"Tenangin diri May dulu. Mas bakal cerita satu per satu.” Mas Graha menyentuh lenganku seperti berusaha meredam emosiku yang meledak-ledak. “Mas selalu saja membela Mbak Diara. Apa pun bakal Mas lakuin kalau berhubungan dengan dia. Bahkan May ngerasa nggak ada apa-apanya dibanding dengan Mbak Diara. Dia mendominasi kehidupan pribadi kita. Dia seperti merebut posisi May!” Aku berbicara dengan napas terputus-putus. Rasa marah yang baru bisa aku luapkan kali ini membuatku bicara tanpa berpikir. Di pikiranku hanya ingin Mas Graha tahu jika aku merasa tersakiti dengan semua yang dilakukannya. “May.” Mas Graha seperti mau memotong pembicaraanku. Aku menatapnya tajam, tidak mau memberikan kesempatan padanya untuk membela diri. “Ada banyak hal yang Mas sembunyikan dari May. Banyak rahasia yang

