Langit melangkah ke teras kafe—dan seketika napasnya tertahan.
Ia terpaku.
Teras itu telah berubah total. Bukan lagi sekadar ruang terbuka biasa, melainkan sebuah taman rooftop yang hangat dan romantis. Deretan tanaman hijau rimbun dalam pot-pot besar berjajar rapi, sofa-sofa empuk bernuansa tanah mengundang siapa pun untuk duduk lebih lama, sementara meja-meja kecil berlapis kayu jati menyatu harmonis dengan untaian lampu gantung yang berkelap-kelip seperti kunang-kunang di senja hari. Suasananya damai, asri, dan terlalu indah untuk sebuah kafe kecil.
Langit mengalihkan pandangannya pada Bima yang tengah sibuk mengatur kursi bersama Danar.
“Kapan dikerjainnya, Mas? Kok udah jadi aja?” tanyanya, masih sulit mencerna apa yang ia lihat.
Bima terkekeh. “Weekend kemarin,” sahutnya santai, melipat tangan di d**a.
“Kok lu enggak bilang? Kan gue bisa bantu,” ujar Langit, merasa sedikit bersalah.
“Udah ada Pak Tommy sama anak buahnya. Gue cuma ngawasin,” jawab Bima. Senyum bangga tak bisa ia sembunyikan. “Bagus, kan?”
Langit mengangguk, matanya menyapu tiap sudut teras. “Keren, Mas.” Ia menjatuhkan diri ke salah satu sofa. “Nyaman banget.”
Bima tertawa kecil. “Cocok buat pacaran di sini sama Malia. Enggak ada yang ganggu. Malam hari makin romantis.”
“Apaan sih,” dengus Langit, wajahnya memanas.
“Loh, beneran kok. Ini kan sengaja dibikin konsep romantis sama Ma—”
Tiba-tiba Bima berhenti, pura-pura terbatuk.
Langit menatap curiga. “Malia?” tanyanya. Nalurinya langsung menyala.
“Maunya gue, maksudnya!” sahut Bima cepat, berusaha terdengar meyakinkan.
Langit tak menanggapi. Nalurinya sudah lebih dulu menarik kesimpulan. Ia yakin, ini bukan ide Bima. Terlalu rapi. Terlalu personal. Dan terlalu… Malia.
Ia bahkan tak terkejut saat Bima berkata, “Oh ya, nanti sore tempat ini dipakai meeting. Jam empat sampai jam enam. List-nya udah gue tempel.”
Langit tersenyum kecut. Percuma menjaga jarak jika semesta terus menarik mereka ke titik yang sama.
“Hai!”
Suara itu membuat Langit menoleh. Malia sudah berdiri di hadapannya, dengan secangkir kopi mengepul di tangannya.
“Kamu udah sarapan?” tanyanya sambil duduk di samping Langit.
“Udah,” jawab Langit singkat. “Kamu?”
Malia menggeleng. “Belum sempat.”
“Mau aku ambilin roti?”
“Nanti aja.” Malia memandangi teras dengan mata berbinar. “Bagus, ya.”
Langit mengangguk.
“Nanti sore aku meeting di sini.”
Tentu saja. Langit menahan senyum pahit. Ia ingin bertanya—tentang renovasi, tentang keterlibatan Malia—tapi lidahnya kelu. Ia tak punya posisi untuk mempertanyakan apa pun. Ia hanya karyawan biasa.
“Gimana liburan kamu kemarin?” tanya Malia tiba-tiba. Nadanya datar.
Langit terdiam sejenak. “Mentari sama Devia ngajak aku ke mal. Makan malam, nonton.”
“Oh.” Malia memalingkan wajah.
Langit menangkap kecemburuan itu, tapi membiarkannya. Ia tak ingin menutupi apa pun lagi.
“Kalau kamu?”
“Di rumah aja.”
Hening. Hanya suara kota dan denting cangkir.
“Apa kamu masih ngajar lukis?” tanya Malia kemudian.
“Iya. Teman-teman Mentari.”
“Aku boleh ikut?”
Langit terkejut. Mana mungkin ia membiarkan Malia bergabung bersama teman-teman Mentari yang centil-centil itu.
“Hmm… studio-ku kecil. Sempit. Kamu enggak bakal betah.”
Malia menatapnya lama. Ada gurat kecewa di wajahnya.
“Aku aja yang ke rumahmu.”
Kalimat itu keluar tanpa Langit sadari.
Wajah Malia seketika berubah. Kecewanya berganti senyuman.
“Oke. Nanti kamu kabarin aja waktunya.” Ia menghabiskan kopinya, lalu beranjak bangun. “Aku ke kantor dulu.”
Langit menarik napas panjang saat bayangan Malia menghilang di balik pintu.
...
Langit mengernyit menatap layar ponselnya. Ia lalu menghampiri Bima.
“Mas, kayaknya lu salah transfer gaji gue.” Ia menunjukkan mutasi gaji yang baru masuk di ponselnya.
“Gaji lu naik,” sahut Bima santai, tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.
Langit mengangkat kedua alisnya. “Dua kali lipat?” tanyanya, tak percaya.
Bima akhirnya menoleh. “Kok kaget? Mestinya lu seneng.”
“Tapi…” Langit tak jadi meneruskan. Ada sesuatu di wajah Bima yang membuatnya diam. “Thanks, Mas.” Ia pergi dengan perasaan ganjil.
Ini di luar kebiasaan Bima. Ia tak pernah menaikkan gaji sedrastis ini. Apalagi pendapatan kafe juga tak sebanyak tahun lalu. Dari mana Bima mendapat uang? Apakah ini juga campur tangan Malia?
...
Tepat pukul empat sore, Malia datang bersama timnya. Ia menggandeng seorang pria muda yang belum pernah Langit lihat sebelumnya. Siapa dia? Kenapa mereka terlihat begitu akrab?
Langit mengamatinya dari kejauhan. Pria itu sangat tampan, seperti seorang model. Penampilannya rapi, setelan jasnya pas di tubuh. Eksekutif muda, batin Langit. Rasa tak nyaman mulai merayapi dadanya.
Dibantu Danar, Langit menyiapkan seluruh pesanan kopi dan camilan, lalu mengantarkannya ke teras belakang.
Matanya tak lepas dari Malia dan pria itu. Mereka duduk berdekatan—terlalu dekat. Interaksi mereka juga terlalu akrab. Malia bahkan membiarkan pria itu menyentuh wajahnya, mengusap lembut pipinya, lalu tertawa bersama.
Tubuh Langit menegang. Wajahnya memanas oleh api cemburu yang membakar.
Tak tahan, Langit berbalik. Ia ingin pergi secepatnya. Namun Malia tiba-tiba memanggilnya, memaksanya mendekat.
“Kenalin, ini Langit. Dia barista di sini,” ujar Malia.
“Bryan.” Pria itu menjulurkan tangannya, menjabat tangan Langit dengan erat dan terlalu lama. Tatapannya tajam dan menilai, menyapu Langit dari ujung rambut sampai kaki—seolah menelanjanginya.
Emosi Langit melonjak ke ubun-ubun. Dadanya panas. Ia mengepalkan tangan.
“Oke, udah ya!” Malia menarik tangan Bryan, sedikit memaksa. Namun Bryan masih memandangi Langit sambil tersenyum penuh arti.
Langit hampir kehilangan kendali andai saja ia tak melihat Bima datang membawa nampan makanan.
Ia bergegas pergi. Nampan dibanting ke meja konter. Napasnya tersengal, dadanya naik turun menahan amarah. Tatapan Bryan terasa menghina. Dan Malia—bahkan tak ingin melihatnya berlama-lama.
Langit mengembuskan napas kasar, berusaha menenangkan diri.
Mengapa Malia melakukan ini? Untuk membuatnya cemburu? Atau ini caranya membalas apa yang terjadi dengan Devia?
Ia meremas rambutnya, frustrasi. Apron dilepas, dilempar ke atas meja.
Dan tanpa menoleh lagi, Langit meninggalkan kafe.
Ia harus pergi, sebelum amarah mengambil alih segalanya.