Demi Semua

950 Words
Bima baru saja melangkah masuk ke kafe. Aroma kopi pekat langsung menyergapnya. Pandangannya tertuju pada Langit yang sibuk di balik konter, menyiapkan selusin gelas kopi panas. "Pesanan online?" tanyanya sambil menyapu sekeliling kafe yang masih lengang - hanya ada deretan meja dan kursi kosong. Langit menggeleng. "Lu sendiri yang nyuruh gue naikin omzet. Nih, udah pada order. Tinggal kirim ke kantor-kantor!" sahutnya, suaranya sedikit tenggelam di balik dengung mesin kopi. Tak lama kemudian ia menghilang di balik pintu, menenteng selusin kopi di tangannya. Bima tersenyum sumringah. Ia tak menyangka marketing ala Langit membuahkan hasil yang cepat. Tak lama, Langit kembali dengan senyum lebar. "Rezeki anak soleh! Ada yang ngasih sarapan," serunya, menunjukkan sebungkus makanan di tangannya. "Berapa orang yang udah lu rayu?" goda Bima, tertawa kecil. Langit menghitung jari-jari tangannya. "Lumayan!" ujarnya sambil mendengus. "Semalaman gue ngerayu cewek-cewek itu." Bima menepuk bahu Langit sambil tertawa. Bagi orang lain merayu mungkin mudah, tapi bagi Langit, itu adalah perjuangan besar. "Selamat pagi semua!" Suara ceria itu mengejutkan keduanya. Malia masuk dengan senyum manis menghiasi wajahnya. "Hai!" sapa Langit ramah. "Mau kopi?" "Coffee latte," jawab Malia, langkahnya ringan menuju meja favorit di sudut dekat jendela. Bima menatap Langit penuh tanya. Saat Langit selesai mengantarkan kopi ke meja Malia, ia menariknya ke pojok konter. "Oke, sekarang cerita ke gue!" desaknya tak sabar. Langit hanya tersenyum tipis. "Yah, orang kan, bisa berubah, Mas," sahutnya santai. "Enggak secepat itu juga! Ini pasti ada hubungannya sama kedatangan Pak Subagja tempo hari, kan?" tekan Bima. Langit mengangguk pelan. "Lu ditawarin apa?" Langit menghela napas. "Nanti aja, Mas. Complicated." "Oke. Tapi nanti lu harus cerita." Langit mengangguk. Ia memang tak bisa merahasiakan apa pun dari Bima. Dari kejauhan, Malia memperhatikan Langit yang sibuk melayani pelanggan. Sesekali ia tersenyum saat tatapan mereka bertemu, tapi di saat lain wajahnya berubah cemberut melihat pelanggan wanita yang terlalu ramah. Meski kehadiran Malia membuat Langit merasa risih, tapi ia berusaha membiasakan diri. Bukankah sejak awal ia tahu pekerjaan ini tak akan mudah? Hari sudah siang saat Langit akhirnya menghampiri meja Malia. "Istirahat?" tanya Malia penuh semangat. Langit mengangguk. "Kamu udah pesan..." Belum sempat Langit menyelesaikan kalimatnya, Malia sudah menarik tangannya keluar kafe. "Kita mau ke mana?" tanya Langit kaget. "Makan siang!" sahut Malia riang. "Loh, katanya mau pesan online aja?" "Aku bosan di kafe." Langit hanya bisa pasrah, saat Malia membawanya ke restoran Jepang favoritnya. "Kamu mau pesan apa?" Tanya Malia, begitu mereka duduk. "Terserah kamu." Langit menjawab malas. "Aku pesenin yang terenak," sahut Malia, tangannya membuka menu. Langit menghela napas panjang. "Kenapa enggak bilang dulu mau makan di sini?" "Kalau nanya dulu, kamu pasti nolak. Kamu kan, selalu punya alasan buat nolak aku," jawab Malia cepat. "Karena aku kerja, Mal. Di kafe cuma aku sama Mas Bima. Aku enggak bisa ninggalin lama-lama." "Cuma makan sebentar," balas Malia. Langit menatap lelah. Percuma berdebat. Malia tak pernah tahu rasanya menjadi pegawai yang tak bisa seenaknya menggunakan waktu pribadi. "Oke," katanya akhirnya. "Mulai sekarang aku enggak bakal nolak, tapi kamu harus kasih tahu. Biar aku enak ijinnya ke Mas Bima." Malia mengangguk kecil. "Oke. Tapi kamu juga janji, kalau aku chat langsung dibalas. Enggak pakai lama!" "Kalau aku enggak sibuk, pasti aku balas. Tapi kalau belum, itu tandanya kamu harus s-a-b-a-r," ucap Langit menatapnya serius. Malia mencebik, tak puas dengan jawaban Langit. Langit hanya bisa menghela napas. Benar kata Pak Subagja - ini akan jadi pekerjaan yang berat. "Habis makan, kamu langsung pulang, ya?" pintanya. "Kenapa pulang?" "Mal, please... Aku udah nurutin kamu. Sekarang gantian kamu nurutin aku," ujar Langit, mencoba tegas. "Tapi nanti malam kita video call, ya?" Langit mengangguk cepat. Apapun asal Malia tak menungguinya di kafe lagi. Ia tak ingin ada drama. "Kok enggak dihabisin?" tanya Langit melihat sushi di piring Malia masih tersisa banyak. "Aku kenyang," jawab Malia sambil mengusap perutnya. "Tapi kamu kan kamu baru makan dua potong?" "Aku bosan! Kamu aja yang habisin," katanya, mendorong piring ke depan Langit. Langit mendengus, menatapnya lelah. "Kalau kamu enggak makan, aku juga berhenti." Malia terdiam sejenak, lalu menatapnya dengan mata berbinar nakal. "Suapin!" "Hah?!" Langit terpaku. Ia tak menyangka pekerjaannya akan sesulit ini. Tapi ia juga tahu, menolak hanya akan memicu drama baru. Malia menahan senyum saat menerima suapan pertama dari Langit. Ia tak mengira Langit akan melakukannya. Padahal ia hanya ingin membuatnya kesal. Sepulang makan siang Langit langsung menemui Bima. "Maaf, Mas, kelamaan," ucapnya. "Gue maafin. Tapi sekarang, cerita dulu," jawab Bima tegas. Akhirnya Langit menceritakan semuanya. "Jadi dia minta lu jadi temen dekatnya Malia?" tanya Bima memastikan. Langit mengangguk lesu. "Tapi sekarang gue enggak yakin, Mas. Malia itu... sulit." "Makanya Pak Subagja ngasih bayaran. Karena dia tahu anaknya sulit." "Tapi kalau gue gagal gimana?" "Lu kan, enggak disuruh nyembuhin, Lang. Cuma nemenin. Bikin dia mau keluar rumah, mau terapi lagi." Langit mengangguk pelan. Tapi keraguan tetap ada di matanya. "Terus kalau dia beneran suka sama gue?" Bima terkekeh. "Lah, bukannya emang dia udah suka? Yang perlu lu takutin itu malah sebaliknya. Gimana kalau lu juga jadi suka sama dia?" "Ah, enggak mungkin, Mas." "Yang enggak mungkin itu, kalau lu tiap hari ketemu terus enggak ngerasa apa-apa." Langit terdiam. Pandangannya kosong menatap kafe yang sepi. Ia menarik napas panjang. Ia memang tak punya banyak pilihan. Mungkin inilah satu-satunya jalan keluar. Untuk Mentari. Untuk hidupnya. ... Malam itu, Langit duduk bersandar di ranjangnya. Ponsel di tangannya masih menyala. Layarnya menampilkan notifikasi pesan dari Malia: "Makasih buat hari ini. Aku senang." Ia menatap pesan itu lama, tapi tidak membalas. Napasnya terhela pelan. Ada sesuatu yang menyesak di dadanya. Perasaan bersalah yang tak ia pahami sepenuhnya. Apa yang ia lakukan hari ini... terasa salah, tapi di saat yang sama, ia sadar tak punya pilihan lain. "Demi Mentari," gumamnya lirih, menatap langit-langit kamar. "Cuma demi dia."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD