam warna. Di sisi dekat jendela ada mesin jait. Aku kagum dengan perlengkapan jahit nenek Suki.
Aku melihat langit - langit ruangan, yang terlihat kokoh dengan balok-balok kayu saling menghubung. Aku dapat melihat jerami-jermai yang teranyam dengan rapi sebagai atap rumah ini. Rumah ini sangat hangat dan nyaman. Aku bisa membayangkan bagaimana ibuk dan paman Didi menghabiskan masa kecil mereka disini. Pasti menyenangkan
Nenek duduk di kursinya, aku rasa itulah kursi yang selalu jadi singgasananya di meja kayu panjang ini. Kursi yang dia gunakan nampak nyaman dan empuk, terdapat jalinan kapung yang padat dibungkus dengan kain yang hangat. Kursi itu sangat indah. Aku duduk di kursi kayu tua berdekatan dengan nenek Suki.
Paman Didi datang membawakan teh kayu manis. Duduk berhadapan denganku.
“Kamu tahu siapa aku Lyan ?”
“Nenekku. Juru Kunci. Ibunya Ibukku” jawabku dengan percaya diri
Dia tersenyum hangat, sehangat rumahnya “Namaku Suki. Kamu bisa memanggilku nenek” dia sudah mengulang kalimat perkenalan itu dua kali “Kamu tahu kenapa kamu disini ? ”
“Tahu. Ibukku memintamu untuk melindungiku. Dan katanya menyerahkanku padamu adalah satu-satunya jalan..”
Dia melanjutkan penjelasanku “Kamu diinginkan bukit ini Lyan, Pualam memanggil namamu”
“Siapa Pualam ?”
“Seorang dewi”
Oh, Dewi ? apa mahluk seperti itu ada ?
“Apa aku bisa bertemu dengan pualam ?”
Nenek Suki menggeleng “Tempat dimana pulama berada sangat rahasia dan sangat sulit ditelusuri, kecuali dia sendiri yang membimbingmu” Dia mengambil teh yang dibuatkan anaknya. Menyesapnya dengan sangat anggun, jari-jarinya terangkat ketika memegang gelas kayu “Lyan kamu akan melanjuti tugasku” matanya melihatku dari ujung gelas.
Aku terdiam. Menunduk melihat pantulan wajah pucatku di teh kayu manis “Aku tahu. Nenek kan sudah mengatakannnya tadi” Dia sering sekali mengulang-ngulang kalimatnya
“Dia mirip bapaknya buk” Paman Didi berkomentar di sela-sela pembicaraan kami “Dia sulit tersenyum”
Keheningan di antara kami merayap. Yang terdengar hanya suara kami menyesap teh. Sama r-samar aku mencium bau mawar masuk dari jendela. Sangat harum hingga bau lembab rumah ini tersamarkan “Seorang juru kunci memiliki tanggung jawab yang besar melindungi semua lembah ini dan isinya, kami terhubung secara magis dengan tempat ini. Ketika lembah ini merasakan sakit aku juga merasakannya, ketika musim hujan akan datang aku bisa merasakannya jika kemarau panjang akan datang aku juga merasakananya”
“Kamu juga menumbuhkan bunga di pemakaman nona Rumi” aku menambahkan
“Salah satunya…” dia menggerakkan telunjuknya menyetujui imbuhanku “ Alam membantuku menjalankan tugas sebagai juru kunci” Dia terdiam sejenak, lalu beralih ke topik yang lain “Rusa yang ku kubur itu, rusa mu ?”
Aku mengangguk “Namanya Moris”
Dia mengangguk-anggukan kepalanya.
“Dia hewan pertama yang dapat ku dengar suaranya”
Senyum mengembang dari bibir nenek Suki, sepertinya dia sudah dapat memastikan kalau aku adalah pewarisnya
“Tapi. Terakhir kali aku mencoba menggerakkan sebuah pena tanpa menyentuhnya. Aku gagal !” aku tertunduk lemah “Aku ragu bisa jadi penerusmu”
Suara tawa paman Didi membahana, terbahak-bahak mendengar kegagalanku. Dia sampai memegangi perutnya.
“Oh sayangku”
Tangan nenek Suki menjama kepalaku dan mengelusku “Kamu akan lebih hebat dari pada aku. Seumurmu dulu aku belum bisa merasakan apapun”
Aku menatapnya ingin tahu, kepalaku bahkan memiring melihatnya. Aku tidak pernah berhenti mengagumi kencantikan perempuan ini. Aku tidak menyangka dia adalah nenekku.
“Yang terpenting adalah kamu harus banyak menolong. Berdoa untuk kebaiakan dan berusaha untuk tujuan yang baik. Tujuan yang kamu miliki karena kepentingan mahluk di lembah ini. Kamu akan berhenti memikirkan dirimu sendiri Lyan ! Mulai hari ini tujuan hidupmu adalah lembah ini”
Aku masih menyalahkan diriku atas kematian bapak. Aku mengingat-ngingat siapa yang pernah ku tolong. Aku tidak pernah menolong siapapun. Sepertinya aku masih jauh dari harapan nenek Suki.
“Didi bereskan ilalang sebelum jembatan, mereka sudah mulai panjang lagi ! Dan panggil burung-burung merpati turun. Sudah mulai sore. Aku mau masak ayam. Ada ayam yang siap untuk di makan”
“Bukannya kita seharusnya mencintai binatang ?”
Paman Didi terkikik lagi, laki-laki itu punya serela humor yang payah. Semua hal bisa membuatnya tertawa. Sedangkan nenek Suki mengibas-ngibaskan tanganya di wajah, hanya tersenyum sedikit “Lyan manusia punya hakikat hidup lebih tinggi dari pada binatang, sehingga binatang ternak merasa terhormat apabila dijadikan santapan manusia. Ketika mereka siap untuk di makan mereka akan mengajukan diri kepada pemiliknya”
“Ah ?”
Ibuk selalu berusaha keras menangkap ayam-ayam kami untuk di jual ke pasar, dia sering sekali mengumpat. Bagaimana bisa binatang mengajukan diri ?
“Dia selalu makan sayuran bu, Ibu mungkin belum mendengar kalau putri ibu satu-satunya itu sekarang penjual sayuran”
“Sama halnya dengan tumbuhan yang dipetik untuk di makan Lyan. Mereka punya keistimewaan sendiri, mereka punya kebanggaan tersendiri dapat menjadi bagian dari tubuh manusia”
Aku baru tahu..
“Ayo kita ke kamarmu” aku mengkuti nenek Suki berjalan menuju lorong. Dia membuka sebuah pintu kayu dan
TARANG….
Kamar ku seperti kamar seorang peri. Aku ngeri melihat sebuah pohon menjulang di langit-langit kamarku. Kenapa bisa ada pohon di dalam rumah ? Tidak ada jendela di kamarku melainkan pintu lain yang besar yang terhubung ke bagian belakang rumah. Pintu itu di tumbuhi bunga-bunga kecil yang menjalar berwarna kuning dan pink. Senada dengan sepraiku. kasurku kini ada kelambunya. Ada sebuah lemari berwarna biru di bawah pohon. Kamar ini fantastik. Bantal-batalnya dilapisi dengan kain anyaman berwarna norak yang sangat kusukai. Di sisi tembok ada sebuah cermin yang sangat tinggi. Sisi-sisi cermin di tumbuhi bunga-bunga putih.
Ranjang di kamarku terbuat dari akar-akar pohon yang tumbuh di sana. Ubin di kamarku seratus persen batu kali. Ini luar biasa. Aku seperti tidur di dalam hutan.
“Kamu suka ?”
Aku mengangguk, aku tidak bisa menahan senyumku ketika mendapiti kamarku amat menakjubkan seperti ini.
“Aku baru membuatnya kemarin, ketika dapat surat dari ibumu”
“hah ? Kemarin ?” aku tidak percaya mengingat bagaimana pohon itu begitu kokoh dan sepertinya butuh waktu lama untuk menganyam akar pohon itu hingga menjadi ranjang “Nenek membuatnya sendiri”
Dia menggeleng. Dia berjalan melintasi kamarku. Dia menepuk-nepuk Tubuh pohon yang besar itu seperti menepuk punggung kuda “Rufus membantuku”
“Ru—“
“Selamat sore Lyan”
Aku membelalak ketika sebuah akar naik melambai padaku, seperti gerakan memberi salam. Astaga aku benar-benar bisa mendengar pohon bicara. Tidakkah dia menyurupai manusia punya mata dan hidung. Aku menoleh mencari-cari wajah si pohon. Ternyata pohon itu tidah berwajah.
“Namanya Rufus dia akan menjadi temanmu Lyan”
Hah ? gimana caranya berteman dengan pohon “Apa dia punya mata ? nanti bagaimana kalau dia melihatku membuka baju”
“Astaga Lyan dia cuma pohon. Mana ada pohon punya mata” nenek Suki mendesah mendengar pertanyaanku yang tidak masuk akal baginya. Sebelum dia keluar dan menutup pintu dia member tahuku “Oh ya ngomong-ngomong kamu tidak punya baju. Kamu akan memakai baju itu sampai kamu bisa menjait bajumu sendiri”
Pintu kamarku tertutup. Aku terhenyak. Menjatuhkan diriku di atas ranjang.
“Tidak…” ucapku putus asa
“Iya Lyan itulah yang terjadi…” Rufus menimpali
Asataga, aku sekamar dengan pohon yang bisa berbicara dan menanggapi setiap perkataanku. Aku menengadah ke atas, melihat seluruh tubuh Rufus. Bagaimana caranya memulai sebuah pertemanan dengan sebatang pohon ?
Aku tidak percaya…