MAKAM PUTIH

2320 Words
Menjadi juru kunci ? “Lyan tadinya Ibuk yang akan menggantikan dia. Aku dan bapakmu sudah punya rencana, ketika Sang Juru Kunci meminta aku di kemudaian hari,  kami harus siap membawamu dan Riang ke dalam hutan untuk memulai hidup disana” Dia menghela nafas “Tapi ibuk tidak mewarisinya” “Mewarisi apa buk ?” Riang menoleh meminta kepastian pada ibu Setelah aku menarik tanganku dia melipat tangannya di atas meja, menatapku dengan tatapan memohon yang tidak ku mengerti maksudnya. “Aku tidak tahu tepatnya seperti apa, yang jelas ibuku bisa merasakan sesuatu. Dia dekat dengan alam. Dia bilang itu denyut kehidupan tapi aku tidak tahu. Dia pernah menatap pohon yang yang akan meti dan seperti berbicara pada pohon itu mengucapkan ucapan-ucapan menguatkan agar si pohon tetap hidup. Keesokan harinya aku melihat pohon yang mau mati itu berdaun. Lyan apa kamu juga seperti itu ?” Aku tidak tahu tepatnya seperti apa maksud ibuku. aku tidak pernah bicara dengan dengan pohon. Tapi… Aku mungkin pernah mendengar mereka berbincang. Astaga jadi mungkin yang ku dengar di hutan bersaut-sautan itu, yang membincarakan rantingnya itu adalah pohon. Lalu Moris. Waktu itu dia memintaku untuk ”lari’. Jadi yang ku dengar bukan suara yang berasal dari kepalaku sendiri melainkan suara mereka. Oh… “Lyan..” Ibuk menyadari mimik wajahku yang berubah “Apa kamu juga seperti nenekmu ?” suaranya bergetar emosional Aku merasakan paman didi mengelus kepalaku sekali “Tidak apa-apa Lyan. Kita memang ditakdirkan menjadi penerus nya” Tapi aku tidak mau, aku mau hidup normal. Hidupku yang dulu. Aku tidak sanggup memikirkan ada di tengah-tengah pemakaman dan menjadikan akar-akar pohon bergerak, bunga tumbuh dengan cepat, lipstik merah, wajah tertutup kain trasnparan. Aneh ! Dia…, dia tidak wajar Ibuk kembali menarik tanganku “Katakan sesuatu ibuk mohon” suaranya bergetar, dia menitikkan air mata “Lyan” “Lyan” Riang juga menututku “Mungkin nenek itu memang bisa menyelamatkan kita” “Apa yang akan dia lakukan untuk melindungi kita ? Dan apa yang harus aku lakukan untuk jadi penerusnya ?” Ibuk dan Riang tercekat, akupun tidak terbiasa mendengar suaraku sendiri setelah berbulan-bulan membisu. “Lyan..” ibuk menyebut namaku dengan takjub, dia baru sadar kalau selama ini aku bisa berbicara tapi aku tidak mau berbicara. Dia menarik tanganku dan menciuminya. Air matanya basah di tanganku “Terimakasih..terimakasih” “Kalian belum menjawabku !” suaraku selalu sama, suara dengan intonasi tinggi yang terdengar menuntut. Memang seperti itulah aku. Aku ketika bicara selalu emosial, itu yang kusadari ketika aku menyebut sumpah pulam di hadapan kedua orang tuaku. Ibuk meleapaskan tanganku menatap kakaknya, meminta bantuan Paman Didi untuk menjelaskan “Kamu akan mendapingi Sang Juru Kunci, belajar dan berlatih bersamanya. Lyan.. oh Lyan”  Dia tidak percaya denganku, seakan ini semua di luar dugaanya kalau pewaris ibunya ternyata bukan dia atau ibuk ku “tunggu dulu..tunggu… apa kamu sudah tahu ?” Dia bertanya pada ibukku “Kamu sering ke bukit sore hari untuk menemui ibu apa alasananya karena ini ?” Ibukku mengangguk dramatis “Awalnya aku hanya ingin minta bantuan, dia bilang tidak ada yang bisa melindungi kita dari orang yang berkuasa dan punya uang” Ibu memiringkan wajahnya, dia melihatku seolah aku ini adalah benda yang sangat di idamkannya di pasar “Katanya satu-satunya cara adalah memberikanmu pada nenek mu”  Dia diam sejenak “Lalu beberapa hari yang lalu saat Lyan mau pergi ke makam untuk menguburkan rusanya, aku bertemu ibu. Bukan..Bukan” dia meralat kata-katanya dengan cepat “Dia mendatangi kami, dia….” Ibuk melihat paman Didi “Menunjukkan wajahnya pada Lyan”  Ibuk menangis “didi.., aku tahu Lyan akan jadi Juru Kunci selanjutnya. Aku…” “Seharusnya ibuk bangga kan ?” Suara Riang terdengar sangat arogan “Bagaimana bisa ibuk bangga, aku dan kamu tidak akan pernah bertemu dengan Lyan lagi” Riang mengerutkan alis, dia keliatan bingung “Seorang juru kunci hanya bisa memperlihatkan wajahnya pada keluarganya ketika dia sudah menikah. Tapi ketika keluarganya punya kehidupan lain dia harus kembali menutup wajahnya. Kamu tidak bisa sembarangan bertemu dengan Lyan lagi” Riang tidak mengerti, dia tidak habis pikir. Konsep ini sebenarnya sangat sederhana “Kalau aku mau ketemu dengannya aku hanya harus ke rumah nenekku kan ?” “Riang tidak semudah itu” Paman didi bersaura pelan “Aku sudah mendampingi Juru Kunci sejak bapak ku meninggal, Aku menggantikan nya menjadi seorang abdi. Juru kunci tidak bisa semudah itu di temui. Kehidupan Juru Kunci diatur oleh alam” “Itu terdengar bodoh” “Bodoh memang, tapi dialah membuatmu bisa menghirup nafas segar setiap hari” kata ibunya ketus. Dia kembali ke paman Didi “Bisakah Lyan diberikan kesempatan, aku pergi menemuinya untuk memberikan tenggak waktu paling tidak sampai Lyan 17 tahun. Dia bilang tidak bisa, Pualam” suaranya tercekat menyebut nama Pualam “Pualam menginginkan Lyan” “Oh..” Paman didi berseru putus asa “Dia masih terlalu kecil” Lalu aku mendengar ibuk hanya bisa menangis. Aku bangkit dari dudukku. Pikiranku runyam duduk bersama mereka. Aku memilih menyendiri di kamar. Menutup pintu rapat-rapat. Pualam menginginkan ku. Siapa Pualam itu ? Dalam kegelapan di kamarku, aku mencoba menggerakkan tanganku. fokusuku ku tujukan pada sebuah pena di atas meja belajar. Bergerak ayo bergerak… Tidak ! Tidak terjadi apa –apa,  pena itu masih disitu, di atas meja, tidak menunjukkan gerakan apapun. Bagaiamana caraku bisa jadi juru kunci ? aku liat dia bisa menggerakan tumbuhan, aku liat dia menumbuhkan bunga-bunga, membuat bunga-bunga itu mekera. Aku bisa apa ? aku tidak punya kekuatan apapun. --------------------………………….. Aku tertidur dengan posisi seperti Halulu.  Aku tidur di tikar anyam ibuk. Tempat dimana biasa ibuk tertidur di kamar kami. “Lyan…kamu berangkat ke bukit sebentar lagi bersiap dulu” Aku tersadar dari tidurku. Aku menyandarkan tubuhkutepat di pintu kamar, melihat  sinar matahari yang telah naik ke atas kasurku. Itu sudah lumayan siang. Aku terlalu lelah.  Kakiku masih sakit. Aku melihat kedua kakiku.Kaki sebelah kanan bekas luka karena tergores ranting beberapa bulan lalu waktu bapak mendorongku ke jurang, lalu luka satunya lagi lecet-lcet kecil tapi banyak karena di tabrak mobil Kuswardi. Aku melihat kamarku baik-baik. Tadi ibuk memintaku bersiap-siap. Berarti keputusannya sudah bulat untuk membawaku ke ibunya, nenekku maksudku. Aku masih mengingat wajah lembutnya yang menatapku, meminta kepala moris waktu itu. Dia mungkin baik, tapi dia penyihir. Dan aku akan menjadi seperti dia ? Aku takut sampai mau muntah kalau memikirkannya. “Lyan…” ibuk kembali mengetuk pintuku “Iya buk” jawabku singkat untuk menanangkannya. Setelah itu dia tidak lagi mengetuk. Aku masih termenung. Benarkah ini jalan satu-satunya ? Kurasa, ibukpun tidak punya kekuatan untuk melindungiku, dia hanya soerang janda penjual sayur. Walaupun ibunya adalah juru kunci tidak lantas membuatnya dapat terlindungi dengan mudah mengingat seperti yang dikatakan paman Didi. Sang Juru Kunci di atur oleh alam. Aku sudah siap,  menggunakan sebuah gaun yang kupikir paling baik kugunakan hari ini. Di luar gaun itu aku menggunakan jubah berwarna kuning yang selalu kugunakan kalau-kalau suhu udara menjadi dingin. Aku melihat ibuk mengemasi barang-barangku. “Jangan bawa apapun Kemuning” Paman didi  ada disitu, dia di utus untuk menjemput kami “Percuma kalau kamu membawakannya banyak benda ibuk akan membakar dan membuangnya” “Izinkan aku membawa Halulu” gumamku, Halulu mengeong-ngeong seperti punya firasat dia akan aku tinggalkan. Aku menpuk-nepuk pahaku dan kucing itu sudah melompat berlari padaku. Aku memeluknya “Aku hanya ingin bawa Halulu” “Baiklah, kalau cuma binatang. Kamu akan punya banyak binatang nanti” gurau paman Didi, dia tertawa sekilas.  “Ayo” Paman didi mengajakku pergi, aku melihat ibuk dan Riang. Mereka tidak berpakaiyan rapi. Mereka masih mengenakan pakaian tidur “Mereka ?” tanyaku paman Didi “Rumahmu nanti tidak boleh dikunjungi orang Lyan tempatnya sangat terpencil, sangat dalam di hutan.” Aku melihat Riang. Matanya berkaca-kaca. Ibuk meremas ujung kemejanya, dia menahan diri agar tidak menangis. Aku melihat sekeliling rumah. Jadi aku akan meninggalkan rumah ini ? “Berapa lama aku akan di sana ?” tanyaku parau “Seumur hidup Lyan” jawabnya langsung tanpaa keraguan Dengkulku seperti melebur, hilang saja sudah rasanya. Astaga ! jadi ini adalah hari terkahirku bersama ibuk dan Riang. Sebelum mempelajari ilmu sihir di tengah hutan “ibuk” Aku berlari memeluknya. Riang ikut memelukku. Kami saling berpelukan untuk beberapa saat. Baru kemarin rasanya  aku kehilangan bapak, sekrang aku harus meralakan mereka berdua demi hidupku dan demi mereka juga. Akhirnya aku melepaskan pelukanku teringat apa-apa yang belum sempat ku sampaikan pada Ibuk dan Riang. Aku menggenggam tangan mereka “Maafkan aku kalau tentang sumpah itu” Ibuk menggeleng, dia meminta agar aku tidak memikirkannya lagi “Ini semua sudah takdir yang diberikan semesta pada kita” “Ibuk yang terjadi hutan siang itu, begitu cepat” Mimik wajah sedih mereka berubah jadi beku ketika aku menceritakan kejadian itu “Aku tidak ingat jelasnya. Aku lihat bapak sudah bersimbah darah, perutnya di tusuk. Dia mendorongku ke jurang setelah bilang bahwa dia mencintai kita…” Suaraku parau “Dia tersenyum sangat tampan, sampai aku kira dia bukan bapakku” Ibuk kembali memelukku. Suara tangis Riang mengerang keras. --------------------………………….. Akhirnya aku pergi, bersama paman Didi. Meninggalkan rumah dan semua ceritaku di tempat itu. Kandang kuda, sumur,  dapur, kamar mandi, kamarku, meja re-ot bapak. Diding rumah yang berbau seperti jamur. Semuanya, karena sekali lagi ibuk memintaku untuk jadi kuat. Sebelum pergi dia memegang bahuku. Berkata dengan wajah tabah “Jadilah perempuan yang baik, jadilah perempuan yang adil, menolonglah dengan kaca mata kebaikan” dari ujung pelipis matanya air mata terurai begitu indah jatuh ke pipinya. Dia tertunduk menghela nafas yang terdengar begitu letih “Maaf ibuk tidak punya pilihan lain Lyan. Jangan pernah kamu berfikir ibuk tidak mencintaimu !” Aku tahu, dia tidak mungkin tidak menyayangiku. Dia sangat menyayangiku, seandainya aku terlahir sebagai Kuswardi aku akan punya banyak pilihan. Aku menghapus air matanya “Jangan sedih ibuk” Ku kecup pipinya yang basah “Aku pergi” Perjalanan itu ternyata sangat panjang. Kami memasuki bagian hutan yang tidak pernah ku masuki sebelumnya. Hutan itu sangat lemba. Aku tidak bisa membayangkan tersesat tanpa cahaya sedikitpun di dalam hutan itu. Saat masuk ke hutan itu, aku seperti menyelam ke dalam tumbuhan lumut.  Keluar dari sana kami bertemu hutan bambu, yang tertanam di lahan yang miring, sementara kami terus menanjak naik. Paman Didi sebentar-sebentar beristirahat untuk meneguk air. “Lyan coba lihat itu” Dia menujuk ke celah bambu-bambu yang menganga. Kita bisa melihat tebing di  bawahnya.  Aku melihat pohon-pohon merah dan batu nisan besar-besar yang di penuhi akar-akar dan bunga-bunga indah “Itu pemakaman” kataku “Itu” dia menunjuk salah satu makam “ Lihat makam yang di tumbuhi rumput berwarna putih ?” Aku menyipitkan mata, iya makam itu dekat sekali dengan air terjun “Itu makam bapakmu” Itu pertama kalinya aku melihat tumpukan tanah yang  kini ku panggil bapak, makamnya terlihat putih. Dia satu-satunya makam dengan batu nisan putih yang indah “Ibuk sangat menyukai menantunya” ujar paman Didi “Bapakmu itu orang baik Lyan. Dia cuma seorang sahabat yang ingin melindungi sahabatnya” “Maksud paman, Hasan ?” Dia mengangguk “Aku kira itulah permulaannya, itu yang di ceritakan Kemuning pada ibu” “Ibu tahu banyak ?” tanyaku dengan suaraku yang menuntut “Tidak banyak Lyan.., tidak” dia menggeleng “Dia belum tahu siapa yang menembak bapakmu. Dia mengira Hasan masih hidup, kadang kala dia bilang Hasan yang melakukannya lalu pernyataannya berganti dia bilang Sita sepupunya Hasan. Semua nama-nama campur aduk di kepalanya . Dia sama bingungnya dengan kami” Paman Didi berdaham “Ibumu sangat terpukul. Sulit buatnya menerima kematian Albani” Aku tahu. Tidak dijelaskanpun aku tahu. Kami berdiri pada duka yang sama. Paman Hasan menepuk bahuku “Ayo jalan lagi, kita baru setengah perjalanan. Aku biasanya selalu berkuda. Tapi aku takut kamu tidak terbiasa berkuda” Aku menyeka air mataku,  tersenyum tipis pada makam putih yang dari tadi ku lihat. Lalu kembali berjalan.Kami menaiki undakan landai yang terbuat dari batu-batu kali cantik yang di ditanam di atas tanah begitu saja “Ini bapakku yang buat, ibu pernah terjatuh di sini. Dia sangat mencintai ibuku dia buatkan undakan ini untuknya. Dia mencintai ibuku lebih dari pada anak-anaknya” Paman didi tertawa mengingat hal itu. Mungkin baginya lucu, tapi terdengar aneh untukku karena mana ada bapak yang tidak menyayangi anaknya ? Setelah menembus padang bamboo kami bertemu deretan pohon yang tersusun sangat rapi membentuk sebuah jalan “Ini nama Kebun Bintang” “Bintang ?” Dia menunjuk pohon-pohon itu “Itu namanya pohon bintang” dia menunduk untuk memunguti daun yang terjatuh “Ini daunnya berbentung bintang” Aku mengambil daun itu, berjalan dengan takjub. Pohon-pohon ini berderet sangat rapi di sisi jalan setapak. Aku tidak bisa melihat langit sama sekali. Daun-dauannya begitu rimbun menjadi atap yang teduh. Tanah di bawahku tidak terlihat,  karena dipenuhi tumpukan daun pohon bintang yang sudah lama terjatuh dan menjadi kering. Daun-dauan yang masih hijau tertiup tiup angin berada di lapisan paling atas. Aku menendang daun-daun bintang yang terjatuh. “Lihat itu, aku sering terduduk di situ” Paman didi menunjuk batu besar di tengah jalan, nampak seperti hambatan di jalan itu. Batu berbentuk seperti kursi kayu memanjang. Aku berlari dan mencoba duduk di batu itu. Ternyata ketika menengadah ke langit, dahan-dahan pohon Bintang membentuk sebuah lubang tepat di atas batu itu. Jadi cahaya matahari masuk dari lubang bulat itu. Aku duduk disitu seperti di berikan sinar oleh matahari. Matahari tepat ada di atasku “Panas” kataku ketika menduduki batu itu. “Duduklah disana kalau malam, akan banyak kunang-kunang di sini dan cahaya bulan akan terlihat dari sana cantik sekali” Dia menengadah melihat ke lingkaran yang ditembus cahaya itu “Tempatmu tinggal nanti sangat indah Lyan”      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD