Sore itu ibuk pergi ke pengepul sayur yang lain untuk menjual sekarung lobak yang tidak habis dijualnya. Di rumah hanya aku dan Riang.
Aku terpincang-pincang keluar dari kamar menemukan Riang sedang menguliti kentang-kentangnya. Dia mau jadikan apa itu kentang ?
“Seorang penjual makanan meminta kentangnya di potong dadu, agar dia lebih mudah mengolahnya. Dia pelanggan tetap ibuk. Dia selalu memasan satu karung kentang setiap satu minggu sekali”
Apa aku harus membantu Riang ? Kakiku dan pinggangku masih sakit akibat kecelakaan siang tadi. Aku memilih duduk saja melihat Riang bekerja. Dia tidak berkomentar dengan aku yang tidak membantunya. Aku bertanya-tanya apakah ibuk sudah membuka suratku di dalam dompetnya ? Aku melihat ke lemari dapur tempat ibuk biasa menaruh dompet rajutannya.
Dompet itu masih disana seperti tadi pagi. Itu artinya dia belum membuka suratku. Riang nampak sudah selesai mengupas kentang, dia membenahi pekerajaannya. Padahal, aku melihat satu bakul kentang masih belum di kupas. Dia berdiri tegak menatap kentang-kentangnya, menepuk tanganya beberapa kali untuk membersihkan sisa debu kentang-kentang itu lalu menutup pintu masuk rapat-rapat padahal hari belum terlalu malam. Dia juga menutup rapat semua jendala dan kelambunya.
Mau apa sih dia ?
“Ibuk bilang dia bisa pulang sangat malam” dia melihatku “Aku takut terjadi apa-apa lagi. Aku mau masuk ke kamar. Aku mau matikan lampu. Supaya mereka pikir kita tidak di rumah” Bodoh sekali dia. Dia bergegas ke kamar mandi mencunci kaki dan tangannya lalu masuk ke kamar kami. “Matikan lampunya”
Tidak. Aku tidak akan mndengarkannya. Aku berjalan ke arah kentang
“Terserah kamu”
Iya memang terserah aku. Mereka kan mengincarku. Bukan mengincarmu.
Dia masuk kamar dan menguncikan aku di luar. Riang tidak pernah jadi seorang kakak yang bertanggung jawab.
Di kantongku ada arloji hasan, sekarang arloji itu jadi barang sangat berharga buatku. Kemana-mana aku pasti akan membawa arloji itu bersamaku . Matahari Sudah total tenggelam. Samar-samar aku mendengar suara tangis Riang dari dalam kamar. Aku memejamkan mata. Merasakan pilu di dalam tangis itu. Perasaan bersalah yang berusaha ku kubur seakan menyeruak keluar ke permukaan. Tidak adakah yang bisa ku lakukan ? keluargaku mengalami hal buruk karena aku.
Aku berniat untuk mengambil suratku di dompet ibuk waktu aku melihat amplop yang di berikan Bu Mimi siang tadi ada disana. Yang katanya dari keluarga kuswardi.
Aku tarik amplop yang sudah di sobek ibuk. Aku merakan berat di dalamnya. Tapi ini gak terasa seperti uang kompensasi atas luka-luka di tubuhku. Aku melihat ke dalam amplop ternyata selembar surat. Aku keluarkan surat itu. Aku membacanya dengan hati mencelos…
Minta anakmu jauh-jauh dari masalah Hasan
Sepenggal kata itu mengakar di kepalaku. Ku raih surat itu. Emosiku bergejolak sakit hingga kepalaku. Semua ini bermula hanya karena aku melihat Hasan. Salah satu Kuswardi itulah yang menaruh jam tangan di laci mejaku di sekolah. Dan dia juga memberikan surat ancaman untuk ibuk.
Tentu ancaman ini tidak membuat kami semua dapat tenang. Sumpah Pualam yang ku ucapkanlah menyeret kami dalam masalah ini. Benar kata Riang, seandainya mulut sialku bisa ku jaga.
Hasan….,, kunci dari semua peristiwa ini adalah Hasan. Aku harus menemukan mayatnya. Dia jelas sudah mati. Orang-orang yang membunuhnyalah yang sekarang sedang meneror ku.
Dengan kaki masih pincang karena luka tertabrak siang tadi, aku menyeret langkahku pergi ke danau. Aku berjalan melwati hutan. Dari kejauhan aku mendengar suara Riang memanggilku. Aku tidak akan kembali Riang, sebelum aku menemukan mayatnya Hasan
Kabut telah menyusup dari daun-daun di dalam hutan. Aku harus menyesuaikan pandanganku dengan cahaya yang sudah mulai menghilang. Aku sadar, aku hanya menggunakan pakaiyan main tipis tanpa luaran yang hangat. Aku terdiam sejenak di tempat diamana aku , Moris dn Tumang sering terduduk. Bercerita.
Ayo ayo tidur
Suara ini lagi. Aku memejamkan mata, berusaha tidak peduli dengan suara-suara aneh yang ku dengar dari dalam hutan. Mungkin memang hantu itu ada tapi dia tidak akan membuatku takut hari ini. Aku terus berjalan menembus kabut.
Sampai di dermaga aku mengambil rakit sembarangan, tanpa meminta izin terlebih dahulu. ku kayuh rakit itu. Pada area diaman aku menemukan arloji Hasan. Mungkin mayatnya ada di sekitar sana. Aku melihat sekeliling ku. Aku bertanya pada diriku sekali lagi. Apa kamu yakin ? kamu kan belum tentu bisa berenang ? aku memang belum pernah berenang. Pada saat itu, aku pikir renang hanya tinggal menggoyangkan tangan dan kaki saja, selanjutnya air akan membantu ku terapung. Aku menganguk dengan yakin. Ku letakkan arloji hasan di rakit. Dan loncat ke danau
Ternyata aku tidak bisa bernang
Aku tenggelam beberapa saat dalam air. Di dalam air tidak ada apapun. Gelap. Aku menggoyangkan kakiku pelan-pelan dan berlahan beretemu permukaan. Tapi nafasku lelah dan tersengal-sengal. Aku akan mati. Aku bahkan tidak punya kesempatan untuk berteriak. Air di bawah kakiku seperti menarik ke bawah. Aku berusaha keras untuk tetap bernafas di permukaan. Aku menggepakkan tanganku sekuat-kuatnya.
“ASTAGA..” akau mendengar suara orang
“Tol…ng…m…” aku tenggelam lagi. Lalu ke permuakaan lagi. Aku mulai kehabisan tenaga mengepak-ngepak tanganku di air.
Sebuah rakit mendekat. Seorang laki-laki berperawakan gempal, berambut kriting ikal sebahu mendatangiku dengan rakitnya “Tunggu-Tunggu” Dia ikut loncat kedalam air.
Dia menolongku. Dari hokum melayang, mengapung dan tenggelam. Seharusnya yang lebih berat akan tenggelam dan yang ringan yang akan mengapung. Ternyata konsepnya tidak seperti itu, yang bisa berenanglah yang mengapung.
Bodohnya aku…
***
Aku di bawa pulang olehnya. Dia menyelimutiku dengan selimut berwarna coklat yang baunya seperti minyak Kashmir menyengat. Aku bersin beberapa kali ketika pertama kali memakainya. Tapi selumut itu memabantuku tetap sadar. Mengingat lelahnya aku ketika tenggelam tadi.
Dia menggunakan pelita untuk menerangi jalan kami. Tadinya dia ingin menggunakan jalan setapak yang biasa di lalui warga untuk ke danau. Tapi aku mengarahkannya ke jalan lain “Terakhir aku melihatmu kamu masih sangat kecil. Tapi rambut mu masih sama”
Rambutku lepek, kerting dan menjijikkan sekarang. Sama seperti rambutnya.
“Aku paman didi” dia menyebutkan dirinya ‘paman’, seharusnya aku yang memutuskan memanggilnya seperti apa.Entah itu paman, kakek atau tuan “Aku tinggal di sebrang danau, di daerah pertanian. Ibuk mu suka mengambil sayuran di sana”
Oh. Berarti dia betulan tahu ibukku itu siapa. Aku tidak mengenal orang ini.
Kami sudah sampai safana kecil, ketika dia mengatakan bela sungkawanya atas meninggalnya bapakku “Albani sulit tersenyum. Tadinya kupikir dia bertabiat sama seperti orang-orang yang bekerja di keluarga Kuswardi. Tapi dia baik. Dia punya hati yang baik”
Aku menalan ludah yang terasa membara disana. Aku tidak pernah mendengar satupun tentang bapak dari orang lain. Hal itu menghangatkan hatiku sekaligus teringat tentang dia, yang memang sama seperti bagaimana Paman Didi menggambarkannya.
Dia menyentuh kepalaku “Kamu juga sama Lyan. Kamu memiliki kebaikan bapakmu dan keberanian ibukmu” Dia menyodorkan aku arloji yang tadi ku taruh di rakit yang ku gunakan “Aku menemukan ini”
Cepat-cepat ku ambil dan ku masukkan ke kantong, tidak peduli kantongku masih basah. Karena siapapun yang berkaitan dengan arloji ini akan mati. Aku tidak mau menambah korban lagi.
“Apa itu sangat berharga ?”
Aku mengangguk cepat-cepat. Kami sudah sampai pada pemabatas hutan dengan jalan setapak dan di depan jalan setapak itu ada rumahku. Rumahku terlihat hangat, bohlam-bohlam kuning telah dinyalakan.Riang mungkin sudah berhenti menangis.
Dia mengikutiku sampai ke rumah. Aku tidak memintanya. Riang berdiri di depan pintu “Kamu kenapa lagi ?” tanyanya dengan suara menuduh.
Aku ngeloyor masuk mendahuluinya. Aku melihat dia berhadapan dengan Paman Didi. Aku langsung ke kamar untuk mengganti bajuku. Samar-samar aku mendnegar percakapan Riang dengan paman Didi.
“Aku paman Didi”
“Aku tidak punya Paman” Riang langsung mematahkan kata “paman’ di depan kalimat perkenalaanya “Ibuk dan Bapakku sebatang kara”
Paman Diri tertawa nyaring “Sudah Riang ! Aku ingin masuk menghangatkan diri dulu. Aku baru saja menyelamatkan adikmu dari maut. Tidak bisakah kamu berbaik hati barang sedikit saja padaku ?”
“Aku di larang membawa masuk orang asing tuan. Maafkan aku”
“Aku bukan orang asing Riang. Percayalah”
“Tuan..tuan”
Sementara Riang terus beradu arguman dengan paman Didi aku mengganti bajuku. Menaruh bajuku yang basah pada pojokan kamar. Ku ganti dengan gaun kebesaran bekas Riang yang lehernya tertutup rapi. Gaun itu terlalu cantik untuk digunakan malam-malam. Tapi gaun itu lumayan hangat. Ku pakai luaran switer lagi untuk tambah menghangatkan ku.
Aku keluar Paman Didi masih di depan pintu “Lyan..” Dia minta pertolongan. Dengan anggukan dan gerakan tangan aku menyuruhnya masuk. Paman Didi mengenalku Bapakku dengan baik. Dia menyelamatkanku, itu pertanda yang sederhana bahwa dia bukan musuh keluarga kami.
“Lyan..” Riang tidak sepaham denganku
Aku ke kamar Ibuk untuk pertama kalinya setelah bapak meninggal. Dan itu mengejutkan aku masih menghirup aroma bapak. Aku memejamkan mata. Ku ambilkan pakaiayan bapak yang masih tersusun di lemari, seolah dia masih bekerja dan belum pulang. Kamar ini sangat menggambarkan bapakku, papyrus-papyrus, pena angsanya, tintanya dan stempel lilinya, semua itu masih ada di atas meja kerjanya.
Aku keluar. Paman Didi sudah masuk rumah tapi tidak mau mengotori kursi karena pakaiannya masih basah. Aku menyerahkan baju bapak. Semoga cukup. itu sweter, ku rasa akan cukup, walaupun tidak segempal paman Didi, bapak berotot dan berperawakan besar.
“Riang” dia menujuk wajah Riang “Kamu pasti di marahi ibuk mu kalau dia tahu kamu membiarkan paman mu kedinginan”
Riang membuang muka. Dia bergumam kecil “Aku tidak punya paman” tawa kecil paman didi terdengar sangat ceria, dia berjalan masuk kamar mandi.
Riang berpaling padaku “Dia menyelamatkan nyawamu ?” dia berkacak pinggang “Kenapa lagi kamu Lyan ? Kenapa selalu buat masalah ? Sekarang kita memasukkan orang asing karena ulahmu. Bagaimana kalau dia bawa tembekan ?”
Itu tidak mungkin
“Katakan apa lagi yang kamu lakukan” dia mengguncang lenganku.
Ibuk datang dan melihat situasi kami. Riang berlari menghampiri ibuk. Dia membawa seikan kayu bakar “Kamu baru mandi ?” Ini terlalu malam kalau buat mandi “Kalau mandi jam segini kamu bisa sakit” Ibuk hanya belum tahu situasi sebenarnya.
“Ibuk Lyan membawa seorang pria yang mengaku pamanku” Riang terdiam waktu paman Didi keluar dari kamar mandi dengan pakaiyan bapak yang agak terlalu sempit tapi masih menutupi semua badannya.
“Didi” ibuk mengenalinya
Aku melihat Riang. Apa kataku..
Dia cemberut. Duduk dengan gerakan sangat suntuk di sudut ruangan. Di kursi goyang tempat biasa ibuk menyulam kain.
Bersamaan dengan wajah bahagianya ibuk keliatan sedikit takut “Lyan tadi tenggelam di danau aku tolong” kata paman Didi dengen gerakan santai dia menarik kursi meja makan dan duduk disana. Seluruh meja bergoyang karena tidak sengaja kakinya menyenggol meja. Paman Didi memang besar sekali.
Ibuk ngeliatin aku, udah kaya buronan perang. Udah kaya mangsa yang sebentar lagi di terkamnya
“Duduk dulu sini” Paman didi meminta ibuk duduk, menunjuk keursi di depannya “Kita bicara dengan tenang”
“Lyan buatkan paman Didi teh hangat” Aku berjalan melewati ruangan dengan tatapan ibuk yang tidak pernah lepas dariku “Kamu sudah berterima kasih”
Aku menggeleng
“Berterima kasihlah sekali lagi rupanya kamu masih harus hidup” kata-kata itu rada kasar.
Aku melihat paman didi, dan membungkuk sedikit.
“Ibuk dia bilang dia paman ku, ibuk dan bapak kan sebatang kara” Riang tidak terima punya paman seperti paman Didi. Memangnya dia harapkan siapa yang akan jadi pamannya ?
Ibuk menunduk sesaat. Menghela nafas dalam. Dan lurus-lurus melihat wajah paman Didi “Dia memang paman mu Riang, dan kalian masih punya nenek”
“Hah ?” Riang melihat paman Didi tidak percaya. Aku menoleh melihatnya ketika dia berjalan mendekati ibuk. Matanya menuntut kebenaran.
Paman Didi seakan mengejek Riang dia memeringkan kepalanya tersenyum menyebalkan.
“Gak mungkin kan buk ?”
Ibuk tidak mau menjawab Riang. Riang mengambil posisi duduk di dekat ibuk
“Ibu bilang apa ?” Paman didi menaruh tangannya di bawah meja. Melihat ibuk yang tertunduk lemah. Ibu yang ditanyakan Paman Didi, maksudnya ibu mereka.
“Ibuk,, ibuk bohong kan ? Kenapa aku baru tahu ibuk” Riang tidak henti-hentinya menanyai ibuk. Dia sekarang mengguncang lengan ibuk. Meminta kepastian yang sepasti-pastinya.
“Riang aku dan ibumu itu bersaudara kandung. Ibukmu tidak memberi tahumu karena ibu kami. Maksudnya nenekmu..” Sekarang Paman Didi menaikkan tangannya di atas meja, melihat keRiang. Alisnya turun naik saat berbicara “Nenekmu Juru Kunci. Kami sebagai anaknya berkewajiban menyembunyikan identitasnya”
Aku menaruh kembali teko yang tadinya sudah siap ku tuang di dalam gelas berisikan daun teh. Aku menyandarkan tubuhku di salah satu tembok.
“Lyan cepat berikan minuman paman mu dulu. Lalu bergabung berama kami disini” perintah ibuk padaku.
Tunggu dulu, tunggu… jadi juru kunci yang ku lihat memiliki sihir itu, yang wajanya di tutupi dengan kain adalah nenekku ? Tapi ibuk bersikap sama seperti orang lainnya. Saat kami ketemu..
Astaga aku beru teringat dia pernah memanggilnya “ibu” jadi benar ibu mereka Juru Kunci itu. Juru Kunci yang katanya memgang keseimbangan Lembah ini. Ibu mengibaratkan juru kunci itu seperti timbangan yang digunakan untuk menimbang sayuran. Kini si penyeimbang itu adalah nenekku. Dan orang ini yang menolongku di danau adalah pamanku ?
“Lyan” Suara ibuk sangat memerintah. Matanya menyeringai tajam padaku.
Aku cepat-cepat menyelesaikan pembuatan teh. Berjalan cepat ke meja makan bergabung bersama mereka. Aku tidak tahu apakah aku menyampurkan teh dengan gula atau tidak, atau gulanya terlalu banyak. Terserahlah aku tidak ingat. Aku ingin mendengar ceritanya Juru Kunci ini…
Ibuk melihatku lekat-lekat, memiringkan kepalanya sekarang tatapannya menjadi sangat lembut pada ku.
“Supaya kalian tidak bingun, ku kisahkan sedikit bagaimana kehidupanku dan ibumu di masa kecil. Bapak kami hanya petani biasa. Ibuk kamilah yang laur biasa, dia di tunjuk oleh Sang Pualam menjadi seorang Juru Kunci melanjutkan nenek kami. Kami hidup tumbuh besar di dalam hutan. Di atas bukit sana. Lalu kemuning bertemu dengan Albani dan aku memilih mengelola sepetak tanah peninggalan bapak kami” dia tersenyum pada kami. Dia meneguk teh yang ku minum dan tersenyum padaku. Rupanya dia menyukai teh ku. Dia menghirup teh itu lagi “Seorang Juru Kunci memiliki seorang abdi untuk membantunya” dia meletakkan tanganya dengan bangga pada dirinya “Akulah Abdi ibuku” Senyumnya sangat lebar, sangat berbeda dengan ibuku yang susah tersenyum .
“Mulanya bapak kami yang menjadi Abdi tapi beliau meninggal ketika menjalankan tugasnya menjadi abdi. Hingga akulah yang ditunjuk. Aku bekerja bersama ibuku sambil sesekali merawat sepetak sawahku”
Aku duduk di samping Paman Didi. Ibuk tidak mengalihkan pandangannya dariku. Dia mengambil tanganku. Menggenggamnya “Lyan..” dia tertunduk keliatan tidak berdaya. Paman Didi seakan tahu apa yang akan dikatakan ibuku. Dia menghela nafas berat, menangadah ke langit-langit rumah kami “Hanya nenekmu yang bisa melindungi mu dari keluarga terkutuk itu”
Aku teringat lagi pesan yang diberikan si penabrak. “Jauh-jauh dari masalah Hasan” Ibu dan aku tahu, yang menuliskan itu adalah salah satu kuswardi
“Ibukmu benar Lyan. Mereka tidak akan menyentuhmu kalau kamu dilindungi Juru Kunci”
Ya kalau gitu lindungi saja aku. Apa salahnya ?
“Dilindungi Juru Kunci ?” Riang tidak mengerti
Ibuk menarik nafas, dia terlihat sangat lelah hari ini. Dia masih menggenggam tanganku “Menjadi penurusnya Lyan”
Aku lantas menarik tanganku dari ibuk.