Aku Akan Pergi

1093 Words
"Malia!" Sebuah sentuhan lembut di bahunya menyadarkan Malia dari lamunannya yang panjang dan gelap. Ia tersentak. "Habiskan makananmu, kamu melamun terus sedari tadi." Suara lembut Mama menyapa telinganya. Kekhawatiran samar tampak di wajahnya. Malia menoleh, mengangguk pelan. "Apa kamu sudah sembuh?" Tanya Papa. Malia mengangguk, berusaha meyakinkan. "Sudah, Pah," ucapnya, memaksa mengukir senyum yang terasa hambar, nyaris menyakitkan. "Ada apa sebenarnya Malia? Dari kemarin kamu mengurung diri terus dalam kamar." Suara pria itu terdengar pelan, namun matanya menuntut kejujuran. Malia tahu kedua orang tuanya sangat khawatir ia kembali mengalami depresi. Malia meletakkan sendoknya di piring. Matanya menatap ragu, jantungnya berdebar kencang. Ia harus mengatakannya. Jalan keluar yang sudah dipikirkannya matang-matang. Jalan keluar yang ia tahu tak akan diterima mereka begitu saja. Tapi ia harus melakukannya. Demi kebaikan semuanya. "Aku..." Malia memulai. "Aku mau ke Amerika, Pah. Lanjutin kuliah..." Hening. Ucapan Malia terdengar bagai petir di siang bolong. Wajah kedua orang tua tampak syok. Tak percaya apa yang mereka dengar barusan. "Apa maksud kamu, Malia?!" Suara Mama naik satu oktaf. "Kamu kan, mau tunangan?" "Aku mau tunda, Mah..." Malia tertunduk. "Apa kalian bertengkar?" Tanya Papa. Malia menggeleng, air mata sudah mengambang di pelupuk matanya. "Ya, Tuhan..." Mama mengelus dadanya. "Lalu apa Malia? Kenapa kamu mendadak berubah?" Suara Mama penuh emosi yang bercampur aduk. Kecewa, marah dan bingung. Pak Subagja mengusap wajahnya, frustrasi. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menghela napas panjang. "Apa kamu sudah memikirkannya matang-matang?" Tanyanya, nada suaranya terdengar berat. "Jangan main-main Malia!" Timpal Mama, mulai marah. Malia hanya terdiam, bibirnya terkunci rapat. "Kamu jangan terburu-buru mengambil keputusan. Papa tidak mau kamu menyesalinya nanti," imbuh Pak Subagja, nada suaranya kini lebih lembut. Malia menggeleng. "Enggak, Pah... Aku enggak akan menyesal. Aku udah memikirkannya matang-matang." Suaranya bergetar. "Kamu bertengkar lagi dengan Langit, kan?" Mama masih tak percaya. Malia kembali menggeleng. "Enggak, Mah." Ia menatap Mama dengan tatapan paling tulus yang bisa ia berikan. "Lalu kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran?" Mama tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Malia hanya tertunduk. Ia memang tidak bisa menjawabnya. Ia tidak bisa mengatakan penyebabnya. Ia tak akan tega melihat hati mereka hancur karena rahasia kelam itu. Cukup ia saja yang menanggungnya. Pak Subagja menepikan piringnya yang masih tersisa makanan, selera makannya hilang. "Kamu sudah bicarakan ini dengan Langit?" Tanyanya, nada suaranya kembali serius. Malia mengangguk, tanpa mengangkat kepala. "Pikirkan lagi, Malia. Sebelumnya kamu yang menolak keras permintaan Papa itu." "Aku sudah memikirkannya, Pah." Mala menatap wajah Papa, meyakinnya. "Apa kamu sudah siap berpisah lama dengan Langit?" Tanya Mama, kekecewaannya kini bercampur dengan kesedihan. Malia kembali mengangguk pelan, air matanya akhirnya jatuh. .... "Hai!" Langit menoleh dari layar komputer di depannya, terkejut namun senang. Setelah seharian menghilang dan sulit dihubungi kini Malia hadir di hadapannya. "Kamu udah masuk lagi?" tanyanya, senyum lebar merekah di bibirnya. Malia mengangguk. "Kamu masih sibuk?" Tanyanya. Langit mengangguk. "Akhirnya aku dikasih kerjaan juga sama Pak Johan." Langit tersenyum lebar. Hati Malia mendadak pilu membayangkan sebentar lagi ia tak akan bisa melihat senyuman itu lagi. "Mau makan siang sekarang?" tanyanya, berusaha menyembunyikan kesedihan. Langit melirik jam di pergelangan tangannya. "Aku enggak sadar, udah waktunya makan siang." Ia menutup layar laptop, beranjak dari duduknya. "Mau makan di mana?" Tanyanya seraya menggandeng Malia ke luar ruangan. "Terserah kamu." Langit menatap terkejut. "Tumben?" Malia tersenyum getir, senyum yang tak mencapai ke matanya. Ia semakin merasa bersalah. Sekarang ia akan melakukan apa pun untuk menebus dosanya. Apapun! Asal bukan untuk mengatakan kebenaran itu. Ia belum sanggup. "Kantin aja, ya?" Malia kembali mengangguk. Dibiarkannya Langit menggandengnya menuju kantin. Genggamannya erat, langkahnya penuh percaya diri. Tak ada lagi rasa risih dan malu. Ia tak lagi peduli dengan tatapan dan bisikan-bisikan orang-orang di sekitarnya. Langit sudah berubah. Malia menarik napas perlahan, berusaha menenangkan badai di dadanya. Di saat semuanya berjalan sesuai harapannya—di saat kebahagiaan terasa begitu nyata—kenyataan itu justru datang merenggut segalanya. Berganti dengan kebenaran yang jauh lebih pahit. Ia akhirnya mengerti, semua yang ia jalani selama ini bukanlah kenyataan, melainkan ilusi dari pikirannya yang keliru membaca takdir. Ia sempat mengira Langit dikirim Tuhan untuk menyelamatkan hidupnya. Nyatanya, Tuhan memiliki rencana lain. Langit hadir bukan untuk menyelamatkannya, melainkan untuk membuatnya menerima hukuman. Langit adalah karmanya. Ia telah menjalani hidup sesuai jalan yang diinginkan Langit. Seperti doa-doa yang selama ini ia panjatkan. Seperti dendam yang diam-diam disimpan Langit begitu lama. Dan kini, Langit hanya menunggu satu hal—kebenaran itu. Namun Malia belum sanggup mengungkapkannya. Mungkin tak akan pernah sanggup. Lebih baik ia pergi dari hidup Langit. Menghilang perlahan, sebelum semuanya hancur. Lebih baik ia kehilangan Langit, daripada harus melihatnya terluka sekali lagi. Ia yakin Langit akan melupakannya. Ia akan menemukan perempuan yang lebih baik, yang pantas untuknya. Langit akan bahagia—tanpanya. Ini satu-satunya jalan. ... Langit menatap lampu-lampu kota yang menyala di bawahnya. Berkelap-kelip indah bagai kunang-kunang. Sangat kontras dengan suasana hatinya saat ini. Untuk pertama kalinya sejak mengenal Malia, ia merasa kosong. Ucapan Malia siang tadi membuat pikirannya terus berputar. Sungguh ia tak habis pikir dengan keputusannya yang mendadak itu. Malia memang selalu sulit diterka, penuh teka-teki. Dia selalu saja punya rencana yang disembunyikan. Tapi kali ini rencananya sungguh di luar nalar. Mereka akan bertunangan beberapa hari lagi. Dan ia sangat bahagia. Ia bahkan berencana menjemput Mentari untuk menemaninya belanja. Tapi tiba-tiba saja ia jatuh sakit lalu pikirannya berubah drastis. Ia membatalkan pertunangan dan akan meninggalkannya dalam waktu yang lama. Sakit apa yang bisa membuat seseorang berubah hanya dalam waktu satu hari? Rasanya sulit dipercaya. Langit menghela nafasnya, menatap asap rokok yang tertiup angin di tangannya. "Enggak usah coba-coba ngerokok lagi." Tiba-tiba saja Bima mengambil rokok itu dan mematikannya dalam asbak. Langit meraih cangkir kopinya. Meneguk kopinya yang sudah dingin. "Lu masih mikirin Malia?" Tanya Bima pelan. Langit mengangguk, tatapannya kosong. "Gue masih bingung sama keputusannya yang mendadak itu. Kayak ada yang dia sembunyiin dari gue." "Apa jangan-jangan depresinya kambuh?" Raut wajah Bima berubah serius. Langit mengernyit. "Memangnya depresi bisa kambuh kalau orangnya lagi bahagia?" Bima tertawa hambar. "Ya, mungkin aja diam-diam dia merasa tertekan?" sahutnya, mencoba mencari kemungkinan lain. "Kalau dia nunda pertunangan karena merasa tertekan, gue bisa ngerti. Tapi dia mutusin buat pergi jauh dan lama. Itu yang bikin gue bingung. "Tapi lu belum putus, kan?" Langit menggeleng. "Mungkin dia cuma capek aja. Setahun ini dia udah ngalamanin banyak hal. Mungkin dia perlu jeda sebentar. Lagian kuliahnya kan, cuma setahun. Lu juga lanjutin kuliah setahun. Pas waktunya. Kalian bisa sama-sama fokus kuliah." Bima mencoba mencari sisi positif, pandangan yang lebih rasional. Lama terdiam, napasnya terembus pelan. Ucapan Bima sedikit menenangkannya. Semoga saja benar. Malia hanya terlalu lelah. Ia belum siap menerima perubahan yang terlalu cepat dalam hubungan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD