"Bagus! Terima kasih cermin ajaib!" Ucap Tuan muda tersenyum lebar, setelah berhasil mengetahui dimana Celine berada saat ini. Cermin ajaib itu telah menampilkan sebuah gambar, Celine sedang duduk melamun dengan sangat kacau dan sedih di dalam rumahnya.
"Kamu lihat Grisella, gadis itu tak akan pernah bisa bersembunyi dariku. Ayo Otista! Kita jemput dia!" Ucap Tuan muda dengan sombong pada Grisella lalu mengajak Otista pergi.
"Tunggu Tuan muda! Biarkan dia sendiri saat ini, dia membutuhkan ruang untuk menyendiri dan menyembuhkan sakit hatinya. Kita tunggu dia di kantor besok, jika dia tidak datang ke kantor, baru anda menjemputnya." Ucap Grisella menahan langkah Tuan muda.
Tuan muda menatap Grisella dan berpikir sejenak.
"Kamu benar, dia juga pasti tak akan mau jika aku menjemputnya sekarang, tapi karena penyihir hitam telah mengincarnya, maka dia tidak boleh sendiri di rumahnya. Bagaimana menurutmu cara mengatasi ancaman dari penyihir hitam itu?" Ucap Tuan muda.
Grisella juga bingung menjawabnya, karena satu-satunya cara melindungi Celine dari penyihir hitam adalah membawanya ke istana, hanya istana ini yang telah dilindungi oleh mantra bibi Milly yang tak dapat dilawan oleh penyihir hitam. Grisella dan Tuan muda spontan secara bersamaan menatap ke arah Otista.
"Apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Tanya Otista bingung. Grisella melangkah maju mendekati Otista dan menatapnya tajam. Telunjuk Grisella lalu menunjuk ke d**a Otista.
"Kamu, ya kamu yang bisa mengajak Celine keluar dari rumahnya dan membawanya pergi dari pengawasan penyihir hitam." Ucap Grisella tepat di hadapan wajah Otista.
"Selalu saja aku! jangan salahkan aku kalau Celine menjadi lebih nyaman bersamaku dan jatuh cinta padaku!" Sahut Otista sedikit kesal.
Kini Tuan muda ikut melangkah mendekati Otista. Tuan muda menggeser tubuh Grisella sedikit ke samping, dan kini Tuan muda berdiri tepat di hadapan Otista.
"Aku.tidak.peduli! Yang kupedulikan adalah penyihir hitam itu tidak mencapai keabadiannya! Karena itu berarti kita semua akan terjebak dalam kondisi seperti ini selamanya! Apa.kamu.sekarang.mengerti?!" Ucap Tuan muda dengan ketus dan nada yang ditekan pada tiap kata.
"Baiklah, baiklah, aku akan membujuknya untuk segera meninggalkan rumahnya, tapi kemana aku harus membawanya?!" Sahut Otista bertanya pada Tuan muda.
"Bawa dia ke apartment yang aku belikan sebagai bonus baginya! Cepat berangkat! sebelum penyihir hitam itu mengetahui bahwa gadis itu seorang diri saat ini!" Perintah Tuan muda.
"Baiklah, aku pergi sekarang! Ingat! jangan salahkan aku jika nanti malam dia tertidur di pelukanku!" Sahut Otista menggoda Tuan muda dengan sengaja berbicara sambil berjalan mundur keluar ke arah pintu istana dan menatap Tuan muda yang mulai memerah wajahnya karena menahan marah.
Otista hanya terkekeh karena berhasil menggoda Tuan muda. Saat Otista masuk ke dalam mobil, ternyata Tuan muda telah melesat cepat mengikutinya dan kini juga ikut masuk ke dalam mobil di bangku penumpang belakang. Otista melihat ke belakang melalui kaca tengah, dan semakin tertawa karena dia berhasil memancing rasa cemburu Tuan muda. Mereka pun akhirnya berangkat menuju ke rumah Celine.
"Anda atau saya yang akan masuk menemui Celine?" Tanya Otista saat mobilnya telah berhenti di depan gedung rumah susun Celine. Tuan muda menghela napas berat.
"Aku akan mencobanya dulu, jika aku gagal, maka kamu harus berhasil membujuknya!" Sahut Tuan muda, Otista tersenyum lebar dan mengangguk.
****
Tok.Tok.Tok.
Pintu rumah Celine diketuk.
Celine melangkah dengan malas ke arah pintu, dia mengintip dari lubang pintu dan terkejut melihat bahwa Tuan muda Devon yang mengetuk pintu rumahnya.
"Sial! Darimana dia tahu bahwa aku ada di rumah ini?! Lebih baik aku diamkan saja, supaya dia berpikir bahwa aku tidaklah di rumah. Dia pasti hanya mencoba memeriksa keberadaanku saja." Ucap Celine lirih dari balik pintu, dia belum mengetahui bahwa Tuan muda mampu mendengar suaranya meski dari luar pintu.
"Bukalah! jangan seperti anak kecil! Aku tahu kamu ada dibalik pintu ini, dan sedang berpura-pura diam supaya dianggap rumah ini kosong. Sudahlah! aku mampu mendengar sekecil apapun suaramu!" Sahut Tuan muda dari luar. Celine mendelik dan menutup mulutnya sendiri. Dia masih tetap diam tak mau membukakan pintu.
"Kamu pilih buka pintunya atau aku akan merobohkan pintu rapuh ini?!" Ancam Tuan muda karena Celine tak kunjung membuka pintunya. Celine akhirnya menyerah, dia membuka pintu itu dengan terpaksa. Tuan muda tersenyum melihat wajah kesal Celine. Dia sangat ingin memeluk gadis mungil dihadapannya, beberapa jam tidak menyentuhnya membuat Tuan muda merasa sangat kehilangan.
"Ada apa?!"tanya Celine jutek.
"Bukankah tidak sopan jika membiarkan seorang tamu berdiri di depan saja?" Sindir Tuan muda.
Celine pun membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan Tuan muda masuk ke dalam.
"Tolong lepaskan sepatu anda disana! Aku barusaja membersihkan rumah ini!" Ucap Celine judes. Celine mempersilahkan Tuan muda duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
"Anda belum menjawabku! Ada apa hingga menyusulku kesini?!" Tanya Celine.
"Apa kamu akan percaya jika aku menjawab aku merindukan dirimu?" Tuan muda bertanya balik. Celine mendengus kesal atas jawaban Tuan muda.
"Sayang sekali, aku tidak merindukan anda!" Sahut Celine sinis dan membuang mukanya.
"Aku harus membawamu pergi dari rumah jelek ini!" Ucap Tuan muda seraya matanya menatap sekeliling rumah Celine.
"Aku tidak mau! Lagipula jelek seperti apapun, aku lebih nyaman tinggal disini! Dibanding istana mewah tapi selalu menyakitkan hati!" Sahut Celine dengan nada sarkastik nya. Tuan muda menghela napas panjang, mencoba bersabar sedikit lagi terhadap Celine.
"Maafkan aku." Ucap Tuan muda lembut.
"Hah?! Apa?!" Sahut Celine menoleh kembali pada Tuan muda.
"Bagaimana jika kamu ikut aku sekarang? dan malam ini aku akan menemanimu hingga besok pagi, Bagaimana?" Tuan muda mencoba bernegosiasi dengan Celine.
"Aku tidak percaya! Pokoknya aku tidak mau pergi dari rumahku ini!" Tolak Celine bahkan sambil berdiri karena emosi. Tuan muda juga ikut berdiri,lalu mendekati Celine. Mereka berdiri berhadapan.
"Kenapa? Hanya karena aku tidak bisa memberikan sebuah pelukan sepanjang malam, dan kamu menjadi semarah ini padaku? Kenapa? Mintalah apapun yang lainnya, aku pasti sanggup memenuhinya, tapi jangan meminta padaku untuk memelukmu sepanjang malam apalagi sebuah pernikahan, karena aku tak akan pernah bisa memenuhinya! Bukankah kamu sudah berjanji tidak akan menuntut apapun setelah permainan kita?! Lalu kenapa sekarang kamu menjadi gadis penuntut?!" Tanya Tuan muda.
"Kamu pikir aku ini p*****r?! Hah?! Setelah selesai memuaskan nafsumu lalu bisa kamu tinggalkan begitu saja?!" Emosi Celine bertambah besar.
Tuan muda merasa hatinya sangat diremas dengan ucapan Celine barusan, terluka dan sakit. Tuan muda menatap ke dalam mata Celine, tak ada air mata lagi seperti semalam, tapi telah berganti luka yang sangat dalam, dan luka itu disebabkan oleh diri Tuan muda sendiri. Tuan muda membungkuk dan meraih pinggang Celine, sedikit mengangkatnya lalu melumat bibir Celine lembut, menghisapnya. Tuan muda ingin mengobati luka yang dalam itu. Lagi dan lagi Celine selalu menjadi lemah dengan sentuhan tangan dan bibir Tuan muda. Celine pun membalas ciuman itu. Tuan muda melepaskan ciuman mereka dan menatap ke dalam mata Celine. Sebuah perasaan tidak menentu berdesir dalam hatinya. Tuan muda melangkah menjauh dari tubuh Celine dan meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Otista, jemput dan bawalah Grisella kemari, karena aku akan menginap disini sepanjang malam. Ingatkan Grisella untuk membawakan obatku." Ucap Tuan muda dan mengejutkan Celine.
"Mengapa anda ingin menginap disini?! Bersama Grisella?! Apa sebenarnya yang anda pikirkan?!" Tanya Celine bingung.
"Bukankah kamu ingin tidur dalam pelukanku sepanjang malam??? Berhubung kamu tak mau ikut denganku, maka aku yang akan menginap disini dan memelukmu sepanjang malam." Sahut Tuan muda.
"Tapi Grisella? Apa anda ingin tidur bertiga dengan kami?!" Tanya Celine lagi.
Tuan muda tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan pikiran Celine barusan.
"Tentu saja tidak! Kamu ingat dengan ceritaku? bahwa aku mengalami amarah tak terkendali sepanjang malam dan hal itu hanya bisa dikendalikan oleh Grisella, maka itu Grisella juga harus ada disini sepanjang malam untuk sekedar berjaga-jaga saja. Biarkan dia tidur di kamar sebelah kamarmu." Jelas Tuan muda dan Celine mengangguk mengerti. Mereka duduk bersama di sofa itu lagi, menunggu kedatangan Grisella. Tuan muda menatap Celine yang hanya diam dan canggung salah tingkah.
"Kamu masih marah?" Tanya Tuan muda, dan Celine menggelengkan kepalanya. Tuan muda bernapas lega dan tersenyum lebar. Begitu juga dengan Celine yang juga tersenyum.
"Apa kamu sudah mengantuk dan ingin tidur sekarang?" Tanya Tuan muda.
"Tidak, sebaiknya kita tunggu Grisella saja, aku tak mau anda berbuat macam-macam lagi padaku!" Sahut Celine.
Tuan muda terkekeh dan semakin ingin menggoda Celine. Tuan muda sengaja bergeser dari duduknya dan semakin mendekati Celine.
"Apa yang akan anda lakukan?!" Tanya Celine saat Tuan muda telah sangat dekat dengannya dan merangkul pundak Celine.
"Kamu selalu tahu apa yang ingin aku lakukan setiap berduaan denganmu." Sahut Tuan muda sengaja menggoda Celine.
"Jangan macam-macam Tuan muda! Grisella akan segera datang." Ucap Celine mulai menahan tubuh Tuan muda dengan kedua tangannya.
"Bukankah pintu rumahmu selalu terkunci dari dalam? Jadi Grisella tak akan bisa masuk tanpa kamu yang membukakannya." Sahut Tuan muda dengan wajah semakin dekat dengan wajah Celine.
"Eh..i.itu..a..aku...mmmpphhhh..." Tuan muda sudah membungkam mulut Celine dengan bibirnya.
Tuan muda mengangkat tubuh Celine duduk diatas pangkuannya dan mengangkanginya. Celine? Dia selalu lemah dengan semua ini. Bibir Tuan muda mulai turun ke ceruk leher Celine, sedang tangannya sudah membelai lembut punggung Celine di dalam pakaiannya. Kulit yang halus lembut itu membuat Tuan muda mengeras dan sedikit mengganjal di bawah tubuh Celine.
"Aku butuh pembebasan." Bisik Tuan muda, Celine hanya mendesah tanpa menjawab apapun.
Euughh...
Tuan muda mengangkat tubuh mungil Celine,menggendongnya gaya koala bergelantungan.
"Dimana kamarmu?" Tanya Tuan muda di sela ciuman mereka.
"Pintu di sebelah kananmu." Sahut Celine. Tuan muda kembali melumat dan menghisap bibir itu lagi. Tangan satunya membuka knop pintu sedang yang satu lagi bertahan menopang b****g Celine.
Tuan muda segera merebahkan tubuh Celine lembut ke atas tempat tidur, menindih tubuhnya dengan dua lengan tuan muda menopang berat tubuhnya sendiri. Tuan muda menatap Celine.
"Akankah setelah permainan ini, kamu akan menuntut padaku sebuah pernikahan?" Tanya Tuan muda sebelum berlanjut pada permainan panas mereka. Celine bingung, dia tak tahu harus menjawab apa, dia hanya menatap dalam manik mata Tuan muda.
"Siapa aku ini bagimu Devon?" Tanya Celine.
"Apakah hal itu penting bagimu? Apa kamu sedang menuntut sebuah status atas permainan kita?" Tanya Tuan muda.
Celine merasa sangat dilecehkan dan tidak dihargai sebagai wanita terhormat. Celine mendorong kuat tubuh tuan muda, menyingkir dari atas tubuhnya. Celine berdiri dan kembali keluar dari kamarnya dengan kesal, kecewa dan kembali sakit hati.
Tok.Tok.Tok.
Pintu diketuk dari luar, tepat saat Tuan muda menyusul Celine keluar kamar. Celine menatap pintu itu, dia dan Tuan muda tahu itu adalah Grisella. Celine menghela napasnya panjang tapi diam tidak melangkah ke pintu. Tuan muda melangkah ke arah pintu dan membukanya.
"Apa ini keputusan yang benar?" Sapa Grisella tersenyum sambil menunjukkan obat yang dibawanya pada Tuan muda. Tuan muda menoleh ke belakang dan menatap Celine lalu kembali menatap Grisella.
"Masuklah! temani dia malam ini! Aku dan Otista akan berjaga di mobil." Ucap Tuan muda.
"Heh?! Aku?! Tapi kenapa?!" Tanya Grisella benar-benar tak paham dengan kondisi ini.
"Kamu tanyakan saja padanya, apa yang sebenarnya dia inginkan dariku?" Sahut Tuan muda lalu melangkah keluar melewati Grisella begitu saja.
Celine kembali menangis, tubuhnya ambruk ke bawah, dan bergetar menatap Tuan muda yang pergi begitu saja keluar dari rumahnya bagai keluar dari kehidupannya. Celine kembali terluka dan hancur, dirinya sungguh tak mengerti apa yang sebenarnya dia inginkan dari Tuan muda dan semua kedekatan mereka. Grisella segera menutup pintu dan mendekati Celine, memeluk tubuh Celine yang bergetar bagai orang yang sangat ketakutan.
"Sssshhhhhh.....tenangkan dirimu Celine, tak apa, semua pasti akan baik-baik saja, kalian hanya butuh waktu untuk saling mengerti dan memahami. Tenanglah, jangan berpikir hal yang buruk." Ucap Grisella mencoba menenangkan Celine.
"Aku tak tahu apa yang terjadi diantara kami, aku tahu aku tak boleh menuntut apapun darinya, karena aku menyerahkan diriku atas kesadaranku sendiri, tapi haruskah selalu berakhir seperti ini? Tak pantaskah aku untuk mendapat sebuah status dari dirinya?" Sahut Celine dalam isak tangis yang semakin deras.
"Sssshhhhhh.....tenanglah Celine, kamu sangat pantas untuknya, percayalah hanya kamu yang pantas untuk berada disampingnya. Sekarang mari kita masuk ke kamarmu, aku akan memanggil Tuan muda lagi." Ucap Grisella.
"Tidak! Jangan suruh dia kembali kemari, biarkan saja dia pergi! Ya, lebih baik seperti ini." Sahut Celine dan Grisella mengangguk menuruti kemauan Celine. Grisella lalu memapah tubuh Celine dan membawanya ke kamar Celine. Celine langsung meringkuk dalam selimutnya, menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala dengan selimut tebal itu, menangis terisak. Grisella ikut merasakan rasa sakit itu, semua ini hanya karena kutukan jahat itu. Grisella keluar dari kamar Celine, memberi ruang bagi Celine untuk menyendiri. Grisella memikirkan cara untuk menyatukan dua insan itu.
Tuan muda telah menjadi begitu angkuh karena takut akan sebuah penolakan, akibat kutukan singa itu. Celine terlalu rapuh dan mudah terluka atas sikap Tuan muda.
"Mungkinkah Celine akan lebih tangguh menghadapi Tuan muda jika dia tahu tentang kutukan itu? Haruskah aku memberitahu Celine tentang Tuan muda dan kutukan itu? Bagaimana jika dia tidak percaya? Bagaimana jika dia malah menolak Tuan muda dan pergi jauh? Aaahhhhhh!!! apa yang harus kulakukan?! Mereka berdua jelas-jelas butuh bantuan." Batin Grisella berpikir keras.
Tok.Tok.Tok
Pintu rumah Celine diketuk dari luar. Grisella melangkah ke arah pintu dan membuka pintu itu.
"Tuan muda??? Anda kembali?" Tanya Grisella antara senang dan bingung.
"Apakah dia sudah tertidur? Aku hanya ingin menepati janjiku." Jawab Tuan muda melangkah masuk.
Grisella kembali mengunci pintu rumah Celine, mengikuti langkah Tuan muda yang masuk ke dalam kamar Celine. Tuan muda masih mampu mendengar isak tangis Celine di balik selimut tebal itu. Hatinya sungguh ikut menangis mendengar suara isak tangis itu. Tuan muda lalu kembali keluar kamar, meraih obat yang Grisella bawa tadi. Tuan muda segera menuju ke dapur, menuangkan segelas air dan mencampurkan obat tadi ke dalam gelas itu. Tuan muda kembali ke kamar Celine membawa segelas air itu, dia duduk di bawah samping tempat tidur itu, membuka selimut tebal itu dan menatap wajah sembab Celine. Celine terkejut melihat Tuan muda kembali lagi dihadapannya.
"Minumlah, aku tak ingin kamu sakit, besok kita harus bekerja." Ucap Tuan muda menyodorkan gelas air itu. Celine keluar dari selimut itu dan beranjak duduk dari posisi meringkuknya, mengambil gelas air minum itu dari tangan Tuan muda. Celine meminum air itu sambil terus menatap tuan muda hingga air itu habis. Tuan muda meraih kembali gelas itu dari tangan Celine dan meletakkannya di meja nakas dekatnya. Tuan muda berdiri dan melepaskan jasnya.
"Grisella, berjagalah di kamar sebelah. Aku akan menemani dia malam ini." Ucap Tuan muda, membuat dua wanita itu melongo bersama, tak mengerti dengan sikap Tuan muda. Grisella hanya menurut dan segera keluar dari kamar itu dan menutup pintunya. Celine masih menatap Tuan muda dengan bingung, terlebih lagi ketika Tuan muda melepaskan pakaiannya dan hanya menggunakan boxernya saja. Tuan muda naik ke atas tempat tidur Celine, duduk di samping Celine.
"karena tempat tidur ini adalah single bed, jadi jika kamu mau tidur dalam pelukanku sepanjang malam, maka kamu harus merebahkan dirimu di atas tubuhku." Ucap Tuan muda lalu memeluk tubuh Celine dan merebahkannya di atas tubuhnya.
Celine masih bingung dengan semua ini. Kepalanya bersandar di d**a Tuan muda, dan sedang diusap lembut oleh Tuan muda.
"Apakah ini mimpi? Jika iya, tolong jangan bangunkan aku." Ucap Celine. Tuan muda meraih satu tangan Celine dan menggigit salah satu jarinya.
"AUW! SAKIT!" teriak Celine kesakitan.
"Itu berarti kamu ada di kenyataan." Ucap Tuan muda. Celine kembali tersenyum dan menatap Tuan muda.
"Mengapa kamu datang kembali? Kupikir kamu sudah benar-benar meninggalkan aku." Tanya Celine.
"Apa itu membuatmu sedih dan menangis seperti tadi? Apa kamu sungguh takut aku pergi meninggalkanmu?" Tuan muda balik bertanya.
"Maaf, aku tak tahu apa yang aku inginkan sebenarnya. Aku tahu aku sudah berjanji untuk tidak menuntut apapun darimu, tapi aku juga ingin tahu seberapa besar arti kehadiranku bagimu?" Ucap Celine mengusap d**a yang berbulu itu.
Tuan muda hanya diam, hingga akhirnya Celine tertidur. Hari ini hampir mencapai tengah malam, Tuan muda perlahan mengangkat tubuh Celine dan berdiri, lalu merebahkan tubuh Celine kembali ke atas tempat tidur. Tuan muda keluar dari kamar Celine. Grisella ternyata sedang cemas berjalan kesana kemari di depan kamar itu.
"Tenanglah, dia sudah tertidur lelap. Berapa jam obat tidur itu bekerja?" Ucap Tuan muda bertanya.
"Menurut dr.Hilda, obat itu bertahan hingga 8 jam." Sahut Grisella.
"Bagus, berarti semuanya akan tetap aman." Ucap Tuan muda lalu kembali masuk ke dalam kamar Celine dan kali ini tidaklah menutup pintu itu.
Tuan muda barusaja berubah menjadi singa besar, Grisella terus memperhatikan singa itu. Singa itu ternyata hanya merebahkan tubuhnya di bawah samping tempat tidur Celine dan terlelap. Grisella tersenyum menatapnya, dan bernapas lega. Singa besar itu ternyata bisa merasa tenang di dekat Celine. Grisella juga akhirnya tertidur di sofa depan dekat dengan kamar itu.
****
Celine membuka matanya saat sinar mentari pagi masuk ke kamarnya.
Eeeuuugghhhhh!!!
Celine menggeliat namun langsung merasa kecewa, karena dia tidak merasakan pelukan Tuan muda lagi, bahkan dia tidak melihat Tuan muda di kamar ini. Celine hanya mencium aroma masakan dan mendengar suara Grisella yang bersenandung di dapur. Celine menghela napas panjang.
"Rupanya semalam hanyalah mimpi." Batin Celine lalu beranjak hendak berdiri dari tempat tidur.
"AAAUUUUWW!!!!" teriakan dibawah tempat tidur itu mengejutkan Celine.
"APA YANG KAMU LAKUKAN?! KAMU INGIN MEMBUNUHKU?! HAH?! SEGITU BENCINYA DIRIMU HINGGA INGIN MEMBUNUHKU?!" omel Tuan muda marah-marah karena kaki Celine baru saja menginjak tepat di atas kejantanannya. Celine masih melongo bingung dengan semua ini.
"Jadi semalam bukanlah mimpi? Kamu semalaman menemaniku?" Tanya Celine ragu dan bingung.
"Hiiiiissshhhhhh....kamu pikir apa?! Aku semalam sampai kesemutan karena ditindih tubuhmu, dan saat kamu menggeliat dengan seenaknya kamu mendorongku hingga jatuh dari tempat tidur! Apa kamu tahu sepanjang malam aku kedinginan dibawah sini?!" Sahut Tuan muda masih mengomel.
"Kamu sungguh menemaniku sepanjang malam?" Celine masih bertanya bingung. Tuan muda berdecak kesal dan berdiri sambil menahan rasa nyeri di batang bawahnya.
"Sudahlah! Jika kamu ingin dipeluk diriku sepanjang malam, maka kamu harus ikut ke istana! disana tempat tidurnya jauh lebih besar!" Ucap Tuan muda sambil berjalan ke arah kamar mandi yang ada di luar kamar.
Celine segera berlari dan menutup pintu kamar itu, menghadang Tuan muda supaya tidak keluar kamar.
"Apalagi Celine?" Tanya Tuan muda
"Di depan ada Grisella, apa kamu tidak malu hanya memakai boxer di hadapan Grisella?! Apalagi saat ini batangmu...... sedang...... mengeras....." Sahut Celine dan matanya tak mampu beralih lagi saat melihat tonjolan di boxer Tuan muda.
Tuan muda tersenyum saat melihat kemana tatapan Celine. Tuan muda mendekat lalu tangan satunya menyelip ke belakang tubuh Celine.
Klik.
Tuan muda mengunci pintu kamar itu dan menyeringai m***m.
"Apa kamu tidak rela jika Grisella melihat milikku?" Tanya Tuan muda menggoda sambil merapatkan tubuh mereka lebih dekat lagi.
"Eh..itu..aku...tak bisakah itu hanya menjadi pemandanganku saja mulai sekarang?" Sahut Celine dengan wajah memohon.
"Silahkan, nikmatilah sepuasmu, karena diapun merindukan sentuhanmu." Bisik tuan muda meraih tangan Celine dan membawanya ke atas batangnya yang sudah mengeras.
Celine merabanya lembut, meremasnya dan membuat tuan muda mengerang.
Aaahhhhhh....
Tuan muda tak ingin membuang waktu lagi, dia segera melucuti pakaian Celine dan melepaskan boxernya sendiri.
"Karena tempat tidurmu sangat sempit, maka kita akan bermain berdiri. Apa kamu siap?" Bisik Tuan muda, Celine hanya mengangguk.
Tuan muda mulai menikmati tubuh Celine, semakin turun ke bawah, tak ada yang terlewatkan sedikitpun. Gundukan kenyal dengan pucuk ranumnya, perut juga pusarnya, semakin turun, namun dengan sengaja melewati inti bawah tubuh Celine. Tuan muda membelai kedua paha mulus itu dengan tangan dan bibirnya juga lidahnya hingga ke betis, naik lagi ke atas seraya membalik tubuh Celine, meremas dua gundukan kenyal b****g celine dan menghisapnya, memberi kissmark pada b****g padat itu.
Aaahhhhhh....
Celine berjengit dan mendesah.
Tuan muda menjilat inti bawah Celine dari belakang ke depan, lalu lanjut naik menelusuri punggung itu, membuat Celine menggeliat dan menekuk punggungnya ke belakang.
Eeeuuugghhhhh....sssshhhhhh...
Aaahhhhhh......uuuuhhh...
Celine sengaja meraih tangan Tuan muda dan membawanya supaya meremas gundukan dadanya.
Aaaauuuhh.....
Mmmmmhhhh....aaaahhhhhhh....
Desahan mereka terus bersahutan, bahkan saat bibir mereka saling membungkam sekalipun, desahan itu tetap terdengar. Tuan muda mengangkat b****g Celine, mengarahkan batangnya pada lobang inti bawah Celine.
Jleb..!
Aaahhhhhh!!!!
Celine mendesah saat benda tumpul yang mengeras kokoh itu masuk ke dalam dirinya.
Tuan muda menghujam Celine terus maju mundur dan tubuh Celine berguncang naik turun hingga keduanya mencapai klimaks mereka. Keduanya merasa sangat lemas, tapi senyuman telah tersungging di wajah Celine, membuat Tuan muda merasa hangat hatinya. Tuan muda menghisap bibir Celine sesaat lalu melepaskannya.
"Jangan marah lagi kepadaku, aku sungguh putus asa melihatmu menangis." Ucap Tuan muda mengelus pipi Celine.
"Aku juga putus asa terhadap diriku yang tak mengerti apa yang kuinginkan darimu dan semua ini." Sahut Celine.
"Kita nikmati saja, aku hanya untukmu dan kamu hanya untukku, tak peduli apapun statusnya." Ucap Tuan muda dan Celine mengangguk.
"Terima kasih sudah menemaniku sepanjang malam, maaf semalam aku sangat cepat terlelap, tak mampu menahan kantukku." Sahut Celine. Tuan muda hanya tersenyum lalu mencium bibir Celine lagi. Mereka kembali saling melumat.
"HEI!!! TAK BISAKAH KALIAN BERHENTI! DAN KITA SARAPAN BERSAMA?!!! AKU SUDAH PUTUS ASA MENUNGGU KALIAN KELUAR!! AKU SANGAT LAPAR DAN LELAH! TAPI GRISELLA MELARANGKU MAKAN DULU!!! AYOLAH!!! KITA JUGA HARUS SEGERA BERANGKAT BEKERJA!!!" teriak Otista dari luar kamar, membuat keduanya terkejut. Tuan muda merutuk penuh emosi, Celine hanya tertawa dan mengelus d**a Tuan muda supaya sabar.