Sinar matahari hangat menembus jendela kamar, membangunkan Langit perlahan. Tubuhnya terasa berat, seolah tertambat di ranjang. Kelelahan setelah seharian melayani pelanggan kafe tanpa henti kemarin, baru benar-benar terasa hari ini. Ia melirik jam di atas meja—hampir pukul sembilan pagi. Perutnya mulai keroncongan. Dengan sedikit paksaan, Langit bangkit dan melangkah keluar kamar. Di pintu, selembar kertas menempel dengan tulisan tangan yang dikenalnya. “Lagi sepedaan sama Kak Via. Kalau mau titip sarapan, WA aja!” Langit tersenyum. Ia mengambil ponsel dan mengirim pesan singkat pada Mentari. Beberapa notifikasi dari Malia muncul di layar—menanyakan kabarnya sejak pagi. Langit hanya membacanya sekilas, lalu mengabaikannya. Ia ingin membuat Malia kesal. Sebagai balasan atas kejadian ke

