Jatuh Karena Cinta

956 Words

Mentari mengintip dari pintu yang sedikit terbuka. Langit masih di sana, di studio kecilnya, mengguratkan kuas di atas kanvas. Entah siapa yang sedang dilukisnya; ia tak berani bertanya. Ia hanya tahu, Langit sudah berada di sana sejak ia terbangun subuh tadi, setelah semalaman tak tidur. Makan malamnya pun tak tersentuh. Berkali-kali Mentari menawarinya makan, tapi Langit tak pernah menggubris. Ketakutan perlahan merayap di benak Mentari. Ia takut tubuh Langit semakin melemah. Takut sakitnya bertambah parah. Dengan ragu, Mentari memberanikan diri membuka pintu. Di tangannya ada segelas kopi hitam dan sepiring omelet kesukaan Langit yang ia buat sendiri—harapannya sederhana: semoga kali ini Langit mau menyentuhnya. Perlahan, nampan itu ia letakkan di atas meja. Langit tetap tak menoleh,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD